A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Menebar Kebaikan

“Dalam menjalani hidup ini, terkadang kita lebih suka berkeluh kesah atas kesulitan yang dialami, daripada berjuang mengatasinya. Kita lebih memilih menyalahkan keadaan, bahkan sampai menggugat keadilan Tuhan. Kita kurang memiliki SYUKUR akan makna hidup yang sebenarnya”

Muhammad Syafi’ie El-Bantanie dalam karya “Seni Menjalani Hidup Penuh Makna”

MASJID AL AQSA

Saya melempar ingatan pada kenangan kala menjejakkan kaki di bumi Palestina tepat setahun silam. Palestina, adalah negeri yang mulia dan penuh berkah. Penduduknya beriman lagi dermawan. Kendati perkonomian mereka sulit dan hidup berjuang ditengah berbagai ujian namun mereka senantiasa bersyukur serta tak pernah bosan menebar kebaikan. Gemar berbagi barangkali adalah ciri khas muslim Palestina sejati.

Yang istimewa adalah, semangat mereka dalam menebar kebaikan  dilakukan semata-mata untuk mengharap keridhaan Allah. Bukan sekadar agar “rezekinya” kelak semakin bertambah, apalagi sehina berharap pujian manusia. Mereka percaya, rezeki telah dijamin jauh sebelum raga terlahir, namun mengejar keberkahan rezeki adalah kewajiban yang tak bisa ditawar. Sebab bagi mereka, dunia ini hanyalah tempat “bercanda” sedang negeri akhirat adalah kehidupan yang sebenar-benarnya.

Perjalanan ke Palestina memberikan saya begitu banyak hikmah dan pelajaran. Sebuah kenangan yang merekonstruksi pemikiran saya dalam memaknai berbagai hal. Palestina memberikan saya pelajaran akan makna kehidupan di dunia. Bahwa rasa syukur dan qanaah (senantiasa merasa cukup atas pemberian Allah) adalah refleksi dari tawakal yang sesungguhnya. Kendati demikian,  masih banyak orang diluar sana yang mengaku sudah bersyukur namun enggan berqanaah. Termasuk diri saya, lebih tepatnya sebelum peristiwa 15 april 2019 di Kota Lama Yerusalem waktu itu.

*****

Kota Lama Al-Quds, April 2019  

Saya dan suami mempercepat langkah kaki agar sesegeranya tiba di Masjid Al-Aqsa. Udara dingin yang menusuk tulang tak menyurutkan sedikitpun semangat kami untuk melaksanakan ibadah sholat subuh di Masjid Al-Aqsa hari itu. Sambil berlomba-lomba dengan waktu, kami berlari terengah-engah agar dapat tiba di masjid sebelum adzan berkumandang. Tiba-tiba seorang gadis kecil Palestina yang sedang menjajakan jualannya mengehentikan langkah saya. Ia tersenyum serta menyapa. Namun karena sedang terburu-buru saya pun hanya mengucap salam kemudian berlalu.

Amenah, gadis kecil Palestina yang senyumnya tak akan pernah kami lupa. 

Selepas sholat subuh, kami kembali menyusuri jalan kecil dan dinding-dinding kota lama Yerusalem yang tadi kami lewati. Kali ini, saya dan suami berjalan lebih santai. Kami ingin menikmati suasana pagi di salah satu kota tertua di dunia ini sambil bercerita tentang sejarah perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi, kala membebaskan Masjid Al-Aqsa dan Tanah Baitul Maqdis di masa Perang Salib waktu itu.

Sambil menikmati suasana kota lama yang mulai ramai saat warganya hendak beraktivitas, saya diam-diam merapal doa didalam hati, semoga kelak suatu hari nanti Allah mengulang kembali sejarah pembebasan Al-Aqsa sebagaimana yang pernah dilakukan Salahuddin Al-Ayyubi. Semoga suatu hari nanti semua umat Muslim di seluruh dunia dapat melaksanakan ibadah dengan damai di Masjid Al-Aqsa. Semoga kelak akan kembali bermunculan generasi-generasi pembebas Al-Aqsa selanjutnya. Aamiin ya Rabbal Alamiin.

ZAKAT
JANGAN-TAKUT-BERZAKAT

Orang Palestina dikenal dermawan, meski hidup dalam kesusahan

Seraya asyik bercerita, saya dan suami mampir di sebuah kedai kecil milik Muslim Palestina tak jauh dari Kompleks Al-Haram Asy-Syarif. Saya memesan falafel sedang suami memesan maqluba. Keduanya adalah kuliner lokal yang biasa disantap Muslim Palestina sebagai menu sarapan mereka. Tiba-tiba di kedai tersebut, gadis kecil yang tadi melempar senyum manisnya pada kami datang menghampiri.

Belum sempat saya mengucap salam, ia buru-buru meraih tangan saya lalu memberikan beberapa buah permen dan cokelat sambil menunjuk ke arah Qonita, bayi kecil saya yang sedang tertidur pulas didalam gendongan. Awalnya saya pikir, ia hendak menjual permen tersebut namun saat saya menyerahkan beberapa uang shekel padanya, ia justru menolak sambil tersenyum. Saya yang tak fasih berbahasa arab lalu mencoba berterima kasih dengan bahasa isyarat.

Palestina memang unik dan penuh kejutan. Bukan sekali saja saya menemukan orang bersedekah tiba-tiba. Didepan Masjid Al-Aqsa misalnya, ada seorang Muslim yang setiap hari rutin membagikan kopi jahe kepada para jamaah setiap selesai sholat subuh. Ada pula seorang bapak tua yang sering kami temui sedang memberi makan burung merpati dan kucing jalanan dari roti yang ia santap saat sarapan.

menebar kebaikan bersama dompet dhuafa

Prinsip hidup berbagi sepertinya sudah menjadi kebiasaan dariMuslim Palestina sehari-hari. Padahal kebanyakan dari mereka bukanlah orang yang berada. Bahkan dari data yang saya baca pada sebuah jurnal hasil konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (United Nations Conference on Trade and Development / UNCTAD), disebutkan bahwa 1/3 orang Palestina hidup dibawah garis kemiskinan. Tingkat kemiskinan di Palestina adalah 13,9 persen di Tepi Barat, dan 53 persen di Gaza. Di mana lebih dari 1 juta orang sekarang miskin, termasuk 400.000 anak-anak. Di Yerusalem sendiri, 72 persen keluarga Palestina hidup di bawah garis kemiskinan. Namun, keadaan yang sulit lagi menghimpit tak membuat sedekah mereka sempit. Kenyataannya, mereka tetap senang berbagi. Setidaknya, inilah yang saya lihat dan rasakan selama kunjungan saya di Palestina.

Iseng-iseng, saya menanyakan soal “fenomena” ini pada Mr.Qassem. Beliau adalah tour guide yang membersamai perjalanan kami selama di Palestina. Beliau seorang Muslim yang berasal dari Bethlehem. Dulunya beliau bekerja sebagai jurnalis yang namanya cukup dikenal di Palestina. Namun dalam peristiwa Intifada Al-Aqsa pada tahun 2000 beliau kehilangan beberapa jarinya sehingga terpaksa “banting stir” menjadi tour guide selepas kejadian itu.

Mr.Qassem menjelaskan pada saya bahwa sebagian besar orang Palestina memang gemar berbagi. Kendati hidup dibawah garis kemiskinan akibat penjajahan namun tak mengurangi kegemaran mereka dalam menebar kebaikan. Sebab sudah menjadi watak orang Palestina untuk hidup dalam rasa syukur. Senantiasa merasa cukup atas apapun yang Allah berikan sehingga ketika diberi sedikit saja kelebihan oleh Allah SWT, akan mereka bagi kelebihan itu untuk kepada orang lain.

Jawaban singkat Mr.Qassem membuat saya terhenyak. Negara ini menyentuh relung hati terdalam saya. Sebab warganya secara tak langsung telah mengajarkan saya makna syukur yang sesungguhnya. Mereka memanifestasikan syukur dalam sikap senang berbagi. Mereka yakin bahwa menebar kebaikan pada sesama adalah lebih dari sekadar sebuah sikap kedermawanan, melainkan sebuah kewajiban. Sekaligus bentuk terima kasih kepada Tuhan atas segala karunia yang telah diberikan. Pelajaran berbagi dari orang Palestina mengajarkan saya bahwa sedekah itu tak cukup dilakukan disaat lapang, namun juga dikala hidup terasa sempit.

Menebar Kebaikan untuk Menjaga Manisnya Iman

Apa yang saya alami di Palestina pada akhirnya mengubah persepsi saya soal konsep berbagi. Berbagi kini bagi saya bukan lagi sekadar untuk mengharap bertambahnya rezeki, namun justru untuk mengurangi keserakahan diri. Berbagi adalah bentuk syukur sekaligus upaya menegakkan taat sambil menebar manfaat. Sedang urusan rezeki, saya yakini akan Allah tetapkan sekehendak-Nya. Sebab Allah lah yang paling tau takaran rezeki yang paling pas untuk hamba-Nya.

Jika warga Palestina yang sedang dilanda berbagai ujian saja bisa tetap bersemangat menebar kebaikan, maka sudah sepatutnya kita yang hidup di negeri yang damai melakukan sesuatu yang lebih besar. Dengan prinsip bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah semata-mata dalam rangka ibadah, maka spirit menebar kebaikan tak akan kita ilhami hanya sekadar untuk mengharapkan balasan dunia. Melainkan semata-mata untuk mengharapkan keridhaan-Nya.

Potongan-potongan kenangan selama di Palestina yang saya rangkum dalam sujud dan air mata kala bermuhasabah menjadi sebuah pengalaman bathin yang luar biasa untuk saya. Sejak saat itu, saya pun bertekad untuk selalu menikmati hidup dalam rasa syukur dan cukup. Serta senantiasa lebih menggiatkan diri dalam urusan berbagi. Tak peduli apapun kondisi yang tengah saya alami, saya bertekad bahwa berbagi haruslah menjadi sebuah kebutuhan sekaligus ikhtiar untuk menjaga manisnya iman dan lembutnya hati.

Meskipun penghasilan saya sendiri tak tetap, namun saya mencoba untuk langsung menyisihkan setiap penghasilan yang baru saya dapat untuk infaq, sedekah dan wakaf. Sedangkan kewajiban zakat dan berqurban Alhamdulillah telah rutin saya tunaikan sejak pertama kali punya penghasilan sendiri.

Kabar baiknya, perkembangan teknologi dan filantropi digital membuat aktivitas berdonasi kini terasa lebih mudah. Saya pun jadi bisa menebar kebaikan bahkan sambil rebahan dirumah. Sebab cukup lewat smartphone dan koneksi internet saja saya bisa menyalurkan donasi secara online lewat Dompet Dhuafa. Selain amanah dan terpercaya, berdonasi di Dompet Dhuafa juga sangat mudah. Bisa dilakukan lewat transfer antar rekening bank, transfer saldo dompet virtual, layanan jemput zakat, kantor cabang dan perwakilan atau pun lewat marketplace.

menebar kebaikan dompet dhuafa

Melalui dompet dhuafa saya bisa leluasa memilih kebutuhan donasi yang hendak saya lakukan. Sebab layanan Dompet Dhuafa cukup lengkap meliputi semua penyaluran ZISWAF dan pembayaran fidyah. Cakupan program penyaluran dana sosial Dompet Dhuafa juga sangatlah luas. Terdapat 5 pilar program donasi yang diusung oleh Dompet Dhuafa untuk menebar kebaikan dana sosial di berbagai sektor. Mulai dari ekonomi & kewirausahaan, kesehatan, pendidikan, sosial, hingga dakwah & budaya.

Perwakilan Dompet Dhuafa sendiri tersebar di 27 cabang dalam negeri, 5 cabang luar negeri, 9 kantor layanan, 157 zona layanan dalam negeri dan 29 zona layanan di luar negeri, 118 program, 19 klinik LKC, 71 pos sehat,  8 Rumah Sakit, 8 Unit Pendidikan, 7 gerai daymart dan 14 Unit Bisnis. Jaringan seluas ini membuat manfaat dana sosial dapat menyentuh lapisan umat yang membutuhkannya hampir di seluruh dunia. Maka tak heran lembaga filantropi Islam dan kemanusiaan ini telah berhasil menyalurkan manfaat dana ZISWAF dan dana sosial lainnya kepada 21.788.903 penerima manfaat di 34 provinsi di Indonesia dan 20 negara di seluruh dunia sejak awal berdiri pada tahun 1993 hingga tahun 2019 lalu. MasyaAllah. Selain kemudahan berdonasi dan jaringan yang luas, banyak pula fitur unggulan lain yang ditawarkan oleh Dompet Dhuafa. Mulai dari layanan penjemputan zakat, kalkulator zakat hingga konsultasi.

JUMLAH DANA TERHIMPUN

JUMLAH DANA YANG TELAH DISALURKAN

JUMLAH PENERIMA MANFAAT

Tingkat serapam penyaluran dana tahun 2019 sebesar 93,26% atau Kinerja Penyaluran Dompet Dhuafa dinilai SANGAT EFEKTIF menurut rasio Allocation to Recollection Zakat Core Principle

Terhitung sejak tahun 2019 lalu sudah beberapa kali saya dan keluarga menitipkan amanah penyaluran donasi kami pada Dompet Dhuafa. Mulai dari untuk kebutuhan pembayaran zakat dan qurban hingga untuk menyalurkan infaq, sedekah, wakaf serta pembayaran fidyah bagi nenek kami yang tak bisa berpuasa karena sudah uzur usianya. Alhamdulilah,  kami sekeluarga juga baru saja menyalurkan zakat penghasilan kami lewat dompet dhuafa. InsyaAllah penyaluran zakat fitrah keluarga kami menjelang idul fitri nanti juga akan kami lakukan lewat Dompet Dhuafa, mengingat kondisi pandemi COVID19 saat ini, sulit rasanya untuk menyalurkan zakat secara langsung kepada mustahiq. 

Satu hal yang paling berkesan setiap kali saya menyalurkan donasi lewat Dompet Dhuafa adalah karena pertanggung jawaban yang diberikan. Dompet Dhuafa selalu memberikan kuitansi dan laporan donasi ZISWAFKU atas segala donasi yang kita lakukan. Laporan ini tentu sangat membantu kami dalam urusan pelaporan SPT tahunan pajak penghasilan. Selain itu, laporan ini juga menjadi bukti kesungguhan Dompet Dhuafa untuk menjadi lembaga penyalur dana sosial yang profesional, terpercaya dan amanah. Pada laporan ZISWAFKU tersebut, Dompet Dhuafa juga tak lupa menghaturkan doa bagi para donaturnya agar senantiasa diberikan keberkahan dalam setiap harta. MasyaAllah. Diatas saya lampirkan salah satu contoh laporan ZISWAFKU yang pernah saya terima agar teman-teman memiliki gambaran betapa profesional dan amanahnya Dompet Dhuafa dalam menerima dan menyalurkan setiap donasi.

Yang tak kalah menyentuh adalah ketika suatu hari saya menerima surat elektronik dari Dompet Dhuafa yang menceritakan bahwa aliran dana zakat produktif sosial umum yang kami berikan telah mampu berkontribusi dalam program pemberdayaan para petani kopi di Solok, Sumatera Barat. Berkat program zakat produktif ini, Ibu Syamsinar seorang petani kopi di Solok bahkan sudah memiliki 2,5 hektar lahan kebun kopi dan menghasilkan 200-300 kg kopi setiap harinya untuk diekspor  ke Jepang, Amerika dan Thailand. Cerita inspiratif ini membuat saya terharu dan bahagia sebab bisa ikut berkontribusi dalam membangun perekonomian masyarakat lemah.

Cerita sukses Ibu Syamsinar hanyalah satu dari jutaan cerita mengharukan dari para penerima manfaat dana sosial Dompet Dhuafa. Lewat public expose yang dirilis Dompet Dhuafa, saya membaca ada banyak sekali kisah-kisah inspiratif lainnya dari para penerima manfaat. Masya Allah. Subhanallah. Kabar bahagia ini akhirnya menegakkan keyakinan saya bahwa instrumen ZISWAF dapat menjadi salah satu sektor yang mendongkrak perekonomian bangsa dan mengentaskan kemiskinan. Dengan pengelolaan yang profesional didukung oleh para donatur yang tak pernah lelah menebar kebaikan maka bukan tak mungkin sektor ZISWAF ini kelak dapat membantu negara menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi dan sosial di masa depan.

menebar kebaikan

Melawan Corona Bersama Dompet   Dhuafa

 

Tantangan pandemi COVID19 yang sedang kita hadapi saat ini juga dapat menjadi peluang untuk menebar kebaikan. Terlebih bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan yang penuh keberkahan. Momentum ini seharusnya disambut sebagai peluang emas untuk menjemput keridhaan Allah dengan sebanyak-banyaknya bersedekah.

Bak gayung bersambut, melalui buletin surat elektronik Dompet Dhuafa saya mendapat informasi bahwa Dompet dhuafa juga punya program donasi yang dikhususkan untuk penanggulangan wabah corona. Namanya program Dompet Dhuafa “Bersama Lawan Corona”. Dalam program ini Dompet Dhuafa mengajak para donatur untuk bersama-sama menebar kebaikan dan membangun solidaritas dalam rangka menCEKAL (cegah & tangkal) wabah corona.

Program “Bersama Lawan Corona” dari Dompet Dhuafa ini meliputi antara lain :

  • Penyediaan mobile health service & layanan kesehatan door to door untuk kaum dhuafa
  • Badan pemulasaran jenazah (barzah) untuk membantu proses pemakaman korban PDP corona
  • Pembagian sembako untuk masyarakat miskin dhuafa dan pekerja jalanan terdampak corona
  • Pembagian APD untuk tenaga medis di rumah sakit, 1000 disinfectan chamber di berbagai lokasi rawan corona
  • Pembagian hygiene kit dan sosialisasi kesehatan untuk kelompok rentan
  • Penyemprotan disinfektan
  • Wakaf pembangunan rumah sakit kontainer covid19 sebagai fasilitas kesehatan gawat darurat yang InsyaAllah akan ditempatkan di RST Dompet Dhuafa, Parung, Bogor untuk menanggulangi pasien positif corona di jabodetabek.

Saya pun tak ingin ketinggalan, saya anggap informasi yang saya terima lewat buletin surat elektronik itu sebagai panggilan untuk menebar kebaikan. Maka selepas membaca surat elektronik dari Dompet Dhuafa tersebut saya pun bergegas berdonasi sebagai wujud empati saya terhadap pandemi yang kita rasakan saat ini.

Menebar Kebaikan, Menjemput Keberkahan

menebar kebaikan dompet dhuafa

Perjalanan saya ke Palestina memberikan saya hikmah tentang kebaikan berbagi. Bahwa menebar kebaikan adalah cara terbaik untuk mensyukuri kebaikan-kebaikan yang telah Tuhan anugerahkan dalam hidup kita ini. Menebar kebaikan lewat infaq, sedekah, zakat dan wakaf adalah serangkaian ikhtiar  kita untuk meneguhkan iman seraya mengumpulkan amalan-amalan yang akan membantu di hari akhir.

Sebagaimana nasehat Ali bin Abi Thalib  kepada ‘Ala Ziyad bin Haritsi, bahwasannya apapun harta yang kita miliki dalam hidup ini sesungguhnya adalah kendaraan menuju akhirat nanti. Maka siapa saja yang diberi kelebihan harta namun memilih untuk hidup bersyukur dan qanaah didalam kesederhanaan kemudian, menggunakan hartanya semata-mata untuk menebar kebaikan, mereka itulah hamba- hamba yang kelak akan Allah SWT muliakan. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang dimuliakan. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

“…Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu (hartamu) melainkan untuk mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)”

Surat Al-Baqarah ayat 272

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Sumber-sumber :

  • Foto : Rizka Edmanda & Dompet Dhuafa
  • Video Palestina: Rizka Edmanda
  • Video Perempuan Pemimpi : Dompet Dhuafa
  • Olah grafis : Rizka Edmanda
  • Data Kemiskinan Palestina : Public Expose UNCTAD “Palestinian Socioeconomic Crisis Now at Breaking Point” September 2019
error: content is protected