Tiwul with So Good Spicy Chicken : Menu Piring Gizi Seimbang Khas Zaman Penjajahan di Era Kekinian

PIRING-GIZI-SEIMBANG-SO-GOOD

Kreasi Menu Piring Gizi Seimbang So Good – “Jogja mengajarkanku, bahwa hidup sehat dan panjang umur itu tak mensyaratkan hal yang terlalu tinggi, cukup dimulai dengan sepiring makanan bergizi”

******

Bicara tentang Jogja memang tidak pernah ada habisnya, Jogja selalu melekat di hati siapa saja yang pernah singgah disana, lebih-lebih dihati saya yang pernah menjadikan Jogja sebagai rumah kedua selama beberapa tahun. Bagi saya, segala hal tentang Jogja selalu sanggup mengundang rindu, karenanya Istimewa bukan sebutan yang berlebihan baginya, bahkan slogan “Jogja Berhati Nyaman” sebab Jogja dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya memang selalu membuat nyaman siapa saja yang mampir kesana. Jogja tak hanya soal Bantul dan Sleman, sebab di ujung pelosok Jogja yaitu di Kabupaten Gunung Kidul, juga tersimpan banyak pesona yang masih jarang dijamah, bukan hanya soal pantai-pantai nya yang cantik atau gua-gua alami yang indah bak taman surgawi, Gunung Kidul juga menawarkan ragam kuliner tradisional yang “ngangeni”. Salah satunya adalah “tiwul”. Panganan lokal ini pernah menjadi primadona bagi mayoritas masyarakat Jawa di zaman penjajahan dahulu kala. Masyarakat Gunung Kidul dan sekitarnya, dulu selalu menyantap lauk pauk dengan tiwul. Sebab di zaman itu, nasi masih tergolong komoditas langka sekaligus mewah, golongan tertentu saja yang bisa menikmatinya. Kondisi alam Gunung Kidul yang kering dan berkapur membuat padi sulit tumbuh dan masyarakat setempat di zaman dulu berkreatifitas untuk membuat terobosan pengganti nasi sebagai makanan pokok, jadilah singkong dan ketela mereka jadikan pengganti makanan utama. Sebab kedua komoditi ini memang mampu tumbuh di tanah yang kering, tapi seiring dengan semakin sejahteranya masyarakat Jawa di masa modern ini, membuat tiwul tak lagi menjadi makanan pokok tapi sekedar jajanan atau cemilan sehari-hari.

Tiwul, Alternatif Panganan Sumber Karbohidrat yang Lebih Sehat Daripada Nasi

Tiwul terbuat dari gaplek atau singkong kering. Biasanya Mbah-Mbah di pasar pagi tradisional Jogja menjajakan Tiwul Manis dengan kelapa dan gula merah. Namun di tempat aslinya di Gunung Kidul, tiwul asli rasanya hambar, mirip seperti nasi namun bertekstur lebih kasar. Tiwul disana biasa disantap dengan sambal bawang, trancam/urap, atau ikan asin bakar dan tempe baceman. Kini, nasi tiwul mudah kita temukan di berbagai restoran tradisional di daerah perkotaan, bahkan tiwul mulai menjadi panganan sumber karbohidrat favorit bagi mereka yang peduli akan kesehatan, sebab konon tiwul lebih lambat berubah menjadi glukosa didalam tubuh bila dibandingkan dengan nasi, sehingga tubuh kita dapat meminimalisir timbunan kalori. Tentu ini menjadi kabar baik, khususnya bagi para penderita diabetes atau yang sedang menjalankan diet dan pola hidup sehat. Saya jadi teringat kata-kata Mbak Tri, penjaga kosan tempat saya tinggal di Jogja dulu, kebetulan beliau ini asli Gunung Kidul, beliau bilang “Orang Gunung Kidul jaman dulu itu badannya kuat dan sehat, umur nya panjang-panjang. Dokter atau Mantri dulu gak laku disana, lha wong mereka sakit aja jarang. Malah Mbah-Mbah disana banyak yang umurnya sampe 100 tahun, baru sakit pas udah mau meninggal, karena mereka itu orangnya giat dan rajin trus kalo makan jarang pake nasi, seringnya tiwul sama urepan” Barangkali ini sekedar guyonan, tapi selidik punya selidik tiwul ternyata memang benar punya beragam manfaat untuk kesehatan, selain kalori nya yang lebih rendah, kandungan asam butirat pada tiwul diketahui punya manfaat untuk mencegah kanker, serta berbagai manfaat kesehatan lain yang akan sangat panjang bila dijabarkan, jadi kalau kalian penasaran monggo di-googling saja 😛

Tiwul di jaman sekarang sudah dijual dalam kemasan instan, cara memasaknya sama seperti memasak beras, cukup dikukus dengan panci kukusan atau magic com maka tiwul siap disantap dengan nyaman. Beberapa waktu lalu saat lagi kangen-kangennya sama Jogja, tiwul instan menjadi oleh-oleh yang request pada adik saya yang kebetulan baru pulang dari sana. Makanya akhir-akhir ini, saya jadi sering mengganti nasi dengan tiwul dalam santapan di rumah sehari-hari, selain karena lebih sehat dan enak, saya juga mengamini program Diversifikasi Pangan yang digalangkan Pemerintah beberapa waktu lalu, agar masayarakat tidak melulu menganggap nasi sebagai satu-satunya sumber makanan pokok utama. Kan, Indonesia itu kaya, potensi pangan lokal nya tidak cuma padi saja. Selain itu tubuh kita juga membutuhkan variasi makanan, sebab tidak semua zat gizi makro dan zat gizi mikro terkandung dalam jenis makanan tertentu saja.

Makan Jangan Asal Kenyang, Kombinasikan Santapan dengan Menu Piring Gizi Seimbang

PIRING-GIZI-SEIMBANG

Pedoman Piring Gizi Seimbang

Kemudian, apabila ikhtiar untuk hidup lebih sehat sudah dimulai dengan mengganti sumber karbohidrat dengan panganan pokok yang lebih less calorie, maka ikhtiar selanjutnya yang harus dilakukan adalah dengan mengubah pola makan dengan pedoman menu piring gizi seimbang. Sejak kecil dulu, kita akrab dengan slogan “4 sehat 5 sempurna”, nah bicara soal pola makan sehat, tak banyak yang tau bahwa slogan itu ternyata kini sudah tak sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan pola dan gaya hidup masayarakat di era kekinian membawa tantangan baru dalam urusan makan. Maka demi meningkatkan kualitas hidup lebih sehat, Pemerintah menkampanyekan pedoman makan baru dengan konsep menu piring gizi seimbang kepada masyarakat Indonesia sebagai gambaran porsi makan sehat sesuai standar kesehatan Nasional. Konsep pedoman menu piring gizi seimbang dapat diaplikasikan dalam sajian makan sehari-hari dengan mengikuti panduan sebagai berikut :

  • Setiap piring saji mengandung 35% panganan sumber karbohidrat yang bisa didapat dari beras/nasi, singkong/tiwul, kentang, sagu, biji gandum utuh, roti, pasta dsb
  • Setiap piring saji mengandung 35% panganan sumber vitamin, gizi dan mineral yang bisa didapat dari sayur mayur
  • Setiap piring saji mengandung 15% panganan sumber protein yang bisa didapat dari ayam, sapi, telur, dan segala macam olahannya dsb
  • Setiap piring saji mengandung 15% panganan sumber nutrisi tambahan yang bisa didapat dari buah-buahan

Piring Gizi Seimbang untuk Bekal Suami : Tiwul, Sayur Saus Pecel, So Good Chicken Nugget dan Buah-buahan

Menyajikan menu piring gizi seimbang ini tampaknya mudah, tapi nyatanya masih banyak lho masyarakat Indonesia yang “gagal paham”, sebagian seringkali menyajikanan santapan dengan menu yang terlalu banyak mengandung panganan pokok serta lauk-pauk sehingga kurang mengkonsumsi sayur dan buah, sementara yang mengaku diet, justru memperbanyak sayur dan buah tapi malah melupakan sumber karbohidrat atau protein. Padahal kan, yang sehat adalah yang seimbang, sehingga memperhatikan takaran saji setiap santapan, amat sangat disarankan! Apabila santapan sehari-hari sudah sesuai dengan pedoman menu gizi seimbang, jangan lupa juga untuk senantiasa memperbanyak minum air putih, meningkatkan aktivitas fisik serta memantau grafik berat badan, agar kesehatan tubuh jangka panjang semakin terjaga.

Urusan Protein Hewani, Lebih Baik So Good

PIRING-GIZI-SEIMBANG-SO-GOOD

Lebih Baik So Good

Jika akhir-akhir ini saya mengganti makanan pokok selain nasi sebagai sumber karbohidrat sehari-hari, demi meningkatkan kesehatan dan mengurangi jumlah kalori, maka lain halnya dalam urusan asupan protein hewani. Sebab bagi saya protein hewani itu tak tergantikan. Protein hewani dalam tubuh sangat penting sebagai zat pembangun untuk membentuk massa otot, menyeimbangkan fungsi hormon, menambah sel darah merah, meningatkan sistem imun dan berbagai manfaat kesehatan lainnya yang tidak bisa digantikan oleh zat apapun. Namun sayang, kurangnya informasi mengenai manfaat protein hewani memang seringkali membuat banyak orang menganggap protein hewani sebagai makanan “berlemak” yang dapat jadi penyebab kenaikan berat badan, padahal tubuh kita sangat membutuhkan protein hewani demi manfaat kesehatan tersebut. Bahkan, selain protein, lemak pun dibutuhkan oleh tubuh untuk menunjang kesehatan organ-organ penting, tentu dalam jumlah yang seimbang.

Nah urusan memilih protein hewani, saya memilih So Good sebagai andalan untuk santapan keluarga dirumah. Sebetulnya, Ibu yang pertama kali mengenalkan saya pada kebaikan protein hewani So Good sejak jaman saya masih sekolah dulu. Generasi 90 an tentu sangat familiar dengan brand produk makanan olahan yang melegenda ini, iklan So Good yang kala itu menampilkan Joshua Suherman dan Titiek Puspa menyanyikan lagu “I feel Good, kusuka So Good, I feel Good Ku makan So Good”  tentu masih terngiang di telinga, saya saja masih hafal diluar kepala lho lirik jingle iklannya hihi. Saya ingat betul bahwa dulu Ibu sering membekalkan saya So Good Chicken Nugget saat akan berangkat ke sekolah, saya yang waktu itu masih SD juga senang sekali kalau Ibu membeli So Good, karena sejak dulu So Good sering memberi hadiah mainan untuk anak-anak dalam kemasan produknya. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri pula bagi saya waktu itu kalau berhasil mengoleksi semua maianan-maianannya hihi. Nostalgia masa kecil ceritanya… boleh kan ya. 🙂

Bukan tanpa alasan pula So Good setia menjadi andalan sumber protein hewani secara turun temurun di keluarga kami, sebab selain lezat dan bergizi, Japfa sebagai produsen So Good juga sudah dikenal baik oleh masyarakat Indonesia lewat produk-produk makanan berkualitasnya, baik So Good Ayam Potong maupun So Good Siap Masak. Kemasan So Good yang praktis juga sangat memudahkan saya dalam menyiapkan makanan sehat sehari-hari bagi keluarga. Favorit saya sih produk So Good Siap Masak, seperti aneka bakso, chicken nugget, chicken stick, karage, sausage, shumai furai, golden money bag, katsu, karage, spicy chicken dan masih banyak lagi, sebab dengan produk So Good Siap Masak saya jadi tak perlu repot menyiapkan bumbu, tinggal digoreng, ditumis, direbus atau dipanggang sesuka hati sesuai saran penyajian. So Good yang kini telah melakukan rebranding atas logo, slogan dan kemasan produknya ini juga telah mengantongi izin layak edar BPOM dan sertifikat halal dari MUI sehingga saya tak perlu khawatir urusan status kehalalan dan legalisasinya. Berdasarkan penelusuran saya pada situsnya, So Good juga diketahui tidak mengandung bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi setiap hari. Lalu kenapa produk So Good bisa awet dan bertahan lama? hal ini karena produk So Good diolah secara modern dan dibekukan dengan cepat pada suhu dibawah 18 derajat celcius, yang mana ini merupakan metode pengawetan alami dan aman, sehingga tidak akan merusak struktur gizi dalam produknya serta mencegah perkembangbiakan bakteri patogen yang dapat merusak makanan.

