NHW #3 : MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

“Ta’aruf sejati hanya dimulai dengan pernikahan, karena proses saling mengenal adalah proses seumur hidup, Bukankah manusia itu dinamis & terus berubah? Apabila 1 aqidah, sesuai kriterianya, sama pula visi misi nya, sekufu bila perlu, maka perkara lain hanyalah soal saling memaklumi & saling membetulkan. Urusan perasaan, tenang saja, seiring waktu berjalan, ia akan tumbuh. Bukankah Allah janjikan cinta dalam pernikahan?” Demikianlah kira-kira yang laki-laki itu katakan saat saya memastikan keyakinannya untuk meminang. Meski tanpa melalui proses perkenalan yang panjang, entah kenapa diri ini tiba-tiba begitu yakin untuk mengiyakan. Pendek cerita, selang 6 bulan pasca lamaran, pesta pernikahan kami diselenggarakan. Dari sini tampak bahwa, urusan memilih jodoh ternyata bukan hanya perihal memilih yang kaya atau tampan, bukan pula hanya sekedar memilih yang sholeh atau berpendidikan. Sebab meski sesempurna apapun ia, namun apabila aqidah dan visi misi hidupnya saja sudah berbeda dengan kita maka tentu pernikahan yang kelak akan kita jalani tak akan mampu menjadi bahtera, untuk membawa rumah tangga langgeng sampai ke surga seraya membangun peradaban dari dalam rumah.

******

Mengapa saya memilih laki-laki ini?

Bagi saya, menentukan dan menemukan pasangan yang memiliki visi dan misi yang sama sangatlah penting,  Sebab ibarat kapal, bagaimana bisa ia berlayar dan sampai menuju tempat yang sama, jika sejak bertolak saja tujuannya sudah berbeda. Maka sejak dari awal, sebelum memutuskan untuk menerima pinangan laki-laki ini, hal pertama yang waktu itu saya lakukan adalah menyamakan persepsi, serta menghujaninya dengan beberapa pertanyaan seputar : Apa visi misi pernikahannya? Bagaimana wujud keluarga yang ia dambakan? Apa tujuan dia menikah? Dan Mengapa memilih saya? Hingga akhirnya Lewat 3-4 kali obrolan secara tak langsung via aplikasi chat LINE, saya pun luluh dan langsung menyilahkan laki-laki ini menghubungi bapak, untuk mengutarakan maksud dan niatnya. Bapak tak banyak berkomentar waktu itu, singkat saja, bapak Cuma bilang “tak baik menolak niat baik dari orang yang baik”.

Ahh, jika kembali mengingat-ingat masa-masa itu, dada ini langsung terasa hangat, belum pernah saya bertemu dengan laki-laki yang seberani ini sebelumnya. Belum pernah saya merasa begitu dihargai sebagai wanita. Belum pernah saya berjumpa dengan laki-laki yang begitu selaras visi misinya. Sehingga saya akui, dulu saya menerima laki-laki ini bukan karena telah jatuh hati, hanya sekedar simpati atas caranya yang berkelas saat mendekati. Hingga akhirnya hari pernikahan itu datang, kami pun resmi menjadi sepasang suami istri. Petualangan baru dimulai. Telah 10 bulan bahtera rumah tangga ini kami jalani, masih sangat muda memang, tapi dengan cara-caranya yang sederhana, laki-laki ini terus membuat saya jatuh cinta, setiap hari.

Laki-laki yang sebelumnya begitu asing dalam hidup saya ini tiba-tiba menjadi laki-laki yang kehadirannya begitu penting. Selepas menikah, kami melanjutkan proses ta’aruf kami, dengan hidup bersama kami jadi dapat lebih saling mengenal satu sama lain, saling memahami dan mendukung potensi diri masing-masing, saling memaklumi dan saling membetulkan. Sebagaimana orang yang saling “baru kenal”, kejutan demi kejutan terjadi, saya baru tau dibalik sikapnya yang dingin saat awal berkenalan dulu, laki-laki ini ternyata sosok yang humoris, dibalik sikapnya yang cuek dulu, ternyata laki-laki ini terkadang cukup romantis. Di sisi lain, saya pun tak bisa terus-terusan sok kalem,sok pendiam,dan sok ayu seperti yang saya tampakkan padanya saat awal-awal berkenalan dulu, beberapa bulan pasca menikah “sifat asli” saya akhirnya keluar, tak bisa saya mengelak bahwa saya adalah  sosok wanita yang manja, yang selalu butuh perhatian, dan yang terkadang juga menyebalkan. 🙂

Rasa cinta pada laki-laki ini semakin hari semakin tumbuh, bukan hanya karena kebaikan-kebaikannya, bukan pula hanya karena sopan santun dan tulus akhlak serta perangainya. Tapi juga karena saya percaya bahwa bersama laki-laki inilah visi misi akhirat saya dapat tercapai yakni : meraih surga bersama keluarga, dan cita-cita dunia sayapun dapat diraih, yakni membangun peradaban dari dalam rumah. Berhubung saya adalah tipe orang yang percaya bahwa cinta itu tak dapat tumbuh jika tak ditumbuhkan, maka dalam rangka untuk terus menumbuhkan cinta pada laki-laki ini, beberapa waktu lalu saya mengiriminya sepucuk surat cinta. Maklum, kami tak terlalu banyak bergombal-gombal saat dahulu, jadi dalam pernikahan inilah hasrat menggombal itu saya salurkan 🙂 Sekali-kali istri yang menggombal, tak apalah kan?

Surat Cinta Untuk Pak Suami

Karena kami hidup-tinggal dan kini bekerja di tempat yang sama, maka hampir 24 jam kami terus bersama-sama, disatu sisi saya mensyukuri kebersamaan ini, disisi lain saya sadar bahwa percakapan via online kini tak lagi terlalu sering kami lakukan, maka surat cinta itu saya sampaikan via whatsapp. Itung-itung sekalian nostalgia, jaman PDKT via sosialmedia dahulu kala. Menulis pesan singkat berisi gombalan untuk suami ternyata bikin kita ngilu-ngilu geli hahaha LOL. Sebenarnya sih, kalau bukan karena Komunitas Ibu Profesional yang menugaskan kami para peserta kuliah untuk “menulis surat cinta kepada suami” saya juga gak akan kepikiran tuh untuk membuat surat ini. Karena biasanya saya lebih suka menggombal secara langsung. Kan asik yah, sambil kita merayu-rayu manja, wajah suami pun mendadak merah lalu dibalas suami dengan pelukan dan kecupan mesra atau cubitan gemas di pipi ala-ala #eaaaakJOMBLO YANG BACA DILARANG BAPER  😛

Pasca surat cinta online itu dibaca dan dibalas suami dengan emoticon cium yang panjang, saya masuk ke ruangan kerja beliau, jangankan beliau sayapun jadi ikut-ikutan salah tingkah selepas mengirim surat cinta ini. Haha. Beliau cuma pura-pura sibuk main komputer seakan tak terjadi apa-apa, saya memang gak berekspetasi sih beliau akan balas pesan itu panjang lebar, karena toh romantisme pasangan suami istri tak harus melulu diwujudkan dengan kata-kata mesra ala Dilan dan Milea kan, bisa juga dengan pelukan-ciuman, atau diwujudkan dengan bertambahnya uang bulanan. HAHA. 😀

Hikmah dari setiap Pertemuan

Saya teringat pada sebuah materi kuliah dalam program matrikulasi Komunitas Ibu Profesional yang disusun oleh Ibu Septi Peni Wulandani. Dalam materi sesi 3 program matrikulasi ini kira-kira Ibu Septi menyampaikan : Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya  menuju peran peradabannya. Rumah adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita dan suami, diberi amanah oleh Allah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya untuk menjalankan suatu amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh peran serta amanah itu. Kemudian, saat terlahir kedunia pun , Allah melengkapi diri kita dengan “misi spesifik” yang harus kita jalani dan tugas kita adalah menemukan misi tersebut. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup, untuk membentuk sebuah keluarga, sesungguhnya juga ada misi spesifik dan hikmah yang harus ditemukan, agar pernikahan kita tidak hanya sekedar berguna untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, ketika kita bertemu dengan suami dan kemudian melahirkan anak-anak, sesungguhnya disitulah seharusnya kesempatan kita untuk menemukan misi dan hikmah yang Allah berikan, agar pernikahan kita mampu menjadi bahtera untuk membangun peradaban dari rumah. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Saya setuju dan percaya bahwa selalu ada hikmah dan “misi” yang Allah titipkan dalam setiap takdir, keputusan dan ketetapan-Nya. Begitupula dengan hikmah penciptaan diri saya didunia, hikmah saya bertemu dan berjodoh dengan laki-laki yang menjadi suami saya saat ini, hikmah saya ikut beliau pindah ke Kalimantan Tengah meskipun sama sekali tak memiliki keluarga dan kenalan disini, hikmah diberi ujian keguguran dan kembali hamil sebulan setelahnya, hikmah Allah titipkan seorang janin dalam Rahim saya yang kini tengah menunggu hari lahirnya dan seterusnya. Sebagai manusia yang dikaruniai akal, tugas saya tentu adalah memahami dan menyelami hikmah tersebut, agar penciptaan diri ini di dunia tak menjadi sia-sia. Hingga kini, peran dan misi spesifik itu masih terus saya cari, berharap pencarian ini akan bermuara pada suatu jawaban : ah jadi apapun saya di dunia tak apa-apa yang penting menjadi manfaat dan membawa kebaikan bagi diri sendiri, keluarga maupun bagi orang lain.

Namun, sebelum saya memulai proses perjalanan panjang untuk menemukan “Misi Spesifik” yang Allah beri pada saya dan pada keluarga yang akan saya bangun, memang penting kiranya untuk saya terlebih dahulu mengenal dan menyamakan persepsi serta menyamakan visi misi hidup saya dengan suami, sebab suami adalah pasangan  saya yang akan menemani perjalanan panjang dalam pencarian “misi spesifik” tersebut, suami pulalah yang akan menjadi partner bagi saya untuk dapat mewujudkan mimpi dan cita-cita membangun peradaban dari dalam rumah. Akhir kata, saya berharap semoga pernikahan saya dan Dani tak hanya menjadi sarana untuk melanjutkan keturunan, tak hanya menjadi penyempurna agama namun pula dapat menjadi gerbang awal terbentuknya generasi Rabbani, generasi yang beradab dan bermanfaat banyak bagi peradaban.

******

Artikel ini adalah tugas NHW #3 (Nice Homework 3) pada materi kuliah “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”di Program Matrikulasi Batch 5 Komunitas Ibu Profesional. Pada Materi ini peserta diminta untuk dapat menemukan peran spesifik diri dan keluarga dalam sebuah peradaban. Sebelum menemukan peran spesifik tersebut peserta diminta untuk menjawab pertanyaan mendasar dalam sebuah pernikahan, yakni mengenai apa hikmah dibalik bertemunya peserta dengan pendamping hidup yang kini menjadi suami? Mengapa Allah memilih laki-laki itu menjadi partner untuk bersama-sama menjalani bahtera rumah tangga? Dan Mengapa peserta memilih laki-laki tersebut untuk menghabiskan sisa hidup? Dengan menjawab pertanyaan diatas, peserta diharapkan akan memiliki acuan dasar untuk dapat menemukan hikmah pernikahannya, agar kelak pernikahan ini dapat menjadi bahtera untuknya dalam menjalani proses pencarian “misi spesifik” diri dan keluarga nya dalam sebuah peradaban. Pada tugas ini, peserta juga diminta untuk mengirimkan surat cinta kepada suami serta bernostalgia tentang cerita awal mula peserta jatuh hati dengan suami. Hal ini penting, dalam rangka merekatkan dan mengharmoniskan hubungan antara peserta dan pasangannya, sebab peserta dan pasangannya adalah tim dan partner yang harus bekerjasama dengan kompak dalam rangka mewujudkan cita-cita “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”

rizkaedmanda

Selamat datang di blog personal saya! www.rizkaedmanda.com. Blog ini akan banyak bercerita tentang kehidupan keseharian saya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga, TTC Fighter, sekaligus pegiat bisnis online. Tema blog ini adalah lifestyle, daily dan motherhood. Hope you enjoy this blog! Jika ada pertanyaan, ajakan kerjasama, postingan beriklan dan ajakan pertemanan, bisa disampaikan lewat email saya ya! rizkaedmanda@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *