A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Bagi saya, terlahir sebagai seorang wanita adalah anugerah, dan mampu menjadi wanita yang tangguh itu berkah. Namun saya akui, perlu sebuah proses yang panjang untuk menempa ketangguhan diri. Dalam hal kebencanaan misalnya. Perlu pembelajaran, wawasan, dan simulasi yang tepat agar seorang wanita dapat tangguh dalam mencegah serta menghadapi risiko bencana yang terjadi. Sebab bukan apa, BNPB menyebutkan bahwa kaum wanita 14 kali lebih berisiko menjadi korban bencana dibanding kaum pria. Pada peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2018 saja misalnya, perempuan dan anak-anak menjadi kelompok korban terbanyak. Tulisan ini bercerita tentang pentingnya menjadikan wanita sebagai garda depan pencegahan bencana, yaitu dengan optimalisasi peran wanita dalam menanamkan spirit “kita jaga alam, alam jaga kita” pada keluarga dirumah. Dengan spirit ini, maka bukan tak mungkin golongan yang tadinya dianggap lemah saat bencana ini justru kelak dapat menjadi seorang srikandi alias pahlawan wanita yang tak hanya mampu mencegah risiko bencana namun juga dapat melindungi dirinya sendiri beserta keluarga.

********

Nasib Wanita di Negeri Cincin Api 

Keindahan alam raya Indonesia memiliki sisi gelap dan terang yang saling bersinggungan. Dibalik alamnya yang memukau, negara ini ternyata juga menjadi tempat dimana bencana demi bencana seakan tak pernah lelah mengintai. Betapa tidak, negara kita berada pada jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh cincin api pasifik diantara 3 tumbukan lempengan benua, yakni Indo-Australia, Pasifik dan Euroasia. Data Informasi Bencana Indonesia milik BNPB berbicara, bahwa sepanjang tahun 2018 hingga agustus 2019 telah terjadi 5.409 bencana di Indonesia dengan korban meninggal dunia sebanyak 2.437 orang dimana total korban terbanyak adalah perempuan.

Menjadi wanita tangguh yang hidup di negeri cincin api, memang penuh dengan tantangan. Disatu sisi, kita harus menerima kodrat fisik Indonesia dan hidup harmoni berdampingan dengan bencana. Namun disisi lain, wanita lahir dengan naluri mulia untuk melindungi keluarga khususnya anak-anak. Naluri ini senantiasa muncul bahkan dalam situasi bencana sepelik apapun. Yang mana terkadang, ini tak jarang membuat seorang wanita justru mengabaikan keselamatan diri ditengah bahaya. Seorang sosiolog bernama Elaine Enarson sebagaimana dikutip pada laman The Conservation menyebutkan, bahwa salah satu penyebab banyaknya korban wanita dalam bencana adalah karena mayoritas wanita, secara naluriah akan mendahulukan keselamatan anggota keluarganya dalam situasi bencana, sekalipun para wanita tersebut tak memiliki bekal wawasan kesiapsiagaan yang mumpuni. Hal ini pun jelas terlihat pada fakta bencana tsunami Aceh 2004 silam. Di berbagai media tampak ada ribuan mayat ibu yang ditemukan tengah memeluk atau menggendong anaknya.

Naluri wanita untuk melindungi keluarga dari bencana sebetulnya dapat menjadi peluang untuk menjadikan wanita sebagai seorang srikandi-pahlawan yang mampu melindungi keluarga dari risiko bencana. Caranya adalah dengan menanamkan wawasan kesiapsiagaan bencana pada setiap wanita Indonesia khususnya di daerah rawan bencana. Agar mereka dapat kenali bahayanya, kurangi risikonya serta siap untuk selamat melindungi keluarga dikala bencana. Selain itu, para wanita khususnya para ibu juga harus menyadari bahwa sesungguhnya cara terbaik melindungi keluarga dapat dimulai sejak sebelum bencana itu terjadi, yakni dengan menerapkan perilaku-perilaku pelestarian alam dirumah agar dapat mengurangi potensi terjadinya bencana yang terjadi karena ulah manusia. Sebab apabila kita menjaga alam, maka alam juga akan menjaga kita dengan mekanismenya. Prinsip pelestarian alam dirumah harus menjadi roh yang menghidupi semangat pembibitan keluarga sadar bencana.

Peran Wanita dalam Membangun Budaya Sadar Bencana dalam Keluarga

Pembibitan budaya sadar bencana dari level keluarga dirasa sangatlah penting. Sebab keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama bagi seorang manusia. Keluarga memiliki fungsi vital dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan. Sebab keluargalah yang mampu menciptakan sebuah atmosfer pendidikan yang berkelanjutan dari generasi ke generasi. Para ibu memainkan peran yang sangat krusial dalam membibitkan budaya sadar bencana didalam keluarga sebab ibu adalah agen pendidik pertama bagi anak-anak. Maka dari itu, seorang ibu wajib memiliki wawasan kesiapsiagaan yang baik. Mulai dari memahami potensi bahaya bencana di lingkungan sekitar rumah/tempat tinggal, hingga memahami apa yang harus dilakukan kala bencana datang tanpa aba-aba. Diharapkan kelak, melalui ibu-ibu yang tangguh ini anak-anak pun bisa memiliki pengetahuan kesiagaan bencana sejak usia dini. Ini penting, sebab generasi sadar bencana, hanya dapat dimulai dari keluarga yang sadar bencana.

Dimulai dengan Menanamkan Spirit “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita” 

Bicara tentang bencana, satu hal yang terkadang dilupakan adalah, bahwa bencana itu tak melulu terjadi karena faktor alam dan geografi. Kodrat fisik Indonesia sebagai “negeri cincin api” memang menjadikan negara ini memiliki potensi yang tinggi untuk mengalami bencana alam tektonik maupun vulkanik seperti gempa bumi dan tsunami. Namun kita juga tak boleh menutup mata bahwa bencana non alam yang terjadi akibat ulah manusia juga kerap melanda negeri ini. Hal ini disebabkan karena manusia merupakan penyebab utama kerusakan dan pencemaran lingkungan. Perilaku manusia pada tingkat lokal ikut menyumbang kondisi lingkungan di tingkat global (Keraf, 2002). Sebutlah banjir hingga kebakaran hutan dan lahan sebagaimana yang dialami oleh saudara kita di Sumatera dan Kalimantan saat ini. Dua bencana langganan ini hanyalah contoh kecil dari sekian banyak bencana non alam akibat ulah manusia yang kerap melanda Indonesia.

Maka demi meminimalisir dampak bencana non alam tersebut, kita juga perlu melakukan tindakan preventif dengan cara melakukan pelestarian alam. Lagi-lagi, kelompok wanita khususnya para ibu dapat menjadi garda terdepan untuk mencegah terjadinya bencana non-alam tersebut. Yaitu dengan cara menanamkan spirit “kita jaga alam, alam jaga kita” di lingkup keluarga.

Tentu kita mengingat keberhasilan perempuan Kitakyushu di Jepang yang secara luar biasa mampu mengubah salah satu kota industri di Perfektur Fukuoka itu dari yang tadinya sangat tercemar menjadi kota nirpolusi di dunia. Keberhasilan mengembalikan langit biru Kitakyushu ini tak terlepas dari gerakan para ibu Kitakyushu pada tahun 1965 yang prihatin akan kesejahteraan dan lingkungan yang tidak sehat bagi keluarga serta anak-anaknya. Dengan bantuan berbagai organisasi dan akademisi, gerakan para ibu Kitakyushu ini akhirnya mampu membantu mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan disana.

Di Indonesia kita juga menjadi saksi betapa banyaknya gerakan pelestarian alam yang di inisiasi oleh kaum wanita. Mulai dari aksi komunitas zona bening besutan seorang gadis asal Malang yang berhasil melakukan gerakan edukasi pengelolaan sampah di lingkungannya hingga Profauna, sebuah organisasi pelestarian fauna liar yang di inisiasi oleh Made Astuti, seorang biolog yang peduli pada perlindungan satwa langka di Indonesia. Serta ratusan atau bahkan mungkin ribuan gerakan pelestarian alam lainnya yang dimulai oleh sebuah langkah sederhana dari wanita.

Narasi kesuksesan para wanita tersebut dalam melestarikan alam seharusnya menjadi semangat bagi kita-para wanita Indonesia tanpa terkecuali untuk dapat ikut serta dalam proyek besar pelestarian alam, dimulai dari ruang lingkup yang terkecil yaitu rumah & keluarga. Satu hal yang perlu diyakini adalah bahwa konteks mengoptimalkan peran perempuan dalam isu lingkungan memang tampak sempit namun sesungguhnya dapat berdampak besar secara keseluruhan apabila dilakukan dengan dukungan dan pendampingan yang terarah dari berbagai elemen seperti pemerintah, swasta hingga masyarakat.

Apa Langkah Sederhana yang Bisa Mulai Ibu Lakukan? 

Pertanyaannya adalah, bagaimana langkah awal yang dapat kita lakukan untuk memulai proyek besar pelestarian alam dari lingkup keluarga ini? Caranya yaitu dengan menanamkan spirit Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita dirumah khususnya pada anak sejak mereka masih kecil. Hal paling sederhana saja misalnya dengan membiasakan anak membawa botol minum dan bekal makan dari rumah agar saat di sekolah mereka tidak jajan makanan atau minuman kemasan dari luar. Ibu perlu memberikan pemahaman kepada keluarga dan anak-anak, bahwa spirit menjaga alam dapat bermanfaat untuk mengurangi risiko bencana dikemudian hari. Upaya sederhana ini, juga merupakan bagian dari pendidikan dan penyemaian budaya sadar bencana pada anak sejak usia dini. 

Kemudian ibu dapat mengolah sampah rumah tangga agar kelak tak menyebabkan banjir. Sebagai informasi, bahwa sampah rumah tangga saat ini adalah penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Satu keluarga saja rata-rata dapat menyumbang sampai dengan 4 kg sampah perharinya, bayangkan jika ini terus terjadi maka dapat dipastikan sampah tersebut akan menggunung dan mencemari lingkungan. Berkenaan dengan persoalan mengelola sampah rumah tangga, Ibu dapat melakukan 4 R, yakni :

  • Replace, yaitu mengganti dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Caranya adalah dengan menggunakan bahan pengganti yang lebih ramah lingkungan. Misalkan, mengganti styrofoam pembungkus makanan dengan daun kelor atau daun pisang. Ataupun mengganti plastik kresek dengan keranjang rotan saat berbelanja.
  • Reduce, yakni mengurangi jumlah sampah. Yaitu dengan cara memilih produk rumah tangga yang tidak menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Misalkan dengan menggunakan serbet tangan di meja makan untuk mengurangi penggunaan kertas tisu.
  • Reuse, yaitu menggunakan kembali barang yang sudah terpakai. Misalkan, menggunakan kembali kaleng bekas susu sebagai pot untuk menanam tanaman. Ataupun botol bekas minuman digunakan kembali sebagai vas bunga.
  • Recycle yaitu mendaur ulang sampah menjadi barang baru yang berguna. Yang terakhir ini memang membutuhkan kreativitas dan keuletan untuk mengolah sampah menjadi barang yang lebih berdayaguna. Dimaklumi bahwa tak semua orang memiliki kreativitas ini. Jika ibu merasa kreatif dan mampu menciptakan kerajinan tangan dari sampah, maka tentu ini sangat baik untuk dilakukan. Jikapun tidak, maka setidaknya adalah belilah produk-produk recycle untuk digunakan dirumah.

Kesimpulan 

Wanita dan bumi memiliki banyak kesamaan. Maka tak heran dalam budaya kosmologi timur, bumi sering diidentikkan dengan sosok seorang wanita. Misalnya dengan penyebutan “ibu pertiwi” untuk menggambarkan bumi dalam budaya nusantara. Jika bumi memiliki sifat yang memberi penghidupan, maka demikian pula halnya dengan seorang wanita, ia memiliki naluri mulia untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarganya dengan prinsip melindungi.

Dalam pewayangan jawa, Srikandi adalah seorang prajurit wanita yang mahir memainkan panah. Ia mampu menjadi seorang pahlawan dengan panah dan perisainya. Demikian pula kita-para wanita Indonesia, juga dapat menjadi srikandi-pahlawan yang mencegah terjadinya bencana. Ibarat target musuh adalah bencana, maka panah-panah kita adalah wawasan mitigasi, sedang perisai yang melindungi diri adalah spirit “kita jaga alam, alam jaga kita” yang selalu terpatri didalam hati. 

Sinergitas dan dukungan maksimal dari Pentahelix baik itu Pemerintah, akademisi, media, komunitas hingga masyarakat  sangatlah dibutuhkan untuk mengubah stigma perempuan sebagai kelompok rentan menjadi agen perubahan. Pemerintah harus gencar menyasar kelompok wanita di desa-desa terlebih di daerah rawan bencana agar dapat mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana. Pemerintah melalui komunitas dan lembaga terkait dapat melakukan pendekatan pada kelompok tani, posyandu hingga organisasi masyarakat seperti kelompok pengajian di desa-desa agar dapat menyisipkan program kesiapsiagaan bencana pada wanita disela-sela aktivitas organisasi mereka. Kemudian keluarga khususnya para suami harus aktif mendukung para istri dan ibu untuk sejenak meninggalkan urusan domestik demi mengikuti pelatihan-pelatihan kesiagaan bencana. Dan tentu yang terpenting adalah, para wanita itu sendirilah yang juga harus mau memberdayakan diri untuk menambah wawasan terkait kebencanaan.

Wawasan mitigasi yang mumpuni, sikap sadar bencana yang membudaya serta spirit “kita jaga alam, alam jaga kita” pada diri seorang wanita adalah modal yang kuat untuk membangun keluarga sadar bencana. Wanita khususnya para ibu memiliki potensi untuk menjadi srikandi yang tak hanya mampu melindungi keluarga dikala bahaya, namun juga dapat berkontribusi dalam mewujudkan ketangguhan bangsa menghadapi bencana.

error: content is protected