NHW #6 – BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL

BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL

NHW 6 – Terkadang kita merasa sibuk, padahal yang ada hanyalah “Sok sibuk”. Terkadang kita melalaikan pekerjaan utama yang paling hakiki yaitu menjadi ibu dan seorang istri karena menganggap ada pekerjaan lain yang lebih penting yang juga menuntut untuk diselesaikan, entah itu pekerjaan di kantor, hobby dan lain sebagainya. Untuk itulah pada materi kali ini peserta kuliah program matrikulasi batch #5 belajar menjadi manajer keluarga handal agar dapat memilih dengan efektif skala prioritas rutinitas yang memang harus diutamakan. READ MORE

NHW #5 : Learning how to learn

NHW-5

Sejatinya, dalam hidup manusia terus belajar. Lulus dari bangku pendidikan formal, manusia dituntut untuk dapat mempraktekkan ilmu yang dipelajarinya agar dapat terjun dan diterima dengan baik di masyarakat. Di Komunitas Ibu Profesional, kami belajar bagaimana menjadi Ibu dan Orangtua yang layak bagi anak-anak. Ini penting, sebab keinginan kita untuk punya anak yang sholeh-sholehah pun keinginan kita untuk memiliki anak yang cerdas, bermanfaat dan berdayaguna bagi masyarakat atau keinginan kita untuk memiliki anak yang hebat sesuai dengan fitrahnya tidaklah cukup diikhtiarkan dengan mendoakannya atau mendidiknya dengan didikan yang terbaik menurut kita. Tapi pula perlu juga bagi kita untuk memantaskan diri. Meningkatkan kualitas diri sebagai orangtua yang layak bagi anak-anak. Sebab bukankah anak-anak yang baik lahir dari oran tua-orang tua yang baik? Anak-anak yang sholeh-sholehah tumbuh dari orang tua yang sholeh-sholehah? Anak-anak yang cerdas terdidik dari orang tua yang cerdas pula? Karenanya saya terus belajar, memantaskan diri untuk dapat mendidik anak-anak saya kelak sebaik mungkin, karena Allah ta’ala. READ MORE

NHW #3 : MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

“Ta’aruf sejati hanya dimulai dengan pernikahan, karena proses saling mengenal adalah proses seumur hidup, Bukankah manusia itu dinamis & terus berubah? Apabila 1 aqidah, sesuai kriterianya, sama pula visi misi nya, sekufu bila perlu, maka perkara lain hanyalah soal saling memaklumi & saling membetulkan. Urusan perasaan, tenang saja, seiring waktu berjalan, ia akan tumbuh. Bukankah Allah janjikan cinta dalam pernikahan?” Demikianlah kira-kira yang laki-laki itu katakan saat saya memastikan keyakinannya untuk meminang. Meski tanpa melalui proses perkenalan yang panjang, entah kenapa diri ini tiba-tiba begitu yakin untuk mengiyakan. Pendek cerita, selang 6 bulan pasca lamaran, pesta pernikahan kami diselenggarakan. Dari sini tampak bahwa, urusan memilih jodoh ternyata bukan hanya perihal memilih yang kaya atau tampan, bukan pula hanya sekedar memilih yang sholeh atau berpendidikan. Sebab meski sesempurna apapun ia, namun apabila aqidah dan visi misi hidupnya saja sudah berbeda dengan kita maka tentu pernikahan yang kelak akan kita jalani tak akan mampu menjadi bahtera, untuk membawa rumah tangga langgeng sampai ke surga seraya membangun peradaban dari dalam rumah. READ MORE