A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Inspirasi Berbagi Ala Warga Palestina

Palestina. Lagi-lagi Negara ini begitu menginspirasi saya. Kunjungan saya kesana pada April 2019 lalu membawa berjuta hikmah. Ada banyak pelajaran yang saya petik selama beberapa hari mengunjunginya. Salah satunya adalah tentang bagaimana rakyat Palestina tidak takut membayar zakat dan bersedekah meskipun Negara mereka tengah dilanda musibah. Sebuah semangat yang pada akhirnya mengingatkan saya bahwa sesedikit apapun infaq, sedekah ataupun zakat tak akan pernah sia-sia sebab manfaatnya tak hanya terasa oleh sang penerima, tapi juga pada yang memberikannya. 

ZAKAT

April 2019, Kota Lama Jerusalem

Pagi itu terasa sejuk, angin cukup kencang bertiup. Saya dan Dani melangkahkan kaki ke Masjid Al-Aqsa, kami tergesa-gesa sebab adzan subuh sudah lewat beberapa saat. Tiba-tiba di perjalanan, seorang gadis kecil menghentikan langkah saya, ia tersenyum. Namun karena sedang terburu-buru, saya hanya membalas senyumnya singkat lalu pergi berlalu. Sepulang dari Masjid Al-Aqsa, kalau tidak salah pukul 8 pagi waktu itu, saya kembali melewati jalanan tempat dimana tadi saya berjumpa dengan si gadis kecil yang lucu. Benar saja, saya kembali menjumpainya. Dirinya, saya yakin tak fasih berbahasa Inggris apalagi berbahasa Indonesia tapi dari eskpresi wajahnya, gestur tubuhnya saya tau Ia adalah anak kecil yang ramah. Tiba-tiba si gadis kecil menghampiri saya, Ia memberi saya jajanan dan permen untuk diberikan pada Qonita. Saya tersentuh, sedang lapak dagangannya saja sepi, sepagi itu rasanya belum ada yang membeli tapi Ia tak sungkan berbagi, ketika saya ingin membayar Ia buru-buru berujar “halal”  Saya membalas “Jazakillahu khayran katsiran”.

Di Palestina kejadian semacam ini bukan sekali dua kali saya alami, di dalam Masjid Al-Aqsa saat waktu sholat tiba seringkali saya mendapatkan “sedekah tak terduga” dari saudara-saudara Muslim Palestina. Mulai dari beberapa butir kacang dari seorang anak laki-laki didalam Masjid Qiblatain, kopi jahe di tengah cuaca Palestina yang sejuk dari seorang laki-laki di halaman Masjid, Roti dari seorang pelayan hotel di Holyland tempat saya menginap, termasuk camilan dan permen dari sang gadis penjual kue yang saya jumpai tadi. 

Kebaikan-kebaikan kecil ini menyentuh relung hati saya, bagaimana mungkin di Negeri yang hari-harinya Nasib rakyat disana tak menentu ini orang-orang masih begitu gemar bersedekah. Kesulitan ekonomi yang mereka alami pasca Negeri mereka terjajah tak menyurutkan setitikpun semangat warga Palestina untuk berbagi pada sesama. 

Bagi saya, perilaku mereka itu adalah wujud nyata seorang Hamba sejati, sebab demikianlah ciri Hamba yang seharusnya. Tak sungkan berbagi, tak ragu bersedekah meskipun sedang lapang ataupun sempit, senang maupun susah. Sebab bukankah Allah janjikan ganjaran amal, pahala dan kebaikan yang berlipat ganda bagi para Ahli sedekah?

Lalu bagaimana dengan kita? Hidup di Negeri yang aman, makmur, damai dan sejahtera apakah telah membuat kita jadi banyak bersyukur atau justru menjadi kufur? Sudah berapa banyak yang kita sedekahkan untuk sesama?  Atau, baiklah jangankan infaq atau bersedekah, kita bicara soal zakat saja. Apakah zakat sebagai perkara yang wajib telah kita tunaikan?

Padahal selain untuk melaksanakan kewajiban, zakat juga bermanfaat untuk menyucikan harta kita. sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah : 103). 

Penerima zakat sendiri dibagi menjadi 8 diantaranya : 

1. Fakir (orang yang tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi kehidupannya)

2. Miskin (orang yang tidak berkecukupan)

3. Amil (semua pihak yang berkaitan dan bertindak dalam berzakat termasuk di dalamnya kegiatan pengumpulan, penjagaan, pencatatan, dan penyaluran atau distribusi harta zakat)

4. Mualaf (sebutan bagi non-muslim yang sudah memeluk agama Islam)

5. Gharimin (orang yang berhutang untuk kepentingan sosial, walaupun orang tersebut termasuk ke dalam golongan mampu)

6. Riqab (hamba sahaya atau budak)

7. Ibnu Sabil (musafir dan para pelajar yang merantau)

8. Fi Sabilillah (pejuang di jalan Allah SWT)

Zakat dibagi menjadi Zakat Fitrah dan Zakat Maal. Jika zakat fitrah dikeluarkan setiap bulan Ramadhan dan dilakukan sebelum sholat idul fitri maka zakat maal dilaksanakan setahun sekali ketika harta sudah mencapai nisab.

Kendala Dalam Pembagian Zakat 

Meskipun disadari bahwa zakat adalah perkara wajib namun ternyata masih banyak kendala yang dirasakan masyarakat khususnya dalam hal pendistribusian zakat. Misalnya bagi WNI yang tinggal di Negeri Non Muslim untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan, biasanya kesulitan untuk menemukan golongan yang menerima zakat di Negara tempatnya merantau, maka dalam hal ini kemajuan zaman menawarkan solusi berupa zakat yang disalurkan secara online.

Jangan Takut Berzakat Online

Amankah berzakat online? pertanyaan inilah yang mungkin akan muncul, atau apakah berzakat secara online dapat memenuhi rukun dan syarat sahnya? Dalam hal ini ternyata para Ulama telah menyepakati bahwa berzakat online itu boleh dan tidak mengurangi rukun dan syarat sah zakat itu sendiri.

Hal yang terpenting adalah pembayaran zakat online harus dilakukan kepada amil zakat yang amanah, terpercaya, memiliki integritas dan legalitas yang baik serta sudah berpengalaman dalam hal penyaluran zakat agar zakat yang kita berikan dapat tepat sasaran. 

DOMPET-DHUAFA

Dompet Dhuafa pun hadir menjawab kebutuhan umat di zaman modern dalam hal melakukan pembayaran infaq, sedekah, zakat dan wakaf secara online. Pembentukan yayasan Dompet Dhuafa Republika juga sudah dilakukan dihadapan Notaris dan diumumkan  dalam Berita Negara RI No. 163/A.YAY.HKM/1996/PNJAKSEL serta telah mendapatkan  Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 439 Tahun 2001 tentang PENGUKUHAN DOMPET DHUAFA REPUBLIKA sebagai Lembaga Amil Zakat tingkat nasional. Ini berarti bahwa Dompet Dhuafa terjamin legalitasnya. 

Dompet Dhuafa juga berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (humanitarian) dan wirausaha sosial profetik (prophetic socio-technopreneurship). Setidaknya ada 4 program pokok yang dilakukan Dompet Dhuafa yang bersumber dari dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf) yaitu diantaranta adalah Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi dan Pengembangan Sosial.

Layanan Dompet Dhuafa dalam hal penyaluran zakat dari muzakki kepada penerima zakat juga beragam mulai dari layanan jemput zakat hingga pembayaran zakat & donasi online yang dapat dilakukan melalui situsnya. Saya sendiri telah beberapa kali menggunakan layanan Dompet Dhuafa dalam hal pembayaran zakat tahunan, dan Alhamdulillah pelayanan Dompet Dhuafa memang cukup baik dan memudahkan saya dalam hal pembayaran zakat.

ZAKAT

Cara membayar zakat melalui Dompet Dhuafa cukup mudah , kita tinggal menghitung jumlah zakat yang wajib kita bayarkan pada kalkulator zakat yang tersedia pada situsnya, setelah itu kita cukup mengisi formulir pembayaran zakat, yang disediakan, kemudian mentransfer dana zakat sesuai penghitungan. Setelah dana diterima, kita akan mendapatkan konfirmasi berupa sms dan emaik dari Dompet Dhuafa untuk memberitahu bahwa zakat telah diterima. Sangat mudah, simpel, dan insyaAllah amanah. 

Kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan zaman memang harus kita manfaatkan untuk bergegas melaksanakan kewajiban. Saat ini, telah banyak lembaga amil zakat yang melayani pembayaran zakat secara online untuk memudahkan kita dalam melakukan pembayaran zakat sebagaimana diwajibkan dalam Al-Quran, jadi jangan takut berzakat sebab Dompet Dhuafa telah memudahkan umat. 

InsyaAllah, Infaq, sedekah dan zakat yang kita berikan akan menjadi manfaat dan membawa kebaikan sampai ke akhirat. Aamiin ya Rabbal Alamiin. 

Jadi teman-teman, Jangan takut berzakat ya! 

error: content is protected