NHW #1 : Adab Menuntut Ilmu

“Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia – IP”

*****

 

Tugas pertama pada Nice Homework di Program Kelas Matrikulasi Batch 5 Ibu Profesional ini membuat saya tiba-tiba saya teringat, tentang sebuah postingan status facebook, Gurunda Ustadz Salim A Fillah beberapa waktu silam. Kala itu beliau berujar tentang makna dari “Ilmu Keikhlasan”, bahwa hanya dengan memiliki Ilmu Ikhlas saja ternyata tak semata-mata menjadikan suatu amalan & perjuangan terasa ringan. Bila tak percaya ingatlah, kisah ketika Nabi Ibrahim A.S yang terpaksa meninggalkan Hajar dan Ismail di tengah padang tandus yang panas dan gersang, karena menjalankan perintah Allah. Ringankah? Ingatlah pula ketika Nabi Ibrahim A.S yang demi menjalankan tugas kerasulannya tak dapat menyaksikan putranya tumbuh dan berkembang lalu tiba-tiba diperintahkan Allah untuk menyembelih putra terbaiknya itu? Ringankah?. Tentu sama sekali tak ringan, tapi Al-Quran menjadi saksi dan menyebut Beliau sebagai seorang yang Mukhlis : lelaki yang paling ikhlas, dan dengan penuh keikhlasan melakukan segala yang dibisa, semata-mata karena Allah. Ini menjadi hikmah bahwa ternyata ikhlas tidak sama sekali menjadikan suatu urusan yang berat menjadi ringan, tak pula sebaliknya. Maka melakukan sesuatu hanya karena mengarap keridhaan Allah adalah bentuk ikhlas yang sesungguhnya.

Ikhlas adalah “Ilmu” yang ingin saya tekuni, dalam Universitas Kehidupan ini

Ketika memutuskan untuk menikah, 7 april 2017 lalu. Saya menjadi sadar bahwa hidup akan banyak berubah. Hidup tak akan lagi sesederhana bangun tidur, sholat subuh lalu berangkat kuliah. Saya sadar bahwa nanti pasca menikah saya akan mengabdi pada seorang laki-laki asing yang kelak saya panggil suami. Sadar bahwa kedepan nanti hidup tak akan lagi “Seringan” dulu, maka beberapa bulan sebelum berakad, saya buru-buru meluruskan niat, serta merapalkan doa-doa dalam tiap sujud istikharah, bukan sekedar doa agar kelak diberikan keluarga yang sakinnah, mawadah dan warahmah, lebih luas dari itu, saya ingin Allah meluruskan kembali keikhlasan hati dan niat ini, agar pernikahan & rumah tangga yang akan saya jalani kelak terjadi semata-mata karena-Allah dan untuk Allah. Sebab yang saya yakini, pernikahan & rumah tangga ini hanyalah bahtera untuk bersama-sama menuju surga-Nya. Bukankah begitu yang seharusnya? Tapi ternyata ikhlas tidaklah semudah mengucapkannya. Ikhlas yang semata-mata karena Allah maksud saya. Sebab kadangkala diri ini masih mengharap yang lain selain Allah dalam menjalankan bahtera pernikahan & rumah tangga. Misal, ketika saya berhias dan mempercantik diri, saya masih melakukannya karena ingin dipuji suami bukan semata mata karena Rasulullah menyunnahkannya atau karena Allah menghendakinya. Niat & keikhlasan yang demikian ini masih terus saya benahi dan lmu ikhlas inilah yang tengah tekun saya pelajari, sejak dulu, kini dan sampai nanti-nanti.

Mengapa Ikhlas adalah Ilmu yang ingin saya tekuni?

Membenahi niat agar ikhlas melakukan segala sesuatu semata-mata Karena Allah Azza Wajalla memang tak mudah, tapi saya percaya, bahwa kelak muara keikhlasan ini adalah rasa syukur dan sabar, sehingga nanti jika saya telah piawai dalam berikhlas, maka saya akan jadi manusia yang lebih ridha atas segala ketetapan-Nya. Saya akan jadi manusia yang lebih “menerima” Karena memang semua di dunia ini sudah digariskan, tanpa menafikan ikhtiar yang saya lakukan. Saya akan menjadi perempuan yang lebih berlapang dada, Termasuk mengenai segala konsekuensi atas pilihan-pilihan yang telah saya buat, baik pilihan menjadi seorang Ibu, dan pilihan menjadi seorang Istri dengan menjalani segala perannya termasuk mengurus suami, mengurus anak, dan lain sebagainya. Dengan ilmu ikhlas ini, saya berharap akan lebih bisa memaknai setiap ketidaksesuaian antara ekspetasi dan realita dalam hidup saya. Jika segala ekspetasi dapat terwujud menjadi nyata, saya akan jadi pribadi yang lebih bersyukur dan mawas diri. Namun jika ekspetasi itu tak dapat terwujud maka saya akan bisa lebih menerima meski akan sedikit timbul perasaan kecewa. Dengan memiliki Ilmu Ikhlas, saya tak lantas menjadikan diri berputus asa terhadap kasih sayang Allah.

Strategi Saya dalam Menuntut Ilmu Ikhlas tersebut

Sebagaimana yang telah saya utarakan diatas, strategi yang akan saya lakukan dalam rangka menuntut ilmu dunia-akherat ini adalah dengan meluruskan kembali niat serta menetapkan kembali “pijakan” atas pilihan-pilihan yang telah saya buat : Untuk apa saya menikah? Untuk siapa saya menikah? Apa konsekuensi atas pernikahan saya? Sebab jika saya telah memiliki pijakan yang kuat, sewaktu-waktu bila ujian datang dalam kehidupan pernikahan & rumah tangga saya maka saya akan tetap menjadi kuat. Sebab telah percaya bahwa baik dan buruk yang terjadi adalah telah menjadi ketentuan dan ketetapan Allah.

Perubahan Sikap yang Akan Saya Lakukan dalam Proses Mempelajari Ilmu Ikhlas ini

Perubahan sikap yang akan saya lakukan adalah dengan merekonstruksi niat sebelum berbuat, serta  memperbaiki sikap dan perilaku dan mengambil sisi baik dari semua guru kehidupan yang telah menularkan Ilmu Ikhlas nya kepada saya. Guru kehidupan ini bisa siapa saja, orang tua , suami, teman bahkan orang-orang yang tak saya kenal dan telah melihatkan kepada saya tentang bentuk-bentuk keikhlasan yang nyata. Selain itu adalah mengubah orientasi terhadap segala kebaikan yang saya lakukan, tak lagi boleh berorientasi pada pujian manusia namun harus berorientasi pada Keridhaan Allah.

******

Artikel ini adalah tugas NHW 1 (Nice Homework 1) pada Materi Kuliah Adab Menuntut Ilmu

dalam Program Matrikulasi Batch 5  Ibu Profesional

Nama Peserta Didik : Rizka Edmanda / Program Matrikulasi Kelas KalbarTeng Batch #5

Rizka Edmanda

26 Comments

  1. Bener sekali Mbak, suami saya juga sering mengajak ngobrol tentang apa tujuan menikah, apa tujuan melakukan sesuatu, Insya Allah kalau tujuannya selalu karena Allah, semuanya dipermudah urusannya apaila ada hal-hal yang dirasa kurang menyenangkan. Ilmu ikhlas itu, memang harus dipelajari ya, bukan cuma teori, kudu praktek

  2. Belajar di universitas kehidupan sungguh masya Allah. Ujian hidup yang sebenarnya ada disana. Semoga kita bisa melalyi ujian dan ‘lulus’ dengan nilai ‘baik’ aamiin

  3. Hmm, jadi ikut merenung, aku sering tuh dandan krn pingin dipuji suami. Kalau misal, niatnya dandan supaya suami senang, itu msh tergolong gk iklas ngga mba

    • hahaha mungkin sebaiknya ditanyakan ke diri sendiri ya mba. dimensi ikhlas urusannya sama niat.. jadi menjawabnya memang harus benar benar dair hati untuk hati

  4. Speechlees …
    Ikotan belajar di universitas kehidupan banyak banget tantangannya, semoga kita semua termasuk orang yang ikhlas yaa. Aamiin.
    Makasih sudah berbagi.

  5. mbak itu program ibu profesional apaan seh? beberapa temen aku juga ikut. Apa itu kelas online apa offline?

    • itu kelas online mba via whatsapp group. jadi nanti ada kuliah whatsapp, setiap level 8 kali kuliah dan ada beberapa tahapan. bisa dicek di situsnya mba Ibuprofesional dot com 🙂

  6. Ilmu ikhlas itu ilmu yang indah tapi lumayan berat untuk diamalkan. Aku masih terus dan terus belajar ilmu ikhlas. Terima kasih sudah diingatkan untuk terus mengamalkan ilmu ini, Mbak.

  7. MasyaAllah. Ikhlas muaranya kepada syukur dan sabar. Terima kasih. Konsep ini baru saya pahami setelah membaca tulisan ini,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *