Tentang Pemberian MPASI Dini dan Konsekuensinya

mpasi-dini

Tadi malam, Grup WA Birthclub June 2018 yang saya ikuti mendadak heboh, gara-gara sebuah postingan status dari akun facebook seorang Ibu bernama Nino Ayu yang mendadak viral pasca bayi nya dioperasi karna pembusukan usus. Jadi ceritanya, bayi dari Ibu ini diberi makan oleh keluarga saat usia bayi tersebut masih berusia 5 bulan, akhirnya perut si anak membesar dan mengeluarkan tinja berdarah hingga kemudian diketahui dari dokter yang memeriksa bahwa ususnya telah membusuk dan harus segera dipotong sepanjang setengah meter lebih.

Kasus ini bukan yang pertama, jauh sebelum kasus Ibu Nino Ayu viral, sosial media juga sempat digemparkan oleh kasus meninggalnya seorang bayi berusia 1 bulan akibat diberi makan pisang. Ada lagi curhat seorang dokter ahli bedah di twitter yang menyesalkan karena akhir-akhir ini jumlah pasien bayi dengan kasus usus terlipat yang Ia operasi meningkat akibat maraknya pemberian MPASI sebelum waktunya tanpa pengawasan dokter spesialis anak oleh orangtua gara-gara banyak orangtua yang mengikuti tren seorang artis kenamaan tanah air.

MPASI-DINI

Kasus pemberian MPASI Dini tanpa pengawasan tenaga kesehatan (Dokter,bidan atau perawat) Memang masih marak di Indonesia, padahal Pemerintah lewat Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dan PP Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Ekslusif telah menegaskan bahwa ASI Ekslusif harus dilaksanakan selama 6 bulan, itu artinya MPASI baru boleh diberikan setelah anak berusia 6 bulan. Ataupun bila ada keadaan (indikasi) yang membolehkan anak diberikan MPASI dini (sebelum waktunya), haruslah dilakukan dibawah pengawasan dan atas saran tenaga ahli.

Namun sayangnya, masih banyak orangtua yang berdalih “jaman dulu aja kita sudah diberi makan pisang saat usia 2 bulan”, Atau ada pula orangtua yang berdalih memberikan MPASI dini pada bayi karena merasa bayi nya rewel (menangis terus) dan tidak cukup kenyang jika hanya diberikan susu. Padahal kita tau bahwa bayi menangis bukan hanya semata-mata karena haus atau lapar, bisa jadi karena memang gelisah, bisa jadi karena emang lagi manja, lagi pengen dimanja *kayak lagu siti badriah, atau bisa pula karena sedang mengalami fase growth spurt atau lonjakan pertumbuhan.

Terlalu dangkal rasanya menafsirkan bayi yang menangis terus itu akibat air susu kurang apabila tanpa melihat grafik kenaikan berat badannya pada KMS. Ingat, kecukupan ASI tidak bisa dinilai dengan subjektif tapi harus dinilai dengan objektif yakni berdasarkan kenaikan berat badan, panjang badan dan lingkar kepala serta jumlah buang air kecil dalam sehari.

MPASI Dini, Perlukah?

Bicara soal MPASI, kita tidak akan bisa terlepas dari ASI. Sebab MPASI adalah Makanan Pendamping ASI yang mana artinya ASI adalah yang makanan yang utama sedangkan makanan lainnya adalah asupan dampingan. Persoalan ASI telah diatur Pemerintah dalam Undang-Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009. pada Pasal 128 ayat 1 yang menyebutkan “Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis”.

Peraturan mengenai Pemberian ASI ekslusif juga diatur lebih rinci dalam PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian ASI Ekslusif yang diterbitkan pada tanggal 1 maret 2012. Pada Pasal 1 Ayat 2 disebutkan bahwa ASI Ekslusif adalah  ASI yang diberikan kepada bayi tanpa menambahkan/mengganti dengan makanan atau minuman lain. Kemudian Dalam Pasal 6 di Peraturan Pemerintah ini disebutkan bahwa “Setiap Ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Ekslusif kepada bayi yang dilahirkannya”.

Ini artinya selama 6 bulan penuh atau selama 180 hari, Bayi tidak perlu diberikan tambahan makanan, minuman atau formula apapun selain ASI kecuali atas indikasi medis tertentu. Kemudian yang jadi pertanyaannya adalah, indikasi medis yang seperti apa yang membolehkan bayi diberikan makanan/minuman atau formula apapun selain ASI?

Pada Pasal 8 BAB III Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2012 tersebut, dikatakan bahwa indikasi medis yang membolehkan seorang anak/bayi diberikan MPASI sebelum waktunya hanya dapat dikeluarkan oleh dokter, berdasarkan standar profesi, standar pelayanan dan standar prosedur operasional (pasal 8 ayat 2 PP Nomor 33 Tahun 2012). Atau apabila di daerah tersebut tidak ada dokter, indikasi medis juga boleh dilakukan oleh bidan atau perawat (Pasal 8 Ayat 3).

Indikasi medis yang membolehkan bayi menerima asupan makanan/minuman/formula selain ASI dibawah 6 bulan disebutkan lebih rinci dalam Penjelasan PP Nomor 33 Tahun 2012. Bahwa, kondisi medis yang bayi dan/atau kondisi Ibu yang tidak memungkinkan dilakukannya pemberian ASI Ekslusif adalah : Bayi dengan galaktosemia klasik, Bayi dengan penyakit pada saluran kemih, Bayi dengan fenilketonuria, bayi yang lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 1500 gram), bayi premature yang lahir kurang dari 32 minggu, bayi yang beresiko hipoglekimia atau Ibu yang mengidap HIV, Ibu yang menderita penyakit parah, Ibu yang harus menerima perawatan akibat penyakit kronis tertentu  (misal sepsis, herpes dll), Ibu yang sedang menjalani kemoterapi, Ibu yang meninggal dunia, atau Ibu yang terpisah dari bayi akibat kondisi bencana.

Adakah hukuman apabila melanggar hal tersebut? Ada. Sebab pemberian MPASI  terlalu dini dapat menyebabkan potensi anak gagal mendapatkan ASI Esklusif maka dalam hal ini Pemerintah juga telah mengatur dalam Pasal 200 Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 bahwa Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

Sampai disini jelas, bahwa apabila bayi atau Ibu tidak mengalami hal-hal sebagaimana disebutkan diatas maka pemberian ASI Ekslusif wajib diupayakan / diikhtiarkan dengan semaksimal mungkin. Apabila dilanggar ada sanksi denda dan pidana. Dan telah jelas pula bahwa indikasi medis pemberian MPASI dibawah 6 bulan hanya boleh dilakukan atas saran / indikasi medis tenaga ahli di bidang kesehatan.

Jadi tidak bisa ya, hanya karena bayi sudah tegak kepalanya di usia 3 bulan lalu ujug-ujug mau dikasi makan, atau hanya karena bayi mulai cengak-cengok liat orang makan di usianya yang masih 3 bulan juga dianggap sudah bisa dikasi makan. Seperti yang saya uraikan diatas, wajib ada indikasi medis yang jelas dan dikeluarkan oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan atau perawat) untuk memberikan anak MPASI sebelum waktunya, Bagaimanapun kita ini hanyalah seorang ibu bukan dukun atau peramal yang bisa meraba-raba apakah kemampuan oromotor anak, kemampuan saluran cerna nya sudah benar-benar matang untung memproses makanan. Biarkan yang ahli yang menentukan.

mpasi-dini

Mengapa MPASI Harus Diberikan Setelah 6 bulan?

Bicara tentang pemberian MPASI dini saya jadi penasaran mengapa sih banyak Ibu-Ibu yang “berani” memberikan MPASI dibawah 6 bulan? Ternyata usut punya usut, sebelum PP nomor 33 Tahun 2012 diberlakukan tepatnya beberapa belas tahun yang lalu, Pemerintah Indonesia atas saran dari IDAI, WHO, AAP memang merekomendasikan pemberian ASI eksklusif hanya sampai 4 bulan. Setelah itu bayi boleh diberikan MPASI. Bahkan hingga kini masih terdapat beberapa Negara di Eropa yang juga memberikan aturan bahwa MPASI boleh diberikan sesudah bayi berusia 17 minggu (4 bulan).

Namun berdasarkan penelitian terbaru yang dituangkan dalam Panduan Prinsip Pemberian Makanan Anak ASI secara Komplememter (Guideline Principle For Complementary Of Breastfed Child) yang dirilis oleh WHO disebutkan bahwa ternyata pemberian ASI Ekslusif selama 6 bulan terbukti memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan bila hanya diberikan selama 4 bulan. Maka dari itu pemberian MPASI sebaiknya ditunda hingga 6 bulan.

Perlu diketahui, Pemerintah Negara kita dalam merumuskan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah juga tidak asal-asalan. Sebuah peraturan dibuat berdasarkan rancangan dari pihak lembaga terkait yang ahli dalam hal tersebut. Misal, UU mengenai narkotika, Pemerintah akan bekerjasama dengan para ahli di bidang psikotropika untuk membuat rancangan UU mengenai narkotika, begitupula dalam merumuskan UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 serta PP No 33 Tahun 2012 mengenai Pemberian ASI Ekslusif pastilah Pemerintah membentuk peraturan tersebut berdasarkan saran/rancangan dari para professor/ahli kesehatan. Sehingga tentu penetapan ASI Ekslusif selama 6 bulan oleh Pemerintah telah melalui serangkaian pertimbangan yang panjang baik dari sisi ilmiah/medis, sosial ekonomi, yuridis dan lain sebagainya.

Begitupula ketika ada pembaharuan di bidang penelitian, Pemerintah tentu akan melakukan transformasi hukum dan merevisi peraturan sesuai dengan perkembangan zaman, karena hukum itu dinamis Jadi ketika ada penelitian termutakhir tentang manfaat ASI Ekslusif 6 bulan yang terbukti lebih besar maka Pemerintah pun akan menyesuaikan peraturan dengan menetapkan ASI Ekslusif harus diberikan selama 6 bulan.

Karena kebanyakan yang saya lihat, kasus yang terjadi adalah gagalnya pemberian ASI ekslusif akibat MPASI diniini diakibatkan hanya karena orangtua yang mengira-ngira sendiri kalau anaknya sudah bisa diberi makan. “Ih anakku lehernya udah tegak nih, juga udah mulai suka jilat-jilat tangan kayaknya boleh dikasi makan” padahal usia anaknya masih 2 bulan. kan kasian 🙁

Kemampuan Setiap Bayi/Anak Berbeda

Bayi atau anak-anak kita adalah sosok yang istimewa. Kemampuan satu bayi tidak bisa disamakan dengan kemampuan bayi lainnya. Kadang, ada bayi yang kemampuan oromotornya telah berkembang dengan baik di usianya yang masih 4 bulan, ada pula bayi yang hingga usia 5 bulan kemampuan oromotor nya masih belum berkembang dengan cukup baik (kemampuan oromotor adalah kemampuan gerak motorik pada otot-otot pada wajah, rahang, langit-langit, kerongkongan, dan tenggorokan ).

Begitupula dengan kemampuan saluran cerna. Antara 1 bayi dengan bayi lainnya tentu berbeda. Pada kasus ibu Nino Ayu misalnya, barangkali bayi Ibu Nino memang belum terlalu baik kemampuan saluran cernanya walaupun usianya telah 5 bulan, sehingga terjadi kasus pembusukan usus akibat usus nya yang belum mampu mencerna makanan. Beda halnya mungkin dengan Ibu lain yang bisa jadi memiliki anak dengan kemampuan saluran cerna yang telah berkembang dengan baik di usia 4,5 bulan.

Karena itu, dalam Panduan Prinsip Pemberian Makanan Anak ASI secara Komplementer dirilis oleh WHO, batasan ASI ekslusif diberikan selama 6 bulan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa pada usia tersebut mayoritas bayi telah memiliki kemampuan yang sempurna untuk mengolah makanan baik dari sisi oromotornya maupun dari sisi saluran cerna mereka.

Pertimbangan lain adalah karena pada usia tersebut asupan nustrisi pada bayi usia 6 buln keatas juga sudah tidak bisa tercukupi oleh ASI saja. Gap (selisih) antara kebutuhan nutrisi bayi dengan kecukupan yang diperoleh dari ASI/MPASI dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel berwarna kuning adalah energi yang tercukupi dari ASI sedangkan tabel berwarna putih adalah energi yang tidak tercukupi oleh ASI sehingga harus ditambahkan dengan pemberian MPASI.

mpasi-dini
Sumber : Complementary Family Food For Breastfed Children Oleh WHO

Adalah menjadi hak orangtua untuk memilih kapan mulai memberikan MPASI kepada anak, begitupula dengan metode pemberian MPASI yang dirasakan paling tepat. Sebagian memilih BLW (baby led weaning), semi BLW, Spoon feeding, responsive feeding atau apapun namanya terserah masing-masing pilihan ya. Tapi yang harus diingat adalah setiap keputusan selalu ada konsekuensi yang mengikuti. Dan mendapatkan pilihan yang terbaik adalah HAK seorang anak.

Saya memang orang awam. Saya bukan tenaga kesehatan. Saya hanya seorang Ibu yang menginginkan segala yang terbaik untuk anak. Sama halnya dengan semua orangtua di dunia pada umumnya. Saya sengaja mengangkat isu ini di blog saya, karena kegelisahan saya akan tingginya angka pemberian MPASI dini pada bayi tanpa ada indikasi medis yang jelas dari tenaga ahli, Mulai dari karena ketidaktahuan orangtua hingga karena sekedar ikut-ikutan tren di sosial media semata, yang akhirnya hal ini mengakibatkan banyaknya korban-korban yang berjatuhan  mulai dari bayi terkena diare, ISPA, tersedak, pembusukan usus dan lain sebagainya.

Melalui tulisan ini saya berharap dapat menambah sedikit wawasan pada orangtua tentang waktu pemberian MPASI yang paling tepat, berdasarkan sumber-sumber yang kredibel agar kita para orangtua dapat betul-betul mempertimbangkan konsekuensi pemberian MPASI pada bayi sebelum waktunya.

Kesimpulan :

  1. ASI Ekslusif adalah ASI yang diberikan selama 6 bulan TANPA penambahan makanan/minuman/formula apapun, kecuali vitamin & vaksin.
  2. Pemberian makanan/minuman/formula tambahan dibawah 6 bulan HANYA BOLEH dilakukan APABILA ADA INDIKASI MEDIS yang dikeluarkan secara resmi oleh TENAGA KESEHATAN.
  3. Tenaga kesehatan harus mengawasi pemberian makanan/minuman/formula tambahan pada bayi dibawah 6 bulan
  4. Pemerintah sudah mengatur peraturan tentang ASI Ekslusif selama 6 bulan dan memiliki konsekuensi pidana dan denda apabila dilanggar
  5. Para ahli kesehatan di dunia telah sepakat bahwa ASI ADALAH MAKANAN TERBAIK BAGI BAYI. Bahkan menyusui juga dianjurkan oleh SEMUA AGAMA.
  6. Jangan berikan anak/bayi MPASI sebelum 6 bulan hanya karena keisengan semata, atau hanya karena ikut-ikutan tren di social media, apalagi Cuma karena kasian melihat anak yang sudah menunjukkan tanda-tanda siap makan padahal nyatanya belum betul-betul siap atau belum waktunya, yang perlu dikasihani adalah jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anak hanya karena keteledoran kita sebagai orang tua memberikan makan pada anak sebelum waktunya.
  7. Pemberian MPASI Dini tanpa pengawasan tenaga kesehatan dapat memicu berbagai resiko mulai dari kerusakan saluran cerna, ASI Ekslusif gagal, produksi ASI ibu menurun karena berkurangnya daya hisap bayi, obesitas dan lain sebagainya

Sumber  :

  • Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009
  • PP Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Ekslusif
  • Guideline Principle Complementary Feeding The Breastfed Child – WHO
  • Complementary Feeding Family Foods for Breastfed Children – WHO
  • Beberapa artikel pada blog Dokter Meta Hanindita (Dokter Spesialis Anak) dan penulis buku Mommyclopedia

Rizka Edmanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *