Memaksimalkan Peran Media Daring, dalam Upaya Pencegahan Stunting

pencegahan-stunting

Pergi ke Pasar Membeli Jaring,

Jaring Dipakai Menangkap Kepiting.

Mari maksimalkan peran media daring,

Dalam Upaya Pencegahan Stunting.

*****

Status gizi yang baik menjadi keniscayaan bagi setiap individu untuk dapat mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, status gizi yang baik pada setiap individu juga  dapat menjadi kontribusi terbaik dalam pembangunan sumber daya manusia, sebab dengan status gizi yang baik, kesehatan seorang manusia dapat lebih terpelihara, sehingga Iapun dapat meningkatkan produktivitas kerja, dan sudah tentu hal ini akan menjadi angin segar bagi geliat pertumbuhan ekonomi bangsa. Namun sayang, ditengah upaya Pemerintah meningkatkan status gizi masyarakat, Stunting diam-diam masih menjadi ancaman bagi Bangsa. Padahal, Indonesia akan menyambut Bonus Demografi di tahun 2030-2040, sehingga sejak sekarang sudah seharusnya kita ikut menyiapkan generasi unggul, sehat dan produktif untuk siap bersaing di masa depan. Stunting bukan persoalan sepele bagi Negara, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro menyebutkan bahwa 2-3% anak dengan stunting akan mempengaruhi ratusan triliun pendapatan Negara, sedangkan satu orang anak Indonesia yang cerdas mampu mengangkat nilai ekonomi Negara hingga 48 kali lipat. Pertanyaannya sekarang adalah, sudah seberapa besar sih kontribusi kita sebagai warga negara untuk membantu Pemerintah, membantu Tanah Air Indonesia untuk bahu membahu dalam memeragi ancaman stunting? Nah, sebagai warga negara yang baik, yang hidup di era digital, sebetulnya kita bisa lho turut serta membantu Negara dalam melakukan pencegahan stunting untuk mewujudkan Indonesia Sehat dan berdaya saing. Caranya sederhana, cukup dengan memanfaatkan media daring.

Indonesia dalam Ancaman Stunting

indonesia-sehat

Pencegahan-Stunting

Permasalahan status gizi masyarakat memang masih menjadi persoalan pelik di Negeri ini, sebagai bukti, tingginya prevalensi balita pendek atau stunting akibat kekurangan gizi kronis masih menjadi permasalahan kesehatan Nasional yang terus membayang-bayangi. Prevalensi adalah proporsi jumlah penderita dibandingkan total populasi di suatu wilayah yang diukur dalam kurun waktu tertentu. Berdasarkan Pemantauan Status Gizi 2017, prevalensi angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi yakni 29,6% pada kelompok Balita (bayi dibawah 5 tahun), sedangkan pada kelompok baduta (bayi dibawah 2 tahun) masih 20,1%, padahal batasan WHO prevalensi tertinggi stunting adalah 20%. Dari 34 Provinsi yang ada di Indonesia hanya ada 2 Provinsi yang berada dibawah batasan WHO tersebut, yakni Yogyakarta sebanyak 19,8% dan Bali sebanyak 19,1%, sedangkan NTT menempati urutan tertinggi yaitu 40,3% dan Provinsi lainnya masih memiliki kasus yang sangat tinggi yaitu di kisaran 30-40%.

Persoalan stunting lebih dari sekedar permasalahan fisik ataupun penampilan, karena stunting akan mempengaruhi berbagai sektor pembangunan dan pendapatan Negara, terlebih Indonesia akan menyambut bonus demografi di tahun 2030-2040 dimana jumlah masyarakat usia produktif diprediksi akan lebih banyak yakni sekitar 64% dibandingkan masyarakat dengan usia tidak produktif, maka agar Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi ini, ketersediaan sumber daya manusia usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan kesehatan dan status gizi yang baik, demi membentuk kualitas sumber daya manusia yang unggul, cakap, terampil, mampu bersaing serta dapat menjadi “engine of growth” bagi pertumbuhan perekonomian Bangsa.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka tak heran dimensi pembangunan Nasional yang dilakukan Pemerintah kini lebih diarahkan pada kebijakan perbaikan gizi masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai sentral dari pembangunan berkelanjutan. Hal ini terwujud dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional 2015-2019 yang menempatkan sektor kesehatan sebagai program prioritas pembangunan kedua setelah program percepatan pengurangan kemiskinan. Rencana ini juga disambut oleh Menteri Kesehatan dengan menempatkan program perbaikan gizi masyarakat melalui upaya pencegahan stunting sebagai salah satu strategi pembangunan kesehatan 2015-2019.

Fakta Penting Seputar Stunting

cara-mencegah-stunting

Meskipun stunting dapat menjadi ancaman besar bagi pembangunan Bangsa, namun sayangnya masih banyak masyarakat yang belum begitu sadar akan bahaya stunting, bahkan sebagian besar masyarakat belum mengenal istilah stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh buruknya asupan gizi anak dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga hal ini mengakibatkan kondisi gagal tumbuh (failure to thrive) pada anak. Ciri-ciri stunting paling jelas yang dapat terlihat pada anak adalah tinggi/panjang badan anak yang tidak sesuai dengan dengan umur (TB/U) sehingga anak terlihat jauh lebih pendek (kerdil) daripada teman-teman seusianya. Ciri-ciri lainnya adalah pertumbuhan gigi yang terlambat, wajah tampak lebih mudah dari anak seusianya, pertumbuhan melambat, tanda pubertas melambat dan pada anak usia 8-10 tahun menunjukkan hasil yang buruk pada tes perhatian dan memori belajar serta dari sisi psikologis anak tampak pendiam dan tidak banyak melakukan eye contact.

Sebagian besar masyarakat awam menganggap kondisi tubuh anak yang pendek/kerdil semata-mata dipengaruhi oleh faktor genetika dari kedua orangtua nya, sehingga masyarakat terkadang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal, faktor asupan gizi, sosial, lingkungan dan budaya juga sangat menentukannya. Stunting disebabkan karena anak mengalami kekurangan gizi sejak ia berupa janin dalam kandungan sampai ia melewati fase awal kehidupan, atau yang biasa disebut dengan 1000 Hari Pertama Kelahiran (1000 HPK) yaitu ketika anak berusia 2 tahun.

Sehubungan dengan hal tersebut maka untuk mencegah stunting pada anak-anak kita, penting kiranya bagi seorang Ibu hamil untuk memperhatikan kecukupan gizi, vitamin, mineral dan zat besi dalam konsumsi makan sehari-hari, agar anak tidak terlahir dengan status gizi yang buruk, kemudian ketika anak telah lahir Ibu pun harus memberikan anak ASI ekslusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dengan variasi, gizi dan proporsi yang benar dalam setiap sesi makannya. Tidak berhenti sampai disitu, anak juga harus rutin dipantau tumbuh kembangnya di posyandu atau puskesmas terdekat, tidak hanya pada jadwal imunisasinya saja tapi juga setiap bulannya sehingga apabila tumbuh kembang anak tidak sesuai usianya, tenaga kesehatan bisa segara memberikan saran dan melakukan tindakan. Kualitas air, sanitasi dan kebersihan lingkungan juga tidak boleh luput dari perhatian, karena percuma saja apabila kita sudah makan-makanan bergizi namun apabila sanitasi dan kualitas air buruk maka tubuh bisa tercemar penyakit dan infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Stunting memiliki dampak yang serius bagi siapapun yang mengalaminya. Stunting dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan fisik, gangguan metabolisme tubuh, menganggu perkembangan otak, serta menurunnya kecerdasan, kemampuan kognitif dan produktivitas kerja. Resiko tersebut akan mengakibatkan anak penderita stunting berpotensi memiliki penghasilan 20% lebih rendah dari anak yang tumbuh optimal, dan sudah tentu kelak ini juga akan berdampak pada pendapatan domestik bruto Negara hingga triliyunan Rupiah dan melemahkan daya saing Bangsa secara global.

