NHW #2 : Indikator Keberhasilan Ku Sebagai Individu, Istri dan Ibu

RIZKA-EDMANDA

Seberapa penting sih “indikator” dalam sebuah pencapaian keberhasilan? Menurut saya sih penting banget, karena dengan adanya indikator maka kita memiliki tolak ukur atas apa saja yang ingin kita raih dalam sesuatu hal. Nah termasuk dalam hal keberhasilan berkeluarga. Ketika telah memutuskan menikah, maka diri kita sebagai perempuan tak lagi hanya menjadi individu pribadi aja. Sebab diri kita adalah bagian dari keluarga yang sedang kita bangun. Selain dimiliki oleh Allah SWT, diri kita juga dimiliki oleh suami, pula dimiliki oleh anak-anak dan masyarakat. Tantangan peran yang multifungsi ini seharusnya menjadikan kita semakin bersemangat mengoptimalkan peran dan fungsi kita sebagai perempuan di lintas sektor. Beruntung, dalam Komunitas Ibu Profesional, saya banyak belajar tentang bagaimana memaksimalkan serta mengoptimalkan peran dan fungsi saya dalam membangun keluarga, serta peradaban dari dalam rumah. Namun sebelum lebih jauh belajar banyak hal kedepan nanti, di program kelas matrikulasi Ibu Profesional ini, saya dan teman-teman peserta lain diajak untuk memasang “target” dan indikator capaian, yang diinginkan untuk mengukur keberhasilan diri sebagai individu, istri dan ibu.

*****

Perjalanan belajar saya bersama Komunitas Ibu Profesional dalam program kelas Matrikulasi Batch #5 kini sudah memasuki materi ke 2. Nah di materi kali ini, saya dan teman-teman kelas lain dengan didampingi fasilitator kelas Kalbar-Teng yaitu Mba Hamidah belajar mengenai bagaimana cara “Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga”. Menurut saya, materi ini materi yang teknis banget sebenarnya karena ini materi pendahuluan, kali ya? Sebab di materi ini, peserta belajar mengenai apa sih itu Ibu Profesional, Apa itu komunitas Ibu Profesional, Bagaimana Tahapan menjadi Ibu Profesional dan bagaimana indikator untuk berhasil menjadi seorang Ibu Profesional. Sebagaimana visi komunitas Ibu Profesional yaitu “Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada Negara dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga”.

Kelas dalam program belajar di komunitas ini dibagi menjadi kelas Bunda Sayang, kelas Bunda Cekatan, Kelas Bunda Produktif dan terakhir Kelas Shaleha lalu ditutup dengan kegiatan Training. Mengenai tahapan-tahapan proses belajar ini, pernah saya bahas dalam artikel “Berkenalan Dengan Komunitas Ibu Profesional”, bisa dibaca disitu ya. Nah, penamaan dari tiap-tiap kelas, seperti “Bunda Sayang”, “Bunda Cekatan”, “Bunda Produktif” dan “Bunda Shaleha” ini ternyata lebih dari sekedar nama, melainkan ia memiliki makna yang mendalam, yang berarti setiap peserta diharapkan berhasil meraih apa saja yang dicita-citakan serta di-visi-kan dalam kelas-kelas tersebut. Misal nih, setelah mengikuti kelas Bunda Sayang, peserta diharapkan mampu menjadi Ibu yang lebih “disayang” oleh keluarganya, menjadi Istri yang lebih dibanggakan oleh suami karena mampu mendidik anak-anak nya dengan baik dan profesional. Kemudian setelah berhasil “disayang” dan “disenangi” oleh keluarga dan telah lulus pada Program Kelas Bunda Sayang, maka peserta masuk ke tahapan selanjutnya yaitu kelas “Bunda Cekatan”, nah di kelas Bunda Cekatan, peserta akan belajar tentang bagaimana sih manajemen pengelolaan rumah tangga yang baik, apakah kita sudah bisa memaksimalkan peran dirumah sebagai Istri dan Ibu, dan sudah sejauhmana keberhasilan kita dalam mempraktekkan ilmu yang dipelajari di kelas-kelas online maupun offline Ibu Profesional, dan demikianlah seterusnya.

Maka demi mencapai keberhasilan pengaplikasian ilmu yang dipelajari di tiap-tiap tahapan kelas, para peserta diminta untuk membuat indikator pada masa-masa awal kelas matrikulasi ini. Indikator ini berfungsi sebagai tolak ukur, agar apa yang kita pelajari benar-benar direalisasikan. Supaya, cita-cita menjadi Ibu Profesional, bisa kita capai dengan terukur dan terarah. Jadi biar “masuk akal” dan gak sekedar “halu” gitu lho. Hehe.. Soalnya apabila apa yang dicita-citakan ketinggian, maka tak jarang akan berakhir dengan “omong doang” tapi juga kalau terlalu rendah, maka kita juga tidak akan termotivasi untuk menjadi yang lebih baik dari hari ini. Kira-kira seperti itu, setuju?

Berdasarkan materi yang saya dapat di kelas, indikator tersebut akan lebih mudah dibuat dengan menggunakan rumus “SMART”, yaitu :

S : Spesifik artinya unik, dan detail

M : Measurable artinya terukur. Contoh, dalam 1 bulan bisa berapa kali dikerjakan.

A : Achievable atinya bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah. Jangan muluk-muluk!

R : Realstic : artinya berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari

T : Timebond, artinya harus diberikan deadline atau batas waktu, kapan indicator tersebut harus berhasil dicapai.

Dan indikator ini, tidak hanya harus diukur dengan indikator kita sebagai individu, menyoal apa yang ingin kita raih sebagai seorang diri pribadi. Tapi kita juga diminta untuk mempertanyakan kepada suami dan anak-anak, tentang apa sih ekspetasi mereka terhadap seorang istri atau seorang ibu? Sehingga ekspetasi tersebut bisa dijadikan indikator untuk menjadi seorang istri dan ibu sesuai dengan apa yang dicita-citakan keluarga. Berhubung saya belum memiliki anak, maka tugas NHW (nice home work) mengenai indikator keberhasilan Ibu Profesional ini, saya kerjakan/diskusikan berdua dengan suami saja. Lumayan, dengan mengerjakan tugas NHW ini berdua, saya dan suami jadi punya suatu bahan diskusi yang “berisi” untuk diobrolkan berdua, selain hanya ngobrol soal diskon di marketplace & olshop  atau ngobrolin soal urusan pekerjaan melulu. Hihi.. dan dari hasil obrolan tersebut, inilah indikator yang saya cita-citakan baik sebagai individu maupun sebagai seorang istri dan ibu…

Indikator Keberhasilanku Sebagai Individu

RIZKA-EDMANDA

Menyusun indikator sebagai individu ini, ternyata gampang-gampang susah. Disatu sisi, nafsu dan keegoisan bilang pengen ini pengen itu. Rasanya banyak banget yang ingin dicapai, muluk pula. Tapi saya kembali mawas diri, bahwa saya hanyalah manusia biasa yang memiliki batas kemampuan. Maka saya mencoba berkaca, menemukan apa hal-hal sederhana namun berdampak, yang bisa saya lakukan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan diri saya sendiri. Pada point terakhir saya menambahkan “Me Time” minimal 3 jam setiap minggu, ini bukan tanpa alasan, sebab menurut saya “Me Time” adalah hak diri yang harus dipenuhi. Bayangkan saja, tubuh dan pikiran ini sudah diajak bekerja dengan maksimal 1 x 24 jam melakukan berbagai hal, maka memberi diri sendiri “reward” atas jasa yang ia lakukan, adalah cara bagi saya untuk terhindar dari jenuh, bosan dan bahkan depresi. Buat saya “Me Time” ini tidak harus dengan berlam-lama di salon atau spa sih, cukup misalnya dengan memanggil tukang pijat kampung kerumah untuk mijetin saya 1 jam, lalu dilanjutkan dengan mandi air hangat hmmm sudah me time banget rasanya. Atau misal suami mau berbaik hati mijetin saya rutin setiap hari? uuh pasti lebih bahagia lagi. hihi.. Tapi konon, beberapa teman saya yang sudah punya anak bilang kalau “Me Time” bagi ibu yang sudah punya anak adalah barang langka, bahkan sekedar “buang hajat” lebih lama juga bisa-bisa susah sekali dilakukan, apalagi kalau punya anak kecil yang masih dalam tahap perkembangan dan pengasuhan intens, akan lebih berat lagi. Wah, masa iya sih? hihi Semoga sesibuk apapun saya ketika sudah punya anak nanti, saya masih tetap bisa “menafkahi” diri saya dengan hak “Me Time” nya setiap minggu deh. Nah, dalam hal ini sepertinya peran pak suami besar sekali ya.. mudah-mudahan kalau sudah punya anak nanti, suami mau kooperatif diajak bergantian mengasuh si kecil dirumah. hehe

Indikator keberhasilanku Sebagai Istri

Ketika menyusun indikator keberhasilan sebagai istri ini, saya berdiskusi dengan pak suami. Walaupun beliau sempat merasa agak aneh dan mendadak kaku pas saya bilang “Sayang, aku mau wawancara dong” , namun tetap saja saya hujani beliau dengan pertanyaan demi pertanyaan seputar istri seperti apa yang benar-benar beliau inginkan, karena saya ingin menjadi istri yang seperti itu. Tapiiii pak suami malah bilang “duh bingung, yang menurut sayang baik aja deh” , Nah Lho! akhirnya saya harus  mencari akal agar bisa “mewawancarai” pak suami dengan cara-cara yang tidak langsung, jadilah percakapan yang mengalir apa adanya itu saya tangkap dan jabarkan dalam point-point seperti diatas ini. Point traveling bareng keluarga minimal 6 bulan sekali kedengarannya menyenangkan ya! Buat saya dan suami sih point ini penting sebab traveling juga menjadi sarana bonding antar keluarga supaya lebih akrab dan kompak. Semoga rezeki kita banyak ya sayang, biar travelingnya bisa lebih dari 6 bulan sekali haha 🙂

Indikator Keberhasilanku Sebagai Ibu

Nah saat membuat indikator keberhasilan sebagai Ibu, saya jadi mengkhayal-khayal sendiri, karena kebetulan kami saat ini kami belum memiliki anak sehingga saya belum punya pengalaman menjadi Ibu, dan belum punya anak untuk saya “wawancarai”. Meskipun demikian, saya sangatlah berpengalaman menjadi seorang anak, sejak lahir dan hidup selama 24 tahun hingga detik ini, bagaimanapun saya adalah seorang anak. Dari pengalaman menjadi anak inilah, saya membuat gambaran kira-kira seperti apa sih Ibu yang saya inginkan, agar lebih terukur dan terarah maka saya membuat “program” yang singkatnya saya uraikan dalam point-point diatas.

Namun lagi-lagi, segala indikator yang saya buat ini hanyalah sebuah bentuk ikhtiar. Ikhtiar kecil dari saya untuk dapat memaksimalkan peran dan fungsi saya sebagai seorang perempuan, sebagai Individu, sebagai Istri, sebagai Ibu sekaligus sebagai seorang hamba Allah yang sedang mencari-cari hikmah dan ibroh atas pertanyaan-pertanyaan tentang : Untuk apa aku diciptakan? Apa visi misi yang Allah titipkan padaku untuk diselesaikan dalam hidup? dan mampukah aku menyelesaikannya. Semoga segala apa yang saya cita-citakan, tidak lain dan tidak bukan bermuara hanya pada keridhaan Allah…

rizkaedmanda

Selamat datang di blog personal saya! www.rizkaedmanda.com. Blog ini akan banyak bercerita tentang kehidupan keseharian saya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga, TTC Fighter, sekaligus pegiat bisnis online. Tema blog ini adalah lifestyle, daily dan motherhood. Hope you enjoy this blog! Jika ada pertanyaan, ajakan kerjasama, postingan beriklan dan ajakan pertemanan, bisa disampaikan lewat email saya ya! rizkaedmanda@gmail.com

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *