The How We Met

Selain april, september adalah bulan bahagia buat kami, karna dibulan ini, tepat setahun yang lalu, dani melamar saya. Walaupun baru setahun cerita kami dimulai, tapi rasanya sudah banyak yang kami lewati dalam setahun ini, mulai dari “perkenalan tidak sengaja” lewat obrolan singkat saat acara buka puasa bersama di akhir bulan ramadhan tahun lalu, hingga proses lamaran yang terjadi kurang dari 2 bulan setelahnya dan akhirnya menikah 7 bulan kemudian, dilanjutkan dengan haru biru menyambut kehamilan saya sebulan setelah menikah, hingga harus kehilangan buah cinta kami yang pertama saat saya keguguran, rasanya banyak sekali kejadian-kejadian penting yang terjadi dalam waktu 1 tahun belakangan ini. Tapi  yang paling penting dari itu semua adalah, bahwa pada akhirnya saya percaya kalo jodoh ternyata datangnya bisa saja tidak direncanakan bahkan tidak diduga-duga, Gak pake acara galau putus-nyambung pacaran, gak pake friend zone , adek abang zone, PHP zone apalagi digantung-gantung kayak jemuran. Emang bisa? bisa semudah itukah? BISALAH! Caranya gimana? TEGAS DARI AWAL. Udah itu aja. Urusan selanjutnya serahin sama Allah. hehe.. Pun saya sendiri yang masih tertatih-tatih belajar agama ini gak pernah menyangka sebelumnya, keinginan saya untuk segera menikah agar fokus beribadah, langsung diijabah sama Allah, dengan datangnya seorang Dani secara tiba-tiba, yang  dengan sangat sungguh gentleman dan penuh wibawa menawarkan diri untuk menjadi pendamping dan partner belajar saya seumur hidup 🙂 And,this is a story, the how we met.. 

______________________________________________________________________________

          April, 2017  (Tulisan ini diambil dari salah satu caption di instagram saya setahun lalu)

Perbincangan Pertama mereka terjadi pada suatu acara buka puasa bersama,di akhir Ramadhan 2016 lalu. Tidak terencana. Saat itu, tema obrolan mereka biasa saja. Bahkan saat bicara, keduanya terus-menerus memalingkan wajah, enggan menatap Langsung pada lawan bicara dihadapannya. Baru pada pertemuan kedua,di akhir juli 2016, terjadi diskusi.

Pertanyaan,

“Visi misi pernikahan menurut anda?”,

“Apa pandangan Anda tentang istri yg berkarier?”,

“Bagaimana Pola pendidikan anak yang baik”,

sampai pertanyaan “Tipe traveling seperti apa yg anda suka”

dihujani kepada laki-laki ini

Diskusi berakhir dgn kalimat :

“Jika diperkenankan,saya ingin menemui Bapak kamu untuk menyampaikan Niat. Ditolak atau diterima urusan belakangan, yang penting saya berikhtiar”

Laki-laki itu lugas,tidak kaku seperti yang biasa terlihat saat laki-laki itu duduk didepan kelas. Beberapa hari setelahnya,ia bicara pada bapak lalu mengirimkan CV dan Biodata diri sebagai rujukan.

“Saya serahkan urusan pada Allah dan orang tua, izinkan saya istikhoroh beberapa waktu saja”, si gadis menjawab

Hingga beberapa minggu laki-laki itu menunggu. Sampai pada pertemuan ketiga di bulan Agustus, laki-laki itu mendapat jawaban yang ia tunggu. Bapak mengiyakan,dengan syarat anak gadisnya harus menyelesaikan studi terlebih dulu, Maka hari itu, tanggal lamaran ditetapkan : 10 September 2016. Kemudian laki-laki itu datang kerumah untuk pertama kalinya, membawa keluarga untuk Melamar. Diadakanlah doa bersama & acara silahturahmi antar keluarga.

Pertanyaannya : Mengapa laki-laki ini sangat mendesak ingin menyegerakan? tak inginkah dia menunggu beberapa waktu mengenal lebih jauh gadis pilihannya? Dia bilang,

“Taaruf sejati hanya dimulai dengan pernikahan,karena proses saling mengenal adalah proses seumur hidup,Bukankah manusia itu dinamis& terus berubah?Apabila 1 aqidah,sesuai kriterianya,sama pula visi misi nya,sekufu bila perlu,maka perkara lain hanyalah soal saling memaklumi & saling membetulkan. Urusan perasaan,tenang saja, seiring waktu berjalan, ia akan tumbuh. Bukankah Allah janjikan cinta dalam pernikahan?” Begitu kira-kira kata laki-laki itu.

Begitu saja kisah ini dimulai, hingga Beberapa bulan kemudian, si gadis menunaikan janjinya kepada bapak,menyelesaikan studi S2 nya dengan hasil yang sangat lumayan. 3 minggu setelahnya, di tanggal 7 april 2017, laki-laki itupun memenuhi janjinya pula saat melamar, dengan ijab qabul & sebuah mahar.

_____________________________________________________________________________

 

         September, 2016  (Tulisan ini diambil dari salah satu caption di instagram saya setahun lalu)

Memang tidak tertangkap oleh mata,
tapi teresap dalam pikiran,
memang tak masuk akal bagi logika,
tapi ia bekerja keras tak sekedar untuk memenuhi penilaian selera,

dia datang tiba tiba
menyapa dengan kata kata yang mengesankan
lalu mengikat hati dengan cincin yang melingkar di jari tangan,
bukannya merayuku,
dia malah merayu bapakku,

orang bijak bilang hati hatilah bila jatuh hati,
kalau tak tepat jatuhnya,
malah berisiko patah hati,
untuk itu di masa awal berkomunikasi
aku akui , aku menerimanya bukan karena jatuh hati, hanya simpati atas caranya yang berkelas saat mendekati

1 tahun lebih sering berjumpa
seminggu sekali saat kuliah,
kita rutin bertatap muka,
tak jauh jarak memisah
hanya sebatas antara meja dosen dan mahasiswa,
namun kedekatan itu tak membuat kita banyak bicara,
tak pernah kita bercanda,
apalagi jalan bersama
tapi lucunya, dibawah alam sadar ternyata kita kerap bertukar doa :
ya Allah, siapapun dia , dari manapun asalnya, segera pertemukan aku dengan sebaik baiknya jodoh menurut-Mu, sebab Engkau lah ya Allah, sebaik baiknya penentu

dalam kasus seperti ini,
doa bukanlah cara untuk memendam yang sebenarnya,
tapi adalah cara untuk mengungkapkan keinginan dengan semestinya

Lalu, caranya mendekati pun membuatku paham
dia bukan sekedar seorang yang hanya menawarkan kemungkinan,
dia adalah seorang yang layak diperhitungkan

dia memintaku dengan penuh keberanian,
tak perlu waktu lama baginya untuk mendekati,
sebulan cukup baginya untuk meraih posisi penting di dalam hati,

diapun tak banyak basa basi,
dari awal, dia lugas mengemukakan visi misi,
serta apa yang dia pendam di doa dan hati selama ini,
dia menunggu sambil terus memantaskan,
dia merawat perasaan
dalam doa yang tidak terlisan

Pesan saya untuk teman-teman sederhana :

Temukanlah laki laki yang tidak mudah bilang suka,
tapi ketika bilang,
dia langsung bicara pada orang tua,
bisa jadi Laki-laki seperti ini tidak pernah bertamu ke rumah,
tapi sekali datang,
dia langsung bawa rombongan keluarga,
ketahuilah,
di jaman sekarang,
Laki-laki seperti ini, Langka 🙂

 

 

Rizka Edmanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *