Berkenalan dengan Komunitas Ibu Profesional


INSTITUT IBU PROFESIONAL

Selain memperbaiki asupan gizi dan nutrisi, sejak hamil saya mulai mencoba memperkaya wawasan khususnya seputar tumbuh kembang anak serta parenting, lewat berbagai media. Baik dengan membaca-baca buku-buku, artikel di internet, ataupun blogwalking ke blog-blog teman lain yang niche blog nya seputaran tema-tema diatas. Tapi ternyata membaca saja tidak cukup, saya merasa membutuhkan media lain untuk belajar, media yang memungkinkan saya untuk saling berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman perempuan lain khususnya para Ibu dan Calon Ibu yang tengah berjuang dalam visi misi yang sama, yaitu untuk meningkatkan kualitas diri sebagai seorang Perempuan, Istri sekaligus Ibu, demi mewujudkan visi & cita-cita yang mungkin terdengar mudah tapi ternyata tak sederhana, yaitu membangun peradaban dari dalam rumah. Dan visi misi serta cita-cita ini, menjadi tampak masuk akal untuk saya wujudkan, setelah saya berkenalan dengan Komunitas Ibu Profesional, terlebih ketika melihat banyak alumnus serta Ibu Pembelajar di Ibu Profesional yang berhasil mewujudkan visi misi serta cita-cita tersebut. Saya pun tak mau ketinggalan, ingin rasanya menjadi satu diantara mereka yang sukses mewujudkannya.

***

Awal Perkenalan…

Perkenalan saya dengan Komunitas Ibu Profesional (IP) atau juga lebih dikenal dengan Insitut Ibu Profesional (IIP) sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum saya menikah, waktu itu saya tak sengaja membaca sebuah postingan status seorang teman di facebook mengenai profil Ibu Septi Peni Wulandani, founder Ibu Profesional. Berangkat dari rasa penasaran, saya mulai browsing-browsing untuk mengkepo lebih lanjut mengenai biografi dan sepak terjang beliau dalam dunia parenting, sedikit intermezo, ketertarikan saya pada dunia anak-anak dan parenting sebetulnya sudah muncul jauh sebelum saya menikah, tepatnya sejak saya duduk di bangku kuliah S1. Ketertarikan ini saya buktikan dengan melakukan sebuah penelitian tentag proses pengenalan budaya taat hukum terhadap anak, hingga melahirkan sebuah game edukasi hukum berbasis program aplikasi komputer sederhana berjudul “Miss Justice” yang pada waktu itu berhasil memberangkatkan saya ke Negeri Sakura, Jepang untuk mempresentasikan hasil penelitian dan program aplikasi tersebut di berbagai Universitas Terkemuka disana. Tak hanya itu, meski berlatar belakang pendidikan Hukum tapi entah kenapa sejak dulu cita-cita saya adalah menjadi guru TK, bahkan waktu itu, disela-sela waktu kosong, saya juga mengisi waktu dengan menjadi tenaga pengajar sukarela pada sebuah Yayasan yang mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak kurang mampu di daerah Parit Tengkorak, Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Tak digaji sama sekali, bahkan saya harus menempuh perjalanan 1,5 jam dari rumah untuk mencapai lokasi sekolah yang bernama “Rumah Pintar” tersebut, tapi entah kenapa saya melakukannya dengan senang hati, semacam ada kepuasan tersendiri. Begitulah besarnya kecintaan saya pada dunia anak-anak, bagi saya, anak-anak lebih dari sekedar manusia kecil yang lucu, lebih dari sekedar manusia kecil yang dengan kepolosannya mampu menghibur hati orang dewasa, karena di pundak mereka lah, cita-cita besar sebuah keluarga, masyarakat, Negara bahkan Agama, dapat digantungkan.

Kembali soal perkenalan saya dengan IP, takdir dan nasib baik memperkenalkan saya dengan seorang fasilitator  Ibu Profesional regional Kalimantan Tengah, namanya Mba Lisa. Saya mengenal beliau secara tidak langsung lewat Dani, suami saya, karena kebetulan Mba Lisa dan suami saya adalah teman SMA. Sewaktu ikut suami pindah ke PangkalanBun, Kab.Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah saya memang sudah ngomong sama suami, ingin mencari teman yang aktif di komunitas-komunitas yang positif, sebab bagaimanapun meski telah menikah dan berumah tangga, saya tetap ingin aktif berkegiatan dan berkomunitas, akhirnya suami saya mengenalkan Mba Lisa ini,waktu itu saya belum tau kalau beliau adalah fasilitator IP, yang suami saya ceritakan hanyalah beliau ini lumayan aktif dalam berbagai kegiatan di Perpusataan Daerah Kotawaringin Barat, saat SKSD (sok kenal sok dekat :P) mengajak Mba Lisa berkenalan barulah saya tau kalau beliau ini Fasilitator IP, Kebetulan sekali kan, saya memang sudah lama sekali ingin bergabung dengan IP, dan perkenalan saya dengan Mba Lisa, seakan menjadi jalan pembuka.

Bergabung Bersama IP  adalah Ikhtiar Saya Untuk Dapat Membangun Peradaban dan Mencetak Generasi Terbaik dari dalam Rumah…

Bagi kalian yang belum tau, Ibu Profesional ini adalah komunitas para Ibu dan Calon Ibu yang didirikan oleh Ibu Septi Peni Wulandani sebagai wujud kepedulian Beliau terhadap kaum perempuan Indonesia dalam menjalani dinamika peran yang multifungsi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, komunitas IP ini akhirnya menjadi wadah bagi perempuan untuk tumbuh bersama, belajar bersama dan saling menguatkan dalam proses mendidik anak-anak dan mengelola keluarganya. Proses belajar dan berbagi di IP  dilakukan lewat forum belajar yang dikelola secara online (melalui grup whatsapp) dan diskusi offline melalui kegiatan gathering,seminar, camp, dsb. Sejak pertama kali berdiri tanggal 22 Desember 2011, di Salatiga, di kaki gunung merbabu hingga saat ini, IP telah berkembang dengan begitu pesat bahkan cabangnya mampu menjamah 45 kota di Indonesia dan 4 Negara di Asia.

IP membagi “siswanya”  ke dalam beberapa program kelas, mulai dari Program Kelas Matrikulasi, Program Kelas Bunda Sayang, Program Kelas Bunda Cekatan, Program Kelas Bunda Produktif, Program Kelas Bunda Saleha hingga Program Trainer dan Fasilitator. Dan sebelum memasuki program kelas pada level terbawah (program kelas matrikulasi), para calon member IP akan dikumpulkan dalam sebuah grup foundation yang dikelola oleh fasilitator tiap-tiap daerah provinsi masing-masing. Saat batch Program Kelas Matrikulasi dibuka barulah, para calon member akan mendaftarkan diri untuk dapat mengikuti program kelas matrikuasi sesuai jadwal pembukaan Batch yang akan diumumkan di grup foundation.

Setiap calon peserta akan menjalani program kelas demi program kelas secara bertahap, saya sendiri saat ini masih menjalani program kelas matrikulasi pada Batch 5. Untuk bergabung dengan IP, tiap calon member hanya perlu membayar investasi sebesar Rp 100.000 yang dibayarkan sekali seumur hidup mulai dari ketika calon peserta masuk ke program kelas matrikulasi hingga mengikuti program kelas bunda saleha nanti. Menurut saya sih, investasi tersebut harga yang terlalu murah, jika dibandingkan dengan ilmu yang akan didapat, sebab bukanlah ilmu manajemen rumah tangga, ilmu mendidik anak, ilmu menjadi Ibu Profesional, tak hanya dipakai di dunia, tapi hingga ke Jannah? Maka karenanya, saya doakan untuk para founder, fasilitator, serta siapapun yang terlibat dalam tim & kepengurusan IP, agar kebaikannya dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda oleh Allah, sebab begitu besar jasa yang telah mereka lakukan bagi umat.

Selebihnya, saya belum bisa bercerita terlalu banyak tentang IP karena sebagaimana saya singgung tadi, saya baru saja bergabung bersama IP dan baru melewati 1 kali materi kelas mengenai “adab menuntut ilmu”, masih materi pembuka. Tapi meskipun demikian, rasanya sudah tak sabar menanti materi-materi kedepan yang pasti akan sangat “berisi” dan menyenangkan.  Semoga bersama IP, saya mendapat banyak tambahan wawasan baru, agar saya dapat mengoptimasi peran sebagai Istri dan sebagai Ibu, berkontribusi dalam pembangunan Negara dan Agama, dengan mencetak generasi-generasi penerus terbaik dari dalam rumah.

Sebab bukankah menjadi seorang Ibu adalah peran yang luar biasa dan diistimewakan kedudukannya dalam berbagai Agama, agama Islam khususnya?. Sehingga dengan demikian, sudah semestinya seorangperempuan, dan seorang istri itu belajar untuk menjadi manajer keluarga dengan baik, mengatur segala sesuatu urusannya dengan cekatan, dan tidak memandang sebelah mata karir dunia-akhirat ini. Dan semoga kedepan, Ibu Profesional akan selalu eksis, memfasilitasi para Ibu Indonesia untuk mewujudkan peradaban yang baik dari dalam rumah, agar para perempuan Indonesia semakin bangga akan profesinya sebagai ibu, semakin bangga dalam mendidik anak dengan sepenuh hati, semakin cekatan dalam mengelola manajemen domestiknya, bisa mandiri secara finansial dengan tetap menempatkan anak dan keluarga sebagai prioritas paling atas, serta mampu menempatkan keberadaannya agar memberi bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat sekitarnya. dan yang terpenting adalah, semoga Allah meridhoi ikhtiar saya ini..

Rizka Edmanda

32 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *