A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Pada artikel sebelumnya saya sudah membahas secara umum mengenai pengertian periode sensitif, apa manfaatnya bagi tumbuh kembang anak dan mengapa periode ini teramat penting sekali sehingg harus dioptimalkan oleh orang tua untuk memberikan stimulasi yang tepat. Nah jika belum membaca artikel sebelumnya, parents boleh mampir baca-baca dulu disini ya. Selanjutnya saya akan membahas mengenai jenis periode sensitif yang pertama yaitu periode sensitif anak terhadap keteraturan (sensitive period for order) yang mana menurut teori Montessori, lazimnya terjadi pada anak usia 0-3 tahun.

Menurut dr.Maria Montessori, diantara tanda-tanda anak memasuki periode sensitif terhadap keteraturan adalah dimana ketika anak terlihat senang melakukan sesuatu secara teratur dan berulang kemudian anak akan terlihat gelisah saat keteraturan tadi berantakan.

Misal, anak terbiasa meletakkan sendal di rak sepatu yang terletak didepan pintu. Saat rak sepatu itu dipindahkan ke tempat lain, anak akan protes. Atau anak terbiasa melihat ibu dan ayah menggunakan helm saat akan bepergian dengan motor, suatu kali ibu tidak menggunakan helm, anak bisa protes. Demikianlah tanda-tanda sederhana anak sedang memasuki periode sensitif terhadap keteraturan ini.

Tips untuk orang tua, coba perhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering anak lakukan secara berulang kemudian coba Parents uji dengan meniadakan kegiatan itu satu kali, jika anak terlihat tidak nyaman/protes itu artinya periode sensitif terhadap keteraturan sedang terjadi dan orang tua bisa membuatkan kegiatan khusus untuk mengoptimalkan periode tersebut.

Beberapa Cara untuk Mengoptimalkan Periode Sensitif Anak Terhadap Keteraturan

Berdasarkan pemaparan dari kelas Zoom yang diberikan oleh dr.Pinansia Finska Poetri mengenai periode sensitif, terdapat beberapa cara untuk membantu anak mengoptimalkan periode sensitifnya terhadap keteraturan. Pemaparannya akan saya bahas dibawah ini yaaa…

1. Membuat Jadwal Kegiatan yang Tertatur untuk Anak Setiap Harinya

periode sensitif keteraturan

Membuat jadwal kegiatan anak  yang teratur setiap harinya. dengan anak Tidak perlu saklek untuk menjadwalkan kegiatan setiap jam. Cukup pagi-siang-malam karena anak pada usia 0-3 tahun biasanya belum memahami konsep jam. Jadi mulai ajarkan anak apa saja yang harus dilakukan pagi, siang dan malam.

Misal pagi : bangun tidur, membereskan tempat tidur, sarapan, bermain. Siang : baca buku, makan siang, tidur siang. Sore-malam : mandi sore, bermain, makan malam, membaca buku, beribadah.

Rutinitas ini bisa dibuat menyesuaikan ground rules atau aturan kebiasaan keluarga. Kemudian, biasakan juga anak untuk teratur dalam mengerjakan sesuatu mulai dari pembuka kegiatan-kegiatan-penutup (cycle of activity). Misal saat bermain, sesekali ajak anak untuk menyiapkan kegiatan permainan tersebut bersama-sama dengan orang tua sebelum bermain. Contohnya saat mau bermain berkebun. Sebelum mulai kegiatan inti (menanam benih, menyiram dll) ajak dulu anak menyiapkan peralatan berkebunnya. Setelah aktivitas berkebun selesai ajak anak juga untuk membereskannya. 

 

2. Menyediakan Rak Terbuka Secara Khusus agar Anak Belajar Menyusun Kembali Mainannya

periode sensitif keteraturan

Selain itu, memfasilitasi anak dalam periode sensitif mengenai keteraturan ini juga bisa dilakukan dengan membuat tempat khusus mainan anak (misalnya dengan rak terbuka dengan tinggi seukuran anak) dan biasakan anak untuk membereskan mainan kembali setelah bermain.

Saya pribadi dirumah, menyediakan tempat bermain khusus untuk Qonita dimana disitu terdapat karpet bermain serta rak buku yang juga menjadi rak tempat mainan di bagian bawahnya. Kemudian saya juga mengajak Qonita untuk kembali membereskan mainannya setiap selesai bermain.

Agak tricky memang, bukan berarti Qonita bisa dan mau SELALU membereskan kembali mainannya setelah bermain. Perlu bujuk rayu juga kadang-kadang. Tapi lama-lama, karena sudah terbiasa, Qonita akan merasa risih sendiri saat melihat area bermainnya berantakan dan karena risih itulah dia biasanya jadi mau dengan sendirinya membereskan mainannya tersebut.

Melakukan pembiasaan terhadap keteraturan seperti ini memang tidak mudah, apalagi ketika dilakukan kepada seorang anak. Tapi, akan lebih mudah jika dilakukan tepat pada usia 0-3 tahun dimana anak sedang berada pada periode sensitifnya terhadap keteraturan saat ini.

Jadi, kalau bagi saya pembiasaaanya dilakukan di usia 0-3 tahun, sementara kebiasaannya insya Allah akan bertahan hingga ia dewasa. Aaamiin. 

3. Membacakan Buku ataupun Memberikan Permainan Mengenai Keteraturan

Contoh Buku untuk Melatih Anak Membereskan Mainan Sendiri (Buku dari Halo Balita) Ulasan buku ini bisa dibaca disini

Buku. Lagi-lagi buku. Ya, memang buku adalah sebuah media yang paling mudah untuk diberikan kepada anak ketika kita ingin menerapkan atau mengenalkan sebuah value/nilai-nilai tertentu kepada anak. Saya merasakan memang banyak banget sih manfaat dari membacakan buku kepada anak. Aanak jadi terinspirasi terhadap sesuatu lewat buku yang saya bacakan.

Termasuk pula saat kita ingin mengenalkan anak tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai keteraturan sejak dini, buku juga bisa menjadi media untuk mengenalkannya. Parents bisa membacakan beberapa buku misalnya tentang membereskan mainan ataupun buku-buku mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kerapian sehingga anak terinspirasi untuk selalu menjaga kebersihan, kerapian dan keindahan di lingkungan sekitarnya.

Atau bisa juga dengan memberikan sebuah permainan dimana anak harus memainkannya dengan teratur. Salah satunya adalah seperti permainan mengenal kegiatan sehari-hari dibawah ini. Lewat material ini anak mengenal kegiatan apa saja yang harus dilakukan secara teratur di pagi, siang ataupun sore hari. Btw material permainan ini aku dapatkan dari @chipnjoe ya di instagram.

periode sensitif keteraturan

Pada dasarnya, Allah SWT sudah menginstal sebuah fase yang baik dalam tumbuh kembang anak. Fase tersebut bernama PERIODE SENSITIF TERHADAP KETERATURAN. Jadi, dari sini saya belajar bahwa sebetulnya pada fitrahnya manusia itu terlahir ke dunia menjadi insan yang rapi, teratur dan mencintai keindahan. Namun tinggal apakah manusia tersebut mendapatkan stimulasi yang tepat atau tidak pada periode sensitifnya, itu yang menentukan apakah ia kelak akan menjadi manusia yang teratur ataupun tidak ketika ia dewasa nanti.

Jujur, saya bukan orang yang teratur-teratur amat memang, malah kadang saya sembrono dan lupa menaruh barang-barang pribadi saya. Tapi tentu sebagai orang tua, apa-apa yang buruk dari saya ingin saya perbaiki sehingga kelak anak saya tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih baik dari saya. Sehingga memahami seluk-beluk periode sensitif ini bisa memudahkan saya untuk memberikan stimulasi yang tepat untuk menanamkan nilai keteraturan pada anak sejak dini. Sederhananya, pembiasaan terhadap keteraturan itu bisa saya lakukan dengan mudah atau effortless, karena memang secara alamiahnya anak berada pada usia sensitif terhadap keteraturan tersebut. Saya rasa akan lebih sulit jika keteraturan ini baru diterapkan ketika anak sudah beranjak dewasa. 

Ibu Pinan dalam materi zoom yang beliau berikan menyebutkan, anak yang terstimulasi dengan baik mengenai keteraturan di usia periode sensitif saat ini (0-3 tahun) biasanya akan jadi orang yang lebih teratur saat ia dewasa nanti. Selain itu jika terfasilitasi dengan baik di fase ini, anak akan lebih minim tantrum karena pada dasarnya kebutuhan alamiahnya terhadap keteraturan telah terpenuhi.

Disclaimer :

  • Artikel ini merupakan hasil serapan dari materi kelas zoom @belajar.bareng.bupinan dengan judul Sensitive Periods “Kelas Berseri tentang Periode Sensitif usia 0-6 tahun” bersama dr.Pinansia Finska Poetri, seorang dokter, konselor laktasi/ASI dan praktisi parenting & montessori. 
  • Mohon untuk tidak menjadikan artikel ini sebagai satu-satunya referensi, karena saya hanya berbagi wawasan yang saya dapatkan saja melalui artikel ini. Parents silahkan mencari referensi lain yang lebih valid dan bervariasi.
error: content is protected