A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Sensitive periods atau periode sensitif. Istilah ini mungkin masih kurang familiar di telinga kita, para orang tua. Padahal periode ini merupakan sebuah fase paling penting yang menjadi fondasi dalam tumbuh kembang anak di awal kehidupannya di usia 0-6 tahun.

Jika mendapatkan stimulasi yang tepat pada fase ini, maka akan sangat berpengaruh dalam membentuk kecerdasan serta karakter anak di kemudian hari, maka dari itu sayang sekali jika periode/fase ini terlewatkan begitu saja dengan sia-sia.

Sensitive periods ditemukan dan dirumuskan oleh dr.Maria Montessori, seorang pakar pendidikan anak usia dini sekaligus pencetus teori Montessori. Beliau mengatakan, bahwa periode sensitif ini adalah merupakan jendela waktu dimana ketika fase ini terjadi anak akan mempunyai 1 kecenderungan atau ketertarikan terhadap sesuatu.

Kecenderungan inilah yang harus dimanfaatkan oleh orang tua untuk memfasilitasi anak sesuai kecenderungannya agar dorongannya untuk belajar tentang sesuatu dapat dioptimalkan saat menyerap pengalaman dan ilmu baru.

periode sensitif montessori

Sederhananya gini deh, pernah gak sih Parents melihat anak yang senang banget melakukan sesuatu yang berulang-ulang? Saya mengobservasi, sering banget menemukan Qonita melakukan satu aktivitas yang dilakukan berulang kali saat dia memang lagi seneng-senengnya sama aktivitas tersebut. Misal memasukkan benda benda kecil ke dalam botol, meronce kancing kemudian dibongkar lagi terus dironce lagi dan yang akhir-akhir ini paling sering adalah bermain puzzle. Bisa sampe puluhan kali bongkar pasang dalam sehari.

Atau yang paling sering nih, anak lari-larian seakan gak ada capeknya. Muterin rumah bisa sampe berkali-kali, panjat sana sini. Pasti Parents juga pernah mengalami kejadian berulang semacam ini kan? Nah ketika anak terlihat asik banget mengerjakan sesuatu berulang kali seperti inilah, periode sensitif itu disebut sedang terjadi.

dr.Maria Montessori menyebutkan, periode sensitif ini juga merupakan tanda kesiapan anak untuk belajar sesuatu sekaligus sinyal bagi orang tua untuk mengenalkan sesuatu yang baru kepada anak.

Contoh, suatu ketika saat sedang duduk di teras rumah Qonita menemukan kumbang yang bahkan tadinya gak keliatan oleh saya. Qonita yang belum tau/belum pernah belajar kalau itu kumbang langsung terlihat sangat antusias. Saya yang melihat ini, langsung ngeh kalau Qonita sedang memasuki periode sensitif terhadap benda kecil di sekitarnya, jadi momen ini langsung saya gunakan untuk memberinya lebih banyak informasi tentang kumbang. Saya jelaskan bahwa kumbang itu adalah hewan ciptaan Allah, suka makan daun-daunan, lebih suka bermain di malam hari dan hidup di sekitaran pohon.

Di lain waktu, saya melihat Qonita suka sekali melompat-lompat di atas kasur. Hampir setiap malam sebelum tidur, dia senang melompat berlarian seakan gak ada capeknya. Saat melihat ini saya pun ngeh kalau dia sedang berada di periode sensitif untuk bergerak, sehingga saya mencoba memfasilitasinya dengan mengajaknya bermain ke luar rumah/taman dan disana ia boleh berlarian, melompat sepuasnya.

Kira-kira seperti itulah contoh bagaimana saya mengobservasi kecenderungan Qonita terhadap sesuatu (periode sensitifnya). Menjadi tantangan memang bagi orang tua untuk selalu mengobservasi anak agar bisa jeli menangkap fase ini, saya pun merasakan demikian. Apalagi dr.Maria Montessori menyebutkan bahwa fase ini tidak dapat terulang. Sehingga sekali fase itu terjadi harus segera kita tangkap dan optimalkan.

periode sensitif montessori

Pembagian Periode Sensitif Menurut Teori Montessori

Secara umum, teori Montessori membagi periode sensitif menjadi beberapa yaitu antara lain :

  1. Periode sensitif terhadap keteraturan (sensitive period for order) 0-3 tahun KLIK DISINI.
  2. Periode sensitif terhadap benda-benda kecil (sensitive period for small things) 1-3 tahun.
  3. Periode sensitif pada sosialisasi, adab, budaya dan norma kesopanan (sensitive periods for socialize, manner, culture and courtesies) 2-3 tahun
  4. Periode sensitif untuk bergerak (sensitive period for movement) 0-6 tahun.
  5. Periode sensitif terhadap bahasa (sensitive period for language) 0-6 tahun.
  6. Periode sensitif terhadap rasa atau indera (sensitive period for the senses) 0-6 tahun.

Nah, masing-masing tahapan / pembagian periode sensitif diatas akan saya jelaskan dalam artikel yang berbeda-beda sesuai dengan tahapan pembagiannya supaya gak terlalu panjang disini. Jadi jika tertarik membaca, Parents boleh klik link pada nomor-nomor diatas ya!

Pada intinya sih, sebagai orang tua pastinya kita akan mengupayakan untuk memberikan stimulasi yan terbaik untuk anak selama masa tumbuh kembangnya, sebagai ikhtiar kita untuk menciptakan generasi yang baik dan dapat menjadi manfaat untuk lingkungannya ketika ia dewasa nanti. Jendela waktu bernama periode sensitif ini bagi saya pribadi memudahkan saya untuk mengetahui stimulasi apa yang tepat untuk anak, yang bisa saya sesuaikan dengan periode sensitifnya. Misal, ketika anak saya Qonita berusia 2,5 tahun saat ini tentu ia berada dalam periode sensitif terhadap : bergerak, keteraturan, benda-benda kecil dan sosialiasi, adab serta budaya dan kesopanan. Maka kegiatan stimulasi yang akan saya berikan padanya pun akan bertemakan hal-hal diatas. Kira-kira seperti itu. 

Kalau parents punya ide kegiatan / stimulasi untuk anak sesuai tahapan periode sensitifnya boleh sharing di kolom komentar ya. ^^ Terima kasih sudah membaca, dan silahkan bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat.

Disclaimer :

  • Artikel ini merupakan hasil serapan dari materi kelas zoom @belajar.bareng.bupinan dengan judul Sensitive Periods “Kelas Berseri tentang Periode Sensitif usia 0-6 tahun” bersama dr.Pinansia Finska Poetri, seorang dokter, konselor laktasi/ASI dan praktisi parenting & montessori. 

  • Mohon untuk tidak menjadikan artikel ini sebagai satu-satunya referensi, karena saya hanya berbagi wawasan yang saya dapatkan saja melalui artikel ini. Parents silahkan mencari referensi lain yang lebih valid dan bervariasi.
error: content is protected