MengIndonesiakan Indonesia, Lewat Gerakan CINTA RUPIAH

CINTA-RUPIAH

Ada optimisme yang kuat untuk membangun masa depan perekonomian Indonesia. Optimisme ini dapat kita dukung dengan 3 langkah yang sangat sederhana. 3 langkah yang bisa dilakukan oleh siapa saja, dan bisa dimulai dari diri sendiri kemudian diharapkan mampu menyebar dan dilakukan oleh seluruh warga negara di Negeri ini. Langkah kecil namun pasti ini diyakini dapat mendorong Indonesia ke arah yang lebih mandiri, stabil dan kuat secara ekonomi, 3 langkah ini bernama “Gerakan CINTA RUPIAH”. Kalau kamu adalah warga negara dan generasi milenial Indonesia, yang mengaku cinta tanah air dan menjunjung tinggi kedaulatan Bangsa, yuk kita ikutserta MengIndonesiakan Indonesia Lewat Gerakan Cinta Rupiah.

***

Permasalahan ekonomi selalu menjadi isu dominan dalam kehidupan bernegara. Bagaimana tidak, sedikit saja sisi perekonomian suatu negara terguncang, maka efeknya akan dirasakan langsung oleh semua lapisan masyarakat mulai dari golongan konglomerat hingga rakyat melarat. Hal ini dibuktikan dengan sejarah kelam yang pernah melanda Bangsa kita beberapa tahun silam. Kalian anak muda generasi 90an tentu tak akan lupa pada peristiwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 sebagai dampak dari krisis finansial Asia yang terjadi setahun sebelumnya. Krisis yang pada akhirnya merembet ke berbagai sektor dan lini kehidupan masyarakat Indonesia ini, ternyata salah satunya disebabkan karena melemahnya nilai tukar Rupiah akibat hilangnya kepercayaan masyarakat khususnya investor terhadap mata uang Rupiah dan rendahnya rasa cinta rupiah pada masyarakat Indonesia itu sendiri. Menghadapi kenyataan ini, sejak bergulirnya krisis hingga saat ini para ahli ekonomi, Pemerintah dan berbagai lembaga keuangan terkait memutar otak dan mencanangkan segala kebijakan yang dianggap terbaik, demi mengembalikan perekonomian Negara agar kembali perkasa. Salah satu cara untuk mencapai cita-cita besar tersebut adalah dengan mengembalikan citra dan wibawa Rupiah agar nilai tukarnya menguat.

Perjuangan yang tak sia-sia

Jatuh bangun usaha Pemerintah dan semua pihak dalam menjaga stabilitas ekonomi ini ternyata membuahkan hasil, terbukti berdasarkan Pidato Sambutan Agus D.W. Martowardojo selaku Gubernur Bank Indonesia dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2017 “Memperkuat Momentum” , tercatat bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2017 tumbuh sekitar 5,1 % lebih baik dibandingkan mayoritas Negara berkembang lain, Inflasi juga diketahui terus menurun serta stabilitas ekonomi dan sistem keuangan kian terjaga, bahkan untuk yang pertama kali sejak tahun 1997 lalu, Indonesia pada tahun 2017 ini telah diberikan penghargaan dan pengakuan Layak Investasi dari 3 lembaga rating utama dunia, Standard and Poor’s (S&P), Fitch Ratings, dan Moody’s. Sebuah prestasi dan kerja keras yang selayaknya patut kita hargai.

Bentuk penghargaan kita sebagai warga negara terhadap kinerja Pemerintah dan lembaga terkait dalam menjaga dan meningkatkan roda perekonomian adalah dengan ikut serta mendukung dan melakukan berbagai upaya untuk turut serta meningkatkan pembangunan perekonomian Indonesia meski dalam upaya yang paling sederhana, karena dalam menyikapi dinamika dan tantangan ekonomi Indonesia ini, semua warga negara khususnya anak muda sejatinya memiliki peran dan ruang untuk berpartisipasi secara aktif dalam membantu Pemerintah mewujudkan cita-cita besar perekonomian Indoneisia di masa depan. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan membantu memperkuat nilai mata uang negara kita adalah dengan melakukan gerakan CINTA RUPIAH. Karena sebagaimana diceritakan diawal tadi, bahwa cukup hanya dengan melemahnya nilai tukar Rupiah saja, maka krisis bisa terjadi dan kehidupan perekonomian Negara akan jadi porak poranda pula, jadi sekarang cobalah kita berintrospeksi, sudah sejauh mana sih peran kita sebagai warga negara, sebagai anak muda, dan sebagai generasi penerus Bangsa dalam membantu Pemerintah dan Negara kita tercinta Indonesia dalam menguatkan nilai tukar Rupiah?

Kalau kalian merasa belum terlalu banyak berperan, dan bersikap proaktif atau paling tidak peduli dengan permasalahan ekonomi Negeri ini, maka inilah saatnya bagi kita, para masyarakat, warga negara dan generasi muda Indonesia untuk turutserta mendukung upaya penguatan perekonomian Negara dengan melakukan “Gerakan Cinta Rupiah”. Lewat Gerakan Cinta Rupiah, maka upaya kita untuk membantu Pemerintah dalam menguatkan nilai tukar Rupiah dan mempertahankan stabilitas perekonomian Negara akan terasa sederhana, mudah tapi berdampak luar biasa.

RUPIAH-ASLI

Peredaran uang palsu merupakan salah satu ancaman berbahaya bagi stabilitas keuangan dan perekonomian Negara, hal ini dikarenakan dengan maraknya uang palsu yang beredar di masyarakat, maka peredaran uang menjadi tidak dapat dikendalikan sehingga perekonomian akan terganggu dan harga barang dapat melonjak akibat inflasi. Permasalahan ini, pada akhirnya dapat memunculkan permasalahan lain yang tak hanya menyentuh soalan ekonomi, tapi juga sosial masyarakat seperti meningkatnya harga kebutuhan pokok, yang dapat berujung pada naiknya angka kemiskinan dan tindak kriminalitas. Peredaran uang palsu juga harus dicegah, agar kepercayaan masyarakat dunia usaha dalam melakukan berbagai aktivitas ekonominya baik dari segi produksi,konsumsi hingga investasi akan meningkat sehingga diharapkan dapat membuat kehidupan perekonomian kita lebih bergairah.  Maka dari itu, di Indonesia hanya ada satu Lembaga yang berwenang dalam merencanakan, mengedarkan dan mengendalikan peredaran uang resmi di Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Bank Indonesia , kemudian Bank Indonesia (BI) menunjuk Peruri (Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia) dalam hal pencetakan uangnya.

Uang Rupiah asli tahun emisi 2016 yang diedarkan Bank Indonesia sebenarnya telah memiliki sejumlah pengamanan tinggi bahkan menjadi salah satu mata uang dengan sistem pengamanan tertinggi di dunia. Unsur pengamanan pada uang Rupiah tahun Emisi 2016 ini juga lebih kompleks karena terdiri dari 3 level, antara lain : level 1 yaitu unsur pengaman yang bisa dideteksi tanpa bantuan alat khusus atau dengan mata telanjang melalui 3 D “dilihat,diraba dan diterawang” sehingga bisa mudah dikenali dan dideteksi keasliannya oleh pengguna secara langsung, kemudian pada Level 2 adalah unsur pengaman yang dapat dideteksi dengan menggunakan alat bantu sederhana seperti kaca pembesar dan lampu ultraviolet (UV) dan Level 3 dimana unsur pengaman pada level ini hanya dapat dideteksi dengan menggunakan mesin sortasi yang dimiliki oleh Bank Sentral atau peralatan laboratorium dan forensik. Unsur pengaman uang Rupiah pada level 1 sudah sangat mumpuni sebetulnya, yaitu antara lain dengan adanya benang pengaman, colour shifting, blind code, multicolour latent image,  tactile effect, watermark, electrotype dan rectoverso, sehingga hanya dengan melakukan 3 D saja kita sudah dapat dengan mudah mengetahui keaslian Rupiah yang kita miliki.

3 D : Dilihat, Diraba, Diterawang !

Dilihat apakah warna uang terlihat terang dan jelas sehingga secara kasat mata mudah dikenali, kemudian dilihat pula apakah terdapat benang pengaman yang dianyam pada pecahan uang Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, RP 5.000, Rp 2.000 dan Rp 1.000 serta dapat berubah warna apabila dilihat dari sudut pandang tertentu khusus pada pecahan uang Rp 100.000 dan Rp 50.000. Terdapat juga gambar perisai berisi logo Bank Indonesia yang dapat berubah warna apabila dilihat dari sudut pandang warna (colour shifting) pada pecahan Rp 100.000, Rp 50.000 dan Rp 20.000 dan multicolour latent image yaitu gambar tersembunyi multiwarna berupa angka dan logo BI dalam bingkai persegi panjang (latent image) yang dapat dilihat dari sudut pandang tertentu pada uang pecahan Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, dan Rp 10.0000.

Diraba , apakah permukaan gambar utama, gambar lambang Negara “Garuda Pancasila”, Angka nominal, huruf terbilang dan kalimat “Negara Kesatuan Republik Indonesia” serta tulisan “Bank Indonesia” dan garis di sisi kanan dan kiri uang (blind code untuk tunanetra)  terasa kasar (tactile effect) apabila diraba.

Diterawang apakah terdapat watermark gambar pahlawan pada semua pecahan uang dan ornamen logo Bank Indonesia dalam ornamen tertentu dengan fitur rectoverso (terlihat saling isi apabila diterawang ke arah cahaya) khusus pada pecahan mata uang Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000 dan Rp 10.000.

Perlu diingat pula, bahwa Uang palsu itu sama sekali tidak memiliki nilai , untuk itu penting bagi kita untuk mengetahui dan mengenali wujud fisik uang Rupiah asli dengan 3 D agar tak menjadi korban peredaran uang palsu. Jadi mulai sekarang setiap menerima uang Rupiah, kita harus bersikap teliti untuk memastikan keaslian Rupiah yang kita terima dan apabila ternyata Rupiah yang kita terima tak asli, maka kita harus segera melaporkan hal tersebut ke pihak berwajib terdekat seperti polisi. Meneliti keaslian Rupiah yang kita punya adalah salah satu bentuk Cinta Rupiah, sebab dengan kepedulian kita terhadap keaslian Rupiah itu sendiri, berarti kita telah membantu Pemerintah dalam memberantas peredaran uang palsu di Negeri ini.

CINTA-RUPIAH

Pernahkah kalian sadar bahwa uang yang biasa kita pegang ternyata bukan hanya bermakna sebagai alat tukar? Karena pada setiap uang kartal (uang kertas dan logam) tersirat makna yang begitu mendalam , terlebih apabila kita membuka kembali lembaran sejarah ratusan tahun silam, saat Indonesia masih ditangan penjajah. Pada masa itu  Rupiah belum dikenal karena masih  menggunakan mata uang peninggalan Negara penjajah, hingga pada akhirnya semangat perjuangan, keringat, darah dan cucuran air mata para pahlawan yang selama ratusan tahun memperjuangkan nasib Bangsa kita di tangan penjajah, berhasil mewujudkan Kemeredekaan Indonesia dan menjadikan Mata Uang Rupiah diakui sebagai salah satu simbol kedaulatan dan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka dari itu, ketahuilah bahwa menjaga wujud fisik Rupiah adalah sama halnya dengan menjaga citra dan wibawa kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sehingga sikap cinta tanah air dan bela negara tak perlu repot-repot kamu tunjukkan dengan mengangkat senjata seperti yang dilakukan para pahlawan kita dahulu kala, cukup dengan melihat bagaimana sikap dan perlakuan kamu terhadap wujud fisik mata uang Rupiah, maka sudah bisa mencerminkan secinta apa kamu sama Bangsa Indonesia. Karenanya sikap cinta tanah air dan sikap cinta Rupiah adalah dua hal yang saling mengisi satu sama lain.

Kemudian kenapa sih menjaga wujud fisik uang Rupiah ini begitu penting untuk dilakukan?  Sebab, dengan fisik mata uang Rupiah yang baik dan layak edar, maka masyarakat akan semakin Cinta Rupiah , kebanggan pada Rupiah juga akan semakin meningkat, tak hanya itu kepercayaan dunia terhadap Rupiah juga akan semakin tinggi. Karena itu Uang rupiah yang beredar terus menerus dijaga Kualitasnya oleh Bank Indonesia agar kualitasnya terjaga dalam kondisi baik dan layak, sehingga masayarakat bangga dan merasa nyaman dalam menggunakannya. Dilansir dari detik finance, pemerintah sampai harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp. 3.500.000.000.000 setiap tahun untuk biaya cetak uang baru agar uang Rupiah layak edar. Beban keuangan Pemerintah ini seharusnya bisa dianggarkan untuk kebutuhan lain yang lebih penting seperti subsidi pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur dan lain sebagainya apabila kita semua mau membantu Pemerintah menjaga dan merawat wujud fisik uang Rupiah. Jadi, jangan lagi biarkan uang Rupiah mu lecek, lusuh apalagi cacat ya! TNah Cara menjaga wujud fisik uang Rupiah ini ternyata sangat gampang, cukup dengan melakukan “5 J” alias 5 Jangan yaitu : Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan distapler, Jangan diremas, dan Jangan dibasahi. 

menjaga-wujud-fisik-rupiah

Menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi perekonomian di Indonesia kewajiban bagi setiap warga negara berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011, sehingga apabila dilanggar maka akan ada ancaman pidana kurungan dan denda sampai dengan Rp 200.000.000. Dengan menggunakan Uang Rupiah didalam Negeri pula , maka berarti kita telah membantu menguatkan nilai tukar nya. Hal ini selaras dengan teori penawaran dan permintaan, apabila Rupiah semakin “dibutuhkan” maka nilai tukarnya juga akan semakin tinggi. Tak hanya itu, menggunakan Rupiah di Wilayah Indonesia juga adalah salah satu wujud cinta tanah air dan bela Negara, karena hal ini tak hanya berdampak pada pertumbuhan perekonomian dan keuangan Negara, tapi juga semakin meningkatnya citra serta wibawa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang kuat serta mandiri perekonomiannya. Jangan sampai deh Rupiah dijajah di Negeri sendiri, untuk itu kita pun harus percaya diri menggunakan dan menyimpan Rupiah sebagai tabungan atau investasi didalam Negeri. Segera tukarkan simpanan valuta asing yang kita punya dengan Rupiah, serta mulailah bangga menggunakan produk dalam negeri, dan bertransaksi dengan Rupiah, karena ini adalah wujud nyata sikap kita dalam mengIndonesiakan Indonesia. setuju kan ya! J

Lihatlah, bahwa sebenarnya menjadi warga negara serta generasi Indonesia yang cinta tanah air dan menjunjung tinggi kedaulatan Bangsa itu sangatlah mudah. Membantu Pemerintah dalam mendongkrak perekonomian Negara juga tidak lagi sesulit yang kita kira. Cukup dengan melakukan 3 langkah sederhana sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas. Meski terdengar sederhana, namun jika 3 hal tadi telah menjadi kebiasaan dan budaya kita, maka upaya kecil ini pun sudah menjadi sumbangsih yang sangat berarti untuk kemajuan perekonomian Ibu Pertiwi. Semoga tulisan ini menjadi motivasi, agar kedepan kita semua menjadi generasi milenial Indonesia yang CINTA RUPIAH.

Motiongrafis Gerakan Cinta Rupiah by Rizka Edmanda :

Rizka Edmanda

50 Comments

  1. Mba, aku paling kesel kalau ada uang yang dicorat coret apalagi tulisannya no hp. Berasa kecakepan banget itu yang nulis hahaha..
    Semoga nilai tukar rupiah semakin tinggi ya biar setara sama dolar-dolar itu 😀

    • waduuh budaya masyarakat kita kadang suka aneh aneh ya.. masa uang sobek dibilang berkah hehe.. tapi kembali kepada keyakinan masing-masing sih mba. kalo saya sih lebih suka mencari berkah dengan cara lain hihi…

  2. Jadi ingat aku sampai sekarang masih menyimpan uang Rp 50.000 yang sobek yang aku dapat dari atm. Lupa dan malas harus jalan kaki ke bank.

    Aku baru sadar, Mbak. Salah satu penyebab uang dilipat ternyata gara-gara mau bayar angkot. Biasanya sudah nyiapin uangnya begitu duduk di angkot. Nah reflek tuh dilipet biar enak dipegang sepanjang perjalanan.

    Baiklah, harus mulai melepaskan kebiasaan ini mulai sekarang.

    • hihi setuju mba dian, harus diubah dari sekarang. alternatif lain juga dengan pakai dompet panjang, agak riweh sih tapi lama lama pasti akan terbiasa

  3. Teman guru di sekolahku nih Mbak ada yg hobi banget mwnyetaples uang kertas tuh. Alasannya biar nggak diambil tuyul. Duh, amit2 ya. Sudah sering aku ingatkan sih kalau yg dia lakukan bisa merusak rupiah tapi dia nggak berubah juga. Aku yang kesel jadinya.

    • bener mba, pemalsu uang sekarang canggih canggih, uang palsu yang beredar udah bener bener mirip uang asli . makanya harus lebih waspada.

  4. Suka sedih kakau nerima uang dalam.keadaan lusuh, lecek, sobek bahkan ada juga bekas staples. Kalo bisa ngomong, paling tu uang jerit-jerit kesakitan kali ya:(

    • iya, kadang juga sedih liat uang Rupiah lecek, apalagi kalau abis dapet kembalian dari pasar tradisional.. beuh kadang udah ga ada bentuknya itu uang 🙁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *