A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Menggapai Asa Mewujudkan

Langit Biru di Indonesia

dengan BBM RAMAH LINGKUNGAN

anemia defisiensi besi

Udara merupakan suatu komponen penting dalam kehidupan manusia. Mustahil rasanya seorang manusia dapat bertahan hidup tanpa menghirup udara. Kendati sangat penting, namun nyatanya kualitas udara di muka bumi rentan mengalami penurunan. Padahal, udara yang sehat merupakan daya dukung utama agar seorang manusia dapat menjalankan kehidupannya dengan optimal. Udara yang sehat adalah bagian dari lingkungan hidup yang baik, yang mana hal ini merupakan hak seorang warga negara sebagaimana dijamin dalam UUD 1945 yakni pada Pasal 28 H Ayat 1.

Namun sayang, berbagai permasalahan polusi udara masih menjadi momok di negara kita. Di Kalimantan Barat misalnya, tentu kita masih mengingat beberapa waktu lalu penyakit ISPA akibat pencemaran udara telah menyebabkan ribuan anak menderita. Ironisnya, beberapa tetangga dan kerabat saya pun bahkan ikut menjadi korban karenanya. Sebagian diantara mereka adalah bayi dan anak-anak. Sebagai seorang ibu, kejadian itu tentu membuat saya patah hati. Tidak terbayang rasanya seorang anak yang masih sangat kecil dan belum sempurna perkembangan organ-organ penting di tubuhnya harus merasakan sesak dan nyeri di dada akibat infeksi di saluran pernapasan sebagai dampak dari polusi udara.

*Laporan RISKESDAS 2018 Provinsi Kalimantan Barat

Selain ISPA, banyak penelitian yang juga membuktikan, bahwa polusi udara menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius lainnya. Mulai dari keracunan hingga kerusakan organ-organ penting seperti jantung, paru-paru, saluran pernafasan kerusakan sel-sel dalam tubuh, stroke, kanker, kesehatan mental hingga keguguran serta gangguan janin pada ibu hamil. Di masa pandemi seperti saat ini, polusi udara juga dapat meningkatkan risiko kematian orang yang terjangkit COVID19.

Studi yang dilakukan oleh Global Burden of Disease pada tahun 2015 bahkan menyebutkan bahwa paparan polusi materi partikulat halus luar ruangan (PM) 2,5 adalah faktor risiko utama kelima untuk kematian di seluruh dunia. Polusi udara juga menjadi penyebab atas  4,2 juta kematian di dunia. Tak heran, World Health Organization atau WHO menyatakan, polusi udara merupakan “silent public health emergency”.

Permasalahan polusi udara bagaikan fenomena gunung es. Sebab tak hanya merusak lingkungan dan kesehatan, permasalahan ini juga merugikan perekonomian negara. Pencemaran udara menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 2,9 triliun USD setiap tahun atau sekitar 3,3% dari PDB global. Melihat fakta ini, saya malah jadi curiga jangan-jangan defisit BPJS yang terjadi beberapa waktu lalu salah satunya diakibatkan pemerintah tekor membiayai masyarakat yang terkena penyakit-penyakit tidak menular (PTM) yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan dan polusi udara. Bisa jadi kan, ya?

Jika dirujuk sebab musababnya, polusi udara bisa disebabkan oleh beragam faktor. Seperti misalnya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah di Kalimantan kemarin. Asap pabrik, pembakaran sampah rumah tangga, asap rokok, penggunaan amonia dalam pertanian, aktivitas industri dan rumah tangga hingga faktor alam seperti gunung meletus dan awan panas juga dapat menjadi penyebab buruknya kualitas udara kita.

Namun, diantara semua faktor diatas, emisi gas buang kendaraan bermotor digadang-gadang menjadi penyebab pencemaran udara yang bersifat merata. Artinya, baik itu di kota besar maupun di kota kecil, permasalahan emisi kendaraan bermotor dapat menjadi faktor pencemar udara yang dialami oleh hampir semua wilayah di Indonesia tanpa terkecuali. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan sumber utama pencemar udara terbesar disebabkan dari transportasi darat sebanyak 75%. Maka untuk mereduksi gas karbon sebagaimana janji Jokowi pada protokol paris beberapa waktu lalu, target untuk mewujudkan dan membudayakan penggunakan BBM ramah lingkungan berstandar euro 2 menjadi suatu keniscayaan. Hal ini pun sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam kebijakan “Program Langit Biru” yang telah digaungkan sejak 1996 lalu.

Jalan Panjang dan Berliku Mewujudkan Program Langit Biru

Berkaitan dengan program “Langit Biru” tersebut, kemarin 10/03/2021, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bekerjasama dengan Kantor Berita Radio (KBR) telah mengadakan diskusi publik dan webinar bertajuk “Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru”. Webinar yang disiarkan secara langsung melalui aplikasi zoom dan kanal youtube KBR ini memberikan saya gambaran tentang mengapa program langit biru yang telah digaungkan sejak seperempat abad yang lalu ini seakan masih menemui jalan yang panjang dan berliku.

Dalam  kesempatan diskusi publik tersebut, Tulus Abadi selaku Ketua Pengurus Harian YLKI menyebutkan ada banyak faktor yang menyebabkan sulitnya mewujudkan program Langit Biru di Indonesia. Faktor utamanya adalah karena penggunaan bahan bakar energi fosil yang masih masif, kurang konsistennya pemerintah dalam membuat regulasi mengenai energi fosil dan BBM (bahan bakar minyak) hingga menyebabkan maraknya penggunaan BBM tidak ramah lingkungan ditambah lagi pola konsumsi masyarakat kita yang juga sangat eksploitatif terhadap energi fosil.

Dalam hal bahan bakar, Indonesia boleh dikatakan cukup tertinggal diantara negara lain di ASEAN. Sebab saat ini Indonesia adalah satu-satunya negara di ASEAN yang masih menggunakan bbm beroktan rendah. Itu artinya hampir semua negara di seluruh dunia sudah menggunakan bbm ramah lingkungan sesuai standar Euro 4, hingga Euro 5 dan Euro 6. Eropa misalnya sudah menggunakan bbm Euro 6 sedangkan Malaysia tetangga kita sudah lama mengadopsi bbm Euro 4. Di seluruh dunia setidaknya hanya ada 7 negara yang masih menggunakan bbm Euro 2 yang beroktan rendah dan tidak ramah lingkungan atau kita kenal dengan sebutan bbm premium. Negara-negara  tersebut diantaranya, Bangladesh,  Kolombia, Ukraina, Mesir, Mongolia, Uzbekistan, dan Indonesia.

Euro Level Standard (motoreu)

Sebetulnya dari sisi pemerintah sendiri telah ada peraturan terkait penggunaan BBM ramah lingkungan. Masih dalam kesempatan yang sama, Ir.Ratna Kartikasari M.Sc selaku Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memaparkan bahwa KLHK sudah membuat peraturan untuk mengadopsi bahan bakar minyak berstandar euro 4 sejak 10 maret 2017. Yakni melalui Peraturan KLHK Nomor P.20 Tahun 2017. Hal ini diberlakukan bagi industri otomotif sehingga untuk kendaraan bermotor yang beredar di Indonesia diatas tahun 2018 sudah menggunakan standar bbm euro 4. BBM Euro 4 adalah bensin dengan standar RON (research octane number) diatas 91 dan kadar sulfur maksimal 50ppm dimana jenis BBM ini digadang-gadang lebih berkualitas, efisien dan minim emisi.

Ir.Ratna Kartikasari M.Sc  Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 

Selain itu KLHK pun sebetulnya sudah melakukan beberapa upaya edukasi mengenai penggunaan bbm ramah lingkungan yang disampaikan melalui kanal youtube KLHK. Meskipun Ibu Ratna mengakui, edukasi yang dilakukan KLHK terkait isu ini belum segencar dan semasif yang dilakukan oleh YLKI. Sehingga Ibu Ratna dalam hal ini cukup mengapresiasi YLKI sebagai pihak non pemerintah yang sangat pro aktif terhadap isu ini. Selain itu terkait isu pencemaran udara, KLHK juga sudah membuat aplikasi untuk melacak kualitas udara bernama ISPUnet. Kendati baru bisa dijalankan via android namun aplikasi ini dapat membantu masyaraat untuk mendeteksi kualitas udara di suatu daerah. Sampai saat ini sudah ada 39 stasiun pemantau kualitas udara dan 11 lainnya masih dalam tahap pembangunan.

Beberapa pemerintah daerah di Indonesia juga mulai mencanangkan program serupa untuk menekan angka penggunaan bbm tidak ramah lingkungan di wilayahnya masih-masing. Di Balikpapan misalnya, Sekertaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan menuturkan, telah ada berbagai kebijakan strategis yang dituangkan dalam Rencana Aksi Daerah sebagai upaya mengendalikan pencemaran udara di kota pelabuhan tersebut. Kebijakan itu antara lain adalah dengan mewajibkan 951 kendaraan dinas di Kota Balikpapan dan kendaraan angkutan umum untuk menggunakan BBM ramah lingkungan serta melakukan kerjasama dengan Dinas Perhubungan setempat untuk melakukan razia uji emisi kendaraan bermotor di beberapa titik dan lokasi sebanyak 2 kali dalam setahun. Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan juga rutin mengadakan monitoring terhadap penggunaan genset di perkantoran dan perusahaan karena sebagaimana diketahui genset biasanya lebih sering menggunakan bbm premium dan solar berkualitas rendah sebagai bahan bakarnya.

Regulasi yang Konsisten adalah Urgensi

bbm ramah lingkungan

Namun tentu jika kita melihat pada fakta lapangan, kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah baik pusat maupun daerah ternyata belum dapat mengurangi penggunaan bbm yang tidak ramah lingkungan sampai hari ini. Buktinya penjualan bahan bakar dengan RON dibawah 91 masih marak di pasaran. Yakni bbm premium dengan RON 88 dan pertalite dengan RON 90. Menanggapi hal ini, Bapak Tulus Abadi memberikan rekomendasi agar bbm pertalite dapat sedikit ditingkatkan nilai RON nya agar memenuhi standar, sedang bbm premium dapat diganti dengan terobosan produk bbm yang sesuai.

Dapat kita lihat pula pada SPBU di berbagai tempat misalnya, antrean pengisian bbm premium acap kali mengular, sebaliknya pada antrean pertalite dan pertamax biasanya lebih lengang. Pola dan kebiasaan masyarakat Indonesia memang sangat tergantung pada kendaraan bermotor. Bisa kita lihat misalnya, untuk menempuh jarak yang dekat saja orang tak segan menggunakan motor ketimbang berjalan kaki. Kesadaran masyarakat soal emisi memang belum tinggi. Disinilah diperlukannya upaya untuk melakukan upaya pengendalian perilaku masyarakat.

Menaggapi hal tersebut, Fabby Tumiwa selaku Executive Director Institute for Essential Service Reform menyatakan bahwa masih maraknya penjualan BBM premium yang tidak ramah lingkungan dan perilaku masyarakat yang belum sadar untuk beralih ke bbm ramah lingkungan adalah disebabkan karena memang tidak adanya regulasi pemerintah yang melarang hal tersebut.

Sehingga seolah tidak ada ketegasan mengenai larangan penggunaan bbm tidak ramah lingkungan dari pemerintah selaku regulator. Padahal seharusnya regulasi pemerintahlah yang mengatur agar bbm yang dijual sesuai dengan standar yang baik agar dapat melindungi kepentingan masyarakat maupun kepentingan lingkungan.

Apalagi harga bbm premium yang dijual di pasaran sangat murah. Dimanjakan dengan subsidi pula. Sehingga kendati kendaraan yang digunakan sudah menggunakan standar euro 4, masyarakat-tanpa mengenal latar belakang ekonomi dan sosial- akhirnya tetap terdorong untuk membeli bahan bakar beroktan rendah karena dianggap lebih untung dari segi harga. Sebab, ujarnya secara umum  orang akan memilih sesuatu yang lebih murah dikarenakan faktor ekonomi, kebiasaan, mindset dan memang belum terbangunnya kesadaran. Mengenai bbm sendiri, pola pikir masyarakat masih cenderung price oriented atau berorientasi pada harga beli dibandingkan value nya.

Denny Djukardi selaku perwakilan dari PT.Pertamina turut mengamini hal ini. Ujarnya, Pertamina sebagai perpanjangtanganan pemerintah untuk menjual dan mendistribusikan bahan bakar minyak ke masyarakat memang hanya melakukan penjualan bbm sesuai instruksi yang diberikan pemerintah. Selama tidak ada larangan, maka penjualan bbm tidak ramah lingkungan akan diteruskan.

Meskipun demikian, disisi lain Pertamina sendiri juga sebetulnya sudah mulai ikut menggaungkan program Langit Biru untuk mendorong masyarakat beralih ke bbm ramah lingkungan. Program Langit Biru ala Pertamina dilakukan dengan cara memberikan diskon harga untuk pembelian produk pertalite dan pertamax di beberapa wilayah dengan daya beli tinggi di Indonesia seperti Jawa dan Bali dan akan diluaskan ke wilayah lainnya.

Stimulan ini diharapkan dapat membuka mata masyarakat bahwa sebetulnya terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara bbm premium yang tidak ramah lingkungan dengan bbm ramah lingkungan. Dimana bbm ramah lingkungan dapat menjaga mesin kendaraan bermotor lebih baik karena kualitas pembakarannya lebih optimal jadi masyarakat dapat menghemat biaya servis kendaraan. Selain itu bbm ramah lingkungan juga memiliki emisi gas buang yang tidak terlalu banyak sehingga jelas lebih baik untuk kesehatan dan lingkungan, ditambah lagi karena pembakarannya optimal, jarak tempuh pun lebih jadi maksimal jika dibandingkan dengan bbm yang tidak ramah lingkungan dengan oktan dibawah 91.

Sinergitas Antar Lembaga dan Kesadaran Masyarakat adalah Kuncinya

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Tulus Abadi dari YLKI dalam webinar ini, bahwa peran serta dan kesadaran masyarakat selaku konsumen turut menjadi bagian penting dalam membudayakan penggunaan bbm ramah lingkungan di Indonesia. Disinilah alasan mengapa YLKI hadir untuk ikutserta mengedukasi masyarakat agar beralih ke bbm ramah lingkungan demi menekan angka pencemaran udara. Sebab sejak berdirinya pada tahun 1973, YLKI sebagai sebuah lembaga konsumen tidak hanya bertujuan untuk menyadartahukan masyarakat mengenai hak-haknya sebagai konsumen saja namun juga kewajibannnya. Dalam hal ini, juga kewajibannya untuk memilih bahan bakar dengan bijak dan cerdas. Sebab maraknya penjualan bbm tidak ramah lingkungan pun sebenarnya tak terlepas dari tingginya permintaan terhadap komoditas tersebut oleh karena memang masih banyak masyarakat yang belum sadar untuk memilih bahan bakar minim emisi.

Diharapkan, jangan sampai masyarakat hanya mampu dan mau membeli produk otomotif yang mahal hanya demi gengsi semata, namun urusan bahan bakar justru memilih yang paling murah. Kemampuan membeli kendaraan bermotor yang paling keren, seharusnya dibarengi pula dengan kesadaran untuk memilih produk bbm ramah lingkungan. Terlebih sebagaimana dikatakan diatas, bbm yang tidak ramah lingkungan memang lebih murah dari segi harga namun sebetulnya ada harga yang lebih mahal yang harus dibayarkan konsumen ketika memutuskan untuk tetap memilihnya. Mulai dari menurunnya kualitas udara yang berdampak pada kesehatan kita, rusaknya lapisan ozon yang meningkatkan perubahan iklim bumi hingga dampak yang paling cepat terasa adalah penggunaan bahan bakar yang kurang efisien karena pembakarannya tidak optimal.

Mewujudkan Masyarakat Cerdas Energi, Bijak Pilih Bahan Bakar Rendah Emisi

Upaya untuk mewujudkan program langit biru dengan membudayakan bbm ramah lingkungan di masyarakat secara meluas memang bukan pekerjaan mudah. Butuh konsistensi, komitmen dan kerjasama yang apik antar lembaga dari hilir ke hulu untuk mewujudkannya. Setiap elemen sesuai kapasitasnya masing-masing harus melakukan aksi nyata untuk mewujudkan langit biru dengan bbm ramah lingkungan di Indonesia. Pemerintah pusat dan daerah harus konsisten dan saling bahu membahu membuat regulasi energi yang berpihak pada kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Dinas-dinas terkait juga harus membuat program sesuai scop of worknya masing-masing untuk membantu mengendalikan pencemaran udara. Kesadaran dan penyadaran masyarakat harus terus digaungkan. Pertamina sebagai penyedian bahan bakar minyak di Indonesia pun harus pro aktif berperan. Misalnya dengan menjadikan petugas operator mesin pompa bensin di tiap-tiap SPBU sebagai corong untuk mengkampanyekan kepada konsumen mengenai kebaikan bbm ramah lingkungan.

Pegiat media sosial seperti influencer, blogger dan vlogger dan selebgram pun sepatutanya dapat turut ambil bagian. Yakni dengan mengkampanyekan isu-isu lingkungan dan pencemaran udara lewat konten-konten kreatif di media sosial. Agar masyarakat pengguna internet tergerak untuk mulai beralih menggunakan bbm ramah lingkungan demi kualitas udara di Indonesia yang jauh lebih baik. Itulah sebabnya pula dalam kesempatan diskusi publik ini juga turut dihadirkan beberapa influencer dan selebgram seperti Rian Laode Penyanyi Indonesian Idol, Irfan Ghofur, Rika Kornelisa Selebgram asal Kotawaringin Timur, serta Vlogger dan artis kenamaan.

Penyanyi dan pegiat lingkungan Nuggie misalnya, dalam webinar ini beliau turut menjelaskan bahwa gaya hidup ramah lingkungan yang digemakan para artis dan influencer melalui karya-karyanya juga dapat menjadi kontribusi yang sangat berarti untuk lingkungan.

Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan yang saya ikuti mulai dari media gathering, diskusi publik hingga webinar yang diadakan oleh KBR bersama YLKI, saya menarik beberapa kesimpulan dan rekomendasi untuk turut membantu mensukseskan program “Langit Biru” di Indonesia dengan BBM ramah lingkungan :

  1. Harus adanya ketegasan pemerintah dalam membuat regulasi mengenai bahan bakar minyak dan pengendalian perilaku masyarakat agar lebih cermat memilih bahan bakar. Regulasi pemerintah harus berpihak pada bbm ramah lingkungan demi kesehatan masyarakat dan kelestarian bumi.
  2. Sinergitas antar lembaga dan SKPD terkait harus diperkuat.
  3. Pertamina sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk mendistribusikan bbm kepada masyarakat harus menggencarkan upaya edukasi kepada konsumennya agar memilih bbm ramah lingkungan.
  4. Dukungan stakeholder dan lembaga-lembaga non pemerintah seperti YLKI dan KBR harus disambut dengan positif serta direplikasi oleh lembaga lainnya untuk lebih menggaungkan isu ini.
  5. Di era internet seperti saat ini, perlu juga adanya dukungan dari para pembuat konten, influencer, artis, blogger, vlogger dan selebgram untuk ikut mengkampanyekan kepada masyarakat mengenai pentingnya gaya hidup ramah lingkungan dan memilih bbm dengan bijak.

Pengentasan permasalahan polusi dan bbm tidak ramah lingkungan bukan pekerjaan sederhana memang. Namun masih ada sepucuk asa untuk mewujudkan langit biru di Indonesia dengan BBM ramah lingkungan. Tak perlu saling menunggu untuk beraksi. Mulai saja perubahan itu dengan hal-hal kecil yang kita bisa. Misalnya dari diri sendiri, kemudian dengan mengedukasi orang-orang di sekitar kita, seperti teman ataupun saudara. Sebab bukankah perubahan yang besar harus dimulai dari perubahan dan kebiasaan kecil yang terus menerus dibiasakan?

Sumber Rujukan :

  • Materi utama penulisan artikel bersumber dari rangkaian kegiatan media gathering, diskusi publik dan webinar YLKI X KBR yang diadakan di kanal youtube  KBR berjudul “Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru”
  • Data penderita ISPA di Kalbar 2018 : RISKESDAS 2018 diakses via website https://dinkes.kalbarprov.go.id/
  • Euro Level Standard : motoreu

Olah Grafis oleh : Rizka Edmanda

Visual (Foto dan Video) : Rizka Edmanda, Tangkapan Layar dari materi webinar.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Artikel Blog KBR X YLKI

error: content is protected