Tips & Pengalaman Membawa Bayi 0 bulan Naik Pesawat

bayi-naik-pesawat

Kapan hari saya pernah cerita di instastory tentang pengalaman membawa Qonita naik pesawat di usianya yang waktu itu belum genap 1 bulan. Ya, Qonita pertama kali naik pesawat di usia 3 minggu! Masih merah-merah lucu.. hihi. Ternyata setelah memposting cerita tersebut, banyak teman yang request agar saya menceritakan pengalaman dan tips-tips membawa bayi naik pesawat, akhirnya saya coba mengingat-ingat kembali pengalaman itu dan seluk beluk persyaratan administrasi yang saya lakukan sebelum terbang bersama Qonita. Yuk.. mari disimak ya ^^

Melahirkan dengan ditemani orangtua adalah keinginan yang sangat manusiawi bagi setiap wanita kan ya, apalagi ketika melahirkan pertama kali, rasanya gugup, cemas dan deg-degan seringkali menghantui, makanya kita butuh banget support dari orang terdekat kita yang memahami segala perasaan dan situasi yang kita alami, orang tersebut adalah Ibu. Begitulah yang kira-kira saya rasakan ketika akan melahirkan Qonita, makanya saya memutuskan pulang ke Pontianak dan melahirkan disana supaya bisa dekat dengan ibu. Di usia kehamilan 35 minggu, saya pun pulang, naik pesawat. Btw, ini juga pengalaman yang mendebarkan sekaligus penuh perjuangan lho, karena berbagai maskapai menolak ibu hamil terbang di usia kehamilan lewat dari 8 bulan, tapi akhirnya dengan rentetan syarat administrasi yang lumayan panjang, Garuda Indonesia mengizinkan saya terbang! Hore, terima kasih Garuda Indonesia! 🙂

Usia Qonita baru 3 minggu waktu itu, keputusan kami untuk pulang sempat diragukan oleh keluarga, disatu sisi usia Qonita masih terlalu muda, disisi lain sayapun belum 100% pulih pasca melahirkan, tapi dengan tekad kuat, saya putuskan untuk tetap pulang ke pangkalabun karena sudah terlalu lama meninggalkan kantor. Kamipun hunting berbagai artikel dan tulisan di blog tentang pengalaman orang lain yang pernah membawa bayi naik pesawat. Serta mencari maskapai yang mengizinkan bayi 0 bulan naik pesawat. Dari pencarian disana-sini kami menemukan sebuah blog milik orang Indonesia yang tinggal di Riyadh, Arab Saudi, di blog tersebut si pemilik blog bercerita kalau dia pernah membawa bayi nya yang berusia pas 1 bulan dari Riyadh terbang ke Indonesia, dengan durasi penerbangan hampir 13 jam dan 2 kali transit. Nah, berbekal hasil membaca pegalamannya tersebut kami berasumsi kalau bayi 1 bulan aja “mampu” terbang dari Riyadh ke Indonesia, berarti InsyaAllah Qonita mampu nih terbang ke pangkalanbun, meskipun usianya baru 3 minggu, karena penerbangan Pontianak-Pangkalanbun hanya memakan waktu tempuh selama 1 jam dengan 1 kali transit tanpa turun pesawat.

Setelah itu kami mendatangi 2 orang Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit Mitra Medika Pontianak dan di RSIA Anugerah untuk memastikan bahwa keputusan kami akan minim resiko bagi Qonita. Setelah melakukan check up kesehatan Qonita dan menerima saran dari 2 orang DSA (dr.Nevita Sp.A,M.Sc dan dr.Budi Nugroho Sp.A,M.Sc kami pun jadi semakin yakin untuk berangkat.

Umur berapa bayi boleh naik pesawat?

Menurut penjelasan dr.Nevita sebenarnya bayi naik pesawat itu sebenarnya aman-aman saja, asalkan tidak lahir prematur dan terbang dalam kondisi sehat, jadi sebaiknya paling tidak sehari sebelum terbang Ibu harus memeriksa kondisi bayi di fasilitas kesehatan supaya yakin bahwa bayinya layak untuk terbang. Tidak ada batasan pasti secara medis, usia berapa bayi boleh naik pesawat, beberapa pakar menyebutkan usia 14 hari sebenarnya sudah bisa, dan beberapa pakar lainnya menyebutkan minimal 1 bulan. Karena tidak ada angka pasti yang bisa dipastikan keamanannya secara medis, maka hal ini sebetulnya bergantung pada kondisi bayi itu sendiri.  Sebenarnya sih, usia paling ideal adalah minimal 3 bulan karena di usia ini daya tahan tubuh bayi sudah lebih kuat menghadapi perubahan tekanan, udara dan bayi sudah mampu beradaptasi lebih baik dengan hiruk pikuk bandara dan pesawat. Jadi menurut saya, tergantung kondisi bayi dan kebutuhan, kalau hanya sekedar pergi liburan atau jalan-jalan yang memungkinkan untuk ditunda keberangkatannya, baiknya ditunda saja sampai 3 bulan. Namun jika kebutuhannya mendesak seperti saya dan suami waktu itu, barangkali bisa dipertimbangkan dengan catatan bayi nya siap dan sehat untuk terbang.

Apa saja yang harus disiapkan sebelum membawa bayi naik pesawat?

Persiapan yang saya lakukan sebelum membawa Qonita naik pesawat sudah tentu adalah melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi Qonita fit untuk dibawa terbang. Secara psikologis, dengan adanya dukungan saran dari DSA juga semakin membuat saya lebih yakin dan percaya diri membawa Qonita terbang. Setelah itu, saya memastikan bahwa semua kebutuhan Qonita sudah lengkap di diaper bag, mulai dari diapers, baju ganti, essential oil, toiletries, tisu basah, changing pad dsb. Karena Qonita masih full ASI jadi saya cuma bekal makan yang banyak dan sehat sebelum berangkat supaya stok ASI selama perjalanan memadai hehe. Saya juga tipe ibu-ibu yang suka ga betah pake nursing apron jadi saya hanya menggunakan geos (stretch pouch) sebagai gendongan sekaligus nursing apron, maklum tipe orangtua anti ribet ceritanya.

Haruskah menutup telinga saat bayi naik pesawat?

Nah ini salah satu pertanyaan yang paling membuat saya penasaran sebelum membawa Qonita naik pesawat kemarin, sebetulnya perlu gak sih kita menutup telinga bayi saat naik pesawat? Menurut penjelasan dr.Nevita dan dr.Budi Nugroho dan hasil kepo-kepo saya di situs babycenter, saya berkesimpulan sebenarnya ternyata saat naik pesawat yang dikhawatirkan berkenaan dengan kesehatan telinga bayi adalah diakibatkan oleh tekanan udara, Pernah kan mengalami telinga yang sakit saat naik pesawat? ternyata kata dokter, nyeri ini disebabkan adanya perubahan tekanan yang sangat cepat yang timbul pada telinga tengah atau tuba eustachius. Saya kemarin juga sempat khawatir Qonita akan merasakan nyeri di telinga nya saat naik pesawat, maka dokter menyarankan untuk melakukan beberapa hal berikut :

  • Saat take off dan landing adalah saat dimana terjadi perubahan tekanan secara cepat maka usahakan bayi tidak sedang tidur dalam kondisi ini karena saluran tuba eustachius tidak membuka secara maksimal saat ia tidur
  • Saat take off dan landing, bayi hendaknya disusui terus menerus jadi selama di bandara kurangi aktivitas menyusu supaya saat di pesawat bayi tidak menolak menyusu karena kenyang. Saat pesawat sudah selesai take off dan stabil, menyusu boleh dihentikan

Penutup telinga pada bayi saat terbang sebenarnya lebih diperuntukkan untuk mengurangi paparan kebisingan pada bayi, karena saat terbang bunyi mesin pesawat biasanya akan sangat nyaring dan perlu diketahui kalau bayi disarankan untuk tidak terpapar suara bising lebih dari 95 desibel karena bisa merusak bagian koklea pada telinganya, selain itu paparan suara yang bising bisa membuat bayi lebih cranky alias rewel karena stress. Tentu gak mau kan seisi bandara atau pesawat heboh gara-gara bayimu menangis kencang karena stress hehe.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Saat Membawa Bayi Naik Pesawat

Hal pertama yang harus diperhatikan saat membawa bayi naik pesawat adalah memilih jam penerbangan yang pas, usahakan pilih waktu-waktu dimana bayi biasanya tidur, supaya saat di bandara bayi jadi lebih tenang karena tertidur. Hal ini menjadi sulit jika tidak banyak waktu penerbangan yang bisa dipilih khususnya untuk rute domestik, seperti rute Pangkalanbun-Pontianak hanya ada sekali dalam sehari yaitu di pagi hari, jadi ya kemarin saya harus pasrah dengan jam tersebut. Hehe Kemudian usahakan datang lebih awal agar dapat memilih seat terbaik dipesawat ketika check in, pilih seat di bagian depan yang jauh dari sayap pesawat, bila perlu mintakan pada petugas fasilitas bassinet (tempat tidur) bayi selama terbang, tapi sayangnya tidak semua maskapai menyediakan ini, kalaupun ada harus dikonfirmasi saat melakukan pembelian tiket. Saat Ketika menunggu di bandara, cari tempat yang non smoking area sehingga bayi tidak terpapar asap rokok, beruntungnya di sebagian besar bandara di Indonesia sudah menetapkan larangan merokok di area publik di sekitar bandara.

Pastikan pula kita tidak membawa terlalu banyak bagasi, kalau bagasi yang dibawa banyak banget mending dikirim pake cargo aja deh, soalnya rempong kalau dibawa sendiri, dan pastikan kita punya partner untuk menemani selama perjalanan (suami, orangtua, saudara dsb) karena di masa-masa nifas awal, kondisi tubuh kita sendiri sebetulnya belum terlalu fit, jadi belum boleh terlalu lelah makanya untuk membantu kerempongan check in dan lain sebagainya selama di bandara kita harus punya partner yang mendampingi.

Administrasi yang Harus Diurus Ketika Membawa Bayi Naik Pesawat

Setiap maskapai memiliki peraturan penerbangan yang berbeda-beda terkait syarat administrasi sebelum membawa bayi naik pesawat, ada baiknya ibu memastikan hal ini kepada call center maskapai sebelum berangkat. Berikut saya bantu lampirkan beberapa rekapan syarat administrasi dan gambaran harga tiket pesawat dari beberapa maskapai penerbangan yang ada di Indonesia, hasil hunting-hunting saya kemarin.

Lion Group (Lion AIR, Batik Air, Wings Air, Malindo Air)

  1. Bayi dibawah usia 2 hari tidak diperkenankan terbang
  2. Bayi berusia minimal 3 hingga 7 hari harus membawa surat keterangan medis dari dokter spesialis anak yang menyatakan bayi dalam keadaan sehat untuk melakukan penerbangan, surat ini dibuat 72 jam atau kurang dari 72 jam sebelum penerbangan.
  3. Orangtua bayi wajib menandatangani surat ganti rugi dan menanggung resiko sendiri apabila terjadi sesuatu pada bayi selama penerbangan
  4. Tidak ada bagasi untuk bayi
  5. Harga tiket untuk bayi dibawah 2 tahun adalah 20% dari harga tiket orang dewasa

Sriwijaya Group (Sriwijaya Air dan NAM Air)

  1. Bayi dibawah usia 2 hari tidak diperkenankan untuk terbang
  2. Bayi berusia minimal 3 hingga 7 hari harus membawa surat keterangan medis dari dokter spesialis anak yang menyatakan bayi dalam keadaan sehat untuk melakukan penerbangan, surat ini dibuat 72 jam atau kurang dari 72 jam sebelum penerbangan.
  3. Orangtua bayi wajib menandatangani surat ganti rugi dan menanggung resiko sendiri apabila terjadi sesuatu pada bayi selama penerbangan
  4. Harga tiket bayi dibawah 2 tahun adalah 10% dari harga tiket orang dewasa

Garuda Indonesia

  1. Bayi berusia dibawah 7 hari tidak diperkenankan terbang bersama Garuda Indonesia.
  2. Khusus Bayi Prematur wajib melampirkan Medical Information (MEDIF) yang bisa diunduh di website Garuda Sentra Medika, kemudian bayi tersebut harus diperiksa kembali oleh petugas medis bandara
  3. Penumpang bayi mendapat bagasi 10%
  4. Tidak diperkenankan membawa stroller kedalam kabin pesawat
  5. Harga tiket pesawat 20% dari harga tiket dewasa
  6. 1 orang dewasa hanya boleh membawa 1 bayi

Citilink

  1. Bayi berusia kurang dari 3 minggu tidak diizinkan terbang kecuali disertai surat keterangan medis dari doktr dan surat pertanggungjawaban terbatas dari orangtua
  2. Bayi harus didampingi oleh orang dewasa
  3. Harga tiket penumpang Bayi adalah 20% dari harga tiket orang dewasa

Rekapan syarat administrasi dan harga tiket diatas bisa berubah sewaktu-waktu, untuk memastikan teman-teman bisa menghubungi call center maskapai yang bersangkutan. Kemarin saya dan suami menggunakan maskapai Garuda Indonesia saat pertama kali membawa Qonita terbang, Alhamdulillah fasilitas dan kenyamanan yang Garuda Indonesia berikan selama penerbangan menjadikan penerbangan kami jadi lebih nyaman.

Pengalaman Pribadi Membawa Bayi 0 Bulan Naik Pesawat

Alhamdulillah saat pertama kali terbang kemarin, Qonita tidak rewel/cranky. Qonita lumayan anteng baik saat di bandara dan di pesawat. Saya menggunakan fasilitas nursing room untuk menyusui Qonita selama menunggu penerbangan kami, sebenarnya saya Cuma kepo sih dengan fasilitas nursing room di Bandar Supadio Pontianak, hehe dan ternyata fasilitas nursing room nya lumayan oke. Terdapat dispenser, AC, changing table untuk mengganti popok bayi, sofa menyusui, strerilizer untuk mensterilkan botol atau peralatan menyusui dan wastafel untuk mencuci tangan. Ruangannya juga cukup bersih dan tenang, akhirnya selama menunggu boarding saya bersantai di nursing room karena tidak banyak orang yang menggunakan fasilitas ruangan ini. Selama di pesawat, Qonita tertidur pulas, tapi tetap saya bangunkan saat take off dan landing sesuai saran dari DSA Qonita di Pontianak. Selama penerbangan, banyak pramugari dan penumpang lain yang gemas dengan Qonita, hehe tapi saya pribadi memilih menghindar jika ada orang lain yang ingin memegang-megang atau menggendong Qonita, bukannya sombong hanya mengingat usia Qonita yang masih terlalu muda, kan kita gak tau paparan virus dari orang asing yang tidak kita kenal, jadi buat saya better safe than sorry kan.

Nah, demikian cerita dan tips dari saya, semoga bisa membantu teman-teman yang berencana akan terbang bersama si kecil dalam waktu dekat ya! ^^ btw, apakah kalian punya pengalaman membawa bayi naik pesawat? yuk sharing di kolom komentar

Rizka Edmanda

94 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *