A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Selamatkan Generasi Bangsa

dari Anemia Defisiensi Besi

dengan Hidup Sehat dan Asupan Makanan Bernutrisi

anemia defisiensi besi

Anak merupakan generasi penerus suatu bangsa, dengan demikian, dibutuhkan anak dengan kualitas yang baik agar tercapai masa depan bangsa yang lebih baik. Untuk mendapatkan kualitas anak yang baik maka harus dipastikan pula bahwa tumbuh  kembangnya juga baik. Dan disinilah tugas kita sebagai orang tua untuk mengupayakan segala yang terbaik dalam pengasuhan. Mulai dari pendidikan, perawatan hingga memberikan asupan nutrisi terbaik untuk anak terutama di masa-masa 1000 hari pertama kehidupannya.

Namun generasi kita saat ini ternyata masih berhadapan dengan berbagai permasalahan gizi dan nutrisi. Global Nutrition Report melaporkan, Indonesia memiliki tiga masalah gizi di waktu bersamaan, yakni stunting (anak lahir pendek), wasting (kurus, berat badan tak sesuai tinggi) dan obesitas atau kelebihan berat badan. Selain itu permasalahan nutrisi seperti anemia defisiensi besi juga masih menjadi momok yang menghantui bangsa Indonesia. Gangguan kesehatan ini dapat menyerang siapa saja, tak pandang bulu dan usia. 

Hal ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama sebab persoalan gizi dan nutrisi berkontribusi besar terhadap peningkatan kualitas kesehatan seorang manusia. Berbagai penelitian juga telah menunjukkan adanya hubungan erat antara status gizi dengan kualitas sumber daya generasi penerus. Sebab status gizi seseorang dapat memengaruhi fungsi otak dan produktivitas kerjanya. 

Bicara soal permasalahan gizi dan nutrisi khususnya anemia defisiensi besi, kebetulan saya baru saja menyimak sebuah webinar (web seminar) yang diadakan oleh Indonesian Nutrition Asociation bersama Danone Indonesia berjudul “Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi” yang diadakan secara LIVE melalui kanal youtube “Nutrisi Bangsa”. Melalui webinar tersebut saya mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai apa itu anemia defisiensi besi, bagaimana dampak dan gejalanya, seperti apa upaya pencegahan yang dapat kita lakukan serta melihat bagaimana peran serta Danone dalam ikut serta memutus mata rantai anemia dan persoalan gizi lainnya di Indonesia. 

anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi atau ADB, adalah suatu kondisi rendahnya kadar hemoglobin (hb) dibandingkan kadar normal yang menunjukkan kurangnya jumlah sel darah merah yang bersirkulasi. Penyakit anemia ini terjadi akibat tubuh mengalami defisit zat besi atau kekurangan zat besi. Padahal, zat besi merupakan komponen utama dari pembentukan hemoglobin, yaitu bagian dari sel darah merah.

WHO atau badan kesehatan dunia pada tahun 2011 telah melansir kriteria minimal dan klasifikasi anemia berdasarkan kelompok umur. Dimana jika seseorang memiliki kadar Hb dibawah standar, maka orang tersebut dapat dikategorikan terkena anemia. Jadi selain melihat gejalanya, kita juga bisa memastikan apakah kita terkena anemia atau tidak dengan mengukur kadar hemoglobin di tubuh kita melalui cek darah. Pengukuran atau skrining hemoglobin ini dapat dilakukan secara mandiri baik di laboraturium maupun di fasilitas kesehatan lainnya atau berdasarkan rekomendasi dari dokter. Berikut tabel kriteria dan klasifikasi anemia dari WHO 2011. 

klasifikasi anemia

Pada webinar tersebut, Dr.dr Diana Sinardi M.Gizi, SpGk dalam pemaparan materinya yang berjudul “Anemia Kurang Zat Besi, Masalah Saat Ini Penentu Masa Depan” beliau menyebutkan, bahwa prevalensi balita penderita anemia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 ternyata cukup tinggi. Sebanyak 26,5% balita perempuan dan 29,7% balita laki-laki di Indonesia terkena anemia. Kemudian pada kelompok ibu hamil, prevalensinya bahkan mencapai 37,1%.

Prevalensi yang tinggi ini juga dialami oleh kelompok usia lainnya, hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa prevalensi penderita anemia dari semua kelompok usia adalah lebih dari 25%. Kelompok usia ini mencakup remaja hingga ibu hamil. Tingginya angka prevalensi anemia dari berbagai kelompok usia diatas jelas memperlihatkan bahwa saat ini, anemia defisiensi besi merupakan tantangan kesehatan lintas generasi, dimana gangguan kesehatan ini dapat mengancam semua orang termasuk balita, remaja, ibu hamil hingga ibu menyusui.

anemia
anemia defisiensi besi
zat besi

Banyak yang mengira bahwa penyakit anemia hanyalah sebuah gangguan kesehatan ringan yang tidak berbahaya. Padahal faktanya, masalah anemia dan kekurangan zat besi ini dapat membawa berbagai dampak dan risiko kesehatan yang serius bagi penderitanya di kemudian hari. Baik itu risiko dan dampak kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang.

Pada ibu hamil misalnya, anemia bisa menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan. Mulai dari pre eklampsia, kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan janin, gangguan fungsi jantung, infeksi, hingga  pendarahan pasca persalinan. Kemudian pada bayi dan balita (anak-anak) anemia juga dapat menurunkan daya tahan tubuh mereka sehingga anak akan mudah terkena penyakit dan dapat menyebabkan anak tersebut kekurangan gizi / malnutrisi yang mana pada puncaknya anemia dapat menjadi penyebab anak mengalami gagal tumbuh (stunting).

Sedangkan jika terjadi pada usia remaja atau orang dewasa, anemia dapat mengakibatkan seseorang menjadi sering jatuh sakit, tidak bugar atau lemah/lesu sehingga dapat menganggu aktivitasnya sehari-hari dan menurunkan produktivitas, kinerja serta prestasinya.

Maka, jika persoalan anemia tidak diselesaikan, maka bukan tidak mungkin beban persoalan gizi di Indonesia (triple burden) yang mencakup stunting, wasting dan obesitas hingga masalah kekurangan zat gizi mikronutrien (vitamin, mineral dan zat besi) akan terus menjadi momok yang mengancam kesehatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan.

anemia defisiensi besi

Maka dari penting pula bagi kita untuk mengetahui gejala umum dari anemia agar bisa melakukan tindakan sesegera mungkin jika dirasakan mengalami gejala tersebut. Sebab Dokter Diana menyebutkan, cara paling mudah untuk mengetahui apakah kita terkena anemia ataukah tidak adalah dengan melihat tanda-tanda gejala awal atau gejala umum terlebih dahulu.

Gejala umum yang sering dialami oleh penderita anemia antara lain adalah kelopak bawah mata yang terlihat pucat, kulit pucat, sering sakit kepala, nafas cepat/sesak nafas, lemah otot,  nadi cepat dan tekanan darah rendah. Pada penderita anemia kategori berat/kronis dapat pula terjadi pembesaran limpa. Gejala anemia pada ibu hamil juga demikian, dimana wajah ataupun kelopak mata ibu hamil yang terkena anemia akan terlihat pucat,  nafsu makannya berkurang, lesu dan lemah, cepat lelah, sering pusing dan berkunang-kunang.

Sedangkan pada anak-anak, gejala umum yang sering terjadi adalah anak lebih sering rewel karena merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya, gangguan nafsu makan atau yang lumrah kita sebut dengan “GTM” alias gerakan tutup mulut, anak terlihat pucat dan lemas, sering merasa lemas, cenderung mengantuk dan pada anak yang lebih besar juga terlihat tidak aktif dan sering mengalami gangguan konsentrasi di sekolah atau saat belajar.

Jadi, ketika seseorang merasakan gejala umum anemia hendaklah memeriksakan diri ke layanan kesehatan. Sedangkan bagi orang tua juga hendaknya lebih teliti dan jeli memeriksa gejala umum anemia pada anak-anaknya, agar jika anak terkena anemia dapat segera dilakukan intervensi.

Dokter Diana menyebutkan, ada tiga penyebab utama masih maraknya anemia di Indonesia antara lain faktor demografis, faktor sosial ekonomi dan faktor asupan nutrisi atau diet yang tidak seimbang. Namun yang menjadi faktor utama dalam permasalahan anemia defisiensi besi ini adalah asupan nutrisi dan diet yang tidak seimbang.

Konsumsi makanan rata-rata orang Indonesia masih didominasi oleh pangan nabati. Asupan energi dan protein pun masih sangat rendah. Sehingga masyarakat mengalami defisit energi, defisit protein dan defisit mikronutrien (vitamin dan mineral termasuk zat besi). Lebih lanjut lagi Dokter Diana menyebutkan, asupan zat besi terutama zat besi heme serta asupan vitamin C orang Indonesia juga masih sangat rendah.  Sementara disisi lain, kebanyakan orang Indonesia justru berlebihan dalam mengonsumsi fitat dan sumber tanin seperti kopi dan teh. Padahal fitat dan tanin dapat menghambat penyerapan zat besi sehingga asupan zat besi yang masuk menjadi tidak optimal. 

Zat Besi : Sedikit Tapi Penting

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Zat besi memang sering dianggap sebelah mata. Lantaran ia termasuk dalam mikronutrien (zat gizi mikro) yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit saja. Padahal, meskipun sedikit zat besi mempunyai peran yang sangat penting dalam tubuh.

Zat besi adalah suatu zat dalam tubuh manusia yang erat dengan ketersediaan jumlah darah yang diperlukan. Zat besi inilah yang menentukan jumlah hemoglobin dalam darah manusia. Dalam tubuh manusia zat besi berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan mengangkut elektron di dalam proses pembentukan energi di dalam sel. Zat besi juga berperan dalam pembentukan hormon, aktivitas enzim serta mengatur fungsi sistem imun.

Bila tubuh diibaratkan sebuah mesin kendaraan, zat besi adalah “oli” agar mesin kendaraan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bisa dibayangkan jika mesin sebuah kendaraan dipaksa bekerja tanpa oli yang cukup, maka tentu mesin kendaraan tersebut akan soak dan mengakibatkan kendaraan mogok. Begitu pula tubuh bila kekurangan asupan zat besi pasti akan mudah jatuh sakit.

zat besi

Zat besi sendiri terbagi menjadi dua yaitu zat besi heme dan zat besi non heme. Zat besi heme terkandung pada sumber makanan hewani, dimana proses penyerapannya oleh tubuh lebih mudah, sedangkan zat besi non heme yang berasal dari sumber makanan nabati membutuhkan proses yang lebih lama untuk dapat diserap oleh tubuh. Beberapa sumber makanan kaya zat besi heme yang baik untuk tubuh antara lain adalah daging dan hati ayam, sapi serta domba, tiram dan ikan salmon. Sedangkan sumber zat besi non heme dapat berasal dari sayuran hijau seperti bayam, kangkung, brokoli, daun singkong, serta tempe, tahu, jamur dsb.

anemia defisiensi besi

Kemudian agar penyerapan zat besi terutama zat besi non heme menjadi lebih baik, tubuh membutuhkan juga asupan vitamin C yang cukup. Sebab Vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi. Dokter Diana menyarankan, agar ketika kita mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi terlebih zat besi non heme, juga dibarengi dengan mengonsumsi pula makanan yang mengandung Vitamin C supaya penyerapannya lebih optimal. Makanan yang mengandung vitamin C antara lain bisa didapat dari buah-buahan seperti jeruk, mangga, stroberi, jambu biji dsb. Serta dari beberapa kelompok sayuran seperti brokoli, paprika merah, cabai hingga tomat.

anemia defisiensi besi

Dokter Diana berkesimpulan bahwa agar terbebas dari anemia seseorang harus mengonsumsi makanan bernutrisi sesuai pedoman gizi seimbang serta  mencukupi kebutuhan  zat besi harian. Apabila zat besi yang dikonsumsi bersumber dari nabati (non heme) maka harus dipastikan pula untuk dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang kaya vitamin C agar penyerapan zat besi menjadi lebih baik. Selain itu, perlu juga mempertimbangkan pemberian makanan terfortifikasi seperti tepung terigu/beras, biskuit atau susu fortifikasi untuk bayi dan balita serta bagi ibu hamil wajib mengonsumsi tablet penambah darah.

Pemerintah  sebetulnya telah mencanangkan berbagai program berkelanjutan untuk memutus mata rantai anemia berdasarkan kelompok usia. Mulai dari remaja hingga usia produktif, usia sekolah, bayi & balita, ibu menyusui, ibu hamil serta lansia. Upaya penanganan tersebut dilakukan secara berkelanjutan oleh Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, organisasi, orang tua dan sekolah serta dilakukan mulai dari tingkatan Puskesmas dan Posyandu.

Namun menurut hemat saya, upaya pemerintah tersebut tentu tak akan maksimal jika tidak didukung oleh peranan swasta dan masyarakat umum. Sebab, beban untuk memutus mata rantai anemia adalah sebuah pekerjaan besar yang harus menjadi perhatian bersama. Mengingat anemia sendiri merupakan masalah kesehatan yang dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia lintas generasi. Untuk itu diperlukan kerjasama lintas sektor agar dampak dari anemia, ini tidak lagi dirasakan oleh kita maupun anak-anak kita, sebagai generasi penerus masa depan Indonesia.

Sinergitas yang apik antar berbagai lembaga dan masyarakat perlu dilakukan demi mewujudkan status gizi yang baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, hanya dengan status gizi yang baik inilah, kesehatan dan kesejahteraan umum dapat tercapai sehingga kualitas sumber daya manusia dapat terjamin dan setiap individu bisa mencapai potensi maksimal yang dimilikinya.

anemia defisiensi besi

Sehubungan dengan hal itu, Danone Indonesia sebagai perusahaan swasta yang berkomitmen untuk melakukan pemenuhan nutrisi dan meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia melalui produk makanan dan minuman, telah membuktikan komitmennya untuk mendukung upaya pemerintah dalam memutus mata rantai anemia serta persoalan gizi dan kesehatan lainnya. Dengan mengusung visi “One Planet One Health” Danone melakukan berbagai program di bidang kesehatan dan lingkungan, sebab Danone percaya bahwa  kesehatan planet (bumi) dan kesehatan masyarakat sangatlah berkaitan, sehingga Danone hadir untuk melindungi dan memelihara keduanya.

anemia defisiensi besi

Nah bagi teman-teman yang mungkin belum tau,  PT Danone Indonesia sendiri adalah perusahaan multinternasional yang memproduksi berbagai jenis makanan dan minuman. Danone juga memimpin pasar produk turunan susu atau air minum dalam kemasan. Beberapa produk Danone tentu sudah sangat kita kenal dan dekat dengan masyarakat Indonesia. Mulai dari produk minuman kemasan AQUA, AQUA Reflections, VIT, VIT Levite, Mizone hingga produk susu pertumbuhan dan nutrisi awal kehidupan (early life nutritrion) seperti Nutrilon Royal SGM Eksplor, SGM Soya, Bebelac, Bebelac Gold, Nutrilon Royal Prosyneo, Nutrinidrink dan susu kehamilan SGM Bunda. Hingga saat ini Danone Indonesia telah melayani jutaan penduduk Indonesia dengan produk makanan dan minuman bernutrisi mulai dari Sumatera hingga Papua. 

Masih dalam kesempatan webinar yang sama, Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communications Director Danone-Indonesia menyebutkan bahwa Danone bertekad untuk menjalankan bisnis dan kegiatan sosial secara harmonis dan berkesinambungan. Tak sampai disitu, Danone juga berusaha untuk menjadi perusahaan terdepan dalam melakukan revolusi makanan (food revolution) melalui pemeliharaan kebiasaan makanan yang sehat dan berkelanjutan. Sehingga, mulai dari hulu ke hilir, yaitu dari proses produksi hingga distribusi produknya, Danone selalu memikirkan kesehatan konsumen dan kelestarian lingkungan planet bumi. Yaitu dengan menciptakan produk makanan dan minuman yang bernutrisi dan berkualitas serta memperhatikan dampak lingkungan dengan serius mulai dari proses produksi hingga distribusinya.

Danone menyadari, bahwa asupan makanan dan minuman merupakan faktor yang sangat penting dalam kesehatan manusia. Oleh sebab itu, Danone selalu meningkatkan kualitas nutrisi produk-produknya sesuai dengan kebutuhan konsumen. Danone juga selalu mempromosikan kebiasaan makan yang lebih baik dan lebih sehat serta mengkomunikasikan informasi yang transparan mengenai produk-produknya.

Danone Turut Mengedukasi Masyarakat Tentang Gizi dan Kesehatan

Saya sepakat bahwa dalam rangka mewujudkan kesehatan masyarakat, perlu adanya upaya untuk membuat masyarakat melek terhadap isu-isu kesehatan. Sebab wawasan kesehatan yang mumpuni dapat membuat kita mengetahui langkah preventif untuk mencegah risiko suatu gangguan kesehatan. Seperti kasus Qonita terkena ADB saja misalnya. Rasanya semua bermula oleh sebab kealpaan saya dalam mengatur variasi menu MPASI yang baik dan seimbang.  Kesalahan ini yang membuat saya kini jadi banyak mencari tau informasi seputar gizi dan nutrisi agar kesalahan saya di masa lalu tak terulang kembali.

Maka dalam rangka mengedukasi masyarakat luas mengenai isu gizi dan kesehatan, Danone Indonesia melakukan berbagai upaya. Yaitu melalui program intervensi dan edukasi permasalahan gizi dan kesehatan di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gizi dan kesehatan.

Program Intervensi dan Edukasi Gizi Serta Kesehatan

Danone Indonesia

anemia defisiensi besi

“Mari Bersama-Sama, Putuskan Mata Rantai Anemia dan Perbaiki Kualitas Kesehatan Masyarakat demi Mewujudkan Indonesia Sehat”

Kesimpulan Tulisan

Anemia defisiensi besi merupakan permasalahan nutrisi yang harus menjadi perhatian kita bersama saat ini. Mengingat tingginya angka prevalensi anemia di Indonesia, saya rasa semua orang harus mau ikut peduli mengedukasi lingkungan sekitar mengenai bahaya anemia. Faktor utama dari anemia sendiri adalah defisiensi/kekurangan zat besi, sehingga masyarakat kini harus lebih peduli seputar asupan konsumsi makanan sehari-hari. Harus memperhatikan pedoman gizi seimbang dan mengonsumsi makanan kaya zat besi.

Sebagai seorang ibu saya sadar bahwa saya memiliki peran yang sangat besar untuk menciptakan peradaban yang lebih baik di masa depan. Peradaban dengan generasi yang lebih sehat, generasi yang lebih berkualitas dan lebih berdaya saing. Memastikan anak-anak selalu mendapatkan asupan nutrisi terbaik adalah tugas saya sebagai orang tua sekaligus kontribusi terbaik yang dapat saya berikan kepada generasi bangsa.  Jadi mulai sekarang saya bertekad untuk ikut memutus mata rantai anemia dan meningkatkan kualitas gizi keluarga dari rumah. Caranya yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat  dan senantiasa menyajikan makanan bernutrisi dengan gizi seimbang. Terutama makanan yang kaya akan zat besi dan vitamin c, serta susu pertumbuhan terfortifikasi untuk melengkapi nutrisi hariannya.

Saya juga berharap semoga keberpihakan Danone Indonesia dalam melakukan intervensi dan edukasi gizi dan kesehatan di Indonesia dapat menjadi inspirasi dan ditiru oleh semua perusahaan swasta yang berinvestasi di Indonesia agar permasalahan kesehatan di Indonesia bisa lebih cepat teratasi.

Semoga generasi Indonesia menjadi generasi yang sehat demi mewujudkan bangsa yang lebih kuat!

Ikuti Media Sosial Nutrisi Untuk Bangsa 

Agar Selalu Update Informasi Seputar Gizi, Nutrisi dan Kesehatan

Sumber-sumber :

Olah Grafis oleh : Rizka Edmanda

Visual (Foto dan Video) : Rizka Edmanda, Nutrisi Bangsa (Tangkapan Layar dari materi webinar)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Artikel Blog dalam rangka Hari Gizi Nasional Bertemakan Nutrisi dan Kesehatan yang diadakan oleh Danone Indonesia

error: content is protected