Tentang Hati yang Tertambat, Pada Sudut-Sudut Wisata Jogja

jogja

Kenangan adalah benda yang diam (jika ia bisa disebut benda). Tidak bergerak dan menetap seperti guci di sudut rumah yang tidak berpenghuni. Bisu dan angker. Ia menentang hukum waktu yang selalu bergerak. Ia tidak berubah bentuk. Ia terbingkai dan bingkainya ikut abadi selamanya. Ia tidak bisa dihapus. Ia permanen. Melekat seperti roh pada jasad dan jasad pada roh. Tidak seperti kehidupan, ia tidak menginginkan perubahan. Ia tidak bisa berubah. Ia tidak bisa diapa-apakan selain diterima sebagai bagian dari sejarah dan riwayat seseorang. (Kutipan paragraf Novel Cinta – (baca : cinta dengan titik) hal.74. 

Demikianlah kenanganku pada kota rindu, yang mereka sebut Jogja. Kenangan itu memang sesuatu yang begitu unik, ia menetap dalam hati. Ia tak berubah meski pemiliknya sendiri telah jauh berubah. Maka, izinkan saya memulai cerita ini dengan mengaduk-aduk kembali kenangan saya di kota itu. Menelusuri kembali lorong-lorong waktu, untuk mengingat-ingat bagian mana saja dari Jogja yang pernah membuat saya begitu dalam jatuh cinta. Mengulas objek-objek wisata dengan membuka kembali bingkai kenangan saya selama disana, memberi manfaat ganda baik bagi saya, maupun pembaca. Disatu sisi bisa menjadi informasi untuk pembaca, disisi lain bisa membuat saya bernostalgia. Bukankah ulasan yang semacam ini membahagiakan?

*****

 

wisata-jogja-bukareview

Memang rasanya, selain Pontianak dan Jogja tak ada lagi kota lainnya di Indonesia yang bisa saya ceritakan dengan terlalu menggebu-gebu. Pontianak, jelas karena ini tanah kelahiran saya, tempat saya lahir,tumbuh dan dibesarkan. Kota kecil yang kemudian saya sebut kampung halaman. Kemudian Jogja, karena di kota inilah potongan-potongan cerita tentang persahabatan, cinta, dikhianati, patah hati, pertemuan jodoh hingga proses pendewasaan diri yang saya alami terangkai dengan epic, menjadi sebuah kenangan.

Kedatangan saya mula-mula ke kota ini hanyalah sebagai wisatawan. Sama seperti wisatawan kebanyakan, objek wisata murah meriah yang rata-rata bisa dinikmati dengan gratisan membuat saya menjadikan Jogja sebagai destinasi wisata favorit untuk menghabiskan beberapa kali masa liburan. Setelahnya, saya datang kembali ke kota ini sebagai mahasiswa. Lulus di salah satu PTN favorit di kota ini akhirnya mengubah status saya dari yang semula hanya sekedar
wisatawan menjadi pelajar rantauan.

Setelah beberapa tahun saya melibatkan Jogja pada setiap tarikan nafas saya, tak terasa ternyata saya menemukan banyak cinta pada setiap sudut terkecil di kota ini. Tak hanya pada senyum teduh seorang laki-laki yang kini saya panggil suami, namun juga pada objek-objek wisata Jogja yang melatarbelakangi kisah cinta kami.

wisata-jogja
Kesederhanaan Jogja yang Terejawantah pada Gerobak-Gerobak Angkringan (Gambar via wowkeren)

Wisata Jogja, Wisata Penuh Kenangan

 

Bicara tentang wisata jogja, entah ada berapa banyak kalimat-kalimat indah untuk menggambarkannya. Sekali datang ke kota ini, siapapun pasti ingin kembali. Bagi yang belum pernah datang, Kota ini seringkali menjadi destinasi impian untuk dijamahi. Jogja memang bisa dengan mudah menggugah rasa, untuk kita kembali singgah.

Jogja memang tak sesejuk bandung, atau segemerlap Jakarta. Tapi justru dengan kebersahajaannyalah, Jogja mampu memikat hati siapa saja yang menyambanginya. Jogja adalah kota yang menawarkan hasrat damai nan menenangkan, lewat sayup-sayup nyanyian angklung di lampu merah, tikar dan jagung bakar yang mengitari pohon beringin kembar serta senyum ramah tukang parkir, musisi jalanan hingga para pedagang.

Jogja adalah kota yang membuat kita tak akan lupa, cara untuk memanusiakan manusia lainnya, sebab rasanya hanya di Jogja kita bisa melihat becak, andong, motor dan mobil mewah sama-sama melaju di ruas-ruas jalan utama. Sebab di kota ini, perbedaan kasta tak hanya sekedar ditentukan dengan tunggangan yang kita punya. Dialah kota yang mengajarkan bagaimana cara terbaik untuk jatuh cinta. Dia adalah kolase yang indah, Mahakarya Tuhan yang tercipta dari kesederhanaan angkringan, nikmatnya secangkir kopi likman, hiruk pikuk jalan gejayan dan kaliurang, kemolekan merapi dari kejauhan dan hangatnya fajar di bukit mangunan.

Senja Syahdu di Malioboro

jogja
Syahdunya Jalan Malioboro di Sore Hari (Gambar Milik Pribadi)

Bagi para pelancong yang baru pertama kali datang dan menginjakkan kaki di kota ini, perkenalan dengan Jogja seringnya berawal dari sebuah sudut magis nan legendaris di tengah pusat kota, Jalan Malioboro namanya. Sebagai jalan yang seringkali dikait-kaitkan dengan garis imajiner yang membelah antara pantai parangkusumo-keraton jogja dan gunung merapi, jalan ini selalu punya daya pikat yang menarik meski telah dikunjungi berkali-kali. Jalan Malioboro memang kini telah banyak bersolek, kemolekannya tak hanya soal andong, atau tembang tresno yang dimainkan grup musik angklung “carehal” dengan variasi musik yang tak hanya sarat akan tradisi tapi juga funky. Pemugaran wajah Jalan Malioboro menjadikan jalan utama di Jogja ini, kini menjadi semakin cantik, mulai dari ditambahkannya banyak lampu-lampu hias yang tersusun rapi hingga bangku-bangku kayu nan etnik serta jalur khusus untuk penyandanng disabilitas dan pejalan kaki.

Menikmati senja syahdu di Jalan Malioboro adalah pilihan wisata gratis yang kian digandrungi. Sore mewah ala Jogja adalah cukup dengan duduk saja disepanjang Jalan Malioboro, bersama sahabat atau pasangan tercinta, bertukar cerita dan bercanda tawa, sambil menikmati jajanan yang banyak dijajakan di sepanjang jalan. Fasilitas di Jalan Malioboro kini juga semakin lengkap, ada puluhan tempat sampah agar kebersihan lingkungan tetap terjaga bahkan, baru-baru ini ada toilet mewah yang disediakan gratis untuk para wisatawan. Hmm, bagaimana ya kira-kira sensasi pipis di toilet 5 milyar? 

Menikmati Tubuh Merapi Tanpa Harus Lelah Mendaki

wisata-jogja
Menikmati Kemolekan Merapi (Gambar Milik Pribadi)

Keberadaan Merapi telah membersamai kehidupan warga Jogja selama berabad-abad lamanya. Mulai dari ketika ia membadaikan awan panas dalam situasi yang tak terduga, kemudian memuntahkan lahar panas dan membinasakan manusia serta lingkungan di sekitarnya hingga ketika Ia menghidupi masyarakat dengan materi vulkanik berupa pasir, batu dan tanah-tanah subur pasca letusannya. Demikianlah, sama seperti cinta, merapi pun memiliki sisi kelam dan terang yang saling berimbang bagi masyarakat Jogja. 

Sisi kelam dan terang Merapi selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke kota ini. Berkunjunglah ke kaliurang atas tepatnya di wilayah desa Cangkringan. Dari sini kamu bisa menikmati tubuh merapi sambil menikmati udara sejuk yang menenangkan hati dan pikiran tanpa perlu lelah mendaki. Ibarat hubungan, ini sama halnya dengan bisa nikah dengan gebetan tanpa perlu membuang waktu untuk pacaran. Asik kan.

Demi memudahkanmu menikmati panorama merapi dari kaliurang, kini terdapat tur khusus yang bisa membantumu untuk menelusuri pesona Merapi dengan mobil jeep atap terbuka. Lava tour merapi namanya. Entah siapa yang pertama kali memulai tur ini, tapi kini tur yang memicu adrenalin ini telah menjadi pilihan wisata baru yang seru bagi wisatawan, sekaligus alternatif mata pencaharian bagi masyarakat kampung sekitar. 

WISATA-JOGJA
Lava Tour Merapi (Gambar Milik Pribadi)

Lava tour merapi akan menyajikan pemandangan gunung api vulkanik ini dari dua sisi yang bersebrangan. Sisi yang pertama tentu keindahannya, lekuk-lekuk tubuh dan paras merapi yang cantik akan membuai kita sepanjang perjalanan. Belum lagi wangi aroma tanah basah tersiram embun di pagi hari, menjadikan sajian pemandangan alam ini tampak kian sempurna. Sisi lainnya adalah bagian yang ironis, sebab wisata ini terbentuk pasca dampak erupsi Merapi yang meletus beberapa tahun silam. Bersama tur ini, wisatawan akan diajak menyusuri bekas aliran lahar dari letusan. Bergidik memang rasanya ketika membayangkan bagaimana alam dengan mudahnya membinasakan manusia dalam sekejap mata. Apalagi ditengah perjalanan, kita akan diajak mampir ke sebuah museum buatan warga, yang didirikan untuk mengingat peristiwa meletusnya Merapi, namanya “museum sisa hartaku”. Disini, kemolekan tubuh Merapi tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang agaknya ngeri. 

Tapi tak mengapa, begitulah memang cara Jogja menyajikan suka sekaligus duka dalam satu kegiatan wisata. Agar selama berwisata kita tak lupa, bahwasannya hidup memang terkadang menyajikan dua sisi yang berseberangan, namun saling melengkapi. Misalnya berkah keindahan alam yang justru lahir pasca bencana. Sebab bukankah tanah-tanah subur, pemandangan yang indah dan materi vulkanik yang menghidupi warga hanya dapat terbentuk pasca Merapi memuntahkan letusannya?

wisata-jogja
Gunung Merapi (Gambar Milik Pribadi)

Ngomong-ngomong, harga yang dipatok untuk tur ini memang tidak murah. Setidaknya, kamu harus merogoh sekitar tiga hingga empat ratus ribu untuk mengikuti tur ini, tergantung pada jenis atau merek jeep yang akan kamu naiki dan jarak rute yang kamu pilih. Namun tentu harga tak menjadi soal jika mengingat ganjarannya adalah keseruan sensasi “offroad” dan pesona kemegahan puncak merapi yang akan menyambut di akhir rute. Lava tour merapi beroperasi dari pukul 4.30 hingga 16.00 wib. Saran saya, datanglah sepagi mungkin sebab pemandangan terbaik adalah saat matahari baru beranjak naik dari peraduannya. Sinar hangat matahari yang menyapa puncak merapi malu-malu, akan menjadi suguhan alam yang cantik sekaligus syahdu.

Bertamasya ke Negeri di Atas Awan, di Bukit Mangunan

wisata-jogja
Bukit Mangunan (Gambar Milik Pribadi)

Malioboro dan Merapi adalah dua diantara sekian banyak objek wisata Jogja yang telah melegenda. Kini, di Jogja telah tumbuh banyak objek wisata baru yang akhir-akhir ini kian eksis di sosial media. Wisata Jogja memang seakan tidak ada habisnya. Selalu ada tempat-tempat wisata baru yang bermunculan, sehingga tak heran wisatawan rela datang kesini untuk yang kedua, ketiga, keempat kali hingga seterusnya.

Salah satu wisata Jogja yang belakangan ini digandrungi adalah Bukit Mangunan. Kalau tidak salah, objek wisata Jogja yang satu ini baru saja terkenal sejak beberapa tahun lalu. Sering dijadikan tempat berswafoto oleh anak muda, hingga lokasi pre-wedding oleh pasangan yang akan menikah. Termasuk oleh saya hehe.

Terletak di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Objek wisata ini bisa dicapai dengan menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari pusat kota Jogja. Dengan biaya masuk yang murah meriah yaitu sekitar 5 ribu rupiah saja, wisatawan akan dimanjakan oleh pemandangan hamparan perbukitan yang hijau, berselimut kabut tipis yang menghiasi pandangan. Menyaksikan goresan lukisan alam yang tertoreh sempurna di Bukit Mangunan, dapat menjadi pilihan wisata asyik bagi wisatawan, tanpa harus membuat dompet kebobolan.

Wisata-Jogja
Berfoto Ria di Bukit Mangunan (Gambar Milik Pribadi)

Objek wisata ini memiliki beberapa gardu pandang, masing-masing memiliki pemandangan yang berbeda antara satu dan lainnya. Pemandangan antara tempat kamu berdiri dan perbukitan di seberang sana akan dipisahkan oleh aliran sugai Oya yang meliuk-liuk indah sekali. Wisatawan harus mengantri untuk bisa menikmati pemandangan dari tiap-tiap gardu pandang yang ada. Agar tak antre terlalu panjang, datanglah pagi-pagi, meskipun udara sejuk menusuk kulit, namun setidaknya kamu bisa sedikit berlama-lama menikmati pemandangan tanpa harus dipaksa turun oleh mereka yang antre selanjutnya.

Hutan Pinus Mangunan
Menelusuri Negeri Dongeng di Hutan Pinus Mangunan (Gambar Milik Pribadi)

Tak jauh dari Bukit Mangunan, ada pula sebuah objek wisata baru, namanya Hutan Pinus Mangunan, lokasinya hanya sekitar 1 kilometer dari Bukit Mangunan yang saya ceritakan tadi. Jika Bukit Mangunan menawarkan pemandangan negeri di atas awan, maka disini kamu akan merasakan megahnya hutan pinus seakan-akan sedang berada di negeri dongeng. Objek wisata ini sangat cocok untuk kamu yang ingin merasakan indahnya panorama alam, sambil berfoto-foto untuk mengisi feed Instagram.

wisata-jogja
Hutan Pinus Mangunan (Gambar Milik Pribadi)

Sepulang dari kawasan wisata Mangunan, tak ada salahnya jika kamu mampir ke salah satu kuliner kebanggaan masyarakat bantul, yaitu sate klathak yang terletak di Jalan Imogiri. Nikmatnya sate kambing muda dengan kuah gulai yang aduhai, akan melengkapi pengalaman wisata singkatmu di Jogja.

Mari Kita Membayar Rindu

Hati saya memang telah tertambat di sudut-sudut kota ini. Dari utara ke selatan, dari Kaliurang ke Imogiri. Menceritakan secuil wisata Jogja pada kalian saja sudah cukup sanggup membuat dada ini terasa sesak oleh rindu. Kata orang, cara terbaik membayar rindu adalah dengan bertemu. Maka, menjumpai Jogja kembali adalah agenda yang sedang saya rencanakan pada liburan kali ini.

Hal pertama yang harus disiapkan saat merencanakan perjalanan ke Jogja dari Pontianak tentunya adalah membeli tiket pesawat. Berkat pengalaman bertahun-tahun menjadi anak rantau, boleh dibilang saya cukup piawai dalam berburu tiket pesawat. Biasanya sekalipun sedang high season, saya bisa mendapatkan tiket pesawat dengan harga terbaik. Ini sebuah prestasi yang cukup membanggakan bagi seorang perantau, bukan?

wisata-jogja
Infografis oleh Rizka Edmanda

Membeli tiket pesawat murah memang biasanya untung-untungan, tapi demi memperbesar peluang, saran saya belilah tiket pada layanan travel yang telah terpercaya. Di era digital seperti saat ini, kita pun bisa dengan mudah berburu tiket pesawat murah lewat marketplace yang menawarkan penjualan tiket pesawat. Di Bukalapak misalnya. Marketplace kebanggaan orang Indonesia ini telah menjadi “one stop solution” bagi banyak orang untuk mencari dan membayar apa saja, mulai dari membeli barang, pulsa atau paket data, membayar listrik prabayar, menyalurkan donasi, termasuk membeli tiket pesawat.

Memesan tiket pesawat di Bukalapak sangatlah mudah, bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja baik melalui aplikasi atau situsnya. Melalui Bukalapak, kita bisa membeli tiket pesawat online 24 jam nonstop dengan proses yang aman dan terpercaya. Pilihan destinasi tujuan juga beragam, yang menjadi favorit adalah Bali, Surabaya, Lombok, Malang, Medan dan Yogyakarta. Selain melayani pembelian tiket penerbangan domestik, Bukalapak juga menyediakan pembelian tiket keluar negri.

Sistem pembayaran yang ditawarkan juga variatif, sehingga akan memudahkan kita untuk melakukan pembayaran. Diantaranya bisa dilakukan dengan saldo BukaDompet, Kredivo, Transfer Bank, atau pembayaran langsung di Alfamart dan Indomaret. Serta cicilan kredit dengan bunga 0%.

tugu-jogja
Tugu Jogja Boleh Berhias, Tapi Please Jangan Pernah Berubah ya.. (Gambar Via Wisatakaka)

Jogja memang telah banyak berubah. Namun didalam hati siapa saja yang mencintainya, Ia akan tetap sama. Tetap istimewa. Tak peduli semacet apapun Jalan Gejayan, Jogja akan tetap punya alasan untuk membuat saya terkesan. Hiruk pikuk Jogja di masa sekarang, tak akan mengubah sedikitpun kenangan manis yang pernah saya tambatkan di sudut-sudut kota ini. Siapapun yang pernah datang, singgah atau menetap di kota ini pasti tau betapa Jogja layak untuk dicintai. Keramahan senyum yang tak pernah lepas dari para penduduk aslinya, kuliner enak dan objek wisata murah meriah, hingga beragam atraksi jalanan yang menyenangkan adalah sekelumit alasan mengapa Jogja begitu sulit untuk lepas dari ingatan.

Jogja itu Muara Rindu. Mengunjunginya adalah candu. Hmmm, Saya pun sudah tak sabar ingin mencumbui sudut-sudut terindahnya kembali

 

Rizka Edmanda

89 Comments

  1. Berbangalah yang jadi warga Jogja, pengen banget ih wisatanya keren-keren apalagi dijadikan tempat prewed ini ya Mba? Asikk dan gemes ya diabadikan dalam sebuah foto.

  2. Masya Allah.. bagus-bagus banget fotonyaaa.. hihihi.. orangnya cantik, obyek wisatanya juga cantik. Hemm..
    Saya terakhir ke Jogja 20 tahun yg lalu kayaknya. Haha. Dan Malioboro, udah banyak banget perubahan lah yaa 😊

  3. Seruuuu Yogya, gak sabar pengen kembali lagi ke sana 😀
    Ooo ternyata di bukalapak bisa jg beli tiket pesawat ya mbak, aku baru tau, kebetulan lg nyari tiket nih, ntr aku coba cek ah, kali harga lbh murah. Thanks infonya ya 😀

  4. Bagus banget yaa Jalan Malioboro. Romantis kalo sepi wkwkwk.. Kemarin saya ke sana pas lagi rame sih. Jadinya ya gitu deeeh.. gak bisa masuk.

  5. Ahh aku gagal fokus sama foto fotonya kak. Ya alloh indah dan bikin baper #eaaaa.
    Jogja emang istimewa ya kak. Aku aja pengen balik lagi ke jogja nih

  6. Rizka, foto-fotomu so stunning banget siiyyy… Aku selalu suka melihat foto-fotomu, selalu terkonsep gitu ya.
    Jogja bagiku pun merupakan kota yang sangat ngangeni. Meski tak pernah lama tinggal di sana, namun selalu ada yang membuatku ingin menjelajahinya berlama-lama. Asyik aja gitu ya kotanya.

  7. Wah wah …. saya juga sudah 2 kali ke Jogja, mbak. Dan selalu ingin kembali ke sana. Betul sekali, Jogja memang tak sesejuk Bandung pula tak segemerlap Jakarta namun entah kenapa ia seperti mempunyai medan magnet yang membuat siapa pun ingin kembali mengunjunginya.

    Btw, ini foto-foto pre-wedding ya? CMIIW. Hehee… semenjak 2 kali ke Jogja saya pun terpikirkan untuk bisa foto-foto Pre-Wedding atau ‘After-Wedding’ alias Honeymoon di lokasi-lokasi cantiknya Jogja sama istriku nanti. 😀

    Good Luck Mbak Rizka untuk #BukaReview nya. 🙂
    Mampir2 ke blogku ya mbak …

  8. Ahhhhh paling seneng jika ada yang bikin artikel tentang ‘RINDU JOGJA’ gini.
    Sebagai anak rantau yang lahir dan besar di Jogja, kerinduan dengan kota itu tetap sama dan tidak pernah luntur.

  9. Sukaaa bacanya. Syahdu banget dan informatif. Foto-fotonya juga keren. Itu foto prewed atau pasca wed yang dibikin khusus untuk artikel ini? Heheh…

  10. Bener banget mba, pernah tinggal di jogja beberapa bulan. Padahal kaya udah semua tempat dikunjungi tapi entah ngga pernah bosen sama jogja❤️

  11. Wah aku salah fokus. Foto-fotonya bagus bagus bangeeet selain panorama alam wisatanya yang memang sudah indah ya. Keren. Wisata Jogja itu ngangenin. Kalau sekali dua kali datang pasti kepengen balik lagi. Apalagi banyak pilihan penginapan nya yang tematik dan natural. Suka banget.

  12. Dari destinasi diatas, aku yang belum pernah ke larva merapi.. mangunan indah banget ya.. aku kesana tahun lalu sama teman-teman.. hutan pinus dan pemandangan bukitnya beneran bikin rindu kembali ke jogja..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *