A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

garda kesehatan untuk masyarakat pedalaman di teras negeri

Kesehatan adalah hak asasi manusia serta  salah satu unsur penentu kualitas hidup dan kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pasal 28 H ayat 1 : “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Namun, upaya pembangunan kualitas kesehatan di Indonesia belum dapat dilaksanakan secara merata karena kendala geografis dan sosial budaya, terkhusus bagi mereka yang tinggal di “teras negeri” atau Daerah Tertinggal,
Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). Padahal membangun kesehatan ibarat membangun benteng pelindung bagi masyarakat. Tenaga medis adalah prajuritnya, obat-obatan, perlengkapan dan jaminan kesehatan adalah senjatanya, fasilitas kesehatan adalah garda yang membentenginya. Membangun garda kesehatan di daerah pedalaman adalah sebuah urgensi. Demi mewujudkan teras negeri yang indah, aman, sehat, nyaman dan berseri. Di Papua, salah satu garda kesehatan itu bernama Klinik Asiki.

Teras Negeri. Demikianlah saya lebih senang menyebut daerah pinggiran yang masuk dalam kategori Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) sebuah wilayah yang terletak jauh di ujung negara kesatuan ini seringkali tak dapat menjamah nikmatnya pembangunan layaknya mereka yang tinggal di pulau Jawa. Padahal, wilayah “Teras Negeri” inilah beranda terdepan nusantara yang turut menjaga kedaulatan bangsa. 

Kondisi masyarakat yang hidup di pedalaman seringkali memprihatinkan. Sebab berada di tengah keterbatasan yang berkepanjangan. Keterbatasan dalam segala hal. Mulai dari akses memperoleh pendidikan yang layak, ekonomi, pekerjaan bahkan kesehatan. Ironis memang, sebab kesehatan adalah modal utama penentu keejahteraan dan kualitas hidup seseorang.

Medan yang sangat sulit dilalui adalah alasan utama mengapa fasilitas kesehatan yang memadai sulit masuk ke wilayah pedalaman. Belum lagi waktu tempuh yang dibutuhkan untuk bepergian biasanya berjam-jam bahkan berhari-hari. Tak ayal, sangat sedikit tenaga medis yang mau mengorbankan diri untuk mengabdi di wilayah pedalaman. Fasilitas kesehatan yang layak pun menjadi barang mewah yang sulit didapatkan.

Salah satu daerah pedalaman yang masih kekurangan fasilitas kesehatan adalah Papua. Memiliki topografi yang bervariasi seperti dataran tinggi, hutan hujan tropis, laut yang bersih dengan kekayaan terumbu karang yang cantik serta padang rumput dan lembah yang terhampar luas membuat Papua jadi salah satu tempat terindah di muka bumi. Namun, keragaman topografi itu pulalah yang membuat akses kesehatan di Papua masih sulit berkembang. Sebab kondisi tersebut membuat masyarakat tinggal tersebar di gunung-gunung, desa, hutan yang lebat hingga pulau-pulau terpencil. Kondisi ini menjadikan persebaran fasilitas kesehatan disana jadi tidak merata.

Kunjungan saya ke Papua pada tahun 2013 silam turut membuktikan hal ini. Selama berada disana, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa menemukan fasilitas kesehatan yang memadai seperti di Jawa adalah hal yang langka. Bahkan di distrik-distrik terpencil hanya ada puskesmas kecil yang tak memiliki dokter tetap. Maklum, tenaga medis disana harus berkeliling antara satu distrik ke distrik lain demi melayani masyarakat.

Melihat fakta ini, saya jadi tak heran jika Papua menempata posisi teratas provinsi dengan daerah tertinggal paling banyak di Indonesia. Sebagaimana disebutkan dalam Perpres 63 Tahun 2020 tentang penetapan daerah tertinggal 2020-2024 yang ditandatangani Presiden RI pada 27 April 2020 lalu, terdapat 22 daerah di Papua yang menempati daftar daerah tertinggal. 

Ketertinggalan Papua dalam pembangunan membuat akses kesehatan jadi sulit didapatkan. Itulah mengapa saya melihat di wilayah pedalaman Papua, teknik pengobatan tradisional masih sangat diminati. Misalnya, melakukan terapi syaraf dengan menggunakan “gelitik bulu ayam” Terdengar konyol memang, tapi inilah yang diandalkan oleh masyarakat asli yang pernah saya jumpai waktu itu. Mitos-mitos kesehatan pun jadi banyak beredar. Mulai dari memberi bayi makan pisang sebelum berusia 40 hari agar ia tumbuh kuat, memberi anak minum kopi saat mengalami step atau kejang hingga pengobatan sakral dengan jampi-jampian. Memang, pengobatan tradisional acap bertentangan dengan teori pengobatan modern. Namun, ketidakberdayaan masyarakat ditengah minimnya fasilitas kesehatan menjadi alasan yang paling bertanggung jawab mengapa hal-hal semacam diatas masih kerap terjadi.

Kesulitan mendasar yang paling dirasakan dalam penatalaksanaan program kesehatan  di daerah terpencil adalah kurangnya dukungan tenaga medis, sarana dan peralatan serta fasilitas kesehatan. Publikasi profil kesehatan Indonesia 2019 yang dirilis oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI memberikan gambaran bahwa jumlah dokter umum di Papua pun belum bisa memenuhi batas minimal. Dari data profil kesehatan Indonesia 2019, disebutkan bahwa jumlah dokter umum di Papua pada tahun 2019 hanyalah 579 orang. Hal ini masih sangat jauh dari  ketentuan rasio World Health Organization atau WHO yang merekomendasikan standar jumlah dokter umum minimal di suatu wilayah adalah 40 dokter umum per 100 ribu penduduk.

Selain itu, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sekitar 80 persen masyarakat Papua menyatakan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan di Rumah Sakit masuk dalam kategori sulit dan sangat sulit. Definisi sulit dalam Riskesdas dilihat berdasarkan jenis moda transportasi yang digunakan, waktu tempuh dari dan menuju lokasi akses kesehatan, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk menuju fasilitas kesehatan terdekat. Kesenjangan tampak saat angka tersebut disandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa dimana rata-rata lebih dari 50% masyarakat di Pulau Jawa menyatakan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan di rumah sakit mudah.

Dalam agenda pembangunan nasional presiden Jokowi sendiri, pembangunan kesehatan masyarakat pedalaman sebetulnya telah termaktub dalam Nawacita butir ke 3 dan ke 5 yaitu “Memperkuat Daerah-Daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan” serta “Meningkatkan kualitas hidup manusia.”. Meskipun telah menjadi agenda prioritas, namun sektor kesehatan di daerah pinggiran, sampai hari ini masih saja ditimpal dengan beragam persoalan-persoalan mendasar. Seperti misal, belum maksimalnya distribusi peralatan medis dan obat-obatan, sanitasi, imunisasi, praktisi kesehatan hingga jaminan kesehatan yang layak. Maka jangan heran, jika  angka kematian ibu serta kejadian luar biasa (disease outbreak) seperti campak, polio hingga gizi buruk masih menjadi permasalahan kesehatan serius di bumi cenderawasih dan juga di daerah-daerah pedalaman lainnya di Indonesia.

Semangat Membangun Negeri dari Pinggiran Lewat Kesehatan

Dadi wong ki mbok yo sing solutip“-jadi orang itu harus solutif. Demikianlah kutipan Bu Tejo-sosok fiksi yang sedang viral di jagat maya belakangan ini. Betul kata Bu Tejo, membicarakan sebuah permasalahan memang tidak akan pernah ada ujungnya. Maka yang seharusnya dilakukan adalah membicarakan solusi. Terkait permasalahan kualitas kesehatan masyarakat di pedalaman, pemerintah sebetulnya telah melakukan berbagai upaya. Misalnya dengan pengadaan rumah sakit bergerak, pelayanan dokter terbang, pelayanan perairan, pemberian dukungan pembiayaan kesehatan seperti Jamkesmas, Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Dana Alokasi Khusus (DAK) hingga melakukan pemenuhan tenaga kesehatan (Nakes) melalui program Nusantara Sehat (NS) untuk daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan (DTPK) serta menerapkan  Wajib Kerja Dokter Spesialis sebagai upaya pemenuhan tenaga kesehatan di daerah.

kesehatan yang baik untuk sesama

Semua tak lain dan tak bukan adalah demi  mewujudkan Nawacita ke-3 dan ke-5  serta yang jauh lebih penting lagi adanalah demi mewujudkan pembangunan kesejahteraan umum dan keadilan kesehatan sebagaimana dicita-citakan dalam UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan ideologi bangsa ini. Namun, upaya pemerintah tentu tak akan optimal tanpa dukungan stakeholder lainnya. Seperti korporasi atau pihak swasta.  Sinergitas yang baik antara kedua lembaga terkait tentunya akan dapat memuluskan jalan peningkatan kualitas masyarakat di pedalaman dengan lebih maksimal.

Klinik ASIKI, Wujud Nyata Kontribusi KORINDO dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Pedalaman

klinik asiki korindo

KORINDO, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan sumber daya alam di Indonesia sejak tahun 1969 ini kemudian hadir dan membuktikan komitmennya untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di pedalaman terkhusus di Bumi Papua. Sejak tahun 1983, KORINDO Group yang telah menjalankan operasional perusahaan di 7 daerah yang tersebar di Kabupaten Boven Digoel dan Merauke mendirikan fasilitas kesehatan di seluruh wilayah tersebut untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat di daerah pedalaman. Fasilitas kesehatan yang ada bukan hanya untuk melayani kepentingan karyawan perusahaan namun juga pemberian layanan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

“Saya tidak menyangka, di daerah terpencil ada klinik besar dengan fasilitas yang setara dengan puskesmas di kota besar”

dr. Anurman Huda,MM.,AAK

Deputi BPJS Divisi Regional XII Papua-Papua Barat

Salah satu klinik yang didirikan oleh KORINDO Group bersama KOICA (Korea International Cooperation Agency) adalah Klinik Asiki yang menjadi klinik modern pertama di pedalaman Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.  Klinik yang diresmikan pada 2 September 2017 ini memiliki luas lahan 2.929 meter persegi dengan luas bangunan 1.270 meter persegi serta memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti ruang rawat jalan, rawat inap, ruang bersalin, perawatan bayi/perinatologi, IGD, ruang bedah minor, ruang rawat inap, USG, farmasi, poli umum, poli gigi, poli kandungan, USG, apotek dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan ambulans.

klinik asiki papua

Terdapat delapan program prioritas yang dijalankan dalam upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat setempat. Ke-8 program tersebut adalah menurunkan angka kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi baru lahir melalui peningkatan pelayanan kesehatan ibu, balita dan Keluarga Berencana (KB), kemudian perbaikan status gizi masyarakat. Selanjutnya, pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular diikuti penyehatan lingkungan, pengembangan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan.

Atas kontribusi gemilangnya dalam melayani masyarakat, Klinik Asiki dinobatkan menjadi klinik terbaik tingkat nasional dalam kategori Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Penghargaan ini diberikan oleh BPJS Kesehatan pada 15 Agustus 2019 lalu dengan predikat “FKTP dengan komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi peserta JKN-KIS kategori klinik pratama”. Penghargaan tersebut melengkapi raihan prestasi sebelumnya, sebab pada tahun 2017 lalu klinik ini juga telah berhasil meraih predikat The Best Performance dari BPJS Kesehatan untuk Kategori Klinik Pratama di Kedeputian Wilayah Papua dan Papua Barat.

Keistimewaan utama dari Klinik Asiki adalah sebab pelayanan kesehatan yang disediakan  diberikan secara gratis kepada masyarakat. Ini menjadi bagian dari komitmen KORINDO untuk memberikan pelayanan kesehatan non komersial yang prima bagi masyarakat Papua.

Layanan “Mobile Service” Klinik Asiki

Selain layanan utama yang disediakan langsung di klinik, Klinik Asiki juga melaksanakan program “jemput bola” berupa layanan keliling ke kampung-kampung terpencil dan perbatasan di wilayah sekitar perusahaan yang berada di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Layanan keliling atau Mobile Service Klinik Asiki bekerja sama dengan Puskesmas setempat dalam melaksanakan kegiatannya. Tujuan dilaksanakan Program Mobile Service Klinik Asiki adalah untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan serta meningkatkan aksebilitas pelayanan medis untuk daerah. Sedangkan sasarannya ditujukan untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan bayi atau balita di Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Selama tahun 2017, layanan Mobile Service telah dilaksanakan sedikitnya di 6 kampung yang terdapat di Distrik Jair (3 kampung), Distrik Subur (1 kampung), dan Distrik Ki (2 kampung). Kegiatan pelayanan kesehatan tidak berhenti sampai disitu. Program ini akan terus digulirkan perusahaan di kampung-kampung lainnya sesuai dengan jadwal Posyandu dari Puskesmas setempat.

korindo

Selain itu, terdapat pula pengobatan gratis yang dilakukan Divisi Perkebunan Kelapa Sawit terhadap sedikitnya 102 pasien. Pelayanan kesehatan gratis ini dilakukan dua kali sebulan pada lokasi yang bereda. Divisi ini juga melaksanakan edukasi tentang hidup sehat di lingkungan rumah tangga hingga kampanye kesehatan gigi. 

Di masa pandemi KORINDO Group, juga telah memberikan bantuan 120.000 lembar masker untuk masyarakat Papua. Tak sampai disitu saja, PT. Berkat Cipta Abadi salah satu unit perusahaan KORINDO Group yang juga bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit di Papua juga memberikan bantuan alat perlindungan diri (APD) ke Pemda Azmat sebanyak 1001 baju hazmat suit dan 2 unit alat termometer gun.

Berkat tangan dingin KORINDO, warga pedalaman Papua yang dahulunya sering kesulitan untuk pergi berobat karena jarak rumah sakit yang jauh dari tempat tinggal kini bisa mendapatkan fasilitas kesehatan dengan mudah. Maklum saja, sebelum adanya klinik-klinik yang dibangun KORINDO ini, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, masyarakat lokal mesti pergi ke Tanah Merah di Boven Digoel ataupun rumah sakit di Meruke yang waktu tempuhnya bisa mencapai 3-12 jam perjalanan.

Membangun pilar kesehatan dan kesejahteraan masyarakat pedalaman memang merupakan salah satu tujuan KORINDO yang terejawantah dalam misi perusahaan yaitu “secara aktif meningkatkan kualitas hidup melalui program-program pengembangan sosial yang sistematis dan berkelanjutan”. Inilah yang menjadi alasan mengapa  hingga hari ini KORINDO masih teguh dan konsisten menjalankan program-program kesehatan di daerah pedalaman, yakni demi mewujudkan visi misi perusahaannya tersebut. 

Komitmen KORINDO dalam membangun atmosfer usaha yang berkelanjutan, ramah lingkungan dan berorientasi pada pembangunan sosial masyarakat menjadikannya sebagai perusahaan yang menerima penghargaan Padmamitra Award 2018 dalam kategori penanganan keterpencilan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. Yaitu melalui salah satu unit bisnisnya PT. Tunas Sawa Erma. Padmamitra Award sendiri adalah penghargaan tertinggi yang diberikan negara kepada perusahaan atas kontribusi dan perhatiannya kepada kondisi sosial masyarakat.

PT.Tuna Sawa Erma berhasil meraih penghargaan tersebut karena dinilai telah berdedikasi tinggi dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) melalui implementasi berbagai program CSR dan CSC atau social contribution di bidang kesehatan.

Ini  semua adalah bukti konkret bagaimana perusahaan yang berinvestasi di Indonesia dapat berperan untuk ikut mensukseskan Program Indonesia Sehat sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang berperilaku sehat, hidup dalam lingkungan sehat, serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu untuk mencapai derajat kesehatan yang lebih tinggi.

KORINDO Menjadi Inspirasi dalam Membangun Teras Negeri

Kesempatan untuk memperoleh akses kesehatan yang layak bukanlah hanya hak mereka yang tinggal di perkotaan saja namun juga menjadi hak mereka yang tinggal di pedalaman. Harmonisasi kerjasama antara pemerintah dan swasta amatlah dibutuhkan dalam rangka mewujudkan kualitas kesehatan masyarakat di daerah pedalaman.

Maka, seandainya saja semua perusahaan yang berinvestasi di Indonesia meniru langkah emas KORINDO, maka saya yakin keterlambatan pembangunan di wilayah pedalaman akan lebih mudah dikejar. Sebagaimana yang dicitakan dalam Nawacita Presiden RI serta dalam Pancasila yang menjadi landasan ideologi negara ini.

Semoga KORINDO dapat terus menjadi inspirasi untuk membangun negeri dari pinggiran serta meningkatkan kesehatan yang baik untuk sesama. Agar kelak daerah pinggiran dapat menjadi teras negeri yang indah dan harum namanya. 

Sumber Rujukan :

Tulisan ini diikutsertakan dalam KORINDO Blog Competition 2020

error: content is protected