A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

asi bernutrisi blackmores

Petaka di Balik Putih dalam Sekejap

Janjinya manis. Putih instan kulit kinclong hanya dalam hitungan hari. Tak tanggung-tanggung, influencer dengan ratusan ribu followers bahkan selebriti ternama ia gandeng dalam urusan promosi. Diskon besar-besaran pun diberikan, sistem penjualan yang menguntungkan ala multi level marketing turut membuat ibu-ibu muda ikutan kepincut menjajakan krim pemutih abal-abal di media sosial dan grup-grup arisan. Tapi tak ada yang menyangka, krim inilah yang menjadi awal mula petaka. Wajah cantik yang didamba kini tinggal asa, yang tersisa hanyalah melasma hingga sel-sel kanker yang mulai menggeregoti kulit dan mengancam nyawa.

Ancaman Nyata Kosmetik Berbahaya

Sebuah berita yang cukup mencengangkan viral di awal tahun 2019 silam. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia atau BPOM RI berhasil menyita ribuan kosmetik tanpa izin edar di wilayah Jakarta Barat. Jumlahnya cukup fantastis, total ada 53 item yang terdiri dari 679.153 pcs produk dengan nilai keekonomian mencapai 30 miliar rupiah. Dari temuan tersebut diduga produk kosmetik yang disita mengandung bahan ilegal dan berbahaya. Seperti merkuri misalnya. Sebab produk-produk tersebut tidak memiliki standar mutu keamanan dan informasi yang jelas serta mengantongi nomor BPOM.

Kasus ini bukan yang satu-satunya. Di Riau, Medan, Magelang hingga Surabaya berita penyitaan kosmetik ilegal dan bermerkuri acap kita dengar di berbagai media. Dilansir dari situs beritasatu, disebutkan bahwa BPOM mencatat nilai temuan kosmetik ilegal dalam tiga tahun terakhir ini memang meningkat drastis. Di tahun 2019 nilai kosmetik ilegal yang disita BPOM secara nasional menyentuh angka Rp 185,9 milyar. Naik dari tahun 2018 Rp 78,2 milyar dan Rp 72,6 milyar di tahun 2017.

Bukan tanpa alasan BPOM gencar melakukan upaya memberantas peredaran produk kosmetik bermerkuri. Sebab bahan kimia berbahaya ini memang punya risiko yang serius untuk kesehatan manusia. Merkuri dapat dengan mudah diserap kulit dan masuk ke dalam aliran darah kemudian “meracuni” organ-organ vital dalam tubuh kita. Mulai dari jantung, paru-paru, ginjal otak bahkan sistem kekebalan tubuh.  Penggunaan merkuri pada produk kosmetik juga memberi efek karsinogenik yaitu kemungkinan dapat memicu kanker. Maka dari itu penggunaan produk kosmetik yang mengandung merkuri, juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit.

Merkuri juga bersifat korosif untuk kulit. Mengoleskan kosmetik yang mengandung merkuri secara terus-menerus akan membuat kulit semakin tipis dan membuat kerusakan pada kulit. Makanya jangan heran jika menggunakan produk bermerkuri biasanya akan diawali dengan pengelupasan kulit secara perlahan. Pengelupasan ini pada akhirnya menyebabkan pertahanan kulit (skin barrier) menjadi rusak sehingga justru kelak akan lebih berisiko mengalami flek hingga melasma.

Risiko kanker kulit akibat produk kosmetik bermerkuri bukan sekedar buaian. Beberapa waktu lalu misalnya, di twitter sempat viral kisah seorang remaja yang terkena kanker kulit stadium awal akibat penggunaan kosmetik berbahaya. “30 persen wajahku udah mulai membusuk karena dekat mata. Mata kiriku sudah mulai tidak jelas. Kankerku pertumbuhannya cepat, aku udah stadium 2” demikian seperti yang diceritakan oleh sang pemilik akun. 

Minimnya informasi dan kurangnya wawasan masyarakat akan bahaya produk kosmetik bermerkuri adalah faktor utama yang menyebabkan permintaan kosmetik bermerkuri masih menjamur di pasaran. Hasrat ingin punya kulit wajah mulus dan putih dengan instan membuat banyak konsumen seringkali mengabaikan risiko kesehatan  atas produk yang mereka pakai.

Baik wanita dan pria kerap menjadi korban kosmetik abal-abal lantaran sama-sama mendambakan wajah putih licin bak bule atau artis korea. Bukan tanpa alasan, sejak zaman dulu kulit putih memang seakan menjadi standar penampilan menarik khas orang Asia.

Miris sebetulnya, sebab bagi kita orang Indonesia warna kulit sawo matang seharusnya menjadi sebuah kebanggaan. Sebab kita tinggal di negara tropis dengan sinar matahari yang melimpah ruah. Ada hikmahnya pula Tuhan menitipkan kulit eksotis ini pada kita, sebab tak banyak yang tau melanin-pigmen pemberi warna pada kulit sebetulnya telah diatur sedemikian rupa untuk melindungi kulit dari sinar UV.

Bangga dan cinta pada warna kulit sendiri. Spirit inilah yang kiranya harus dikomunikasikan kepada masyarakat untuk menekan angka penyebaran kosmetik bermerkuri. Sebab mereka yang menggunakan produk kosmetik bermerkuri biasanya adalah mereka yang kurang percaya diri dengan warna kulit yang mereka miliki. Sudah saatnya untuk membuka mata bahwa definisi merawat kulit adalah menjaga kesehatan kulit bukan memutihkan kulit. Sudah saatnya untuk membuka mata bahwa cantik yang instan belum tentu aman.  

COSMETalk : Stop Kosmetik Bermerkuri

“Petaka di balik putih sekejap”

Saya beruntung sebab beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah webinar yang sangat membuka wawasan saya mengenai produk kosmetik berbahaya. Webinar bertajuk STOP KOSMETIK BERMERKURI – Petaka di balik putih dalam sekejap yang diadakan oleh BPOM RI melalui LIVE Streaming ini membuat saya sadar bahwa permasalahan produk kosmetik bermerkuri saat ini sangatlah genting dan harus diberantas dari hulu ke hilir. Pemberantasan produk kosmetik bermerkuri akan lebih mudah dan  efektif jika masyarakat telah memiliki kesadaran untuk tidak menggunakan produk bermerkuri karena sekali lagi, maraknya kosmetik bermerkuri di pasaran tak terlepas dari tingginya permintaan.

Dr. Penny Lukito, M.Cp selaku Kepala Badan POM RI bahkan turut mengamini fakta ini. Dalam pembukaan webinar tersebut, beliau menyebutkan bahwa andaikata permintaan kosmetik bermerkuri tidak ada maka peredaran kosmetik bermerkuri pasti akan hilang dengan sendirinya.

Lebih lanjut Dra.Mayagustina Andarini, Apt, M.Sc selaku Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik juga menyebutkan bahwa salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan produk bermerkuri adalah dengan mengubah persepsi orang Indonesia tentang standar kecantikan. Cantik tak harus selalu putih. Cantik tak harus instan. Dua hal inilah yang harus terus menerus digaungkan.

Sebab, produsen produk bermerkuri memang kerap menawarkan hasil yang putih instan hanya dalam hitungan hari. Kebanggaan akan warna kulit asli kita harus ditanamkan agar tak tergiur dengan produk yang menawarkan hasil yang instan.

Jika BPOM telah melakukan berbagai upaya untuk melakukan pemberantasan produk bermerkuri maka masyarakat juga wajib turut berkontribusi. Terutama para influencer yang kerap menerima tawaran endorse oleh produsen krim pemutih. Jangan sampai tergiur bayaran yang mahal lantas tak segan ikut mempromosiman krim pemutih abal-abal. Dhini Aminarti dan Vidi Aldiano, keduanya artis yang cukup populer di Indonesia adalah figur-figur yang patut dicontoh. Dalam webinar ini, mereka mengakui memang sering menerima tawaran endorse dari produsen krim pemutih abal-abal, namun mereka keukeuh menolak. Selain karena alasan kesehatan untuk diri mereka sendiri, mereka pun mengaku tak ingin turut serta menjerumuskan para fans ataupun pengikut mereka untuk menjadi tumbal kosmetik abal-abal.

Dalam webinar ini, seorang dokter sekaligus youtuber yang gencar mengkampanyekan bahaya produk bermerkuri di media sosial yaitu Dokter Grand Lich juga menambahkan bahwa masyarakat harus tau modus peredaran kosmetik berbahaya mulai dari tingkatan terendah yang dijual dari tangan ke tangan melalui berbagai online shop, modus pemalsuan produk kosmetik, modus pemalsuan nomor BPOM hingga modus penjualan krim berbahaya di klinik kecantikan. Jika masyarakat sudah memahami cara membedakan kosmetik yang aman dan berbahaya maka pencegahan lebih mudah dilakukan.

Meski sangat berbahaya bagi kulit dan kesehatan namun sayangnya produk kosmetik bermerkuri seringkali sulit diidentifikasi. Masih dalam kesempatan webinar yang sama, seorang spesialis kulit dan kelamin, dr.Listya Paramitha S.Pkk memberikan tips untuk mengenali produk kosmetik bermerkuri. Biasanya penggunaan produk bermerkuri akan menyebabkan pengguna mengalami tanda-tanda non spesifik. Mulai dari gatal, perih, kemerahan bahkan mengelupas. Pada tahapan ini, produsen juga sering berdalih bahwa hal ini adalab proses adaptasi krim dengan kulit sehingga kebanyakan pengguna akan meneruskan pemakaian hingga ketergantungan. Di titik inilah biasanya pengguna baru sadar bahwa ia telah terjebak dengan kosmetik bermerkuri sebab secara perlahan satu persatu permasalahan kulit mulai berdatangan. Mulai dari bruntusan, perih, merah hingga flek yang tak kunjung hilang.

Mekanisme putih instan yang seringkali diklaim oleh produsen sebetulnya merupakan efek dari sifat merkuri yang menghambat pembentukan melanin pada kulit sebagai pembentuk pigmentasi. Jika digunakan dalam jangka waktu lama, ini akan menyebabkan kulit menipis dan rusak. Sehingga itulah sebabnya mengapa merkuri kini dilarang dalam produk kosmetik dan obat-obatan.

Ucapan dokter Listya dibenarkan oleh para mantan “tumbal” kosmetik abal-abal yang turut dihadirkan dalam webinar ini. Mereka, para korban kosmetik bermerkuri memberikan kesaksian atas pengalaman pahit yang mereka telan selama terjebak menggunakan kosmetik berbahaya. Kesaksian mereka pula yang semakin membuka mata dan pikiran saya, bahwa kejadian yang dialami oleh para korban tersebut bisa saja menimpa saya, menimpa teman-teman saya dan orang-orang yang  saya cinta. Sebab, maraknya peredaran kosmetik bermerkuri saat ini memang menyasar berbagai kalangan tak memandang status, jenis kelamin dan usia.

Kesadaran untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat menggerakkan saya untuk ikut menjadi agen perubahan dalam meneruskan pesan pemberantasan kosmetik bermerkuri. Agar tak akan ada lagi tumbal berjatuhan selanjutnya. Meski tak punya followers jutaan seperti Mba Dhini Aminarti tapi setidaknya saya punya keinginan besar untuk memberikan kesadaran kepada orang-orang di sekitar saya dan pembaca setia blog saya akan bahaya produk kosmetik bermerkuri.

Cara pertama adalah dengan menggaungkan kesadaran untuk bangga dan mencintai diri sendiri. Cantik tak harus putih. Inilah yang harus disuarakan dengan lantang. Sebab kulit berwarna adalah anugerah Ilahi. Cukup rawat kesehatan kulit sewajarnya dan pancarkan kecantikan yang sejati yaitu kecantikan hati.

Kemudian jangan mudah tergoda rayuan produk pemutih instan, sebab hasil instan biasanya justru membahayakan. Jangan pula tergoda dengan harga kosmetik yang murah dan tak masuk akal, sebab biasanya kosmetik yang terlalu murah menggunakan bahan yang tak jelas asal-usulnya.

Kemudian jangan segan untuk melaporkan kepada BPOM jika mencurigai adanya pembuatan, penjualan dan pengedaran produk bermerkuri. Laporkan melalui kontak berikut ini :

Halo BPOM di nomor 1500533 (pulsa lokal)
Pesan singkat ke 081219999533
Email ke halobpom@pom.go.id

stop produk bermerkuri

Terakhir, agar bisa lebih selektif memilih produk kosmetik, selalu ingat CEK KLIK setiap kali membeli produk obat, makanan dan kosmetik :

– Cek Kemasan = Pastikan kemasan produk dalam kondisi yang baik. Segel utuh, tidak penyok dan tidak terbuka serta terlihat layak pakai dan berkualitas.
– Cek Label = Selalu pastikan label kemasan memiliki informasi keterangan sebagai berikut : nomor izin edar, komposisi, nama produk, jenis, kode produksi dan tanggal kedaluwarsa. 
– Cek Izin Edar = Pastikan produk memiliki nomor edar dari BPOM yang resmi dan teregistrasi. Nomor BPOM pada produk bisa di cek secara daring melalui pranala berikut ini : https://cekbpom.pom.go.id/
– Cek Kadaluwarsa = Pastikan produk masih dalam masa layak pakai dan belum kadaluwarsa 

Mengkampanyekan pesan pemberantasan produk bermerkuri secara berantai adalah suatu kewajiban bagi setiap orang. Tongkat estafet ini harus diteruskan agar semakin banyak masyarakat yang mengedukasi lingkungannya akan bahaya produk bermerkuri. Diharapkan jika semakin banyak masyarakat yang paham dan sadar, maka angka peredaran kosmetik bermerkuri dan produk kosmetik berbahaya lainnya juga akan ikut berkurang.  Jadi, yuk ikut bantu saya menyebarkan pesan positif ini ke teman-teman kalian dengan menyebarkan artikel ini ke berbagai media sosial.

error: content is protected