Karena Ibu

KARENA-IBU

Namaku Rizka, aku lahir dari rahim seorang wanita mantan pengidap tumor yang pernah divonis tak akan bisa memiliki keturunan. Semangat wanita itu dalam berikhtiar untuk mendapatkanku, membuat ku tau, bahwa aku dicintai jauh sebelum aku dilahirkan. bahwa aku adalah anak yang yang wanita itu sangat inginkan. Cinta yang begitu besar darinya padaku menjadikan ku tumbuh menjadi pribadi yang kuat, pribadi yang sanggup mengubah dendam dan sakit hati menjadi prestasi demi prestasi… wanita itu adalah Ibu. 

**** 

RIZKA-EDMANDA

Melawan Vonis Dokter, dengan Vonis Tuhan

Mungkin tak banyak yang tau, wanita itu melewati masa remaja dengan penyakit demi penyakit yang tak ada habisnya. Menginap dirumah sakit lebih dari sebulan, bukanlah hal yang mengherankan baginya. Tapi dari semua penyakit yang pernah ia derita ada 1 yang paling sakit, adalah ketika seorang dokter memvonis tumor yang ia derita akan membuatnya tak bisa mendapatkan keturunan. Sebagai Wanita, kabar seperti ini tentulah sangat tak mengenakkan. Bagai mimpi buruk di siang hari, wanita ini sempat hampir frustasi. Bagaimanapun ia hanyalah wanita biasa, yang sama seperti kebanyakan wanita lainnya,yang sangat ingin memiliki keturunan, namun vonis sang dokter tadi tak ayal membuatnya hampir kehilangan harapan. Tapi Sebagai Hamba, ia tau bahwa ia memiliki Allah SWT Yang Maha Segala, Vonis-Nya sudah tentu jauh lebih benar ketimbang vonis dokter yang tak jarang belum tentu benar. Begitulah ia ketika menghadapi vonis itu, ia tak menyerah, ia lakukan segala  upaya, ikhtiar&merapal doa yang tak pernah putus, mengharap kepada satu-satunya Zat yang Maha Memiliki seluruh tubuh dan takdir ini , ialah Allah Azza Wa Jalla.  “Ya Allah dengan mukjizatmu, berikanlah padaku keturunan. Lahirkanlah seorang janin dari rahimku bahkan bila dunia tak percaya aku dapat melakukannya”  begitulah harap ratap wanita itu, dalam setiap sujud tengah malamnya. Hingga akhirnya kelahiran seorang anak perempuan yang ia beri nama Rizka Afriandita Edmanda sukses mematahkan vonis sang dokter mentah-mentah. Kebesaran Allah seketika tampak begitu nyata, ia membuktikan pada dunia bahwa tak ada hasil yang mengkhianati usaha. Ia membuktikan pada dunia, bahwa Allah Maha Sempurna dengan segala ketetapannya..

Ujian Allah buat, agar Hamba nya semakin kuat…

Namun ujian bagi wanita itu belum juga putus, anak perempuan yang ia lahirkan,tampak berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Dokter kandungan yang membantunya saat persalinan mengatakan, sang anak mengidap polidaktili , kelainan fisik yang diderita oleh 1 diantara 1000 kelahiran. Jika pada normalnya manusia memiliki 5 jari maka anak ini memiliki 6. Hampir tak diketahui secara pasti apa penyebab kelainan ini, ada yang mengatakan ini dikarenakan kelainan kromosom, dan faktor seleksi alam. Pun sebetulnya tak juga menganggu kesehatan, hanya barangkali menganggu aktivitas jika “kelebihan” jari itu tumbuh pada area yang tidak tepat. Tapi tak apalah, bagaimanapun Wanita itu tetap bersyukur atas anak yang ia lahirkan, buah dari penantiannya selama beberapa tahun. Ia tetap mencintai anak itu dengan setulus hati, bahkan jauh daripada ia mencintai dirinya sendiri. Sepulang dari rumah sakit pasca melahirkan, wanita itu membesarkan si anak dengan penuh cinta kasih. Hingga ia tumbuh menjadi gadis kecil yang periang, tahun-tahun awal kehidupan ia lalui dengan penuh  kebahagiaan. Sebab wanita itu mencurahkan segalanya bagi sang anak. Cinta, perhatian dan dukungan moril serta motivasi, barangkali karena wanita itu sadar sebelum dilakukan pembedahan nanti, mungkin anak ini akan menghadapi banyak kejadian tak menyenangkan. Barangkali karena wanita itu sudah bisa meramalkan, ketika lingkungan sosial anak ini kelak mulai bertambah, akan ada guncangan dari luar yang bisa jadi menganggu perkembangan psikis si anak perempuan kesayangan,oleh karena faktor fisiknya yang berbeda. Dan benar saja, karena semua kebahagiaan sang anak mendadak berubah, ketika sang anak mulai memasuki bangku sekolah…

Sakit Hati Itu Pasti, tapi membalasnya dengan Kebaikan atau Keburukan, adalah Pilihan..

Karena kita tinggal di dunia yang seringkali menganggap kelainan fisik adalah hal yang aib, aneh, dan seringkali  dicemoohkan , maka di sekolah sang anak menjadi bulan-bulanan, ia dibully, diejek dan diperolok-olokkan. “Rizka si jari enam” begitulah teman-teman sebayanya memberi gelar. Rizka kecil selalu pulang kerumah dengan tangisan, bahkan sempat suatu waktu hampir ia tak mau lagi berangkat ke sekolah,ia takut bertemu dengan anak-anak yang suka mengejeknya, Rizka kecil yang polos merasa ditolak oleh dunia, Ia mengutuk semua orang. Merasa kelainan yang ia idap adalah bentuk ketidakadilan semesta pada dirinya.Tapi wanita itu tak putus asa,ia seperti biasa terus menerus menjadi penyemangat setia bagi anaknya,dengan kesabaran dan penuh kasih sayang, wanita itu terus-terusan memberi keyakinan, bahwa menjadi berbeda bukanlah akhir dari segalanya. Dari semua kata-kata bijak yang pernah wanita itu katakan, ada 1 yang paling Rizka ingat sampai sekarang..

“Nak, ketahuilah, kau itu istimewa. Ini hanya ujian, dari Allah untuk melihat setangguh apa dirimu. Marah itu manusawi. Tapi jangan kau terlalu lama merawat marah dan sakit hati, sebab itu merugikan diri sendiri. Balaslah orang yang menyakitimu dengan kebaikan dan prestasi. Tunjukkan pada dunia bahwa kau tak seburuk yang mereka kira. Karena jika kau sanggup lakukan ini, maka lihat saja, beberapa tahun lagi, mereka yang mengolok akan berbalik memuji”

Kata-kata yang justru terdengar seperti doa ini akhirnya menjadi mantra yang seketika mengubah keadaan, mantra yang mengubah rasa marah dan sakit hati sang anak menjadi sumber kekuatan. Mantra yang menjadi energi positif luar biasa. Mantra yang selalu sang anak kenang sampai sekarang. Karena Mantra inilah yang selalu menguatkan, bila sewaktu-waktu ia jatuh atau dijatuhkan..

Hingga akhirnya… Rizka kecil si jari enam kini tumbuh menjadi Rizka yang tak pernah orang-orang bayangkan sebelumnya. Rizka yang di masa kecilnya selalu menjadi bulan-bulanan, dibully, diejekan dan diolok-olokan, kini tumbuh selangkah lebih maju daripada mereka yang mengolok-oloknya dahulu. Rizka beberapa kali menjadi juara di kelas, bahkan menjadi mahasiswa berprestasi di tingkat fakultas, dan perwakilan Universitas dalam suatu program presentasi penelitian di salah satu Universitas terkemuka di Jepang. Rizka kecil yang dulu dikenal dengan “Rizka si jari enam”, kini tumbuh menjadi Rizka yang lebih dikenal orang sebagai seorang Model sekaligus salah satu pemenang dalam sebuah ajang beauty pageant (kontes kecantikan) bergengsi di Negeri ini. Rizka tak lagi menaruh dendam pada mereka yang mengolok-oloknya di masa kecil dahulu, justru berterima kasih karena ternyata cemoohan terkadang bisa menjadi motivasi.

Dalam suatu kesempatan reuni dengan teman-teman nya semasa kecil, Rizka berjumpa dengan 2-3 orang yang dulu suka mengolok-oloknya, “wah rizka sekarang hebat ya…” kata orang-orang itu. Rizka tak menjawab, ia hanya tersenyum dan menggumam dalam hati “Aku tak hebat, aku hanya diajarkan Ibu dengan sangat baik bagaimana cara untuk berdamai dengan rasa sakit hati, dan membalasnya dengan kebaikan dan prestasi. Ah apa apa-apa yang kuraih selama ini pun, bukanlah pula karena kehebatanku ku tapi Karena Ibu

 

***

Kekuatan kata-kata serta afirmasi yang diucapkan orang tua kepada anak saat ia masih kecil, sanggup mengubah masa depan dan membentuk kepribadiannya ketika dewasa kelak. Dalam buku “Mind Power For Children” yang ditulis oleh John Kehoe dan Nancy Fischer, disebutkan bahwa sekecil apapun kalimat yang dikeluarkan orang tua terhadap anak, akan mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan anaknya kedepan. Semoga kita semua mampu menjadi sosok Ibu teladan dan penuh cinta kasih, serta selalu menanamkan kata-kata dan afirmasi yang positif untuk anak-anak kita.

Tulisan ini didedikasikan untuk semua Ibu dan Calon Ibu di Dunia, ketahuilah, bahwa sejatinya anak tak butuh Ibu yang sempurna, mereka hanya butuh Ibu yang penuh cinta.

 

 

Rizka Edmanda

43 Comments

  1. Terharu mba rizka.. Kadang kita suka menyangka ujian yang datang ke kita lebih berat dibanding yang lain.. Merasa kenapa harus aku? Kenapa dia nggak begini? Dan berbagai pertanyaan kenapa lainnya..

  2. Subhanalloh sekali. Kadang ejekan jadi motivasi kita untuk lebih apalagi ada ibu disamping kita… Salam buat bunda ya 🙂

  3. Semangaaat mba. Hriti krosha aktor india itu juga sama kayak mba tetap laku juga kan di entertaiment. 🙂
    Kuat dan tegar banget ibu mba 🙂 **saluut**

  4. Cerita mbak Rizka mengingatkanku dengan sahabatku yang juga polidaktili. Sering banget dijadikan bahan bully an. Hiks.

    Salam untuk Ibu ya, Mbak. 😘

  5. Menginspirasi banget mbak..
    Kebetulan aku juga sdg menanti kehadiran si kecil di rahimku.. baca kisah dari ibu mbak semakin aku yakin dengan rencana Allah..
    Aku bacanya sampe mewek ni mbak.. gak tahan kalo udah menyangkut ibu..
    Salam peluk buat ibu mbak..

    • iya ya membahas ibu memang paling sensitif… saya juga masih suka baca tulisan ini berkali-kali, dan sering nangis kalau membaca ini lagi. teringat ibu yang tinggal jauh dari saya sekarang.. InsyaAllah disampaikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *