A PERSONAL BLOG OF

Rizka Edmanda

LIFESTYLE. MOTHERHOOD AND EVERYTHING SHE LIKES.

Saat saya cerita ke teman-teman di pulau Jawa, atau teman-teman di pangkalanbun banyak yang bingung ketika saya menyebut kota Kuching. Hah?? Kuching? dimana itu? Kuching Meow Meow? Ada ya kota bernama Kuching? Hehe wajar saja, karena meskipun Kuching adalah kota besar yang cukup maju namun ternyata kota ini belum terlalu familiar di telinga traveler Indonesia. Barangkali jika kita menyebut Sarawak, orang akan lebih mudah mengenalinya.

Kuching adalah ibukota dari Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur. Jadi Malaysia itu terbagi menjadi 2 yaitu Timur dan Barat, Malaysia Barat mungkin lebih dikenal karena disana ada kota-kota yang sangat common dikunjungi oleh Traveler Asia seperti Kuala lumpur, malaka, johor baru, kelantan dsb sedangkan Malaysia Timur sendiri adalah bagian dari negara Malaysia yang berbatasan langsung dengan Indonesia, tepatnya Kalimantan, negara bagiannya ada Sarawak, Labuan dan Sabah. 

Sebagai salah satu kota yang cukup maju di Sarawak, Kuching memang berpotensi menjadi destinasi wisata terdepan di Malaysia. Apalagi Kuching memiliki fasilitas penunjang pariwisata seperti bandara, stasiun bus, hingga pos lintas batas negara. Bicara budaya dan keindahan alam Kuching juga tak kalah dengan destinasi lain yang jauh lebih dikenal di Malaysia, kulinernya sedap, budayanya unik dan suguhan alamnya juga menarik. Ohya dan satu lagi, Kuching adalah destinasi yang ramah untuk backpacker atau flashpacker alias traveler yang gak pengen terlalu ngenes soal fasilitas tapi pengen berhemat urusan budget.

Lebaran ke rumah keluarga di Kuching

Perjalanan kami mulai sekitar pukul 6 pagi waktu Indonesia, agak kesiangan memang karena saya pengennya memang jalan santai, kasihan juga kalau anak saya, Qonita harus dibangunkan subuh-subuh untuk berangkat. Kami berangkat dengan mobil avanza yang sudah dilepas kaca filmnya karena peraturan JPJ alias jabatan pengangkutan jalan Malaysia (semacam Dishub di Indonesia) mengharuskan kendaraan roda 4 yang mereka sebut kereta, yang ingin masuk ke wilayah Malaysia harus melepas kacafilm mobil atau jikapun memakai kacafilm, maksimal kepekatannya adalah 20%. Lebih kurang perjalanan kami tempuh selama 5 jam dengan mengemudi santai.

 

Pukul 11 siang kami tiba di PLBN Entikong,  Kabupaten Sanggau, Indonesia. Kami semua turun dari mobil dan mengecap paspor kemudian menyebrang masuk ke wilayah Malaysia dengan berjalan kaki, antrian cukup lengang jadi prosesnya cepat,petugas Imigrasi di PLBN Entikong juga cukup cekatan dalam melayani wisatawan.

Tapi sayang karena waktu itu hari jumat, PLBN Malaysia dan Pos Imigrasi Malaysia ternyata tutup lebih awal karena para petugasnya sholat jumat. Ohya, kalau saya perhatikan sih memang ya di Malaysia itu petugas pelayanan pemerintah yang langsung berhadapan dengan publik jarang sekali ada yang wanita, rata-rata pria. Entah saya yang jarang ketemu aja atau memang ada kebijakan seperti itu, gak tau ya, kalau ada teman-teman yang bisa menjelaskan bisa sharing sama saya di kolom komentar. 

Akhirnya setelah menunggu sekitar 2 jam sampai pos imigrasi Malaysia kembali buka,  sekitar pukul 2 waktu Malaysia kami pun bisa masuk ke perbatasan Tebedu, Malaysia dan setelah melakukan pengecapan paspor tanda masuk Malaysia, disini Bapak mengurus beberapa administrasi untuk mobil yang kami bawa. 

Nah buat teman-teman yang berencana akan melakukan perjalanan darat ke Kuching, Malaysia dari Indonesia syarat administrasi yang harus diurus antara lain :

– Paspor ASLI

– KTP Pengemudi mobil ASLI

– STNK / BPKB ASLI

– Membayar biaya asuransi sebesar 130 Ringgit atau sekitar Rp 450.000 untuk 1 mobil selama 30 hari, jadi selama sebulan Mobil tersebut bebas bolak balik ke Malaysia tanpa membayar lagi. 

– Driving License International JIKA ADA. Kalaupun tidak ada SIM A Indonesia bisa digunakan. Tapi pemilik SIM A harus sama dengan pemilik paspor yang menyetir mobil. Jadi kalau di Negara lain perlu International Driving License, untungnya di Kuching ada sedikit keringanan untuk wisatawan Indonesia.

Syarat tambahan kalau nama pemilik mobil yang tertera di STNK/BKBP tidak ikutserta dalam perjalanan :

– Surat Pernyataan. Jadi karena waktu itu STNK & BPKB mobil saya atas nama tante saya di Lampung, jadi kami membawa surat pernyataan yang menerangkan bahwa pemilik mobil benar mengetahui kalau mobil tersebut dipakai untuk berwisata ke Malaysia, surat ini diketik sendiri aja, bawa dari rumah. Ditandatangani oleh orang yang namanya tertera di STNK/BPKB kendaraan dan diberi materai.

– Fotokopi KTP orang yang namanya ada di BPKB/STNK 

Setelah mengurus administrasi di JPJ Malaysia yang kantornya terletak persis di belakang pos pengecapan paspor Imigrasi Malaysia, Bapak menerima stiker biru yang harus ditempel di kaca depan mobil, selama kami berada di Kuching, stiker tersebut tidak boleh dilepas/hilang. Karena stiker tersebut menjadi tanda keluar masuk mobil, dan kalau nanti pas dijalanan Kuching ada Polisi Lalu Lintas Malaysia yang melihat kendaraan kami, mereka sudah tau kalau kendaraan kita bulan kendaraan gelap. 

Berfoto di Pos Lintas Batas Entikong (PLBN Entikong) Kab.Sanggau, Indonesia

Kelebihan dan Kekurangan Membawa Kendaraan Pribadi Saat Akan Jalan-Jalan di Kuching :

Keputusan untuk membawa kendaraan pribadi memang dadakan waktu itu. Awalnya kami berencana naik pesawat, karena toh tiket Air Asia dari Pontianak ke Kuching PP tak begitu mahal, kisaran antara Rp 200.000 atau paling mahal Rp 700.000, tapi pengen aja dapat pengalaman baru bawa mobil ke Kuching. Lagipula, tujuan utama kami kemarin adalah pergi lebaranan kerumah keluarga, kebayang kan kalau kami ke Kuching naik pesawat dan mengandalkan transportasi umum seperti Grab di Kuching, tentu biayanya akan lebih besar karena dalam sehari saja, kami lebaranan ke beberapa rumah. Apalagi transportasi umum seperti bus agak sulit di Kuching, lebih udah dengan menyewa kendaraan atau naik Grab. Makanya, menurut kami membawa kendaraan pribadi dari Pontianak jadi lebih efektif dan efisien.

Perjalanan dari PLBN Malaysia di Tebedu sampai ke downtown atau pusat kota Kuching kami tempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Jujur saya dan adik amazed banget karena kota ini semakin banyak berbenah, sudah berubah dari terakhir kali kami kunjungi beberapa tahun lalu. Semakin cantik, semakin instagramable. Kami jadi gak sabar untuk menikmati sudut-sudut Kuching yang kami rindukan. 

Penasaran kami kemana aja selama di Kuching? Tunggu cerita kelanjutannya di artikel saya selanjutnya, karena kalau kepanjangan baca cerita ini, kalian pasti pada close tab. Haha Iya kan iya kan J

Btw kalau teman-teman juga punya cerita menyetir atau membawa kendaraan diluar Negri, boleh juga dong sharing sama saya, tulis di kolom komentar yaaa

error: content is protected