Stunting Bukan Hanya Mengancam Masyarakat Miskin

cegah-stunting-indonesia-sehat

Meskipun stunting adalah permasalahan kesehatan yang erat kaitannya dengan asupan gizi dalam panganan sehari-hari, namun pada kenyataannya stunting tidak hanya dialami oleh masyarakat miskin, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, 30% kelompok masyarakat yang mengalami stunting adalah golongan masyarakat menengah keatas. Rendahnya kesadartahuan masyarakat mengenai kesehatan dan gizi menjadi penyebabnya. Pada masyarakat golongan menengah misalnya, stunting bisa terjadi apabila Ibu hamil terlalu sibuk bekerja hingga tidak sempat memeriksakan kandungan secara rutin ke fasilitas kesehatan. Keadaan akan semakin memburuk apabila ibu hamil tersebut tidak bisa menjaga asupan gizi pada makanan sehari-hari sebab kita tau paparan bahan kimia, pengawet dan pewarna buatan serta makanan instan rendah nutrisi dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat perkotaan.

Faktor lainnya adalah masih banyaknya Ibu bekerja yang tidak memberikan ASI ekslusif pada bayinya dan memilih jalan pintas dengan memberikan susu formula tanpa indikasi medis yang jelas, alasannya bisa disebabkan si Ibu merasa sulit memberikan ASI kepada bayi karena kesibukan bekerja atau bahkan bisa jadi disebabkan minimnya pengetahuan seputar ASI dan manajemen ASI perahan. Bahkan, tidak jarang ditemukan Ibu yang merasa harus memberikan anaknya susu formula supaya anaknya gemuk, padahal anggapan anak gemuk itu lucu dan anak “mungil” itu imut adalah paradigma yang tidak selamanya benar. Tak hanya itu, masih banyak pula Ibu yang hanya fokus pada berat badan bayi/anak tanpa terlalu peduli dengan panjang dan tinggi badan serta lingkar kepala. Kesalahfahaman yang demikianlah yang kiranya harus diluruskan.

Pada masyarakat golongan atas, bahaya stunting juga dapat mengancam. Biasanya pada kelompok masyarakat ini, stunting diakibatkan oleh keinginan untuk menerapkan gaya hidup yang seolah tampak sehat namun sebetulnya justru beresiko terhadap kesehatan. Misalnya dengan menerapkan diet ketogenik pada anak. Sebagaimana yang kita tau, diet ketagonik sempat menjadi tren yang cukup populer di media sosial belakangan ini, karenanya banyak orangtua modern yang menerapkan pola diet ini kepada anak-anak mereka, dengan harapan anak mereka akan tumbuh sehat dan terhindar dari resiko obesitas. Saat menerapkan diet ketagonik, biasanya orangtua akan memangkas asupan karbohidrat dan protein pada anak, sehingga tubuh anak akan menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Diet ketagonik harus dilakukan dibawah pengawasan ahli nutrisi, karena hanya boleh dilakukan jika ada indikasi khusus misalnya anak mengidap epilepsi, atau dengan pertimbangan medis lainnya. Ironisnya, kebanyakan orangtua tidak mendapat pendampingan oleh ahli nutrisi saat menerapkan diet ketogenik pada anak padahal tidak semua orang cocok dengan metode diet ini. Faktor usia, berat badan, tinggi badan, aktivitas sehari-hari dan kondisi kesehatan seharusnya menjadi pertimbangan dalam menerapkan pola diet pada seseorang. Akibatnya, bukannya tambah sehat anak justru mengalami kekurangan gizi karena rendahnya asupan karbohidrat dan protein, padahal protein adalah mikronutrien yang sangat penting bagi tubuh sebagai zat pembangun terlebih pada usia anak yang masih dalam tahapan perkembangan.

Memaksimalkan Peran Media Daring, dalam Upaya Pencegahan Stunting

 

INDONESIA-SEHAT

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat kita lihat bahwa stunting telah menjadi ancaman yang serius bagi bangsa mengingat besar dampaknya pada pembangunan Negara. Stunting adalah masalah kesehatan multi dimensi yang bisa mengancam siapa saja,tidak memandang latar belakang suku, agama, ras, budaya serta status ekonomi dan status sosial seseorang. Stunting tidak hanya terjadi karena sulitnya mengakses makanan bergizi, tapi dapat pula terjadi akibat minimnya pengetahuan masyarakat seputar gizi.

Dilansir dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, Menteri Kesehatan RI, Prof.Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) menyebutkan bahwa nyatanya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum sadar gizi, bahkan yang ironisnya lagi masih banyak mitos-mitos tidak benar seputar kehamilan dan menyusui yang harus dicerahkan, misalnya mitos yang mengatakan ibu hamil tidak boleh makan ikan karena akan menyebabkan janin dan ASI bau anyir, hal ini jelas-jelas keliru karena protein hewani justru amat sangat penting bagi tubuh sebagai zat pembangun terlebih bagi ibu hamil dan menyusui. Sehingga ini tentu menjadi tugas kita semua untuk dapat bersama-sama  merapatkan barisan memerangi stunting, sesuai dengan porsi dan kapasitas kita masing-masing. Pemerintah selaku regulator dengan regulasi dan kebijakannya, dan kita sebagai rakyat sekaligus sebagai pengguna media sosial daring juga dapat turut membantu dengan memaksimalkan media sosial daring sebagai senjata.

indonesia-sehat

Di era digital seperti saat ini, internet dan media daring memiliki peran yang sangat strategis untuk menjadi media dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya gizi serta pentingnya melakukan pencegahan stunting sejak dini. Internet telah memberikan kemudahan dalam mengakses berita dan informasi hanya dengan sapuan jempol sehingga ini menjadikan media daring sebagai salah satu media yang paling banyak digunakan masyarakat “zaman now”. Media daring dapat dengan mudah membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu peristiwa, hingga bahkan suatu berita yang sebetulnya tidak penting, dapat dianggap penting ketika berita tersebut sudah menjadi viral di kalangan pengguna aktif sosial media yang biasa disebut netizen (internet citizen). Geliat media daring yang perlahan menggeser kepopuleran media massa konvensional di era ini, terbukti telah membuat hampir setiap orang bisa dengan mudah menjadi seorang jurnalis yang dapat mewartakan suatu peristiwa kepada khalayak dengan instan, baik melalui blog, vlog (video blog), atau bahkan hanya sekedar lewat unggahan status di media sosial.

Hal ini, tentu menjadi peluang besar bagi Pemerintah untuk dapat menghimbau dan mengarahkan masyarakat agar menggunakan media daring sebagai sarana untuk membantu Negeri ini dalam memerangi bahaya stunting. Sebagai warga negara yang baik pula, sudah sepatutnya masyarakat, dengan penuh kesadaran dan kesukarelaan turut berkontribusi dalam menjaga nasib generasi penerus masa depan bangsa dengan memaksimalkan peran media daring dalam upaya pencegahan stunting. Misalnya saja dengan rutin mengunggah status facebook berisi informasi dan tips pencegahan stunting, atau aktif menyebarkan pesan-pesan pencegahan stunting melalui tagar #SadarStunting agar pengguna media sosial lainnya menjadi tau mengenai stunting, bagi para penulis digital mungkin bisa pula dengan cara membuat tulisan-tulisan inspiratif bertemakan stunting sedangkan bagi para vlogger bisa pula dengan membuat video tentang stunting untuk diunggah ke akun youtube.

Pada akhirnya, upaya-upaya yang tampak kecil ini boleh jadi akan menjadi sumbangsih berharga untuk Negeri yang akan membawa sebuah perubahan besar dikemudian hari. Boleh jadi status-status yang kita unggah, foto-foto yang kita tayangkan atau video-video yang kita sebarkan adalah tonggak awal kebangkitan Indonesia dari ancaman stunting. Meski tampak sepele dan sederhana, namun dari kanal-kanal digital inilah kita dapat memberikan sebuah kontribusi nyata untuk menyelematkan generasi bangsa.

PENCEGAHAN-STUNTING

pencegahan-stunting-indonesia-sehat

Yuk, Bantu Viralkan!

Sumber-Sumber :

 

 

Rizka Edmanda

126 Comments

  1. Terimakasih mbak Rizka untuk tulisannya, saya jadi bisa belajar juga. Mudah-mudahan kalau nanti dikarunia anak, bisa cegah stunting mulai sejak kehamilan. Yang jelas tugas orang tua dan memaksimalkan fasilitas kesehatan dari negara, supaya anak-anak tumbuh sehat. Oya, sehat-sehat terus untuk si kecil ya mbak 🙂

  2. memang bahaya banget nih stunting pada bayi. kadang para ibu juga kesulitan memberi makanan bergizi buat anaknya entah itu karena faktor ekonomi atau memang anaknya yang susah makan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *