A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

let's read minat baca anak


“Buku hanyalah alat peraga yang membantu anak menyerap ilmu.

Minat baca adalah ruh yang menghidupkannya”

– Rizka Edmanda –

1 Juni adalah tanggal yang istimewa bagi keluarga kecil saya. Selain karena tanggal tersebut adalah hari pancasila yang mengingatkan kami akan semangat nasionalisme & cinta bangsa, pada tanggal tersebut pula putri kami tercinta Qonita, lahir ke dunia. Tahun ini, ia merayakan ulang tahunnya yang kedua. Di hari tersebut saya dan suami memberikannya hadiah yang istimewa. Yaitu beberapa buah buku cerita baru untuk dibaca bersama. Masih lekat dalam ingatan saya dua bola mata kecil Qonita yang berbinar kala menerima kado berisi buku-buku itu. Ia girang bukan kepalang. Sambil “jejingkrakan” ia peluk saya dengan erat lalu ia katakan “buku” berulang-ulang. Demikianlah kecintaan Qonita pada buku. Baginya, buku adalah teman dan dibacakan buku adalah hiburan yang menyenangkan. Kecintaan Qonita pada  buku dan aktivitas membaca tentu tak muncul begitu saja. Semua berawal dari cita-cita kami untuk dapat menumbuhkan minat baca anak sejak usia dini.

Harapan Besar dibalik Upaya Menumbuhkan Minat Baca Anak

minat baca anak

Bagi saya dan suami, mengembangkan kecakapan lisan dan ketrampilan berbahasa anak sama pentingnya dengan memberikan nutrisi terbaik untuknya. Jika secara fisiologis kita sebagai orang tua selalu berupaya untuk memberikan asupan gizi terbaik untuk anak-anak kita, maka sudah seharusnya kita juga tak lupa melakukan yang terbaik untuk perkembangan kognitifnya. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan minat baca pada anak sejak usia dini. Menumbuhkan minat baca anak terbukti memiliki banyak manfaat dalam perkembangan kognitif dan ketrampilan berbahasa mereka.

Penelitian menyebutkan anak yang gemar membaca memiliki  perbendaharaan kosakata yang lebih kaya  serta kemampuan berbicara yang lebih baik di masa depan dibanding mereka yang tidak gemar membaca. The American Academy of  Pediatrics (AAP) dalam sebuah jurnalnya menyebutkan, aktivitas rutin membaca nyaring atau reading aloud yang dibiasakan sejak kecil juga dapat meningkatkan perkembangan otak anak. Maka dari itu, AAP merekomendasikan orang tua membacakan anak buku sejak anak berusia dini.

Selain itu, kebiasaan membaca juga dapat menjadi awal tonggak kecintaan anak pada kegiatan belajar di bangku sekolah nantinya. Sebab membaca adalah urat nadi yang menghidupkan proses pendidikan. Jika sejak kecil anak sudah gemar membaca, maka kelak ia akan lebih mudah belajar dan menerima wawasan baru lewat beragam bacaan favoritnya.

menumbuhkan minat baca anak

Sadar bahwa gemar membaca adalah sebuah kebiasaan baik yang punya beragam manfaat, maka saya dan suami sepakat untuk menumbuhkan semangat membaca dalam keluarga-terkhusus pada anak kami sedini mungkin. Sebab kami percaya, keberhasilan pembibitan budaya membaca pada generasi muda sangat ditentukan dari kebiasaan membaca dirumah. Menumbuhkan minat baca pada anak sejak usia dini adalah upaya kami sebagai orang tua untuk membentuk anak yang mencintai proses belajar serta berwawasan luas dan terbuka. Selain itu, menumbuhkan minat baca anak juga adalah bentuk ikhtiar kami untuk membentuk generasi terbaik dari dalam rumah sebab kami percaya minat baca adalah pondasi bagi melesatnya berbagai kemajuan sebuah bangsa.

Perjalanan Panjang Menumbuhkan Minat Baca Anak 

0-6 Bulan

Awal perjalanan mengenalkan Qonita pada kebiasaan membaca kami mulai sejak ia masih dalam kandungan. Tepatnya saat indra pendengaran Qonita mulai berkembang di usia kehamilan saya sekitar 4 bulan waktu itu. Kebiasaan membacakan buku saat hamil konon memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah untuk meningkatkan kedekatan hubungan orangtua-anak. Kemudian banyak pula studi yang mengungkapkan bahwa stimulasi suara dengan cara membacakan buku pada bayi  didalam kandungan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa serta kecerdasannya di kemudian hari. Sebab otak janin sejak kehamilan trimester kedua sudah mampu beradaptasi dengan suara dan bahasa yang ia dengar sejak dalam rahim.

Ajaibnya, saat hamil dulu setiap kali saya membacakan buku selalu ada respon positif yang ia berikan dari dalam sana. Misalnya dengan tendangan kecil atau gerakan halus di perut saya. Seolah-olah kegiatan membaca buku juga menjadi sarana bercakap-cakap antara saya dengan janin saya kala itu.

Kemudian ketika Qonita lahir hingga usianya 6 bulan saya mulai mengenalkannya dengan buku-buku kontras tinggi. Yaitu buku yang didominasi oleh warna hitam & putih atau warna-warna tunggal yang mencolok. Pada usia ini kemampuan melihat anak memang belum sempurna sehingga saya sengaja memilihkan buku dengan objek gambar yang sederhana. Pada setiap halaman buku biasanya hanya ada 1-2 gambar sehingga saya harus berusaha untuk menceritakan gambar tersebut dengan bahasa sendiri.

Di awal-awal, Qonita memang belum terlalu menunjukkan ketertarikannya pada buku. Saat saya bacakan cerita ia sempat tak menggubris dan acuh. Tapi saya tak menyerah begitu saja. Saya terus membacakan buku untuknya kapanpun ada kesempatan. Saya mencoba menggunakan kalimat yang berima, nada suara yang lebih ekspresif serta membacakan buku dengan teknik membaca nyaring (reading aloud). Hingga perlahan-lahan usaha saya membuahkan hasil, Qonita pun mulai tertarik saat saya bacakan buku dan mulai meresepon suara saya dengan ocehannya.

6-12 Bulan

Pada usia ini, Qonita sudah mulai senang mengeksplorasi. Seringkali saat saya tengah membacakan buku padanya, ia juga penasaran ingin memegang buku tersebut. Saya membiarkan Qonita ikut mengeksplor buku yang sedang kami baca. Menurut saya, ini adalah awal yang baik untuk memantik ketertarikannya pada buku. Saya memberikan buku mini dengan ukuran sebesar telapak tangannya agar ia lebih mudah memegang buku tersebut. Selain mengenalkannya pada buku, saya juga kerap mengajaknya bermain kartu baca (flashcard). Saya ingat betul di usia Qonita 10 bulan waktu itu, Qonita sudah bisa membedakan 2 buah benda dari kartu baca yang saya tunjukkan. Kemajuan ini tentu membuat saya terharu. Sebab hasil dari aktivitas rutin membaca yang saya benihkan sejak ia dalam kandungan perlahan mulai terasa manfaatnya. MasyaAllah Tabarakallah.

Selain itu saya juga mulai rutin membacakan dongeng pengantar tidur setiap malam.  Dongeng yang saya bacakan adalah dongeng dengan alur yang sangat ringan dan gaya bertutur yang sederhana. Kisahnya diangkat dari kehidupan sehari-hari. Misalnya dongeng tentang seekor anak dan kucing peliharaannya ataupun sekadar bercerita tentang anggota keluarga sambil melihatkan foto-foto keluarga.  Membacakan dongeng menurut saya sangat efektif untuk menumbuhkan minat baca pada anak. Sebab melalui kegiatan ini, muncul interaksi yang akrab dan melibatkan kehangatan jalinan kasih antara anak-ibu. Sehingga interaksi ini dapat menciptakan kesan yang positif dan meyenangkan tentang aktivitas membaca didalam benak seorang anak.

12-24 bulan

Seiring pertumbuhannya, kecintaan Qonita pada buku perlahan mulai tampak. Ia selalu terlihat bersemangat saat saya menawarkannya untuk membacakan buku. Di usia 12 bulan waktu itu, ia sudah  bisa menyebut kata “buku”. Setiap kali ia mengoceh “buku-buku-buku”, itu artinya ia meminta saya untuk membacakan buku padanya. Kegiatan membaca perlahan mulai menjadi aktivitas favoritnya. Bahkan saya sering “memergoki” Qonita sedang asyik membolak-balikkan buku sambil berimajinasi dan mengoceh bercerita sendiri dengan bahasanya. Pemandangan yang lucu sekaligus membahagiakan saya sebagai seorang ibu. Di usia ini kami juga mulai mengenalkan Qonita pada buku digital di aplikasi Let’s Read. Berdasarkan rekomendasi WHO dan jurnal berjudul “Media and Young Minds” yang kami baca dari situs resmi American Academy of Pediatric (AAP) disebutkan bahwa anak umur 24 bulan hingga 5 tahun sudah dapat dikenalkan pada screen time (waktu menatap layar) untuk mengakses program interaktif melalui televisi ataupun gawai dengan dampingan orang tua selama maksimal 1 jam perhari. Keputusan untuk mengenalkan gawai dan screen time pada anak, kami lakukan dengan pertimbangan panjang baik dari segi durasi, frekuensi hingga kualitas program yang diberikan. Kami memilih buku digital sebab program ini kami rasa adalah jalan tengah untuk memberikan kesempatan pada Qonita mengakses gawai & teknologi sambil menyerap manfaatnya.

24 bulan – saat ini – dan seterusnya

Meskipun seberkas minat baca perlahan telah tumbuh pada diri Qonita, namun proses menumbuhkan kebaikan membaca tak saya hentikan begitu saja. Menurut saya, justru pembibitan minat baca yang saya dan suami lakukan dalam 2 tahun pertama di hidupnya ini hanyalah bekal awal untuk mengembangkan tradisi keberaksaran yang lebih kompleks dalam kehidupannya di kemudian hari. Jika saat ini Qonita sudah mulai tertarik pada aktivitas membaca, saya berharap kelak ia akan gemar membaca, lalu rajin membaca dan pada akhirnya dapat menemukan makna dari setiap apapun yang ia baca. Sebab minat baca tentu tak akan berguna jika hanya sekadar dimaknai dengan melek aksara. Bagi saya, manfaat minat baca haruslah bermuara pada kebermanfaatan sebuah bacaan bagi kehidupan manusia.

Cara Menumbuhkan Budaya Membaca pada Generasi Alfa

Setiap orang tua tentu punya rumusnya masing-masing dalam mendidik dan anak. Begitupun saya dan suami. Tanpa bermaksud mengajar apalagi menggurui, melalui artikel ini saya juga ingin berbagi sedikit tips tentang cara menumbuhkan minat baca pada anak generasi alfa. Anak generasi alfa memiliki karakteristik sangat akrab dengan teknologi sehingga tentu menumbuhkan minat baca pada mereka perlu metode tersendiri. Tips ini kami rangkum berdasarkan pengalaman pribadi kami selama 2 tahun belakangan. Berharap, ada energi positif yang bisa kami tularkan kepada teman-teman pembaca agar dapat menyerap apa-apa yang bermanfaat dari pengalaman tersebut. 

1. Tentukan Visi dan Kuatkan Tekad

Menurut saya hal yang penting untuk dilakukan oleh orang tua adalah menanamkan visi dan tekad yang kuat untuk menumbuhkan minat baca pada anak. Visi dan tekad yang kuat akan meneguhkan semangat kita sebagai orang tua agar konsisten saat menanamkan budaya membaca pada anak. Dalam perjalanan saya menumbuhkan minat baca pada Qonita terkadang juga ada banyak tantangan yang membuat saya hampir putus asa. Namun visi dan tekad yang kuat untuk membentuk generasi terbaik dari dalam rumah selalu memecut semangat saya kembali untuk kembali bangkit dan melakukan yang terbaik dalam rangka menumbuhkan minat baca padanya. Orang tua perlu benar-benar merenungkan apa saja manfaat membaca bagi anak dan mengapa menanamkan budaya membaca  pada anak sangat layak diperjuangkan.

2. Ajarkan dengan Keteladanan 

Anak adalah peniru yang ulung. Setiap tatapan polos matanya akan terus mengamati, telinganya akan terus menyimak dan pikirannya akan terus mencerna apapun yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Membangun sebuah kebiasaan pada anak akan lebih mudah jika kita sebagai orang tua menjadi teladan dan contoh perilaku untuknya. Jika mereka melihat orang tuanya terbiasa membaca, maka mereka akan lebih mudah mengikuti kebiasaan kita. Jadi, yuk mulai jadwalkan waktu membaca bersama keluarga.

3. Gunakan Berbagai Jenis Media Baca

Anak generasi alfa lahir pada rentang waktu tahun 2010 kebawah saat ini mereka berusia sekitar 1-10 tahun. Usia tersebut pastinya adalah fase dimana mereka sedang senang mengeksplorasi. Sehingga pengalaman baru terhadap sesuatu akan menjadi daya tarik tersendiri baginya. Jadi menurut saya, budaya membaca harus ditanamkan dengan cara yang menyenangkan misalnya lewat permainan, mendongeng dsb. Orang tua juga tidak perlu terlalu kaku dalam menentukan media baca. Bisa menggunakan potongan artikel di koran, buku cerita anak, buku taktil (buku cerita dengan tambahan fitur untuk merangsang sensorik anak), buku sensori, buku bersuara hingga buku digital.

Biarkan anak memilih media baca yang ia suka, sebab menurut saya buku hanyalah alat peraga yang membantu anak menyerap ilmu. Minat baca adalah ruh yang menghidupkannya. Jadi, ketika kecintaan anak terhadap aktivitas membaca telah tumbuh, tak peduli apapun medianya anak akan terus  mencintai aktivitas membaca.

Tantangan dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak

Menjalankan misi untuk menumbuhkan minat baca pada anak jelas bukan perkara mudah. Proses panjang menumbuhkan minat baca anak yang kami lalui misalnya, melewati cukup banyak tantangan. Salah satunya adalah saat kami kesulitan mendapatkan akses terhadap buku-buku cerita anak yang berkualitas. Maklum, di tempat kami-Pangkalanbun, hanya ada 1 Perpustakaan Umum. Itu pun koleksi bukunya tak banyak. Sedangkan toko buku hanya ada dua disini. Yang mana keduanya lebih banyak menjual alat tulis dan kantor (ATK) daripada buku-buku. Maka wajar saja, di tempat kami buku cerita anak menjadi barang langka nan mewah yang dapat diakses oleh kalangan terbatas saja.

Saya pernah bermimpi mendirikan perpustakaan umum di rumah. Agar masyarakat sekitar bisa membaca buku di tempat saya. Saya berharap koleksi buku Qonita nanti juga dapat bermanfaat untuk teman-teman sebayanya yang tinggal di lingkungan sekitar saya. Tapi apa daya, kami seringkali kesulitan saat ingin membeli buku anak. Mimpi itu terpaksa kami cicil dengan membelikan sedikit demi sedikit buku setiap kali suami pergi dinas keluar kota ataupun disaat ada pameran buku yang diadakan oleh komunitas pegiat literasi di daerah saya. Selain itu kami juga membelikan buku cerita anak secara daring. Meskipun sebagai konsekuensinya harus membayar ongkos kirim yang tidak murah yaitu sekitar Rp 54.000 per-kilonya. Padahal 1 kilogram biasanya hanya memuat 2 hingga 3 buku saja sebab buku cerita anak biasanya disajikan dalam format boardbook yang tebal dan berat maka biaya belanja buku anak seringkali membengkak. Meskipun demikian, saya tetap mendisiplinkan diri untuk berhemat agar dapat belanja buku anak setidaknya setiap 2 bulan sekali. Sebab bagi saya buku adalah investasi ilmu.

Tantangan lainnya yang tidak kalah hebat juga adalah ketika kami dihadapkan pada kenyataan bahwa Qonita adalah “generasi alfa” yang lahir dan tumbuh dalam pusara kemajuan teknologi yang berkembang dengan begitu pesatnya. Hal ini sempat membuat saya galau. Sebab ada kalanya ia merasa bosan membaca buku cetak kemudian tertarik untuk bermain gawai kala melihat orang dewasa disekitarnya menggunakan perangkat tersebut. Apalagi pekerjaan saya sebagai narablog membuat saya banyak menggunakan gawai didepan anak. Rasa ingin tau balita yang begitu besar acap membuat saya kehabisan akal untuk menghindarkan anak dari paparan penggunaan gawai sehari-hari. Hal ini barangkali juga dirasakan oleh rata-rata orang tua yang memiliki anak dari generasi alfa seperti kami.

Kendati perjalanan menumbuhkan minat baca anak yang kami lalui sempa dihiasi oleh banyak tantangan, namun kami tetap menikmati proses tersebut dengan penuh sukacita. Apapun tantangannya, kami anggap itu semua sebagai motivasi agar kami bisa lebih kreatif lagi dalam membudayakan minat baca pada Qonita. Sehingga ia tidak merasa bosan apalagi tertekan. Sebab visi kami adalah mengenalkan budaya membaca sebagai suatu hal yang menyenangkan.

Let’s Read : Jalan Terang Menumbuhkan Minat Baca Anak Generasi Alfa di Era Digital

“Didiklah anak sesuai zamannya. Karena ia hidup pada zamannya bukan zamanmu”

– Ali bin Abi Thalib –

Kemajuan teknologi saat ini memang bagaikan tsunami yang tak dapat dihindarkan lagi. Mau tak mau, suka tak suka, sebagai orang tua kami dituntut untuk beradaptasi mengikuti perkembangannya. Jujur sempat terbesit kekhawatiran di hati saya bahwa paparan teknologi akan melunturkan minat baca pada Qonita. Hingga akhirnya petuah dari Ali Bin Abi Thalib diatas mengetuk hati saya untuk berlapang dada mendidik anak sesuai zamannya. Anak generasi alfa yang hidup di zaman modern harus dididik dengan cara yang modern pula, tanpa meninggalkan khazanah budaya, nilai-nilai moral dan kearifan lokal tentunya.

Alih-alih mengkambinghitamkan teknologi, kini saya dan suami justru berusaha berdamai dan menjadikan teknologi sebagai peluang untuk mendongkrak minat baca Qonita.  Sebab dengan perkembangan teknologi, buku-buku anak kini dapat disajikan dengan visualisasi yang lebih menarik, kaya warna dan ilustrasi tanpa meninggalkan esensi konten cerita itu sendiri. Budaya membaca pun pada akhirnya dapat dipupuk menjadi aktivitas yang menyenangkan karena anak dimanjakan dengan buku-buku digital yang berkualitas dan menarik. Tak sampai disitu, perkembangan teknologi buku digital (ebook) juga seakan menjadi jalan tengah yang menjembatani kebutuhan anak akan bacaan berkualitas dan rasa penasaran untuk menggunakan perangkat digital selayaknya orang dewasa.

Adalah Let’s Read! sebuah aplikasi perpustakaan digital persembahan komunitas #literasi dan The Asia Foundation yang seakan menjadi jalan terang bagi kami untuk menumbuhkan minat baca anak dengan cara murah, menyenangkan dan kekinian. Kami jadi tak perlu repot memikirkan beban ongkos kirim buku yang mahal sebab melalui aplikasi ini, saya bisa mengakses ratusan koleksi buku cerita anak yang berkualitas secara gratis dan bebas unduh.

Selain itu saya pun bisa memproduksi secara mandiri buku-buku digital yang ada di Let’s Read untuk kemudian dicetak menjadi buku fisik. Yang paling seru adalah, rasa penasaran Qonita untuk menggunakan perangkat teknologi dengan konten yang positif bisa terpuaskan melalui aplikasi ini. Pernah suatu kali saya mengajak anak-anak tetangga berkumpul membaca buku bersama dirumah. Senang sekali karena membaca buku digital jadi pengalaman baru untuk mereka. 

Let’s Read! diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017. Hingga saat ini, Let’s Read telah memiliki ratusan koleksi buku digital anak dengan beragam bahasa dan tingkatan membaca.

aplikasi lets read

Sesuai dengan misinya untuk membudayakan kegemaran membaca pada anak-anak di Asia sejak usia dini, Let’s Read mempersembahkan perpustakaan digital dengan pengembangan cerita yang diangkat dari kearifan budaya lokal serta pesan moral dan lingkungan yang disajikan lewat buku cerita digital. Selain buku-buku dari penulis lokal, di aplikasi Let’s Read juga terdapat banyak buku cerita anak terbitan luar negeri yang diterjemahkan ke dalam bahasa nasional dan bahasa ibu (Minang, Sunda, Bali dll). Menurut saya, ini jadi kelebihan tersendiri. Sebab melalui Let’s Read, anak-anak yang kini cenderung mahir berbahasa Inggris juga bisa tetap mengeksplorasi bahasa ibu. Sehingga adat budaya lokal tak akan ditinggalkan sekalipun paparan budaya barat tak bisa dihindarkan.

aplikasi lets read

Menjalankan aplikasi ini cukup mudah, pengguna hanya perlu mengunduh aplikasi Let’s Read di google playstore kemudian mengatur akun sesuai kebutuhan. Mulai dari memilih bahasa pengantar, tingkat kesulitan buku hingga ukuran dan gaya huruf. Setelah pengaturan dilakukan, maka aplikasi siap digunakan. Pada aplikasi tersebut terdapat fitur untuk mengunduh buku dalam format pdf. Nantinya, buku yang sudah diunduh dapat dibaca secara luring ataupun dicetak untuk menjadi buku fisik. Hal ini tentunya sangat memudahkan kami sebagai orang tua. Sebab kini, kami bisa membacakan buku untuk Qonita kapanpun dan dimanapun tanpa perlu membawa buku anak yang tebal dan berat. Sebab buku cerita anak digital dari Let’s Read sudah tersimpan di ruang penyimpanan telepon genggam.

Sebagai sebuah proyek nirlaba di bidang budaya dan pendidikan, Let’s Read juga menerima donasi dari anda-para pecinta buku atau siapapun anda yang peduli untuk membudayakan minat baca pada generasi muda. Jika anda ingin turut berkontribusi menciptakan generasi yang gemar membaca di kemudian hari atau turut serta mencetak generasi pemimpin masa depan yang lebih baik lagi, anda juga bisa berdonasi untuk mendukung program ini.

Berikan dukungan terbaik anda untuk menumbuhkan minat baca anak di 19 negara melalui donasi lewat pranala berikut ini : https://asiafoundation.org/donate

atau klik tombol berikut :

Mari Lestarikan Minat Baca Bersama Let’s Read Asia

Perjalanan panjang menumbuhkan minat baca anak memang penuh dengan warna. Meski dihiasi dengan beragam tantangan namun perjalanan ini tetap kami arungi dengan penuh sukacita. Saya dan suami percaya upaya kami menumbuhkan minat baca pada Qonita tak akan berbuah sia-sia. Sebab bagi kami membentuk 1 anak sama dengan membentuk 1 peradaban, karena di pundak anak-anak ada sejuta harapan.

Berdasarkan pengalaman kami dalam menumbuhkan minat baca pada Qonita, saya jadi sadar bahwa upaya menumbuhkan minat baca anak perlu dibarengi dengan penyesuaian terhadap perilaku anak sebagai generasi kekinian yang melek teknologi.

Kehadiran Let’s Read sebagai perpustakaan digital dengan beragam keunggulannya pada akhirnya meneguhkan keyakinan kami bahwa teknologi tak selamanya menjadi kambing hitam atas lunturnya budaya membaca, melainkan juga dapat dijadikan sarana untuk melestarikan minat baca anak dengan cara yang kreatif, inovatif dan sesuai dengan karakternya. Sebab proses menumbuhkan minat baca anak bukanlah sekadar soal memilihkan media bacanya, melainkan juga adalah soal kemauan kita meluangkan waktu untuk membersamai anak agar tumbuh kecintaan akan membaca pada mereka. Selain itu bagi kami yang tinggal di daerah, kehadiran Let’s Read juga sangat membantu kami untuk mendapatkan akses buku cerita anak berkualitas dengan mudah dan gratis.

Seiring perkembangan zaman media baca akan terus berubah. Jika dulu kita suka membaca koran, kini orang banyak membaca informasi lewat gawai, mungkin nanti akan ada teknologi baru lagi yang akan digunakan untuk membaca. Maka tugas kita saat ini adalah beradaptasi dengan perubahan, serta menggunakan teknologi sebagai peluang untuk merawat peradaban.

Satu pesan saya, minat baca anak harus ditumbuhkan dengan penuh cinta, agar kelak mereka akan tumbuh menjadi generasi yang cinta membaca dan senantiasa memandang aktivitas membaca sebagai kebiasaan yang menyenangkan bukan justru sebagai beban.

Jadi, yuk lestarikan minat baca pada anak-anak kita! Jangan lupa juga unduh aplikasi Let’s Read di smartphone ya, agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas lagi oleh masyarakat Indonesia.

Sumber :

 

Referensi bacaan :

Foto, Video & Olah Grafis : Rizka Edmanda

Tangkapan Layar : Let’s Read

Video : Rizka Edmanda

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi blog Let’s Read dengan tema Pengalaman Menumbuhkan Minat Baca Anak

error: content is protected