Tentang Menu Tiwul with So Good Spicy Chicken

MENU-PIRING-GIZI-SEIMBANG

Tiwul with So Good Spicy Chicken

Meskipun saya ini hanya mamak-mama newbie yang baru bisa membedakan lada dan ketumbar beberapa minggu sebelum menikah dan baru rajin keluar masuk dapur sejak tinggal bersama mertua, tapi jangan remehkan saya dalam urusan menyajikan makanan sehat untuk keluarga, karena meskipun urusan masak memasak saya masih harus banyak belajar, tapi sebisa mungkin saya berusaha agar piring gizi seimbang selalu tersaji di meja makan. Sebab saya belajar dari orang Jogja, dari orang Gunung Kidul khususnya, mereka saja bisa bertubuh sehat dan berumur panjang hanya dengan memperhatikan pola makan, maka saya pun tak mau kalah dong kan! Nah, tiwul with so good spicy chicken ini adalah salah satu kreasi atas 2 makanan favorit saya yaitu tiwul dan So Good, disajikan dengan sayur mayur rebus yang disiram dengan bumbu pecel instan, serta ditemani dengan lembut nya ayam spicy chicken plus rempah khas So Good yang yummy, hmmm panganan lokal khas zaman penjajahan ini jadi terasa semakin lezat sekaligus kekinian! Cara membuatnya juga simpel dan mudah, sayuran tinggal dipotong dan direbus kemudian disiram bumbu pecal siap jadi, so good chicken spicy juga sudah siap masak sehingga tinggal digoreng hingga cokelat keemasan, memasak tiwul juga tak sesulit yang kita bayangkan sebab seperti saya ceritakan diatas saat ini sudah banyak tiwul instan yang beredar di pasaran, memasaknya juga semudah memasak nasi.

Sebenarnya mengubah pola hidup sehat itu tidaklah susah, hanya membutuhkan tekad, kesadaran dan konsistensi diri. Meski umur panjang tak lepas dari dimensi urusan Tuhan, namun mengusahakan dan mengikhtiarkannya dengan cara mengubah beragam pola kebiasaan adalah sebuah kewajiban yang harus kita lakukan. Sebab bukankah telah terbukti, melakukan hal-hal kecil seperti mengatur pola makan dengan gizi seimbang saja akan terasa besar dampaknya pada kualitas kesehatan di kemudian hari.

Hmmm, kalau ibu-ibu, sudah masak sehat apa hari ini? Berbagi di kolom komentar yuk!

*******

Sumber Gambar   : So Good  dan Dokumentasi Pribadi
Infografis               : Rizka Edmanda

Rizka Edmanda

45 Comments

  1. Lagi kekinian banget ini yaa…
    Tumpeng mini.
    Suka banget liat menu yang seimbang begini…pas porsinya buat 2 orang yaaa, mba…

  2. Aku juga mulai mengurangi konsumsi nasi. Terkadang juga makan nasi jagung. Di tempatku murah lho, sebungkus nasi jagung cuma 2 ribu rupiah. Oiya. Yuk dukung diversifikasi pangan ^^

  3. Ah tiwul.. disini susah dapetnya.. jadi ngiler pengen nasi tiwul.
    Haduuu menurut mba mudah, menurut saya yang jarang sowan ke dapur malah kepo apa resepnya wkwk

    • hihii itu simpel banget mba semuanya pake yang instan, tiwul intan tinggal dikukus di magic com. sayuran tinggal direbus disiram kuah pecel instan yang udah jadi, beli di supermarket banyak. so good tinggal di goreng 5 menit jadi hihi

  4. Halooo mbak Rizka, apa kabar? Wah, Puteri Indonesia Fave ’14 ini pinter juga masaknya ya 🙂 Toss deh aku juga suka mamam produk2 So Good. Praktis, bergizi ga bikin rempong. Ada piring menu seimbang tuh jd diperhatiin banget ya apalagi buat makan keluarga kita jgn coba2 hehehe. Aku seneng ayam So Good yg pedes sih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *