A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Bagi saya seorang muslimah, dapat memberikan Qonita ASI Eksklusif selama 6 bulan penuh adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Bagaimana tidak, menyusui adalah suatu hal yang sangat dianjurkan dalam Islam, bahkan anjuran menyusui juga tertuang secara khusus dalam Al-Quran yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 233.

Tak hanya itu, kebahagiaan dalam memberikan ASI pada sang buah hati juga dikarenakan ASI memiliki komponen nutrisi terlengkap bagi bayi, didalamnya terdapat kandungan makronutrien dan mikronutrien yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang mereka diantaranya adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, karnitin hingga zat lain yang tak bisa digantikan oleh komponen formula apapun seperti misalnya kolostrum dan hormon.

Ngomong-ngomong soal nutrisi nih, meskipun kita semua telah sepakat bahwa ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, namun ternyata setelah anak-anak kita berusia 6 bulan, kebutuhan nutrisi mereka tidak bisa hanya ditopang oleh ASI lho! Hmmm kok begitu ya, Padahal kan katanya pemberian ASI dianjurkan sampai bayi berusia 2 tahun? Nah hal ini dikarenakan terdapat gap atau kesenjangan antara kebutuhan nutrisi harian anak dengan kandungan nutrisi yang terdapat didalam ASI. Seiring pertumbuhannya, anak-anak kita juga membutuhkan nutrisi yang lebih banyak dan kompleks ketika usianya memasuki 6 bulan, yang mana kebutuhan ini tidak cukup dipenuhi dengan hanya memberikan ASI saja. Maka dari itu kita mengenal istilah MPASI yaitu makanan pendamping ASI yang diberikan pada anak antara usia 6 bulan hingga 2 tahun untuk membantu melengkapi gap atau kesenjangan nutrisi tersebut.

Gap atau kesenjangan nutrisi yang disebutkan diatas maksudnya adalah selisih antara kebutuhan nutrisi bayi dengan kecukupan yang diperoleh dari ASI untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel berwarna kuning adalah energi yang tercukupi dari ASI sedangkan tabel berwarna putih adalah energi yang tidak tercukupi oleh ASI sehingga harus ditambahkan dengan pemberian MPASI. 

 

Pentingnya Zat Besi Bagi Tumbuh Kembang Bayi

Salah satu komponen penting yang dibutuhkan oleh bayi namun sudah tak tercukupi lagi oleh ASI setelah bayi berusia 6 bulan adalah zat besi. Pada usia 0-5 bulan sebetulnya bayi masih mendapatkan cadangan zat besi yang diperoleh dari ibu baik sejak dalam kandungan melalui plasenta hingga mereka lahir melalui ASI. Namun ketika usia mereka menginjak 6 bulan dan seterusnya Ibu perlu mempertimbangkan pemberian MPASI kaya zat besi untuk mencukupi kebutuhan zat besi pada bayi yang semakin meningkat dari hari ke hari.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam hasil simposium mengenai suplementasi zat besi menyebutkan bahwa setiap bayi diatas 6 bulan membutuhkan 11 mg zat besi perhari. Kebutuhan asupan zat besi harian ini tak dapat sepenuhnya dicukupi oleh ASI saja sebab ASI hanya memenuhi sekitar 0,2 mg dari total kebutuhan zat besi bayi. Sehingga selisih 10,8mg zat besi yang masih kurang harus dicukupi melalui pemberian MPASI yang adekuat atau mencukupi kebutuhan nutrisi harian bayi termasuk kebutuhan zat besi harian. 

Zat besi sangat diperlukan bagi bayi, sebab zat besi inilah yang akan memproduksi hemoglobin yang bertugas untuk membawa oksigen didalam darah ke seluruh sel-sel didalam tubuh. Kekurangan hemoglobin akan menyebabkan kondisi bayi mengalami anemia defisiensi besi atau ADB. Anemia defisiensi besi apabila dibiarkan berkepanjangan bisa membawa berbagai resiko bagi kesehatan bayi, mulai dari kurangnya nafsu makan sehingga membuat anak GTM atau (gerakan tutup mulut), kekurangan nutrisi, kenaikan berat badan yang stagnan hingga membawa dampak buruk terhadap perkembangan psikososial anak. Pada puncaknya apabila anemia defisiensi besi yang sudah masuk kategori berat , tak ditangani secara serius maka akan menyebabkan gangguan perkembangan kognitif pada anak.

Peranan zat besi dalam perkembangan kognitif atau kecerdasan anak adalah dalam proses pembentukan sel-sel saraf pada otak. Sebagaimana kita tau bahwa usia 0-2 tahun adalah usia dimana perkembangan otak anak tengah pesat-pesatnya. Perkembangan otak ini tidak terlepas dari proses mielinasi, yaitu proses pembentukan selubung saraf yang berfungsi menyempurnakan kinerja otak, nah dalam proses mielinasi zat besi berfungsi sebagai pelindung agar aliran impuls antara saraf satu dan lainnya berjalan dengan baik. Maka bisa dibayangkan apa yang terjadi apabila anak anak kita mengalami kekurangan zat besi, tentu akan berbahaya sekali bukan. 

Sumber Zat Besi Bayi Bisa Diperoleh dari MPASI Rumahan dan diselingi MPASI Fortifikasi

Zat besi ini sebetulnya bisa diperoleh secara alami dari MPASI rumahan dengan bahan makanan yang mengandung daging-dagingan, atau sayuran yang berwarna hijau seperti bayam dan brokoli. Misalnya saja, untuk memenuhi kebutuhan zat besi sebanyak 11mg, maka setidaknya dalam MPASI rumahan yang dibuat harus ditambahkam daging sapi sebanyak 400gram perhari karena setiap 400 gram daging sapi memiliki 11,2mg zat besi atau bisa juga dengan menambahkan hati ayam sebanyak 60 gram karena pada 60gram hati ayam terdapat 11mg zat besi. 

Namun sayangnya meskipun sedemikian kompleks kebutuhan bayi akan zat besi dan nutrisi lainnya, lambung bayi masih sangatlah kecil sehingga belum mampu mencerna makanan dalam jumlah yang banyak. Bayangkan saja apakah bayi sanggup memakan 400 gram atau 65 gram hati ayam setiap hari? Apalagi mengingat kemampuan oromotor dan pencernaan mereka juga belum  sempurna.

Maka dari itu sebagai solusinya WHO atau Badan Kesehatan Dunia dalam rilisan Complementary Food For Breastfeeding Children merekomendasikan pemberian MPASI FORTIFIKASI sebagai selingan dari MPASI rumahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi khususnya zat besi. 

 

MPASI Fortifikasi itu Apa Sih?

Pada umumnya orang awam lebih sering menyebut MPASI Fortifikasi sebagai “bubur bayi instan” kalau saya pribadi sejujurnya lebih senang dengan penyebutan MPASI Fortifikasi karena memang sebutan ini yang lebih tepat. Di luar negeri saja tidak dikenal istilah bubur bayi instan, yang dikenal adalah MPASI Fortifikasi, sekalipun memang rata-rata MPASI kemasan yang telah terfortifikasi ini disajikan dalam bentuk bubur yang bisa diolah secara instan. 

Lantas demikian apa maksudnya MPASI Fortifikasi? MPASI fortifikasi disini maksudnya adalah makanan bayi yang diolah pabrik dengan diberikan tambahan nutrisi untuk memperkaya kandungan nutrisi alaminya misalnya dengan pemberian zat besi tambahan agar bisa mencukupi kebutuhan bayi akan zat besi sehingga meskipun disajikan dengan porsi yang kecil sesuai usia bayi namun tetap dapat mencukupi kebutuhan nutrisi hariannya.

Namun sayangnya salah kaprah yang banyak terjadi adalah MPASI fortifikasi sering dianggap sebelah mata. Kebanyakan menganggap bahwa MPASI fortifikasi memiliki pengawet sehingga tidak aman bagi bayi padahal Makanan bayi pabrikan yang telah difortifikasi itu diproduksi sesuai aturan WHO dan diawasi oleh WHO atau Badan Kesehatan Dunia serta BPOM dalam proses pembuatannya. Kalaupun ada zat aditif, seperti garam dan gula, ada aturannya, tidak diberikan berlebihan dan disesuaikan dengan usia bayi. 

Selanjutnya tinggal kita saja sebagai orang tua yang harus cermat memilih jenis dan merek MPASI pabrikan terfortifikasi dengan jaminan kualitas yang dipercaya serta tak kalah penting memiliki legalitas seperti izin BPOM dalam pendistribusiannya. 

Nestlé CERELAC, Pilihan nutrisi untuk sang buah hati

Diantara sekian banyak merek MPASI pabrikan terfortifikasi yang beredar di pasaran, satu yang saya andalkan bagi buah hati saya Qonita adalah Nestlé CERELAC. Maka dalam upaya memberikan asupan nutrisi terbaik bagi Qonita saya mengkombinasikan MPASI rumahan dan Nestlé CERELAC. Saya yakin keduanya akan saling melengkapi kebutuhan nutrisi harian anak saya. Melalui MPASI rumahan saya bisa mengenalkan rasa alami makanan pada anak sambil memberikan nutrisi melalui bahan pangan yang biasa konsumsi dirumah sedangkan gap atau kesenjangan nutrisi yang kurang dan tidak tercukupi oleh MPASI rumahan bisa dilengkapi dengan Nestlé CERELAC. 

Alasannya sebetulnya sederhana saja, saya pribadi telah mengenal brand Nestlé sejak sekian lama. Brand ini telah dipercaya selama lebih dari 150 tahun dalam memproduksi makanan minuman bernutrisi tak hanya bagi bayi atau anak-anak tapi juga bagi orang dewasa. Hal yang paling saya suka dari Nestlé CERELAC yang pertama adalah varian rasanya yang sangat banyak. Sehingga Qonita tidak gampang bosan karena saya bisa mengganti menu dan varian rasa setiap hari disesuaikan dengan selera Qonita. Pilihan varian rasa CERELAC tersedia untuk bayi mulai dari usia 6 bulan, 8 bulan hingga 1 tahun sehingga bisa kita sesuaikan dengan bayi. Varian rasa favorit Qonita adalah Oat & Prunes, Bananalicious dan Tomato & pumpkin stew, tapi seiring usianya bertambah nanti saya bisa mengenalkan ragam varian rasa lainnya seperti honey & dates saat Ia berusia 1 tahun nanti.

Semangkuk CERELAC diperkaya dengan 20% yodium, 65% Zat Besi, 30% Zink, 40% Vitamin A dan ragam nutrisi lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi bayi. CERELAC menjaga kualitasnya dengan memastikan bahan bakunya ditanam ditempat yang jauh dari polusi dan dipilih dengan teliti agar bisa memberikan kualitas yang baik untuk si kecil. Tak hanya itu, Nestlé juga melakukan pengujian dan pengawasan ketat sesuai dengan standar yang tinggi untuk menjamin kualitas mutu CERELAC.

Nutrisi  dalam semangkuk CERELAC telah difortifikasi dengan zat besi, mineral dan mikronutrien lainnya serta disesuaikan untuk pemenuhan gizi seimbang bagi bayi. Dengan beragam kebaikannya, saya percaya CERELAC akan mampu membantu saya untuk mencukupi kebutuhan nutrisi Qonita di periode emasnya. 

Nah Bunda, CERELAC adalah pilihan andalan saya untuk melengkapi kebutuhan nutrisi Qonita, bagaimana dengan bunda? yuk sharing di kolom komentar ya

#Tenangajabunda #CERELACmamamyuk #mpasi #mpasi6bulan

Info lebih lanjut bisa visit: www.mamamyuk.co.id

error: content is protected