TANTANGAN 10 HARI MENERAPKAN ILMU KOMUNIKASI PRODUKTIF – DAY 2

TANTANGAN-10-HARI-BUNSAY

Terus berproses untuk belajar, sebab menyamakan 2 isi kepala bukan hal yang mudah

Di hari kedua dari 10 hari tantangan komunikasi produktif ini, jujur belum banyak perubahan yang begitu berarti. Beberapa kaidah yang telah saya jabarkan di materi Komunikasi Produktif kemarin belum terlalu sukses terealisasi. Masih harus ada perbaikan disana-sini, tapi gak apa-apa saya ingin berproses sealami mungkin, tidak terlalu memaksakan keadaan sebab saya sadar bahwa saya dan suami adalah 2 manusia yang memiliki 2 isi kepala, punya frame of reference dan frame of experience yang berbeda sehingga dari kedua hal tersebut akan menciptakan 2 karaktek yang beda pula. Suami pernah bilang dulu sebelum melamar, “gak apa apa kita nikah aja dulu, selanjutnya proses “kenalan” akan berjalan seiring kita berumahtangga karna proses berkenalan adalah proses seumur hidup, sebab manusia itu dinamis dan terus berubah. Pelan-pelan seiring waktu kita pasti bisa saling memaklumi dan saling membetulkan”  Begitulah, akhirnya cita-cita saya untuk mewujudkan dan menerapkan komunikasi produktif di rumah tangga kami masih dalam tahapan proses, dan terus berproses untuk belajar.

Dihari kedua, seperti biasa saya menetapkan “family group discussion” pada jam-jam sebelum tidur. Pillow talk, begitu kami mengistilahkannya. Sayangnya hari ini kami terlalu lelah karna sore tadi baru pulang dari bandara menjemput orangtua yang baru pulang dari Jepang lalu keasikan membongkar oleh-oleh hehe, setelah itu Qonita cranky entah kenapa, akhirnya kami kelelahan dan durasi pillow talk jadi tak selama biasanya, cuma 15 menit kalau tidak salah setelah itu kami sama-sama terlelap.

Di hari kedua tantangan 10 hari untuk menerapkan ilmu komunikasi produktif dalam kehidupan nyata ini, saya perhatikan bahwa intensitas eye contact sudah sedikit lebih membaik dari hari sebelumnya, namun lagi-lagi belum terlalu maksimal sih karna lampu kamar sudah redup dan kami sudah bersiap tidur. Begitupun dengan kaidah 7-38-55 belum bisa terlalu diwujudkan karna saya tidak bisa memperhatikan secara detail bahasa tubuh suami begitupula suami tidak bisa melihat bahasa tubuh saya ketika berkomunikasi karna kondisi kamar sudah gelap. Tapi dalam hal ini saya mencoba mengubah intonasi suara lebih baik lagi, ohya.. saya sedang punya kebiasaan baru akhir-akhir ini, yaitu bicara dengan nada agak tinggi kepada orang lain khususnya lawan jenis yang bukan mukhrim dan merendahkan nada suara ketika bicara dengan suami, Alhamdulillah seminggu belakangan saya bisa konsisten melakukan kebiasaan baru ini. Maka, boleh dibilang 38% keberhasilan komunikasi yang berdasarkan intonasi suara berdasarkan teori Albert Mehrabian berhasil saya lakukan dua hari ini.

Dalam 24 jam bersama suami sebetulnya mungkin ada ratusan kali momen atau kesempatan saya bisa ngobrol berdua dalam sehari, tapi sekedar ngobrol biasa dan quality talk atau ngobrol yang berkualitas menurut saya adalah 2 hal yang jauh berbeda. Kalau ngobrol biasa itu ya ngobrol asal-asal sekedarnya misal seperti “Qonita udah tidur belum?” atau “Qonita lagi apa?” tanpa terlalu memperhatikan intonasi suara, eye contact, bahasa tubuh, pemilihan kata dan lain sebagainya berbeda halnya dengan quality talk, sebab pada quality talk yang lebih diutamakan adalah bagaimana obrolan bisa jadi jauh lebih berkualitas dengan memperhatikan kaidah kaidah diatas : intonasi suara, eye contact, bahasa tubuh, pemilihan kata,penggunaan Bahasa, dan lain sebagainya jadi quality talk menurut saya bukanlah hanya soal kualitas tema atau pembahasannya.

Karena belum terlalu banyak hal yang berubah dari hari kemarin, maka tak banyak yang bisa saya ulas kali ini, hanya sebagai catatan kecil untuk mengoreksi bagian mana yang harus dibenahi agar komunikasi produktif bisa kami wujudkan di rumah tangga ini. Mungkin saya dan suami harus menyamakan persepsi tentang makna komunikasi? Hmm bisa jadi.

 

Rizka Edmanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *