A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Blog dan Perayaan Kebebasan Berliterasi di Era Digital

bangga-menjadi-narablog

Dengan Menulis, Saya Bertumbuh

Saya bergegas pulang ketika jam mata kuliah terakhir telah selesai. Janji temu dengan seorang sahabat membuat saya tak sabar ingin segera meninggalkan ruang kelas. Ojek daring yang saya pesan melaju dengan kecepatan sedang, mengantarkan saya menuju lokasi warung kopi yang sebelumnya telah kami janjikan. Sahabat saya itu ternyata tak datang sendiri, ia datang bersama seseorang yang dari penampilannya tampak necis dan rapi. “Hai Rizka, perkenalkan ini teman saya dari Bandung. Dia orang Pontianak tapi sudah lama tinggal disana” sahabat tersebut menyambut sembari mengulurkan tangannya. Saya hanya tersenyum kecil kemudian mengangguk sopan pada orang asing yang dibawanya. 

Orang asing ini kemudian memperkenalkan diri sebagai, hmmm mari kita sebut saja dia Beni. Beni mengaku bekerja sebagai penyunting naskah di sebuah penerbit yang cukup terkenal di Bandung. Beni memberikan kartu nama, yang didalamnya tertulis lengkap identitas, serta alamat kantornya. “Ayo coba masukkan naskah tulisanmu, siapa tahu rezeki” ujar sahabat saya itu. Saya tak menjawab, hanya mengangguk sambil menyeruput kopi hitam yang telah saya pesan sebelumnya. 

Sebetulnya ini bukan pertama kalinya sahabat saya ini menawarkan diri untuk mengorbitkan saya menjadi seorang penulis buku. Ia memang telah sukses terlebih dulu. Beberapa judul buku mulai dari novel remaja hingga catatan perjalanan telah ia terbitkan. Tapi sejujurnya, sejauh ini saya belum begitu tertarik dengan tawaran menjadi seorang penulis buku. Baiklah, saya tak munafik bahwa memang ada separuh hati saya yang berbahagia ketika ada kesempatan semacam ini datang menyapa. Bagaimanapun, menyandang gelar sebagai penulis buku tentulah akan meningkatkan derajat kasta saya diantara sesama teman-teman komunitas menulis yang saya ikuti, tapi nyatanya ada sebagian hati saya yang lain yang terasa berat untuk mengiyakannya.

Sebetulnya saya memang sangat suka menulis. Menulis adalah ruh, yang menghidupi diri saya selain, udara, air, makanan, kasih sayang suami dan rahmat Allah. Menulis tak hanya membuat saya hidup, tapi juga bertumbuh dan dengan menulis saya merasa dapat terus berproses menjadi manusia yang seutuhnya. Bagi saya menulis bukan hanya sekedar hobi tapi juga sebuah proses pendewasaan diri. Menorehkan gagasan demi gagasan lewat tulisan adalah cara saya untuk berbicara.

Meskipun sedemikian cintanya saya pada menulis, namun banyak hal yang membuat saya akhirnya mengurungkan mimpi untuk menjadi seorang penulis buku. Pertama karena saya adalah tipe penulis yang tak bisa dirongrong untuk menulis sesuai kehendak pasar, saya menulis apapun yang saya suka sekalipun apa yang saya tulis sama sekali tidak “pasaran”. Kedua, saya sadar bahwa untuk menjadi seorang penulis profesional harus punya semangat yang tidak main-main. Bayangkan saja, mereka menetapkan aktivitas menulis sebagai pekerjaan yang wajib dilakukan di segala kondisi, hingga kadang terpaksa harus mengabaikan situasi hati. Entah baru saja gagal ujian atau diputuskan oleh pacar, namun mereka harus tetap menulis karena ada beban target dari penerbit yang harus dikejar. Sedangkan saya lebih senang menulis, dengan mengikuti suasana hati.

Terakhir adalah alasan yang sangat manusiawi yaitu soal materi. Menyenangkan memang jika karya kita bisa diterbitkan oleh penerbit terkenal, tapi belakangan saya sempat mendengar kabar tentang pajak royalti buku yang katanya luar biasa tinggi, bahkan bisa melampaui total pendapatan bersih. Hingga kemarin hal ini sempat membuat seorang penulis kenamaan mengumumkan pengunduran dirinya dari  sebuah penerbitan mayor. Jujur, mendengar itu nyali saya semakin ciut untuk turut menceburkan diri dalam jagad penulisan buku.

Bagaimana dengan menerbitkan buku sendiri? Hmm rasanya ini belum cukup bisa dijadikan solusi. Paling tidak bagi saya, penulis yang lemah modal ini sebab biaya pencetakan buku di Indonesia memang terbilang masih cukup mahal. Subsidi pencetakan buku-buku non pendidikan pun rasanya masih sebatas menjadi mimpi. Dilematis memang, di satu sisi kita sadar bahwa kebebasan berliterasi seharusnya menjadi bagian dari hak asasi, namun disisi lain progam dan keberpihakan pemerintah pada pembangunan literasi Indonesia khususnya untuk memberikan subsidi pencetakan buku, seakan hanya menjadi sebuah impian utopis.

narablog
Saat ini, menjadi penikmat buku sudah lebih dari cukup bagiku

“Riz, bagaimana?” tegur sahabat saya mengagetkan. Saya tersentak dari lamunan, “Duh, maaf ya sepertinya saat ini saya belum punya nyali untuk menjadi penulis profesional milik penerbit. Menjadi penulis lepas saja bagi saya sudah lebih dari cukup, sebab saya ingin bisa lebih bebas menulis. Saya ingin menerbitkan karya-karya saya sendiri, meski tak harus lewat buku. Biarlah saya jadi penikmat buku saja, untuk melampiaskan hasrat menulis saya akan cari media lainnya” jawab saya padanya. “Maksudmu lewat apa?” balasnya. “Ya lewat apa saja, bisa lewat kicauan di media sosial, atau lewat penayangan artikel di media-media daring seperti blog pribadi misalnya. Bukankah penulis itu tak harus selalu menulis di buku?” jawab saya.

Melampiaskan Gairah Menulis pada Media Digital

literasi-digital
Merayakan hak berliterasi (sumber gambar : unsplash, disunting oleh Rizka Edmanda)

Besarnya tantangan menjadi penulis buku di zaman sekarang, dijawab dengan beragam cara oleh masyarakat literasi. Segelintir orang berupaya merebut hak mereka dalam berliterasi dengan mendirikan penerbitan mandiri yang dikelola secara kolektif oleh para anggotanya. Sedangkan penyebaran karya-karyanya dilakukan melalui perpustakaan jalanan atau penjualan dari tangan ke tangan. Saya sendiri memilih cara yang bagi saya paling masuk akal demi melampiaskan gairah menulis yang saya punya yaitu melalui media tulisan digital atau blog.

Jauh sebelum percakapan dengan sahabat saya tadi terjadi, sebetulnya saya telah lebih dahulu mengenal blog. Perkenalan awal saya dengan blog terjadi sekitar tahun 2007, waktu itu hubungan saya dengan blog memang tak seintim sekarang. Blog hanyalah salah satu sub pokok bahasan yang saya pelajari pada mata pelajaran TIK (teknologi informasi dan komunikasi) di sekolah. TIK sendiri sebenarnya bukanlah mata pelajaran favorit saya waktu itu. Jangankan memahami bahasa pemrograman, bisa menambahkan latar musik dan efek daun-daun jatuh di blog saja bagi saya sudah menjadi sebuah kebanggaan. Membuat blog bagi bagi saya kala itu, sungguh hanyalah sebuah upaya untuk meraih nilai pada sebuah mata pelajaran, tak lebih tak juga kurang.

Kecintaan saya pada blog baru tumbuh di tahun 2011, ketika itu saya tengah putus asa dalam menemukan media yang paling nyaman untuk melabuhkan tulisan-tulisan. Blog menyambut saya yang tengah putus asa dengan tangan terbuka, ia menjadi media yang menampung karya-karya saya mulai dari curahan hati, kritik, puisi, sajak hingga prosa. Pada tahun itu pula, saya mulai tekun membangun dan merawat blog pertama saya, yang saya namakan “Pretty Power”.

Tahun demi tahun saya lalui bersama blog. ia terus menjadi media tempat dimana saya bisa melampiaskan gairah menulis saya secara cuma-cuma. 8 tahun bersama Pretty Power, banyak suka duka yang terjadi, mulai dari sesepele lupa kata kunci untuk masuk ke akun sendiri hingga peretasan blog yang waktu itu sempat saya alami.

Tahun 2017 adalah awal dimana saya memutuskan untuk mulai serius memaksimalkan peran blog dalam merayakan kecintaan saya pada dunia literasi yaitu dengan membeli domain dan hosting sendiri pada sebuah layanan penginangan web. Terciptalah www.rizkaedmanda.com, blog sederhana yang tengah kalian kunjungi saat ini.

narablog

Kebanggaan Menjadi Seorang Narablog

lomba-blog-nodi
Cerita inspiratif dari teman-teman narablog

Lewat blog pula saya menjadi saksi, betapa banyak tercipta kisah-kisah menginspirasi dari teman-teman narablog lainnya. Mulai dari tentang semangat gigih seorang Ibu berusia 80 tahun yang masih aktif menulis blog demi memuaskan gairah menulisnya, hingga tentang perjuangan seorang anak yang lewat blog, a sanggup membelikan sepeda motor untuk sang bapak dan membangun warung untuk ibunya. Bagi sebagian orang, cerita-cerita itu mungkin biasa saja, tapi bagi saya cerita-cerita itu sangat menggugah. Menggugah semangat saya, bahwa diluar sana ada banyak orang yang didalam keterbatasannya selalu bersemangat untuk terus produktif dalam berkarya.

Blog pada akhirnya tak hanya sekedar menjadi media bagi saya untuk merayakan hak-hak literasi, tapi blog juga memberi saya sejuta inspirasi.

Resolusi Blog 2019

Rasa bangga sebagai seorang narablog selalu saya jaga, sebab rasa bangga itulah yang membuat tulisan-tulisan saya menjadi lebih bernyawa. Kedepan saya ingin terus berbenah serta belajar banyak hal agar blog yang saya bangun tak hanya sekedar menjadi sebuah rumah singgah, sebab saya sadari, blog di zaman sekarang bukan lagi sekedar soal tulis dan tayang, banyak aspek pendukung yang membuat sebuah blog dapat lebih berkembang. 

Dapat selalu memberikan wawasan yang bermanfaat serta nilai-nilai positif bagi pembaca adalah visi dan resolusi saya dalam setiap tulisan-tulisan yang terunggah. Sebab saya percaya, tak perlu uang jika ingin bersedekah, ide kreatif yang dikemas dalam tulisan inspiratif pun dapat menjadi pintu bagi kita untuk berbagi pada sesama.

Sedekah digital ala narablog (Sumber gambar : unsplash, disunting oleh Rizka Edmanda)
error: content is protected