MY PREGNANCY STORY #3 : TRIMESTER KETIGA KEHAMILANKU

persiapan-persalinan

 

Ketika menulis artikel cerita ini, usia kehamilan saya sudah memasuki 37 minggu, itu artinya saya sudah masuk di akhir trimester ketiga kehamilan, yeay! Rasanya makin gak sabar karena sebentar lagi saya akan berjumpa dengan malaikat kecil yang selama 9 bulan ini menjadi teman baik buat saya dalam susah dan senang selama 1×24 jam. Setiap ngobrol dengan janin, saya selalu bilang padanya kalau saya bahagia banget karena dengan semakin besarnya perut ini, maka akan semakin dekat pula waktu perjumpaan saya dengannya, sekalipun itu juga berarti semakin banyak perubahan fisik, fisiologis dan hormonal yang saya alami seiring semakin bertambahnya usia kehamilan ini. Tapi gak apa-apa, saya selalu bilang pada janin saya kalau saya sangat menikmati semua perubahan ini, karena ini hanyalah secuil pengorbanan yang saya lakukan agar bisa segera berjumpa dengannya, toh didalam Rahim sana, saya percaya bahwa janin saya juga melakukan pengorbanan yang sama demi dapat berjumpa dengan saya!  sama-sama berjuang ya nak! Nah, di artikel ini saya akan berbagi tentang apa aja sih yang saya rasain di trimester ketiga dan apa aja yang saya lakukan dalam rangka persiapan persalinan yang tinggal beberapa minggu lagi. Semoga artikel ini menginspirasi !

Perubahan Fisik yang Saya Alami di Trimester Ketiga

Saya gak akan panjang lebar bercerita tentang perubahan fisik apa aja yang saya alami di trimester terakhir kehamilan ini, karena basically semua perubahan itu bagi saya adalah sesuatu yang terjadi dengan sangat alami dan harus dinikmati. Lagian, kondisi kehamilan tiap orang kan beda-beda, apa yang saya alami bisa jadi gak kalian alami, dan begitupula sebaliknya. Jadi apapun perubahan fisik, fisiologis dan hormonal yang kita alami selama Hamil itu HARUS DINIKMATI, selama masih dalam koridor yang wajar dan normal, no need to much worry , nikmatin aja… sepakat ?!

Nah, tapi dari sekian perubahan fisik yang saya alami, yang agak membuat surprise di trimester ketiga ini adalah munculnya Braxton hicks alias kontraksi palsu. Kalau aja saya gak membekali diri dengan banyak wawasan seputar kehamilan mungkin saya akan sangat panik ketika si Braxton hicks ini muncul, maklum, ini kan kehamilan pertama yak, jadi ada symptomps apa aja pastilah bisa jadi panik. Tapi Alhamdulillah, semua masih under control dan kalaupun terasa “sakit”, rasa sakit itu masih manageable alias masih bisa saya tanggulangi.

Kontraksi palsu ini semakin sering saya rasakan terlebih saat kehamilan saya masuk minggu ke 36, gejalanya perut mengencang dan sesekali terasa seperti keram mirip saat akan datang bulan, dengan ritme dan durasi yang tidak teratur. Biasanya, braxton hick ini mereda setelah saya mengatur nafas atau menggerak-gerakkan panggul sambil duduk di gym ball, atau berbaring atau sekedar berjalan-jalan didalam rumah.

Persiapan Persalinan Menjelang Due Date

Ngomong-ngomong soal persiapan persalinan, sebenernya saya adalah miss rempong yang udah nyiapin ini itu buat persalinan sejak awal trimester pertama dulu, haha! Yang paling sepele aja nih misalnya, dari bulan-bulan awal kehamilan saya udah mulai tuh ngepoin beberapa akun Instagram yang ngebahas seputar ibu & anak, mulai dari akun nya para mom blogger/mom vlogger, akun-akun selebgram atau artis yang udah pada punya anak, saya anggap ini adalah persiapan saya untuk menambah wawasan seputar kehamilan, persalinan dan pengasuhan anak. Sebagai first timer, belajar dari berbagai sumber buat saya amat sangat perlu.

Akun Instagram yang saya rekomendasikan untuk di follow adalah :

@parentalk.id , @bidankita (akun ini punyanya Bidan Yessie Aprilia, pakar hypnobirthing & gentle birth Indonesia yang sudah sangat terkenal, kebetulan saya adalah salah satu murid beliau di kelas hypnobirthing “Gentle Birth Circle”, saya rekomendasiin banget buat follow beliau karena banyak ilmu yang beliau bagi seputar kehamilan dan persalinan di akun instagramnya) , @aimi_asi , @haloibu.id  . Kalo ada rekomendasi akun lain, please tulis di kolom komentar dong? 🙂

Nah selain itu, saya juga melakukan beberapa persiapan khusus untuk menyambut persalinan, karena dalam urusan-urusan penting, saya tipe orang yang gak bisa “just let it flow” tanpa persiapan matang, terlebih ini akan jadi pengalaman pertama saya melahirkan,jadi jelas rasanya harus disiapin dengan paripurna. Persiapan menyambut persalinan yang saya lakukan diantaranya mulai dari persiapan fisik, materi, mental dan pengetahuan seputar proses persalinan. Buat saya, keempat ini penting dan gak bisa terlepas antara satu sama lain, karena bayangin aja misalnya kita udah punya fisik yang oke menjelang persalinan tapi mentalnya memble, wah bakalan gak guna lah punya fisik oke, atau missal fisik mental udah siap, tapi materi ga cukup, ga mungkin kan pas udah pembukaan lengkap ehhh pak suami malah cabut, sibuk ngurusin daptar BPJS hehe kira-kira kayak gitu.

Salah satu persiapan paling penting yang saya lakukan adalah membuat BIRTH PLAN atau rencana melahirkan,  Emang sih yang namanya rencana, ya bisa jadi terwujud bisa juga engga, tapi minimal dengan memiliki “Birth Plan” atau rencana melahirkan kita jadi punya ancang-ancang dan gambaran tentang apa aja yang harus kita persiapkan untuk menyambut proses persalinan nanti. Dalam membuat “birth plan” saya bener-bener merincikan dengan detail segala urusan persiapan dana, fisik, mental sampai pengetahuan yang harus saya punya seputar proses persalinan yang saya inginkan, termasuk rencana saya kepinginnya lahiran dimana, dengan metode apa, siapa yang akan membantu persalinan saya, apa aja hal yang saya inginkan dan tidak saya inginkan selama proses persalinan dan lain sebagainya.

Dalam menyusun draft “Birth Plan” , saya membuat list beberapa fasilitas kesehatan yang ingin saya survey sebagai tempat melahirkan. Makanya minggu-minggu ini, saya disibukkan dengan kegiatan Hospital Tour untuk jalan-jalan menyisiri satu persatu fasilitas kesehatan yang ingin saya jadikan tempat melahirkan, dalam birth plan A sebenarnya saya ingin sekali bisa melakukan home birth/home partus alias persalinan dirumah dengan bantuan bidan, tapi setelah melakukan beberapa pertimbangan dengan suami & keluarga, akhirnya kami memutuskan untuk mengubah rencana ke Birth Plaan B dengan melakukan persalinan di fasilitas kesehatan seperti klinik/rumah sakit. Hospital tour saya lakukan untuk melakukan riset sederhana saat atas biaya persalinan di beberapa klinik & RS di Pontianak, gak lupa saya juga tanya-tanya ke teman yang punya pengalaman melahirkan di faskes tersebut dan kepo-kepo ke bagian informasi di fasilitas kesehatan itu, untuk melihat apakah mereka bisa memenuhi paling tidak 70% dari birth plan/rencana melahirkan yang sudah saya buat.

Selain birth plan, persiapan menjelang persalinan yang saya lakukan juga adalah mengikuti kelas senam & yoga hamil baik di rumah sakit bersalin yang membuka kelas maupun hanya berlatih secara mandiri dirumah lewat youtube, kemudian saya juga melakukan latihan pernafasan persalinan (womb breathing, ujjayi breathing dan nafas perut). Katanya sih, senam hamil, yoga dan latihan pernafasan sangat penting untuk menyiapkan fisik yang oke menjelang persalinan, walaupun saya tipe yang malas olahraga 😛 tapi ya akhirnya rela lah ya, dipaksa-paksain gerak dikit demi melahirkan dengan nyaman, ohya kadang kalo lagi malas parah, minimal saya mainan gym ball dan melakukan pelvic rocking dirumah, katanya gerakan ini bagus banget dilakukan di akhir trimester 3 agar adik bayi bisa segera “turun” masuk ke panggul dengan posisi yang optimal , tapi perlu diingat gerakan ini hanya boleh dilakukan buat kalian yang posisi bayi nya sudah optimal (anterior), jadi kalo yang posisi bayinya masih sungsang harus dibenerin dulu. Artikel tentang optimalisasi posisi janin, bisa kamu baca disini

persiapan-persalinan

Kelas Yoga & Senam Hamil di RS.Mitra Medika Pontianak

Menyusun “Road Map Labor” juga adalah salah satu persiapan yang saya lakukan. Dipopulerkan oleh Penny Simkin, konsep road map labor ini adalah catatan tertulis/gambaran panduan tentang apa aja yang harus kita lakukan, pada saat memasuki fase awal persalinan, seperti soal kapan harus datang ke rumah sakit, bagaimana trik mengurangi rasa “nikmat” saat kontraksi datang, apa saja yang harus dilakukan pendamping persalinan (Ibu atau Suami) saat kontraksi datang, apa yang harus dilakukan saat pembukaan demi pembukaan berlangsung dan lain sebagainya. Semuanya dibuat dalam 1 catatan tertulis, karena katanya kadang saat detik-detik persalinan kita seringkali melupakan semua “pelajaran” yang sudah kita pelajari saat persiapan persalinan, kayak tiba-tiba blunder gitu kali ya, jadi gak ada salahnya kalau semuanya kita susun dalam catatan kecil, agar bisa “dicontek” saat hari H itu datang.

roadmap-of-labor

Roadmap of Labor by Penny Simkin. “Peta” ini bisa kita modifikasi sesuai kebutuhan.

Persiapan lain yang tidak kalah penting adalah soal menambah wawasan, baik seputar kehamilan, persalinan hingga seputar pengasuhan anak kedepan. “Knowledge is Power” itulah yang selalu dikatakan oleh Guru saya, Ibu Bidan Yessie Aprilia, dalam setiap pertemuan di kelas edukasi hypnobirthing “Gentle Birth Circle” yang saya ikuti bersama beliau beberapa waktu lalu. Dengan wawasan yang cukup, kita akhirnya menjadi lebih tenang dan “berdaya” alias tau harus ngapain, saat menghadapi peristiwa demi peristiwa sakral mulai dari proses hamil-melahirkan hingga mengasuh anak nanti. Makanya, selama hamil saya jadi suka banget baca buku-buku dan artikel seputar tema-tema diatas. Selain lewat buku, saya juga belajar lewat kelas-kelas edukasi yang diselenggarakan baik secara online maupun offline. Selain belajar seputar filosofi gentle birth dan teknik hypnobirthing untuk persiapan persalinan bersama Ibu Yessie dengan mengikuti kelas “Gentle Birth Circle” di Bidan Kita, di trimester akhir ini saya juga mengikuti kelas edukasi MPASI dan ASI yang diadakan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Kalbar di Pontianak, beberapa minggu lalu. Belajar dan mendengar cerita seru dari Ibu-ibu lain yang sudah berpengalaman, serta sharing dengan para pakar / konselor di bidang ASI, dan membahas seputar pemberian ASI, ASIP, IMD hingga MPASI. Seru sih, saya jadi belajar banyak dari mereka yang sudah berpengalaman, dan akhirnya dengan support moril yang besar dari mereka pula, saya merasa lebih siap menyambut kehadiran buah hati sebentar lagi. 🙂

persiapan-melahirkan

Kelas Edukasi Online : Hypnobirthing “Gentle Birth CIrcle” Bersama Bidan Yessie Aprilia (@bidankita)

 

Suasana Kelas Edukasi ASI & MPASI bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Kalbar

Hmm, terakhir, menurut saya , yang gak kalah seru di akhir trimester 3 ini adalah soal belanja barang kebutuhan bayi dan menyiapkan hospital bag. Jujur ini adalah kegiatan favorit saya di trimester akhir ini haha! Hospital bag itu berisi barang-barang apa saja yang akan saya bawa ke rumah sakit saat akan melahirkan dan ini sebenarnya sudah saya siapkan sejak saya masih hamil 35 minggu saking bersemangatnya saya menyambut hari persalinan 😛 Karena kedua ini adalah kegiatan paling seru versi saya di trimester ketiga  kehamilan ini, jadi rencananya kedua kegiatan tersebut akan saya bahas detail di artikel terpisah. Ditunggu ya!

 Pada dasarnya tiap ibu hamil biasanya punya persiapan sendiri menjelang persalinan, nah ringkasnya ini aja sih persiapan saya menyambut hari besar alias due date itu. Kalo kalian, apa aja persiapannya? Sharing di kolom komentar dong!

persiapan-melahirkan

 

 

Rizka Edmanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *