Taman Nasional Tanjung Puting , Surga Kecil di Tanah Borneo

 

Taman Nasional Tanjung Puting adalah Surga Kecil di Tanah Borneo yang menjadi destinasi wisata impian bagi banyak wisatawan asing dari berbagai belahan dunia. Kemegahan hutan hujan liar khas Kalimantan, syahdunya Sungai Sekonyer, serta tingkah polah orangutan yang lucu memang telah banyak dibahas di berbagai portal media asing. Sebutlah The National Geogprahic dan Animal Planet. Bahkan sederet nama artis Hollywood seperti Julia Roberts pernah menyambangi kawasan Taman Nasional yang terletak di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah ini. Karena kecintaan dan kesan mendalam yang Ia dapatkan selama mengunjungi tempat ini pula, Julia Roberts sampai membuat sebuah film dokumenter berjudul ‘In The Wild: Orangutans With Julia Roberts’. Namun sayang, di mata wisatawan lokal, objek wisata sekaligus pusat konservasi orangutan terbesar di dunia ini, belum terlalu dikenal…

***

tanjung-puting

tanjung-puting

Perjalanan Menuju Surga Hutan Hujan di Jantung Tanah Borneo

Pukul 07.30 pagi kami sekeluarga tiba di Pelabuhan kumai. Kapal kelotok yang akan mengantarkan kami ke Surga hutan hujan di Jantung Tanah Borneo ini telah menunggu sejak pagi di pelabuhan. Perjalanan kurang lebih 4 jam kami tempuh dengan menggunakan kapal kelotok. Disebut kelotok oleh penduduk lokal karena saat berlayar akan berbunyi “tok tok tok”. Kapal ini sebenarnya adalah kapal tradisional yang dahulu sering digunakan masyarakat untuk menjala ikan, tapi kini puluhan kapal dialihfungsikan sebagai pilihan moda transportasi untuk mengangkut wisatawan menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Kapal-kapal kelotok ini telah dimodifikasi sedemikian rupa demi kenyamanan wisatawan. Terdapat toilet yang cukup bersih lengkap dengan closet duduk dan shower untuk mandi, serta meja makan dan beberapa Kasur yang dapat digunakan untuk beristirahat. Perjalanan selama 4 jam menuju Taman Nasional Tanjung Puting menggunakan kapal kelotok tak terasa membosankan, sebab di sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan hutan hujan liar nan eksotik yang tentu tak akan kita temukan di kota-kota besar. Nyanyian owa-owa, kera ekor panjang dan bekantan yang bersahut-sahutan, sekelompok burung yang terbang melayang di atas kepala, aroma tanah basah,syahdunya sungai sekonyer, rimbunnya pepohonan dan semak belukar serta suasana hutan liar akan membawa kita pada atmosfer yang sungguh, sayapun tak pernah merasakan itu sebelumnya. Dramatis, sekaligus romantis. Begitu kira-kira

camp-leakey

Camp Leakey

Sebelum mencapai Camp terakhir di Taman Nasional Tanjung Puting, yaitu Camp Leakey kita akan melewati 2 camp yang biasanya juga dijadikan  tempat untuk melihat orangutan  yaitu Camp Tanjung Harapan, dan Camp Pondok Tanggui. Tapi kami tidak singgah di 2 camp tadi karena mengejar waktu untuk langsung melanjutkan perjalanan menuju Camp Leakey yang legendaris itu. Saya beserta rombongan keluarga langsung naik ke tepian  dan menyusuri jembatan kayu setapak, menuju pos pemberian makan orang utan (feeding station). Di Camp Leakey ini, setiap hari para ranger akan memberi makan orang utan pada jadwal feeding yang sudah ditentukan yaitu pada pukul 14.00-15.00 wib, maka disarankan bagi pengujung harus tiba di Camp Leakey sebelum jam tersebut agar dapat melihat secara langsung puluhan orang utan yang tengah berebut makanan.

Suara lolongan ranger menandakan jadwal feeding akan  dimulai, dari kejauhan tampak beberapa ekor orangutan bergelantungan hendak mendekati feeding platform berupa podium kayu yang sudah dipenuhi oleh pisang-pisang yang siap dibagikan kepada orangutan oleh para Ranger. Tak lama berselang, seekor orangutan besar yang diperkirakan berusia sekitar 30 tahunan, bernama Tom mendatangi feeding platform. Tom adalah primadona disini, beberapa wisatawan yang sudah pernah berkunjung lebih dari sekali, tentu akan dengan mudah  mengenali si “Raja” Tanjung Puting ini.  Tubuhnya yang besar, lengannya yang kuat dan wajah nya yang khas dengan lipatan lemak menghitam di area muka, menjadi ciri-ciri untuk mengenali Tom dengan mudah. Ranger yang mendampingi kami bilang, wajah Tom sudah banyak beredar di berbagai tv dan majalah. Tak heran, Tom juga dikenal sebagai “artisnya orangutan” di kawasan ini. Setelah Tom puas menikmati pisang-pisang yang disajikan, iapun beranjak. Kepergiannya disambut dengan hadirnya puluhan ekor orangutan lain yang datang dari berbagai arah. Kami beruntung saat itu, karena biasanya tak terlalu banyak jumlah orang utan yang mendatangi feeding platform, mungkin karena mereka pemalu. Tak ayal kedatangan mereka disambut dengan decak kagum yang riuh dari para wisatawan yang rata-rata adalah wisatawan asing dari mancangera. Buru-buru para ranger menunjuk jari ke mulut “Sssshhhh harap tenang, karena orangutan tidak suka kebisingan” demikian kata seorang Ranger mengingatkan. Para wisatawan pun lantas berdiam , menikmati pertunjukan alam yang sangat menghibur sore itu.

orangutan

Terancam Punah

Terlepas dari kelucuan Tom dan teman-temannya, ada cerita yang menyayat hati dibalik berdirinya Taman Nasional Tanjung Puting dan Camp Leakey ini. Karena tempat ini berdiri sebagai pusat konservasi orangutan yang kini terancam punah populasinya. Dilansir dari laman website orangutan.org, Dalam 1 dekade terakhir populasi orangutan Kalimantan telah berkurang hingga 50% di alam liar. Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) diperkirakan kini hanya tinggal berjumlah 104.700 individu saja polulasinya. Sekitar 2000-3000 orangutan Kalimantan dibunuh setiap tahun dalam 4 dekade terakhir. Mempertimbangkan hal ini, populasi orangutan diperkirakan akan berkurang bahkan punah 50 tahun kedepan.

Beberapa penyebab berkurangnya populasi orangutan diantaranya adalah aktivitas manusia khususnya praktik perburuan dan pembalakan liar, alihnya fungsi hutan menjadi perkebunan, deforestasi, perubahan iklim, serta kebakaran hutan. Untuk itulah camp leakey didirikan oleh para penggagasnya sebagai pusat konservasi dan rehabilitasi orangutan kalimantan serta sarana edukasi masyarakat mengenai pentingnya upaya konservasi orangutan pada masa-masa darurat punah saat ini.

Dr.Birute Mary Gladikas dan Mereka yang Peduli

Setelah asyik menyaksikan proses feeding orangutan di feeding platform tadi, kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kapal kelotok. Sebelumnya, Ranger yang menemani kami, mengajak untuk mampir ke Pusat Informasi. Meski terlihat rapuh, gelap dan kurang terpelihara tapi Pusat Informasi Camp Leakey berisi banyak informasi penting seputar Taman Nasional Tanjung Puting. Dari Pusat Informasi ini, saya mengetahui bahwa Camp Leakey ini awalnya merupakan lokasi penelitian seorang mahasiwa dari Universitas Colombia, Los Angeles, USA bernama Dr.Birute Mary Galdikas. Nama “Leakey” sendiri diambil dari dosen pembimbing penelitian tersebut yang bernama Prof.Louis Leakey. Dr.Birute lah yang berjasa menjaga, merawat dan melestarikan habitat asli orangutan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dengan mendirikan Orangutan Foundation International (OFI). Organisasi nirlaba ini didedikasikannya sebagai upaya konservasi orangutan Kalimantan dan habitat asli mereka. Dr. Biruté dan rekan-rekannya pada tahun 1986, mengoperasikan Camp Leakey, juga mengelola fasilitas Orangutan Care Centre and Quarantine (OCCQ) di desa Pasak Panjang Dayak di dekat Pangkalan Bun untuk menampung lebih dari 330 orangutan yang mengungsi,karena kehilangan habitat asli akibat pembabatan hutan serta membantu mengelola Suaka Margasatwa Lamandau, di mana orangutan yang telah direhabilitasi lahir dilepas ke alam liar. Di pusat Informasi Camp Leakey ini pula, wisatawan dapat belajar banyak seputar berbagai kelompok primata endemik Nusantara khususnya orangutan, serta melihat foto-foto orangutan yang pernah dirawat di pusat kawasan rehabilitasi. Puas belajar dan menambah wawasan di Pusat Informasi, kami melanjutkan perjalanan pulang karena matahari mulai condong kearah barat.

Tanjung Puting dan Makna Perjalanan

Kapal kelotok yang kami tumpangi bergerak kembali kearah pelabuhan kumai, hari mulai gelap, dan angin malam mulai menyeruak. Pemandangan syahdu yang tadi pagi kami lihat berubah menjadi bunyi-bunyian binatang malam serta kunang-kunang yang kerlap-kerlip berterbangan.  Di sisi depan kapal, saya dan suami berbincang-bincang ditengah damainya malam, “Keren ya, bule-bule aja peduli sama pelestarian orangutan di Negara kita. Lihat deh yang ngembangin lokasi ini bule, yang pada datang juga kebanyakan bule. Padahal yang punya potensi kita, tempatnya ada di Negara kita. Orangutan nya ya juga punya kita. Tapi yang ngurusin dan yang peduli ya mereka lagi, mereka lagi” kata saya. Suami saya menjawab, “Ya Memang begitulah adanya. Tapi semoga saja besok lusa akan lebih banyak lagi orang Indonesia yang tertarik datang ke tempat ini, dan semakin banyak lagi yang memilih berwisata ke lokasi-lokasi konservasi, tentu dengan memperhatikan aturan-aturan tempatan selama berkunjung. Karena cukup dengan datang dan memilih Taman Nasional atau wilayah konservasi semacam ini sebagai alternatif tempat wisata saja, maka sudah berarti kita ikutserta dalam upaya pelestariannya sebab, retribusi yang kita berikan pasti akan sangat berarti untuk pengelolaan kawasan konservasi ini”. Saya tak menjawab, hanya larut dalam lamunan. Berfikir bahwa kata-kata suami saya tadi, ada benarnya.

Hari semakin malam, udara semakin dingin menusuk tulang. Saya akhirnya masuk ke dalam kapal, menutup jendela karena mulai banyak nyamuk-nyamuk nakal. Untuk membunuh kesunyian, saya memilih membaca sebuah buku yang saya bawa dari rumah, sebuah buku yang sebenarnya sudah 2-3 kali saya baca tapi entah mengapa tak pernah bosan, sebuah buku yang saya beli di Gramedia Bookstore beberapa tahun silam. Buku berjudul “Titik Nol : Makna Sebuah Perjalanan ” karya Agustinus Wibowo. Pada sampul belakang buku setebal 500an halaman ini, Agustinus katakan :

Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyambung nyawa menaklukkan puncak.

Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

Jika Agustinus Wibowo yang telah berkelana ke berbagai belahan dunia selama lebih dari 10 tahun, pada akhirnya menemukan “makna perjalanan” di samping ranjang ibunya. Maka pengalaman singkat saya ke Tanjung Puting ini juga memberi “makna perjalanan” yang sangat berarti, bahwa aktivitas berwisata ternyata tak melulu hanya dapat sekedar dijadikan sarana berekreasi semata. Dengan sesekali saja mengunjungi tempat-tempat wisata konservasi dalam Negeri semacam ini, maka berarti kita tak hanya telah ikut bertamasya menikmati keindahannya, tapi juga secara tidak langsung dapat menanamkan kesadaran kita akan pentingnya upaya-upaya konservasi dan pelestarian habitat asli satwa endemik kebanggaan Indonesia yaitu Orangutan ini. Apakah tidak akan merusak kawasan hutan jika terlalu ramai pengunjung datang? Sebetulnya tidak, jika kita sebagai pengunjung sadar dan taat aturan yang ada di kawasan taman nasional ini, seperti dilarang menyentuh hewan apapun, dilarang memberi makan hewan dengan makanan yang kita bawa sendiri, dilarang membuang sampah sembarangan, merokok serta melakukan perbuatan yang akan merusak cagar alam. Jika ini dipatuhi maka Kunjungan kita akan menjadi sangat berarti untuk menyambung nyawa Taman Nasional Tanjung Puting. Sebab kegiatan serta upaya konservasi semacam ini tentulah membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam pelaksanaan dan pengelolaannya, maka retribusi wisatawan memang menjadi hal yang sangat berharga. Ingatlah, bahwa setiap Rupiah yang kita keluarkan di tempat-tempat wisata semacam ini tak hanya sekedar berakhir menjadi sederet foto-foto selfie, tapi juga menjadi penyelamat bagi keanekaragaman hayati.

 

Like This Post? Share this to the world !

rizkaedmanda

Selamat datang di blog personal saya! www.rizkaedmanda.com. Blog ini akan banyak bercerita tentang kehidupan keseharian saya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga, TTC Fighter, sekaligus pegiat bisnis online. Tema blog ini adalah lifestyle, daily dan motherhood. Hope you enjoy this blog! Jika ada pertanyaan, ajakan kerjasama, postingan beriklan dan ajakan pertemanan, bisa disampaikan lewat email saya ya! rizkaedmanda@gmail.com

76 Comments

  1. infografisnya keren!!!!

    aku penasaran pengen bobo di kapal kotoknya.. seru banget di tanjung puting, mupeng dulu ikutan lomba hadiah ke tanjung puting cuma belum menang :))

    • ko dedyy kamu belum nyampe kalimantan kan, ayo sini…. sebelum ke India mampir dulu ke kalimantan. Kita jalan-jalan ke tanjung puting.. hihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *