A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

“Saya bersyukur akan kehadiran Ibu Wiwin dalam hidup saya, sebab darinya saya dapat merasakan kasih sayang seorang Ibu yang tak pernah saya rasakan sedari kecil” ungkap seorang santri tunanetra penghafal Al-Quran di Panti Asuhan Ar-Rahmah kala menceritakan sosok Ibu Wiwin yang selama ini telah mengasuhnya.

Namanya Ibu Wiwin. Usianya memang sudah tak lagi muda, namun parasnya yang cantik dan tutur katanya yang lembut membuat sejuk siapapun yang sedang berbicara padanya. Awal perkenalan saya pada Ibu Wiwin terjadi pada pertengahan tahun 2016. Ketika itu, saya bersama teman-teman SMA mengadakan donasi sembako untuk beberapa panti asuhan yang ada di Pontianak. Panti Asuhan Tunanentra Ar-Rahmah adalah salah satu penerimanya. Hingga sejak saat itu saya pun kerap datang kembali ke pondok ini untuk bersilahturahmi dengan para santri disana. Dari sinilah awal kedekatan saya dengan Ibu Wiwin dimulai.

 

Sore itu cukup cerah, saya dan beberapa teman sudah berjanji akan datang ke Pondok Tahfidz Ar-Rahmah pada pukul 3 sore. Sebelumnya saya telah menghubungi Ibu Wiwin melalui whatsapp untuk mengabarkan rencana kedatangan kami hari itu. Tepat pukul 3 sore kami tiba di Pondok Tahfidz Ar-Rahmah yang berlokasi di Jalan Seram dekat Taman Akcaya Pontianak.

Ibu Wiwin menyambut kedatangan kami di depan pintu, dan menjawab salam dengan wajah sumringah, “Wa’alaikumsalam, ayo mari masuk dik”. Ibu Wiwin tak berubah sejak pertama kali saya mengenalnya dulu, Ia selalu ramah, menyambut siapa saja yang datang ke Pondok dengan senyum dan sukacita. Sementara itu, di ruang tengah berjajar rapi beberapa penghuni panti yang tengah sibuk murojaah hafalan Al-Qurannya. Lantunan bacaan Al-Quran yang dilantunkan oleh para Santri, terdengar khusyuk sekaligus menyejukkan hati. 

Panti asuhan ini memang istimewa, berbeda dari panti asuhan biasa pondok ini tak hanya menampung para santri dari kaum dhuafa namun disini santri yang semuanya adalah tunanetra juga disekolahkan serta dididik untuk menjadi tahfidz dan tahfidzah atau penghafal Al-Quran. Ada 2 orang guru mengaji yang mengajar para santri disini, seorang guru yang juga penyandang tunanetra untuk mengajar para santri membaca Al-Quran Braille dan seorang guru lagi yang merupakan suami dari Ibu Wiwin sendiri. Datang ke pondok ini selalu memberikan kebahagiaan dan hidayah tersendiri untuk saya. Bagaimana tidak, keimanan saya seketika terpecut kala melihat semangat adik-adik yang dengan segala keterbatasan fisiknya tetap berusaha keras menghafalkan Al-Quran. 

 

 

 

Sekalipun bangunannya sederhana, tak banyak orang mengira pondok ini telah melahirkan banyak generasi tunanetra berprestasi, baik dalam bidang Agama, dakwah, akademis, olahraga dan seni.  Jika tak percaya, lihatlah pada video yang saya kutip dari beberapa channel youtube media massa yang pernah meliput prestasi santri-santri Ar-Rahmah diatas. Sebut saja seorang santri bernama Nova meski usianya baru 15 tahun Ia telah menjuarai perlombaan MTQ Se-Kalimantan Barat dan mendapatkan Juara ke 2. Ada pula Febri, yang bahkan pernah menjuarai perlombaan MTQ tingkat Nasional. Di bidang olaharaga catur, seorang santri bernama Fifi juga pernah menoreh prestasi, Ia mendapatkan juara 3 perlombaan catur se-Kalimantan Barat.  

 

Ibu Wiwin dan Kiprahnya dalam Mengasuh Para Santri Tunanetra di Pondok Tahfidz Ar-Rahmah 

 

 

Malaikat tak bersayap itu bernama Aswiwin

 Dibalik gemilangnya prestasi para santri di Pondok Tahfidz Ar Rahmah, ada peran besar seorang wanita yang tak boleh diabaikan. Siapa lagi kalau bukan Ibu Wiwin. Aswiwin atau yang biasa disapa Ibu Wiwin adalah seorang wanita yang sejak awal berdirinya pondok ini telah berjasa mengasuh para santri mulai dari mencukupi kebutuhan makan dan minum para santri hingga mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya seperti mencuci atau membersihkan pondok. Beliau pula yang menemani para santri ketika mengikuti perlombaan diluar panti, beliau yang mengurus para santri dikala ada yang sakit, beliau yang menemani para santri kala belajar menghafal Al-Quran, beliau pulalah yang menggantikan peran seorang Ibu bagi anak-anak yang kurang beruntung ini. 

Selama bertahun-tahun, Ibu Wiwin mendedikasikan hidupnya untuk mengasuh para santri seperti merawat anaknya sendiri. Ia meyakini bahwa apa yang ia lakukan disini adalah semata-mata karena mengharap keridhaan Allah. “Terus terang saja, merawat anak-anak disabilitas itu tidak mudah, mereka memiliki keterbatasan dalam banyak hal, sedangkan saya hanya seorang diri mengasuh mereka, jadi memang harus ekstra sabar. Ikhlas adalah kuncinya” ujar Ibu Wiwin bercerita.

Banyak suka duka yang Ia alami selama mengasuh anak-anak tersebut. Namun yang paling membuat Ia “kerasan” adalah karena di pondok ini Ibu Wiwin justru banyak belajar dari para santri, tentang kegigihan dan semangat anak-anak tersebut meraih mimpi meski terhalang keterbatasan.

 “Bukan gaji yang saya harapkan kala menerima tawaran dari Ketua Yayasan untuk menjadi pengasuh di panti asuhan ini dik, tapi rasanya menjadi kebahagiaan tersendiri untuk saya bisa merawat anak-anak luar biasa ini, apalagi mereka ini penghafal Al-Quran, golongan umat yang dimuliakan oleh agama, jadi saya bahagia kalau diri saya bisa bermanfaat untuk mereka. Bicara gaji sih kecil, tapi yang besar itu berkahnya” terang Ibu Wiwin melanjutkan ceritanya.

Ibu Wiwin percaya bahwa keberkahan terbesar dalam hidupnya adalah ketika dirinya dapat memberikan manfaat untuk agama dan orang lain, karena itu Ia tak segan “mewakafkan” hidupnya untuk mengasuh para santri Tunanetra penghafal Al-Quran di Ar-Rahmah meski pendapatan yang Ia peroleh tak seberapa.

Dibalik sosoknya yang sederhana, Ibu Wiwin bagi saya adalah seorang malaikat tak bersayap, pribadinya yang tulus dan keinginannya yang kuat untuk tetap dapat bermanfaat bagi orang lain meski Ia sendiri berada didalam keterbatasan memberikan inspirasi bagi saya.

Ibu Wiwin, dengan usianya yang terbilang masih relatif muda dan fisiknya yang masih kuat sebetulnya bisa mencari pekerjaan lain yang menawarkan gaji yang lebih tinggi, namun Ia bersikeras untuk mendedikasikan hidupnya di tempat ini, demi mencari berkah dan keridhaan Allah. demi mendampingi para generasi penghafal Al-Quran dari kalangan tunanetra. Subhanallah.

Semangat untuk menebar manfaat pada sesama sebagaimana yang dilakukan oleh Ibu Wiwin jugalah yang menjadikan Allianz menghadirkan produk asuransi syariah yang menawarkan fitur wakaf didalamnya, namanya AlliSya Protection Plus atau Allianz Syariah Protection Plus.

#BerlipatnyaBerkah dari Fitur Wakaf AlliSya Protection Plus

Bicara tentang semangat berbagi dan menebar manfaat pada sesama, para Ulama sepakat bahwa wakaf adalah bentuk sedekah yang paling mulia karena manfaatnya dapat dirasakan oleh penerima wakaf dalam kurun waktu yang panjang. Maka dari itu, Allah menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang yang berwakaf dengan melimpahkan aliran pahala yang tak terputus sampai hari kiamat tiba. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadist : Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal yaitu : sedekah jariyah (sedekah yang manfaatnya mengalir terus), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim).

Dewasa ini, wakaf ternyata tak hanya dapat disalurkan dalam bentuk tanah atau bangunan, namun seiring dengan kemajuan zaman nilai investasi polis yang dimiliki dalam sebuah produk asuransi juga dapat diwakafkan, hal ini sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 106 Tahun 2016 tentang Wakaf Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah.

Maka, untuk menebar manfaat berwakaf bagi para pemegang polisnya, Allianz melalui fitur wakaf dalam produk AlliSya Protection Plus hadir untuk membantu pemegang polis yang ingin berwakaf dalam bentuk nilai investasi polis yang dimiliki. Produk asuransi wakaf AlliSya Protection Plus dapat memberikan manfaat ganda bagi pemiliknya yakni manfaat asuransi & proteksi diri secara finansial dan keberkahan wakaf ketika sang pemilik polis meninggal dunia.

Melalui fitur wakaf dalam produk AlliSya Protection Plus ini, pemilik polis dapat menyalurkan sebagian nilai investasi polis yang dimiliki untuk diwakafkan melalui badan pengelola wakaf yang telah bekerjasama. Pemilik polis juga dapat memilih besaran nilai wakaf yang akan diambil dari investasi polis yang dimiliki, serta dapat menentukan sendiri pilihan Nazhir atau Badan Pengelola Wakaf terpercaya untuk mengelola dana wakaf yang diambil dari polis asuransi tersebut ketika pemilik polis meninggal dunia, sehingga kelak pengelolaan dana wakaf dapat dipastikan berjalan dengan baik, amanah sesuai dengan syariat Islam. 

Ketulusan Hati Ibu Wiwin yang Patut Diapresiasi

Percakapan antara saya dan Ibu Wiwin Sore itu terjadi dengan begitu cair. Hingga akhirnya, percakapan kami berujung pada sebuah pertanyaan yang saya lontarkan tentang apa yang menjadi keinginan Ibu Wiwin selama ini, yang belum dapat Ia capai.  “Bu Wiwin, selama bertahun-tahun Ibu mengabdikan diri disini, dengan gaji seadanya, sebenarnya ada gak sih Bu cita-cita Ibu yang belum kesampaian?” tanya saya padanya.  Lantas kemudian, Ibu Wiwin menjawab “Ada dik, saya ingin sekali berangkat umroh ke tanah suci walaupun rasanya mimpi ini mustahil untuk diwujudkan karena pendapatan saya pas-pasan hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah anak-anak” jawabnya.

Keinginan Ibu Wiwin untuk menunaikan ibadah Umroh ini memang telah ada sejak lama. Sewaktu suami dan beberapa santri/anak asuhnya diberangkatkan umroh oleh donatur, Ibu Wiwin tak segan menitip doa pada mereka agar suatu hari nanti Ia menemui nasib yang sama untuk dapat beribadah ke tanah suci. Begitu pula ketika saya mengundang beliau pada saat selamatan umroh keluarga beberapa tahun lalu, beliaupun menitipkan doa yang sama.

Menunaikan ibadah umroh di tanah suci memang menjadi impian rata-rata umat Muslim di dunia, namun tak dipungkiri ibadah yang satu ini membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tak murah. Golongan ekonomi lemah seperti Ibu Wiwin seringkali menganggap beribadah umroh hanyalah suatu mimpi yang tampak mustahil untuk menjadi nyata. Namun, siapa yang mampu menerka takdir Allah, saya yakini orang baik seperti Ibu Wiwin suatu hari nanti akan menuai nasib yang baik pula. Saya doakan kelak suatu hari mimpi Ibu Wiwin ini akan menjadi nyata.

Maka dari itu, melalui tulisan ini saya tergerak untuk menominasikan Ibu Wiwin sebagai sosok yang layak untuk mendapatkan berkah kado umroh pada program #berlipatnyaberkah dari Allianz Syariah Protection Plus sebab apa yang telah Ibu Wiwin lakukan sangatlah mulia dan patut ditiru oleh semua orang. Semangat Ibu Wiwin untuk menebar manfaat pada sesama dan menegakkan agama Allah melalui suatu perbuatan mulia mengingatkan saya pada janji Allah dalam satu ayat di Al-Quran bahwasannya Allah akan membalas kebaikan yang kita lakukan dengan kebaikan pula (QS Ar-Rahman ayat 60). Maka tentulah layak, Ibu Wiwin yang tulus dan baik hati ini menerima ganjaran dari semua kebaikannya.

Saya pribadi mungkin tak mampu membelikannya tiket untuk berangkat umroh, namun saya sangat berharap tulisan saya ini dapat menjadi wasilah untuk mengantarkan Ibu Wiwin melunasi asanya, bersujud dan berdoa secara langsung di hadapan Ka’bah dan melaksanakan ibadah Umroh. Aamiin. InsyaAllah.

 

 

 

error: content is protected