NHW #5 : Learning how to learn

NHW-5

Sejatinya, dalam hidup manusia terus belajar. Lulus dari bangku pendidikan formal, manusia dituntut untuk dapat mempraktekkan ilmu yang dipelajarinya agar dapat terjun dan diterima dengan baik di masyarakat. Di Komunitas Ibu Profesional, kami belajar bagaimana menjadi Ibu dan Orangtua yang layak bagi anak-anak. Ini penting, sebab keinginan kita untuk punya anak yang sholeh-sholehah pun keinginan kita untuk memiliki anak yang cerdas, bermanfaat dan berdayaguna bagi masyarakat atau keinginan kita untuk memiliki anak yang hebat sesuai dengan fitrahnya tidaklah cukup diikhtiarkan dengan mendoakannya atau mendidiknya dengan didikan yang terbaik menurut kita. Tapi pula perlu juga bagi kita untuk memantaskan diri. Meningkatkan kualitas diri sebagai orangtua yang layak bagi anak-anak. Sebab bukankah anak-anak yang baik lahir dari oran tua-orang tua yang baik? Anak-anak yang sholeh-sholehah tumbuh dari orang tua yang sholeh-sholehah? Anak-anak yang cerdas terdidik dari orang tua yang cerdas pula? Karenanya saya terus belajar, memantaskan diri untuk dapat mendidik anak-anak saya kelak sebaik mungkin, karena Allah ta’ala.

*****

Menemukan Metode Belajar Untuk Diri Sendiri

Dalam proses diri ini menjadi orangtua yang layak bagi anak-anak, menjadi Istri yang cekatan dan manajemen pengatur rumahtangga yang baik bagi keluarga, bersama Komunitas Ibu Profesional saya membagi materi pembelajaran dalam beberapa tahapan, seperti yang seringkali saya ulang-ulang dalam bahasan tugas Nice Homework sebelumnya, kelas tersebut antara lain adalah kelas program matrikulasi, kelas bunda sayang, kelas bunda cekatan, kelas bunda produktif dan kelas bunda sholeha. Dalam hal ini, Komunitas Ibu Profesional hanya bertindak sebagai fasilitator, artinya mereka hanya memfasilitasi program belajar peserta dengan materi-materi terkait pendidikan anak, materi tentang manajemen rumah tangga dan seterusnya. Selanjutnya, peserta dibebaskan untuk memilih metode belajar sesuai dengan karakter, kesukaan dan keinginan peserta. Sama seperti dalam proses mendidik anak, tiap orangtua dibebaskan untuk memilih metode homeschooling kah,atau memasukkan anak-anak ke lembaga pendidikan formal. Dalam Tugas NHW #1, Telah saya utarakan bahwa ilmu yang ingin saya tekuni dalam proses pembelajaran di dunia ini adalah Ilmu Ikhlas, selanjutnya dalam tugas NHW #2 saya jabarkan mengenai indikator keberhasilan saya sebagai istri dan sebagai Ibu, saya ceritakan pada tugas artikel tersebut tentang sejauh apa keberhasilan yang ingin saya capai dalam menjalankan peran ganda sebagai Istri dan Ibu? Kemudian di tugas NHW #3 saya telah berupaya menyamakan persepi dengan suami sebagai partner hidup saya dalam menjalankan visi misi kehidupan ini. Agar apa yang saya cita-citakan di tugas NHW #1 dan NHW #2 , selaras dan harmonis dengan apa yang beliau cita-citakan pula. Bukankah ketika menikah, visi hidup pribadi seharusnya menjadi visi hidup bersama suami istri? Kemudian dalam tugas NHW #4 tentang “mendidik anak sesuai fitrahnya” saya belajar agar tak terlalu terobsesi membentuk anak sesuai dengan apa yang saya inginkan, sebab ternyata anak terlahir sesuai fitrahnya. Pada materi 5 di program kelas matrikulasi, fasilitator kelas menyampaikan bahwa dalam mendidik anak hendaklah para orang tua “meninggikan gunung, bukan meratakan lembah”, maksudnya saya harus terlebih dahulu mengetahui apa fitrah passion seorang anak, apa kesukaannya dana pa kelebihannya. Setelah mengidentifikasi hal tersebut, maka berarti saya telah berproses menemukan fitrah anak, dan selanjutnya saya hanya dapat bertindak untuk membimbing anak dalam memaksimalkan fitrahnya. Selanjutnya maksud dari meratakan lembah adalah, agar jangan kita membuat seorang anak merasa terbebani dengan apa yang secara fitrah tidak ia sukai, missal anak tidak suka matematika, semakin kita jejali dengan les matematika maka anak akan mengerjakan hal tersebut dengan terpaksa, akhirnya anak akan merasa terforsir dan tertekan meski itu tak ia ungkapkan. Haruslah kita sama-sama fahami, bukankah yang sukses di kemudian hari bukankah hanya seorang matematikawan saja? Bukan seorang ilmuwan saja? Bukan hanya seorang yang cakap di bidang akademis saja? Maka temukan lah fitrah dan potensi anakmu, lalu dukunglah ia agar ia menemukan bakat dan fitrahnya.

Dalam proses menjadi orangtua yang dapat “menemani anak-anaknya belajar”, sudah seharusnya orangtua tersebut belajar untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Sebab saya sebagai orangtua, sebagai istri dan sebagai ibu pun memiliki fitrah, potensi dan visi misi hidup yang harus saya capai. Nah dalam mencapai itu, di tugas NHW 5 ini, saya diajak untuk membuat metode belajar pribadi dalam mencapai indikator yang telah saya tetapkan di tugas NHW sebelumnya. Jadi ibaratnya kalau di sekolah, saya sendiri yang membuat indikator apa yang ingin saya capai, kemudian saya sendiri pula yang mendesain metode pembelajaran bagi saya untuk mencapai indikator itu. Menarik ya!

TUGAS-NHW-5

Nah dalam proses mencapai indikator-indikator yang telah saya tetapkan di NHW #2 sebelumnya yaitu disini, dibawah ini adalah skema metode pembelajaran yang saya desain untuk diri saya sendiri.. metode ini bertujuan agar saya mempunyai konsep dalam mencapai target dan indikator belajar yang telah saya tetapkan. Ibu professional menyebutnya “Learning how to learn” artinya belajar bagaimana caranya belajar.

TUGAS-NHW-5-IIP

Demikianlah metode belajar sederhana yang saya buat untuk mencapai indikator yang telah saya tetapkan. Sebenarnya saya adalah anak seorang guru, biasanya Ibu saya sering meminta bantuan untuk mengetik merancang RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang beliau buat sebelum mengajar di kelas. Tapi entah kenapa bagi pembelajaran untuk diri sendiri, saya tak bisa membuat “RPP” sesempurna beliau. Hanya RPP sederhana inilah yang saya terapkan pada diri saya, dengan harapan melalui metode metode sederhana indikator capaian yang telah saya targetkan dapat tercapai dengan maksimal. Semoga Allah meridhoi ikhtiar saya dalam proses belajar ini. Aamiin.

Rizka Edmanda

2 Comments

  1. Semangat mbaaa, nggak ada teori saklek menjadi ibu yang baik tapi yang pasti setiap ibu pasti mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *