A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Sebagai seorang bookworm alias kutu buku, saya ingin sekali bisa menularkan kebiasaan ini pada anak-anak saya. Karena menurut saya, gemar membaca adalah  sebuah kebiasaan baik yang harus ditularkan. Apalagi mengingat di zaman modern seperti sekarang generasi kekinian konon katanya sudah mulai mengabaikan budaya literasi. Maka penting sekali rasanya, kebiasaan berliterasi ditanamkan sejak anak berusia dini. Berikut pengalaman mengenalkan buku pada anak, serta beberapa kiat yang saya jalankan selama prosesnya. 

Mengenalkan buku pada anak sejak dalam kandungan

Saya sendiri mulai mengenalkan Qonita pada kebiasaan membaca sejak masih dalam kandungan. Tepatnya saat indera pendengaran Qonita mulai berkembang di usia kehamilan sekitar 4 bulan. Pernah saya baca pada sebuah jurnal bahwa kebiasaan membacakan buku pada anak, sangat bermanfaat terlebih ketika dilakukan dengan teknik membaca nyaring (reading aloud).

Saya tidak membatasi buku apa yang hendak dibaca untuk Qonita selama hamil. Karena tujuan membaca buku hanya untuk menstimulasi indera pendengaran janin, bukan untuk mengenalkan isi buku. Kadang saya membacakan buku hamil, majalah, Al-Quran dan buku apa saja yang memang sedang saya baca. Meskipun sesekali, saya juga membacakan buku cerita anak-anak karena memang sejak hamil saya sudah berinvestasi membeli beberapa buah buku bacaan anak sebagai persiapan kelahiran Qonita.

Membacakan buku sejak bayi didalam kandungan sangat baik untuk menciptakan bonding antara ibu, ayah dan calon bayi. Kemudian banyak pula studi yang mengungkapkan bahwa membacakan buku pada bayi sejak dalam kandungan baik untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya ketika ia dewasa. Pemahaman bahasa yang baik yang didapat janin selama dalam kandungan dapat merangsang perkembangan kecerdasannya. Hal ini diungkapkan oleh Professor Minna Huotilainen dari University of Helsinki, dimana ia mengatakan otak janin beradaptasi dengan suara dan bahasa yang ia dengar sejak dalam rahim.

Ngomong-ngomong, beberapa rekomendasi buku bacaan selama hamil yang pernah saya baca bisa dilihat di artikel ini

Mengenalkan buku pada anak usia 0-6 bulan 

Di Usia 0-6 bulan saya mulai membacakan buku-buku sederhana untuk Qonita. Perjalanan mengenalkan buku padanya saya mulai dengan buku-buku high contrast yang didominasi oleh warna hitam dan putih. Karena di awal-awal kelahirannya, kemampuam melihat anak memang belum sempurna jadi direkomendasikan untuk mengenalkan buku dengan objek-objek tunggal dengan 1-2 warna.

Salah satu buku yang saya rekomendasikan adalah buku AKU versi high contrast dari Amalia Kartika Sari. Karena isinya sangat sederhana, ringan dengan tampilan warna yang tidak terlalu banyak kalau tidak salah hanya hitam. putih dan merah. Cocok untuk anak usia 0-3 bulan. Selain itu Moms juga bisa membuat buku hihg contrast secara DIY dengan mencetak sendiri gambar-gambar high contrast yang banyak berdar di internet. Googling aja ya.

Ini saya kasi link referensi high contrast book atau flashcard yang saya dapat dari sebuah website luar negeri. Moms tinggal print gambar-gambar tersebut di kertas bekas, kemudian dijilid dan jadi deh DIY High Contrast Book untuk sang baby ^^ Buku high contrast konon baik untuk amenstimulasi penglihatan anak dan sebagai tahapan awal pengenalan buku pada mereka.

Linknya ini ya : http://www.brillbaby.com/free-download/infant-stimulation-cards.php

Mengenalkan buku pada anak usia 6-12 bulan 

Di usia ini, saya mulai mengenalkan Qonita flashcard dan boardbook mini yang ukurannya kira-kira sebesar telapak tangannya. Gambarnya masih belum terlalu kompleks. Biasanya hanya 1 buah gambar benda dengan tulisan kata nama benda itu. Misal gambar sendok dengan tulisan “sendok”. Buku dengan materi yang sederhana pada usia ini membuat anak lebih mudah mengingat nama-nama benda. Bermain flashcard bisa jadi alternatif permainan yang seru untuk dimainkan. 

Mengenalkan buku pada anak usia 12-18 bulan 

Contoh buku yang saya kenalkan pada Qonita di usia 6-12 bulan

Pada usia ini saya mulai mengenalkan buku yang lebih kompleks. Misalnya buku pengenalan kosakata benda-benda di sekitar kita. Kalau Moms mau beli atau cari di marketplace, bisa menggunakan kata kunci “Buku First Learning” atau “Buku First Words”. Saya memberi Qonita buku pengenalan kata benda-benda dilingkungan yang biasa ia temukan. Karena anak perlu mengenal lingkungannya terlebih dahulu sebelum belajar lebih luas. Pada usia ini, saya tidak akan memberikan Qonita buku cerita The Little Red Riding Hood atau Hansel & Gretel, karena saya yakin ia belum bisa mencerna isi dari kedua cerita tersebut. Saya akan lebih memilih memberikannya buku dengan gambar-gambar simple, kemudian membuat cerita saya sendiri. Misal, saya melihatkan Qonita buku dengan gambar pisang. Kemudian saya akan bercerita “Nak ini pisang. Yang biasa dibeli ayah itu lho. Rasanya manis, warnanya kuning. Qonita suka makan buah pisang, kan?”. Demikian. Memang benar kata orang tua zaman dulu, jadi ibu harus pinter-pinter mengarang 🙂

Mengenalkan buku pada anak usia 18-24 bulan 

Contoh buku yang saya kenalkan pada Qonita di usianya saat ini (22 bulan)

Pada tahapan ini, saya mulai mengenalkan Qonita pada buku dengan alur cerita yang mulai kompleks. Misalnya cerita Nabi dan Rasul, cerita adab dan akhlak sehari-hari, cerita fabel (kisah binatang), ataupun kisah-kisah teladan lainnya. Intinya buku cerita bergambar yang punya 1 kisah yang runtut untuk diceritakan. Saya pun mulai menjadwalkan membaca rutin minimal 1 jam sehari dan sebelum tidur.

Aktivitas membaca buku juga saya jadikan “reward” atau hadiah jika Qonita melakukan kebaikan. Misalnya, jika dia membuang popoknya sendiri ke tempat sampah atau menyusun sendalnya ke rak sepatu, maka akan saya hadiahi buku untuk dibaca bersama. Dengan cara ini saya berharap buku menjadi benda yang membuatnya bersemangat.

Untungnya cara ini berhasil. Qonita terlihat selalu riang saat saya membawa buku baru. Saat kami ajak jalan-jalan pun, Qonita selalu tertarik untuk masuk ke toko buku. Bahkan saat kami traveling dan sedang menunggu di bandra, periplus menjadi tempat yang paling ingin ia tuju ketimbang playground. MasyaAllah Tabarakallah.

Jadikan Proses Mengenalkan Buku pada Anak sebagai Aktivitas yang Menyenangkan 

Kedepan saya hanya berharap agar kebiasaan baik ini bisa terus saya tanamkan. Semoga Qonita tumbuh jadi anak yang mencintai buku dan suka membaca. Dan jika boleh sedikit memberi tips berdasarkan pengalaman saya mengenalkan buku pada anak, hal yang paling penting dilakukan adalah menanamkan kecintaan anak pada buku. Jadikan aktivitas membaca jadi hal yang menyenangkan bukan sekadar tuntutan. Jadikan membaca buku sebagai hiburan, bukan sekadar “agar anak pintar”. Karena ketika anak sudah mencintai sesuatu yang ia lakukan, maka InsyaAllah kecintaan itu akan tumbuh secara alami tanpa paksaan. 

Selamat Membenihkan Budaya Literasi pada Sang Buah Hati, ya Moms! 

error: content is protected