TANTANGAN 10 HARI MENERAPKAN ILMU KOMUNIKASI PRODUKTIF – DAY 3

komunikasi-produktif

Tantangan terbesar dalam berkomunikasi adalah bukan sekedar bagaimana sebuah pesan bisa tersampaikan, tapi adalah tentang bagaimana sebuah pesan bisa punya “nilai”

Sudah masuk hari ketiga dari total 10 hari tantangan mengaplikasikan ilmu komunikasi produktif, namun rasanya lagi-lagi belum terlalu banyak yang berubah. Padahal saya berfikir, ilmu komunikasi produktif adalah ilmu terapan yang manfaatnya tidak hanya bisa saya rasakan dalam berumahtangga, tapi juga di lingkungan sosial bahkan untuk menunjang pekerjaan. Karena sudah tiga hari berjalan tapi belum terlalu banyak perubahan berarti, akhirnya saya mencoba berintropeksi, apa sih kekurangan saya berdasarkan kaidah-kaidah komunikasi produktif? Dan walhasil saya menemukan bahwa ternyata aspek “Choose The Right Time” belum bisa saya wujudkan. Di 2 hari sebelumnya, saya bercerita bahwa saya dan suami selama ini menetapkan jam untuk family group discussion atau quality talk berdua di jam-jam sebelum tidur, nah setelah saya fikir-fikir ternyata jam-jam seperti ini justru kurang efektif untuk bicara “agak serius”, karena pada jam-jam tersebut biasanya kita sudah capek dan ngantuk, akhirnya kami sepakat merubah jam untuk FGD di pagi hari yang akan kami mulai InsyaAllah besok hari

Obrolan saya dan suami mala mini adalah seputar rutinitas FGD yang kami lakukan, saya menanyakan kembali kepada suami, sebenarnya kita perlu gak sih ngobrol “Serius” tanpa distraksi dalam 1 waktu yang sudah ditetapkan rutin & konsisten, setiap hari? Awalnya beliau bilang sebenarnya gak perlu, karena toh hampir 24 jam kita sama-sama, mau ngobrol kapan saja bisa. Tapi saya jelaskan kepada suami bahwa quality talk beda dengan sekedar ngobrol biasa, ada aspek-aspek yang harus diperhatikan supaya ngobrol jadi lebih berkualitas seperti intensitas eye contact, pemilihan kata, intonasi suara dan lain sebagainya. Untung-untung kalau semua aspek tersebut bisa jadi kebiasaan yang akhirnya terbawa-bawa dalam setiap obrolan, kalaupun tidak paling tidak kita punya jam-jam ngobrol berkualitas dalam sehari. Akhirnya setelah mendengar penjelasan saya yang agak panjang lebar, kami sepakat bahwa quality talk perlu dijadikan kebiasaan dirumah ini, kami menetapkan jam nya di pagi hari, saat sarapan. Rasanya lebih nyaman dan luang ketimbang malam sebelum tidur, pagi hari suasananya masih sejuk, kepala masih dingin, dan mood biasanya masih lebih baik untuk memulai hari, tapi jam-jam seperti ini juga bukan berarti tidak beresiko untuk quality talk, seandainya quality talk di hari itu gagal dan yang muncul malah “perdebatan” karena terlalu serius ngobrol, wah bisa-bisa merusak mood seharian. Sadar akan resiko ini, maka kami berkomitmen harus sama-sama bisa berusaha menerapkan aspek-aspek komunikasi produktif saat ngobrol berdua.

 

Rizka Edmanda

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *