5 Fakta Tentang Rizka Edmanda, Puteri Indonesia Kalbar yang Pernah Punya 6 Jari

rizka-edmanda

Kalau bukan karena ikutan BPN 30 Days Challenge, Mungkin Cerita Ini Tak Akan Pernah Terfikir Oleh Saya Untuk Dibahas

Pernah suatu hari saya iseng-iseng browsing tentang diri saya sendiri di google. Saya masukkan keyword “rizka edmanda” dan ternyata lumayan banyak gambar dan berita tentang saya yang bermunculan. Mulai dari tentang blog dan kebanyakan berita atau gambar saya sewaktu mengikuti ajang Puteri Indonesia. Ada satu berita yang menarik perhatian saya, hmm sebetulnya saya merasa tidak pernah diwawancara oleh media tersebut, namun entah kenapa tiba-tiba muncul beritanya. Singkatnya, isi berita itu menguak kehidupan mantan-mantan Puteri Indonesia Kalimantan Barat dari masa ke masa. Mulai dari tentang senior saya, Puteri Indonesia Kalbar 2013 kak Ayu Ravianti yang juga masuk 10 besar Puteri Indonesia 2013, hingga tentang Puteri Indonesia 2015, yang kebetulan juga sahabat saya, Chintya Fabiola yang memenangkan mahkota Runner Up 1 Puteri Indonesia 2015. Serta tentang Situngkir Wilda, Puteri Indonesia Kalbar 2018 yang mewakili Indonesia di ajang Miss Supranational 2018.

rizka-edmanda

Pada berita itu, sang wartawan menceritakan kehidupan saya saat ini. Yang saya yakini isinya cuman ngambil dari laman “about” pada blog ini, karena isinya sama plek plek. Hahaha tapi gak apa-apalah, masih mending daripada dia ngarang-ngarang sendiri. Saya gak ngerti apa motivasi wartawan itu mengangkat berita tersebut. Memangnya publik masih mau tau ya kehidupan saya saat ini? Hehe mengingat saya sudah vakum dari dunia modeling bahkan sejak 2 tahun yang lalu.

Tapi itu menarik sih, setelah membaca berita tersebut saya jadi kepikiran untuk menceritakan sisi-sisi lain dari diri saya yang tidak banyak diketahui oleh publik. Saya ceritakan spesial di blog ini, terkhusus juga sebagai artikel untuk diikutsertakan pada BPN 30 Days Challenge.

5 Fakta Tentang Rizka Edmanda

1.Punya 6 jari yang kemudian dioperasi saat kelas 4 SD karena sering di bully.

Saya terlahir dengan keistimewaan , saya pernah punya 6 jari di tangan sebelah kanan. Dokter menyebutnya polidaktili. Setau saya, keistimewaan ini disebabkan faktor genetik. Walaupun rasanya kakek nenek atau keluarga saya tak ada yang punya keistimewaan ini. Ibu selalu bilang kalau saya itu istimewa. Makanya Allah kasi saya jari lebih. Walaupun saya tau kalimat ini hanya penghiburan dari Ibu ketika saya sedih setiap habis diejek teman-teman sekolah. Tak pernah lelah, Ibu selalu membesarkan hati saya ketika ada teman-teman yang mengejek. Ibu juga yang selalu bilang pada saya untuk membalas ejekan dengan prestasi. Ohya, sebetulnya saya sengaja ikut Puteri Indonesia untuk membalas ejekan teman-teman itu, biar mereka tau bocah ingusan yang dulu sering jadi bulan-bulanan sekarang bisa menjadi “Seseorang”, sekaligus mewujudkan cita-cita Ibu yang sejak dulu ingin sekali melihat anaknya tampil anggun dengan selempang dan mahkota. Cerita ini pernah saya bahas di artikel ini : Karena Ibu 

2. Pernah ditinggal nikah .

Dulu saya pernah dibecandain gini sama temen, “wah enak deh yang sekarang jadi Puteri Indonesia, mau jodoh kayak gimana aja tinggal tunjuk cowok-cowok pasti pada ngantri” . Dibilang begini saya cuma bisa mengamini, karena nyatanya prestasi dan penampilan tak selalu berbanding lurus dengan kemudahan mencari jodoh. Buktinya saya pernah ditinggal nikah 1 kali. Sebenarnya, ini cerita lama yang malas saya ungkit-ungkit dan bahas terlalu jauh lagi. Intinya, ketika si mas-nya mau nikah, saya cuma nanya apa alasannya dia tiba-tiba ninggalin saya dan dia cuma bilang kalau ibunya merasa keberatan punya menantu Puteri Indonesia karena takut gaya hidupnya ketinggian. Saya jadi bingung sama laki-laki jaman sekarang, ketemu cewek baik dibilang terlalu baik, ketemu yang jahat ya ogah juga. Beruntung Dani , suami saya, adalah satu diantara seribu laki-laki yang tak macam itu. So Thank you sayang, for accept me from the best to the worst! But anyway, the moral of the story dari pengalaman saya adalaah… Berhentilah berusaha menjadi sempurna hanya untuk membuat seseorang jatuh cinta. Karena nyatanya, cinta sejati sama sekali tidak membutuhkan itu.

3. Ikut Puteri Indonesia, Tapi Tak Berharap Menang?

Ini nyata. Jujur di awal-awal karantina saya sama dengan finalis lainnya, sama-sama memiliki ambisi besar untuk menang. Berharap menang juara 1 lah. Tapi as the day goes by, melalui masa-masa karantina yang luarbiasaaaa saya jadi terfikir kalau mungkin saya gak akan sanggup jika seandainya saya dinobatkan menjadi juara 1. Masa karantina hanyalah gambaran kecil dari aktivitas yang harus dijalani setelah dinobatkan sebagai pemenang. Jika menang, selepas karantina nanti aktivitas yang lebih luar biasa lagi sudah menanti. Jujur, tidak mudah bagi saya untuk terikat pada suatu jadwal yang sangat padat setiap hari, menjalani belasan aktivitas dalam sehari, bangun dan harus rapi cantik jam 5 pagi kemudian baru pulang dini hari. I’m not kind of that person. Jadi waktu itu saya sempat down dan nothing to lose aja hehe.. Kalau menang sudah takdir, kalau kalah Alhamdulillah *ehh.  But, it doesn’t mean I waste the opportunity. I’ve done my best. Hanya saja waktu itu, memang saya tidak berharap terlalu banyak.

4. Pernah jadi Vokalis band 

Bagi yang sudah lama mengenal saya pasti tau kalau saya pernah jadi anak band. Hehe. Waktu masih tinggal di Pontianak, saya pernah bergabung dengan sebuah band ska, sebagai vokalis. Namanya sikudabesi. Saya juga pernah membuat sebuah band punkrock yang isinya cewek-cewek semua, namanya pretty riot saya menjadi vokalis dan bermain gitar untuk band itu. It’s been a loooong time ago. Di jaman itu sih, masih kuat jejingkrakan. Saban ada gigs saya tuh, saya pasti bediri paling depan. Berdua sama teman saya yang sekarang jadi flight attendant, hello dedek, if you reading this.. i wanna tell you that i’m so blessed to have a best friend like you! Sekarang mah, gendong Qonita naik turun tangga juga udah encok haha. Tapi btw., sampai sekarang saya masih menyimpan beberapa CD, hasil rekaman bedroom project kami dan beberapa album kompilasi dari band-band saya itu. Sebagai kenang-kenangan, kalau saya pernah punya masa remaja yang seru ! –dan extreme-

5. Merasa punya hidup yang jauh lebih bahagia sekarang

Hari berganti, waktu berjalan. Cerita-cerita diatas hanyalah segelintir kisah tentang saya beberapa tahun silam. Yang barangkali sepuluh atau dua puluh tahun lagi hanya akan jadi cerita manis yang bisa saya kenang dan ceritakan pada anak cucu saya nanti. Kehidupan saya yang dulu mungkin jauh berbeda dengan kehidupan saya yang sekarang. Dulu, saya jarang sekali ada dirumah, sangat sibuk dengan kegiatan diluar dan sering tak punya banyak waktu untuk keluarga. Saya bisa tiba-tiba ada di Papua hari ini dan di Malaysia besok pagi. Dan hanya mengabari Ibu lewat telfon, itupun kalau ingat. Quality time bersama keluarga adalah hal yang rasanya langka sekali. Saya terlalu sibuk dengan dunia luar. Tapi hari ini, semuanya berbanding terbalik, hampir 24 jam saya ada dirumah dan cuma keluar sesekali untuk jalan-jalan bareng keluarga. Kehidupan setelah pernikahan, membuat saya jadi lebih menghargai hal-hal yang sederhana. Sesederhana dicium suami setiap pagi atau diteplok Qonita saat lagi tidur.

Long story short, itulah beberapa cerita dan fakta tentang saya. Kalau bukan karena ikutan BPN 30 Days Blog Challenge mungkin saya gak akan kepikiran membahas soal ini di blog. So thank you BPN, lewat tulisan ini rasanya saya jadi bernostalgia, kehidupan saya yang dulu banyak sekali menuai hikmah, yang membuat saya jadi lebih banyak bersyukur atas kehidupan saya hari ini.

 

 

 

Rizka Edmanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *