A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Saya membuka kembali handphone lama saya yang tersimpan di lemari kamar. Handphone ini memang handphone tua tapi didalamnya ada begitu banyak kenangan penting tersimpan. Ia merangkum dengan rapi mimpi-mimpi yang pernah saya citakan, Ia mengabadikan memori tentang daftar rencana yang selalu ingin saya wujudkan. Saya berjalan-jalan meraba satu persatu aplikasi yang ada di handphone itu hingga mata tertawan pada sebuah aplikasi penyimpan catatan. 

“30 Goals Before 30” begitu bunyi judul pada salah satu catatan disana. Isinya adalah tentang daftar 30 mimpi yang ingin saya wujudkan sebelum memasuki usia kepala 3. Saya tengok satu persatu dari sekian daftar yang ada, dan ada satu yang mencuri perhatian saya yaitu kalimat “MENGUNJUNGI MASJID AL-AQSA DI PALESTINA”Β 

Ya, Palestina. Ghirah saya memang begitu besar padanya. Baitul Maqdis, Tanah yang Allah Berkahi, Tanah dimana Rasulullah berpijak ketika Isra Miraj saat akan menuju Sidratal Muntaha, Tanah yang Melahirkan Para Anbiya’, Tanah tempat dimana kita para umat manusia akan dikumpulkan di hari akhir, Tanah yang menjadi saksi nubuat akhir zaman, Tanah dimana Masjid Kedua di Bumi sekaligus Kiblat Pertama Umat Muslim Berdiri. Negeri yang dengan mendengar namanya saja, sanggup membuat hati saya bergetar, oleh sebab rasa rindu untuk berjumpa terus menggebu-gebu didalam dada. 

Perlahan air mata tertumpah, sungguh saya tak menyangka, bahwa mimpi yang satu ini telah saya wujudkan beberapa waktu yang lalu di usia yang ke 26. Hati ini bergetar, ternyata benar kata pepatah “Tulislah mimpimu, azzamkan dalam hati, lafadzkan dalam doa, zikirkan tiada henti. Maka mimpi-mimpi itu niscaya akan menjadi nyata”.

MASJD-AL-AQSA-PALESTINA
Dome of The Rock atau Kubah Ash-Shakrah

Kota Lama Jerusalem, Palestina 6 April 2019.

Cuaca dingin menusuk tulang. Aplikasi accu weather pada smartphone saya menunjukkan suhu udara sekitar 6 derajat celcius pagi itu. Rombongan Cheria Holiday yang saya ikuti berkunjung ke Bethlehem pagi ini, mereka akan menziarahi Masjid Ibrahim dan beberapa situs Islam bersejarah disana, namun karena kerinduan yang sudah tak terbendung pada Masjid Al-Aqsa maka pagi itu Saya, Dani dan Qonita memilih untuk memisahkan diri dari rombongan agar dapat menghabiskan waktu lebih banyak di sekitaran Masjid.

Saya pakaikan Qonita jaket berlapis, dan kami turun dari hotel pada pukul 7. Saya, Dani dan Qonita berjalan kaki dari hotel menuju kompleks Al-Haram Asy-Syarif atau Masjid Al-Aqsa. Kami melewati kota tua jerusalem yang ada di sekitaran Masjid Al-Aqsa. Penduduk Muslim asli Palestina keturunan Bangsa Kanaan hidup di sekitaran Kota Lama Jerusalem. Rata-rata mereka berprofesi sebagai pedagang, ada pula yang berprofesi sebagai pendamping wisatawan. Mereka hidup sebagaimana layaknya manusia hidup, makan, bersosialisasi, tumbuh, berkembang, mencintai, menikah, beranakpinak lalu mati. Atmosfer perang tak terasa di Kota ini, setidaknya itulah yang saya rasakan selama beberapa hari berada di Palestina. Meskipun memang tentara bersenjata, helikopter yang lalu lalang, check point dimana-mana menjadi pemandangan yang biasa disini.

“Jerusalem memang relatif aman, karena pusat konflik berada di perbatasan Gaza, walaupun intimidasi terhadap umat Muslim terasa hampir di semua kota. Saya sendiri orang Bethlehem namun saya tidak dapat memasuki semua kota di Palestina, karena beberapa kota memang berada dibawah otoritas Israel makanya saya tidak bisa menjemput bapak-bapak dan ibu-ibu saat memasuki perbatasan Taba & Eilat karena kota Eilat memang berada dibawah otoritas Israel” UjarKasem Abu Deih, Tour guide lokal kami di Palestina hari itu. Ngomong-ngomong Mr.Kasem ini warga Muslim Palestina asli, Beliau telah lama bekerja sabagai tour guide namun Beliau juga bekerja sebagai wartawan karenanya Beliau khatam seluk beluk sejarah Palestina mulai sejak Zaman Nabi hingga di fase pendudukan Israel. Saya beruntung Cheria Holiday memberikan tour guide lokal yang fasih pada infomasi sebab bersama Beliau saya tak hanya sekedar jalan-jalan dan beribadah di Palestina namun juga menambah wawasan saya tentang Negara ini.

Langkah kaki Saya dan Dani terhenti saat akan memasuki gerbang Masjid Al-Aqsa “STOP, Apakah kamu Muslim?” tanya seorang Tentara Israel pada kami dengan bahasa Inggris. Saya dan Dani berusaha tetap tenang, memang tak lazim jika ada penziarah yang berkunjung ke Masjid Al-Aqsa tanpa rombongan terlebih pada jam-jam diluar waktu sholat dan mengingat kawasan Jerusalem kini telah direnggut oleh Israel maka Kompleks Masjid Al-Aqsa pun dikepung oleh mereka. “Halo, saya Muslim Alhamdulilah” jawab saya dengan tersenyum. Seorang tentara wanita memperhatikan kami dari atas ke bawah lalu saat melihat Qonita, Ia reflek tersenyum, saat saya pergoki senyumannya Ia justru buru-buru memasang kembali wajah garang.

“Mana rombongan kalian? kalian dari negara apa?” tanyanya kembali “Kami dari Indonesia. rombongan kami sedang pergi ke Bethlehem sementara kami ingin berada disini saja, Kami sudah begitu rindu pada Masjid Al-Aqsa” jawab saya kembali. Ia diam, tak menjawab hanya sekedar menggeser badan dari hadapai kami, kami pun berlalu.

Jujur, saya merasa sedih, sebab Masjid ini adalah milik kita Umat Muslim namun  Masjid ini justru dikuasai oleh mereka. Seraya berjalan kaki menuju Kubah Emas atau Dome Of The Rock saya berdoa : “Ya Allah, dengan kekuasaan-Mu bebaskanlah Masjid ini dari tangan penjajah, biarkan Semua Umat Muslim diseluruh dunia datang dan sholat di Masjid mulia ini dengan mudah” 

Ya dengan mudah, sebab nyatanya tak semua Umat Muslim bisa masuk dan beribadah di Masjid ini. Maka beruntunglah mereka yang bisa datang ke tempat ini. Bahkan warga Palestina pun tak bebas beribadah disini. Masjid Al-Aqsa hanya dapat dimasuki oleh warga Muslim Palestina yang tinggal di Jerusalem, mereka yang tinggal di kota-kota lain seperti Jericho, Nazareth, Bethlehem, Gaza dll tidak dapat masuk ke Masjid Al-Aqsa itulah peraturan yang diterapkan oleh tentara penjajah. Bahkan warga Arab keturunan Yordania juga dilarang masuk ke Masjid Al-Aqsa karena rata-rata penduduk Yordania adalah Muslim keturunan Palestina. Jerusalem memang lebih aman bila dibandingkan kota-kota lain di Palestina, tapi tanah yang kita sebut Baitul Maqdis ini, masih terjajah. 

Kami berjalan-jalan di sekitar kawasan Masjid Al-Aqsa, mengunjungi satu persatu masjid yang ada di kompleks Al-Haram Asy Syarif ini. Al-Aqsa memang tak hanya soal Kubah Emas (dome of the rock) saja. Total luas kompleks Masjid Al-Aqsa kurang lebih  144.000 meter persegi, didalamnya berdiri beberapa bangunan berupa masjid dan kubah diantaranya Masjid Al-Qibli atau Jami’ Al-Aqsa, Kubah Emas Ash-Shakrah / Dome Of The Rock sebagai bangunan paling ikonik disini, Mushala Al-Marwani, Kubah Mi’Raj, Kubah Silsilah, Museum Islam,  Gerbang Al-Mawazin dan gerbang-gerbang lainnya, Menara Masjid, Air mancur Qasyim Paya, hingga western wall atau tembok ratapan yang menempel pada Masjid Bouraq dan kini dipakai orang Yahudi sebagai synagogue atau tempat mereka beribadah. 

Perjalanan singkat di sekitaran Kompleks Masjid Al-Aqsa hari ini memberi saya hikmah, bahwa sebetulnya ada sebuah nikmat yang terkadang luput kita syukuri yaitu nikmat kemudahan beribadah. Jika sehari-hari “penghambat” kita untuk sholat hanyalah macet, ngurus rumah, ngurus kerjaan, main sosmed dll, maka penghambat saudara-saudara kita di Palestina dalam beribadah adalah selongsong peluru dan rudal-rudal. Namun ini tak melunturkan setitikpun semangat juang mereka, untuk menegakkan agama Allah di Bumi Syam yang terjajah. Sungguh diri ini malu pada mereka, yang tetap menjaga keistiqomahan didalam keterbatasan. 

-BERSAMBUNG-