Birth Story : Qonita Raysa Andariz

cerita-melahirkan

Qonita Rasya Andariz

Halo! Hampir sebulan blog ini gak di update karna memang sejak mei kemarin saya mulai -bener-bener- fokus sama kehamilan saya yang sudah mendekati HPL waktu itu. Minggu minggu terakhir kehamilan, saya disibukkan dengan kegiatan berpetualang mencari dokter obgyn yang pro normal di pontianak, juga sibuk bolak balik ke RS buat CTG baby qonita yang masih betah di rahim atau sekedar ngecek jantung nya lewat fetal doppler di bidan. Pokoknya minggu-minggu terakhir kehamilan ini jadi thrilling moment banget buat saya, saya yang sebelumnya sangat-sangat santai menjalani kehamilan jujur jadi parno juga saat diwanti-wanti oleh beberapa dokter obgyn karena kehamilan saya dikatakan “sudah lewat bulan” sehingga janin saya harus segera dilahirkan. tapi Alhamdulillah setiap janin memang berhak memilih cerita lahirnya masing-masing.. begitupun dengan baby qonita. Semua dokter mungkin boleh memprediksi baby qonita akan lahir di bulan mei.. tapi kalau Allah dan qonita sendiri pinginnya lahiran juni, hayoo kita bisa apa… Beberapa dokter mungkin bisa “mengancam” saya untuk segera mengambil tindakan operasi karna kehamilan yang dikatakan sudah beresiko, tapi jika Allah ingin baby Qonita terlahir dengan alami… lalu kita bisa apa? hihi..tapi tapi, ini bukan tentang kapan Qonita lahir atau dengan cara yang seperti apa, bukan… lebih penting dari itu semua, cerita ini adalah tentang bagaimana saya mencoba memaknai sebuah peristiwa penting dan sakral dalam kehidupan yaitu persalinan…

*****

Kehamilan 39 – 40 minggu :

Minggu-miggu ini saya lalui dengan perasaan yang galau, kontraksi palsu mulai sering datang. Rasanya cukup kuat, bahkan gak jarang bikin saya sampai berkunang-kunang dan hampir pingsan. Tapi ritme dan durasi nya belum teratur, jadi saya tau ini bukan kontraksi persalinan yang sesungguhnya. Tanggal 15 mei saya dan dani akhirnya menemui seorang dokter obgyn wanita di sebuah klinik untuk mengecek kehamilan saya. Saat kami di pangkalan bun, dokter obgyn yang memeriksa kehamilan saya sejak awal memang sudah memprediksi bahwa saya akan melahirkan sekitar tanggal 20-24an mei, begitupula dengan dokter wanita ini.

Setelah mengecek lewat USG Dokter obgyn yang tidak perlu saya sebutkan namanya ini mewanti-wanti, bahkan memberi saya “deadline” tanggal dimana janin harus segera dilahirkan, sejujurnya saya kurang nyaman waktu beliau ngasih “deadline” semacam ini. Karna secara teori saya faham bahwa janin yang lewat bulan / lewat HPL sebenarnya bisa ditunggu bahkan sampai usia kehamilan 42 minggu dengan catatan, semua kondisi nya masih oke (kesehatan ibu, kualitas ketubannya, plasenta nya dan janin nya itu sendiri) tapi menurut beliau kehamilan diatas usia kehamilan 40 minggu biasanya sering terjadi “gawat janin” entah itu cairan ketuban yang semakin berkurang, plasenta yang mulai tua dan lain sebagainya. Dokter ini pun bilang kalau janin saya terlilit tali pusat, dengan kondisi cairan ketuban yang mulai berkurang di usia kehamilan saya yang sudah lewat ini katanya memang beresiko. “saya gak bertanggung jawab ya kalau gak segera diambil tindakan tanggal 28 mei nanti” begitu kira-kira katanya. Tapi naluri keibuan saya bilang qonita masih aman didalam sana, lagipun saya sama sekali belum ada bukaan, saya takut jika dilakukan induksi dalam kondisi seperti ini maka induksi nya akan gagal. Karena saya teringat pada materi yang sempat diberikan saat saya mengikuti kelas hypnobirthing bersama bidan yessi aprilia beberapa bulan lalu, bahwa kalaupun dalam persalinan terpaksa harus dilakukan induksi, maka untuk memprediksi presentase keberhasilan proses induksi tersebut dapat dilihat dari Skor Bishop, yaitu skor untuk menilai sudah sejauh mana kepala janin turun, bagaimana kematangan serviks dan lain sebagainya. Nah sayang dokter ini sama sekali gak mengecek hal-hal tersebut, ujug-ujug cuma nyuruh induksi.

btw kalau kalian ingin tau Lebih jelasnya soal skor bishop untuk bisa memprediksi keberhasilan  induksi, bisa dibaca di artikel ini : Penting untuk diperhitungkan sebelum melakukan induksi

Nah akhirnya saya dan dani menemui bidan di sebuah klinik, untuk melakukan pemeriksaan dalam, penasaran aja sih, siapa tau sudah ada bukaan, toh pada beberapa orang bisa saja proses bukaan terjadi tanpa adanya kontraksi yang teratur. Saat di cek dalam, Bidan itu bilang kalau kepala janin saya sudah masuk panggul tapi masih “tinggi” dan belum ada bukaan sama sekali, serviks masih kaku dan ketat sekali. Keterangan dari bidan tersebut membuat kami tambah merasa gak yakin untuk dilakukan induksi saat itu, bukannya “alergi” sama intervensi medis tapi rasanya kalau nekat, presentase induksinya berhasil pasti akan kecil sekali. akhirnya kami pulang dan mencoba ikhtiar dulu buat melakukan induksi alami. Sambil mencari alternatif pendapat dari dokter obgyn lain.

Karna saya dan dani mikir ini masih 39 minggu  ya udah kami memilih mau nunggu aja, masih ada waktu 3 minggu lagi, siapa tau minggu-minggu depan baby qonita lahir. Sambil menunggu baby qonita lahir, saya semakin rutin melakukan induksi alami dirumah. Caranya macem-macem sih mulai dari cara yang memang disarankan sama dokter/bidan kayak berhubungan “ehem” sama suami yang katanya bisa memicu hormon oksitosin buat merangsang kontraksi dan mendapatkan prostaglandin dari sperma suami yang bisa membantu melunakkan leher rahim, melakukan komunikasi dengan janin, melakukan berbagai prenatal yoga sampai dengan makan pepaya muda , nanas dan kiwi yang katanya bisa membantu melunakkan serviks, pokoknya berbagai macem cara saya lakukan dari yang logis sampe cara yang konon hanya mitos belaka 🤣

Selain kontraksi palsu yang sangat sering datang, di minggu ke 39 ini saya juga mulai merasakan tanda-tanda awal persalinan seperti keluarnya flek ringan bercampur lendir dan sensasi “dropping” atau janin yang seakan-akan turun menekan rongga panggil, Efeknya saya jadi makin sering kebelet pipis, panggul mulai pegel dan di area pinggang-panggul kadang berasa kayak ada sesuatu yang mendesak turun. Sempet googling soal tanda-tanda mau melahirkan dan dari berbagai artikel yang saya baca hampir semua gejala/tanda-tanda mau melahirkan yang ditulis disitu sebenarnya sudah saya rasakan, tapi baby qonita memang belum mau lahir. so sad 🙁

Kabar buruknya dari kehamilan di akhir minggu ke 39 ini adalah saya terkena cacar air, kebayang kan galaunya kayak gimana? sudahlah sedang harap-harap cemas menunggu HPL dikasi ujian terkena cacar air pula. Uhhh dalam kondisi terkena cacar air seperti ini saya jadi berharap bisa bener-bener pulih dulu aja baru lahiran biar pas qonita lahir saya sudah fit dan qonita tidak terjangkit.

Saat kembali ke dokter tadi untuk minta obat cacar air yang aman untuk ibu hamil, dokter itu malah semakin menjadi-jadi “menghasut” saya agar segera melakukan terminasi (upaya mengakhiri kehamilan lewat induksi/SC) sesegera mungkin. Kali ini saya bener-bener jadi ilfeel sama beliau hehe, oleh beliau saya dikasi resep untuk obat cacar air nya dan surat pengantar untuk melakukan induksi. yang tentu saja surat tersebut cuma kami simpan buat kenang-kenangan 🤣 karena akhirnya kami pindah dokter, pengen cari dokter lain yang lebih “sabar” biar saya gak diburu-buru terus buat lahiran… bingung deh, yang punya anak saya kok yang gak sabaran dokternya ya 😛

Keputusan saya dan dani untuk menolak rencana tindakan induksi/ SC dari dokter tersebut bukan tanpa alasan, ini berani saya lakukan karena saya sudah mencari alternatif pendapat dari dokter lain, pun saya sudah melakukan CTG di dokter obgyn & RS lain dan hasilnya baby qonita masih bisa dikatakan “aman” walaupun sudah lewat bulan, tapi saya juga diingatkan supaya gak lalai, harus terus ngecek gerakan janin dan jantung nya lewat fetal doppler di bidan terdekat karna cairan ketubannya memang sudah mulai habis.

Sekedar saran, Bagi teman-teman yang sedang hamil dan mengalami cerita serupa seperti saya, seandainya di vonis ini itu yang gak menyenangkan oleh 1 dokter, saya sarankan untuk terus mencari pendapat kedua bahkan ketiga dari dokter obgyn yang berbeda, cari dokter yang pro normal. Karena begitulah kira-kira, persalinan normal di jaman sekarang katanya memang harus agak “diperjuangkan”.  Jadi jangan nyerah sama pendapat 1 dokter aja 🙂

40 minggu –  HPL = hari perkiraan lahir BUKAN hari pasti lahir!

Alhamdulillah cacar air saya sembuh dalam waktu beberapa hari aja, yeay! ga nyangka bisa pulih secepat itu, soalnya yang saya baca di internet katanya cacar air pada orang dewasa membutuhkan proses pemulihan yang lebih lama, tapi Alhamdulillah dalam 4-5 hari kemudian lentingannya mulai kering badan saya pun mulai terasa nyaman. trus karna ngerasa udah fit akhirnya doa lagi sama Allah, “oke Allah ini saya udah merasa sembuh nih, boleh nih kalo mau dikasi lahiran minggu ini” ~ Tapi Qadarullah , Allah belum juga berkehendak menentukan kelahiran Baby Qonita di minggu ke 40 ini.

tanggal 30 mei, saya melakukan konsultasi kembali dengan dokter obgyn di RS tempat rencana saya akan melahirkan, tentu bukan di dokter pertama yang ngeburu-buru mau men-terminasi kehamilan saya kemarin itu, saya udah pindah dokter. dan dari beberapa kali pencarian akhirnya takdir mempertemukan saya dengan Dr.Saukani Halim S.pog , beliau salah satu dokter obgyn senior di Pontianak, usianya sekitar 60-70an jadi pengalamannya tentu tidak bisa diremehkan. Oleh dokter saukani, saya juga dibekali surat pengantar induksi jika dibutuhkan sewaktu-waktu. Tapi beliau gak ngeburu-buru, saya dipersilahkan mencoba dulu ikhtiar induksi alami dirumah.

31 Mei 2018 – 41 minggu Bukaan 2

Hari ini saya merasakan kembali kontraksi yang beberapa hari lalu sempat hilang, saat saya terkena cacar air. kontraksi yang cukup intens dan teratur. Akhirnya karena penasaran saya hubungi Bidan Mia, seorang teman yang bekerja sebagai bidan di sebuah klinik swasta di Pontianak untuk membantu saya melakukan pengecakan dalam , saat diperiksa ternyata saya sudah bukaan 2. Bahagia banget karena akhirnya kontraksi ini ada proggres nya beda sama kontraksi-kontraksi kemarin yang PHP semua 🙁

Sama temen saya ini, katanya kepala janin saya juga udah turun banget, serviks / leher rahim juga udah mateng dan lunak, menurut dia kalaupun dilakukan Induksi InsyaAllah 80% kemungkinan akan berhasil. Baiklah walaupun demikian, saya tetep keukeuh ga mau nyerah, pengen ikhtiar lagi supaya bukaan nambah dengan alami. Akhirnya pulang dari klinik tempat dia kerja saya dan dani mampir ke mall, kami main di fun station, main joget-joget  , setiap kontraksi datang saya joget sejoget-jogetnya kayak udah ga peduli kanan kiri haha saya berusaha menikmati setiap gelombang kontraksi yang datang tiap 10-15 menit sekali ini.

Malamnya, pas tidur saya ngerasa kayak ada sensasi basah di celana dalam, saya terbangun karena khawatir ketuban pecah dini. Pas dicek ternyata hanya lendir bercampur darah yang jumlahnya lumayan banyak. Sepanjang malam saya gak bisa tidur, kontraksinya jadi makin rapat sekitar 5 menit sekali, tapi bisa tiba-tiba hilang selama beberapa jam lalu datang lagi. Rasanya juga berlipat-lipat kali lebih kuat daripada kontraksi yang saya rasakan sebelumnya. Akhirnya saat itu juga saya ajak dani segera ke Rumah sakit. Sesampainya di IGD saya di periksa dalam lagi dan ternyata masih aja bukaan 2 :”)

Jumat 1 Juni 2018, Jam 1 Pagi

Karena udah males bolak balik akibat rasa nikmat kontraksi yang udah ga ketulungan, akhirnya kami langsung menginap disitu subuh itu juga, saya langsung masuk kamar dan dani mengurus administrasi. Saya keluarin deh tuh segala macem jimat-jimat saya mulai dari birthing ball buat latihan yoga dikamar, kurma, madu dan telor ayam kampung buat nambah tenaga pas persalinan. Nyampe kamar saya gak langsung tidur karna emang gak bisa tidur, saya memilih buat maenan birthing ball di teras kamar RS, melakukan pelvic rocking, naik turun tangga RS, melakukan pose-pose yoga ringan kayak baddha konasana dan malasana untuk membantu baby qonita segera turun turun seturun-turunnya ke panggul, juga makan kurma sebanyak-banyaknya berharap ikhtiar ini bisa membantu nambah bukaan. Jam demi jam berlalu, bidan hilir mudik bolak balik kamar untuk melakukan observasi dan mengecek kemajuan persalinan sekaligus kesejahteraan janin didalam, hingga 4 kali observasi sampai sekitar pukul 3 sore ternyata bukaan saya nambah.. Alhamdulillah jadi bukaan 3. Lumayan lah ya semaleman meringkuk-ringkuk menahan sensasi gelombang cinta akhirnya nambah bukaan jadi 3 haha! tapi sedihnya janin didalam malah tampak mulai stress, dari hasil CTG ditemukan kalau detak jantung janin saya sempat turun, Sekitar Pukul 15.00 sore bidan jaga datang, saya ditawari untuk dilakukan induksi saat itu juga, karena nikmat kontraksi yang semakin menjadi-jadi ditambah pertimbangan bahwa saya gak mau ngambil resiko terjadi apa-apa dengan baby qonita akhirnya saya menyetujui keputusan untuk induksi, setelah dani menandatangani beberapa surat-surat, Bidan jaga mulai menyuntikkan cairan oksitosin sintetis ke tubuh saya… deg deg deg proses induksi dimulai…

Ngomong-ngomong soal induksi, sebelum saya merasakannya sendiri, seringkali kata-kata induksi dianggap horor, dianggap menyeramkan dan menakutkan. Dari pengalaman saya, kontraksi yang dipicu dengan induksi memang berkali-kali lipat lebih dahsyat daripada kontraksi alami. Tapi ini semua tergantung ambang nyeri masing-masing orang, ada yang merasa ga begitu dahsyat ada yang dahsyat luar biasa.Dan ini juga tergantung kemampuan kita mengelola rasa sakit. hehe dan Seperti yang saya ceritakan di awal tadi, proses induksi tidak selalu berhasil, pada beberapa orang bahkan 2 botol infus induksi bisa saja tidak membuahkan hasil, meskipun pada sebagian orang lain justru sebaliknya baru beberapa tetes aja biasanya udah ngefek luar biasa dan bukaan maju dengan cepat seperti yang terjadi pada saya. Nah Dari awal saya sudah sadar akan adanya resiko kegagalan induksi ini, bahwa jika induksi gagal maka saya harus berakhir dengan terbaring di meja operasi. Tapi keputusan untuk melakukan induksi saat itu bagi saya dan dani adalah jalan terakhir, bila dibandingkan dengan resiko jika saya menunda-nunda kelahiran lagi, maka rasa nikmat induksi rasanya jadi tidak ada apa-apa. Disela-sela kontraksi saat induksi yang maha dahsyat itu, saya dan dani menyempatkan selfie, berpelukan, bergurau untuk me-release rasa nikmat yang hilang datang, tapi itu semua hanya berlangsung beberapa belas menit saja haha karena selang 30 menit kemudian, rasa nikmat kontraksi nya kayak udah gak bisa dibantah lagi, saya udah gak bisa diajak bercanda kayak menit-menit sebelumnya, saya cuma bisa beristighfar sambil mengatur nafas sebagaimana diajarkan oleh Bidan Wella yang sedang dinas sore itu. Sebagaimanapun maha dahsyatnya rasa kontraksi saat dilakukan induksi, saya berusaha supaya gak ngeluh apalagi teriak-teriak, karna kata Bidan Wella kalau saya cemas dan panik janin didalam akan semakin stress dan jantung nya akan semakin melemah. Akhirnya saya berusaha mengalihkan perhatian, dengan membayangkan akan bagaimana wajah baby qonita saat lahir nanti, mirip siapa kira-kira, dan membayangkan perasaan bahagia tidak terkira karena sesegeranya saya akan berjumpa dengan manusia kecil yang 9 bulan ini menjadi teman setia saya, selama 1×24 jam

Jumat, 1 Juni Pukul 5.30 an sore (saya lupa pastinya jam berapa tapi kira-kira 1 jam sebelum saya melahirkan) :

Rasa kontraksi semakin gak ketahan. Bidan Wella datang ingin mengecek bukaan, tapi saya rasanya bener-bener udah mau mengejan, rasanya kepala bayi udah bener-bener ada dibawah. Pas bidan wella ngecek bukaan, dia langsung bilang “ibu ini udah bukaan lengkap” Saya langsung menangis terharu.  gak menyangka proses induksi saya akan secepat itu, padahal di awal bidan bilang proses induksi biasanya memakan waktu beberapa jam , bisa sampai 8-11 jam. Bidan Wella bergegas, menyiapkan semua peralatan, saya diposisikan untuk siap bersalin. Dani dan mama nemanin proses persalinan saya. Menurut saya, proses persalinan kemarin gak mirip kayak yang biasanya ada di film-film haha, saya baru bersuara agak keras di detik-detik terakhir pas kepala janin udah mulai nongol keluar, pengen sih teriak ala-ala kayak di film-film tapi kok ya malu hihi… Biasanya dalam proses persalinan bidan akan memandu pasien untuk mengejan tapi kemarin oleh Bidan Wella saya justru dibebaskan mengikuti insting saya sendiri, ini justru sangat meringankan saya karna sebetulnya saya yang tau sendiri tubuh saya, kapan naluri saya ingin mengejan dan kapan tidak itu kan yang tau saya sendiri. Nah biasanya Hasrat mengejan datang bersamaan dengan datangnya kontraksi jadi Bidan Wella cuma bilang kalau kontraksi datang cepat-cepatlah ngejan, “ngejannya di pantat ya bu bukan di leher” kata Bidan Wella , tapi sungguh di saat-saat genting semacam itu saya udah ga bisa bedain pantat sama leher -,-

di detik-detik ini rasanya semangat dan energi saya hampir habis. Tapi saya percaya bahwa tubuh wanita dirancang untuk melahirkan, jadi saya hanya mempercayakan tubuh saya untuk melakukan apa yang dia mau. juga mempercayakan bayi saya bahwa dia akan keluar dengan selamat, dengan caranya sendiri. Beruntung Bidan Wella mengamini, Bidan Muda yang sabar ini benar-benar membiarkan saya dan tubuh saya untuk mengejan menurut insting tubuh saya sendiri, bahkan saya dibebaskan mengambil posisi apapun yang saya suka, tidak cuma berbaring tapi juga jongkok ataupun berbaring miring. Dalam situasi semacam ini hanya 1 yang menguatkan saya , yaitu ingatan bahwa semakin sakit rasa kontraksi yang datang maka akan semakin dekat pertemuan saya dengan baby Qonita, perjuangan saya ini ga seberapa karena didalam sana baby Qonita juga sedang berjuang untuk mencari jalan lahir agar dapat segera ketemu sama saya..

Alhamdulillah, Tsumma Alhamdulillah… Jumat 1 Juni 2018, 17 Ramadhan 1439 H Pukul 18.23 wib, Baby Qonita Lahir ke Dunia…

Qonita Rasya Andariz – 3,170 kg – 52 cm

setelah beberapa kali mengejan, akhirnya tepat di pukul 18.23 wib buah dari perjuangan selama 41 minggu lebih ini akhirnya terlahir, Qonita Raysa Andariz anak perempuan pertama kami menyapa dunia dengan tangisan yang kencang, sesaat setelah baby Qonita lahir maka disaat yang sama saya pun terlahir pula sebagai Ibu, Dani terlahir sebagai Ayah, kedua orang tua kami terlahir sebagai kakek dan nenek dan adik-adik kami terlahir pula sebagai om dan tante. Hari ini, di detik ini baby Qonita telah berjasa melahirkan banyak orang dengan peran-peran baru dalam kehidupan. Terima kasih nak.. 🙂
Hingga akhirnya saya menemukan hikmah bahwa proses persalinan , sejatinya adalah sebuah proses yang sakral dalam hidup, peristiwa ini tidak hanya memberikan kita kesempatan untuk melahirkan tapi juga terlahir sebagai individu yang baru. Proses melahirkan mengajarkan saya bahwa dalam hidup, pilihan-pilihan dan hal-hal yang kita mimpikan memang harus diperjuangkan. Proses melahirkan mengubah persepsi saya dalam banyak hal. Saya tiba-tiba menjadi begitu kagum dengan profesi bidan, mereka berjasa mengantarkan jutaan ibu di dunia untuk menyapa buah hatinya, saya tiba-tiba menjadi semakin bangga terlahir sebagai wanita sebab di rahim-rahim kita, Allah titipkan Maha Karya-Nya yang agung…

Rizka Edmanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *